
πΈπΈπΈπΈπΈπΈ
"Najwa, apa kamu lelah atau kaki mu pegal?" Andra bertanya sekali lagi pada gadis muda yang baru saja sah menjadi tulang rusuknya itu.
"Eh, Najwa ..., tidak apa-apa Uncle," jawabnya sedikit kikuk. Bahkan ia hanya melirik sekilas pada pria yang begitu tampan dengan balutan baju pengantin berwarna senada dengannya.
Andra yang nampak gagah dan memukau, hingga kharismanya itu membuat degup jantung nya kian bertalu-talu.
(Kenapa uncle tampan sekali! Buat gemas saja!)
(Tapi, malu.)
(Hei, Jangan melihatku seperti itu!) Najwa terus bicara di dalam hatinya. Duduk nya mulai gelisah, karena Andra terus menatapnya, dan ia tau karena melihat dari ekor matanya.
(Akhirnya, aku bebas melihatmu sepuasnya. Memandang kerling dari bulu matamu yang lentik, menatap kilau matamu yang memabukkan. Menyentuh kedua pipimu yang halus, dan..., ah!) Andra memukul pelan dahinya, kesal sendiri karena otaknya malah travelling melulu.
"Minum es kayaknya seger deh, Najwa mau?" tanya Andra agak memiringkan bahunya ke arah Najwa agar ia dapat melihat wajah jelita itu.
"Uncle haus ya, nanti aja Najwa yang ambilkan ya,"
"Uncle tunggu disini," ucapnya sambil menoleh sekilas.
"Ehh..., gak usah! Kamu baju nya aja panjang gini. Susah buat jalan." tahan Andra dengan menarik Najwa yang hendak bangun berdiri.
Deg.
Ini kedua kalinya mereka bersentuhan.
Kedua pasang mata itu pun terkunci dalam pandangan. Hingga Najwa kembali duduk di kursi pelaminan.
Momen itu terputus ketika beberapa kawan Najwa datang dan mengerubungi mereka di atas pelaminan.
Tak lama kemudian tamu pun mulai surut, setelah izin solat asar Najwa tak lagi terlihat turun ke bawah.
Ia sudah melepas gaun yang berat itu serta menghapus riasannya. Bahkan, ia sudah mandi dan hanya mengenakan gamis rumahan saja.
Baru kakinya hendak di luruskan di atas kasur king size. Terdengar pintu kamarnya di ketuk, Najwa segera turun menghampiri.
Ketika pintu di buka, nampak lah sesosok pria tampan yang mematung disana.
"Uncle. Kenapa bengong?" tegur Najwa yang sontak menyadarkan bahwa Andra tengah terkesima dengan pemandangan manis di hadapannya.
__ADS_1
"Ah iya," jawabnya kikuk.
Kakinya pun melangkah masuk diiringi debaran yang menghentak pada jantungnya.
"Ehm, Uncle mau mandi dulu. Belum solat Asar soalnya," ucap nya pada gadis yang masih setia memegangi knop pada pintu.
Andra tau bahwa Najwa juga gugup seperti dirinya. Wajar saja sekian lama tidak bertemu, tau-tau mereka kini di satukan dalam pernikahan.
Belum lagi Najwa masih belia, namun Andra yakin perihal ilmu dasar pernikahan Najwa sudah mengerti dan faham, karena memang ia mempelajarinya.
"Oh baiklah." Najwa menjawab namun masih belum bergeser dari pintu.
Andra pun berlalu masuk ke kamar mandi, sambil tersenyum tipis. Ternyata, Najwa sangat lucu.
(Mommy, bagaimana ini?)
(Jantungku berdegup tidak karuan, bahkan untuk bernafas saja terasa sulit) oceh Najwa di dalam hatinya sambil terus berjalan bolak-balik karena ia sangat gugup.
Selagi hatinya saja belum tenang tapi pintu kamar mandi ternyata sudah terbuka. Menampakkan satu sosok pria tampan yang begitu segar dengan rambutnya yang basah.
Andra yang masih mengenakan handuk kimono nya berjalan ke arah kasur. Di mana Najwa telah menyiapkan setelan gamis turki untuknya.
Andra tersenyum sekilas melihat Najwa yang terkesiap dengan kedua pipi yang kemerahan. Kemudian ia kembali masuk ke dalam kamar mandi. Sok tenang padahal jantungnya udah mau gelinding keluar setiap kali menatap mata indah itu.
"Kenapa, kok senyum-senyum?" tegur Andra, membuat Najwa sadar kalau ia baru saja melamun.
Baru saja Andra hendak menghampirinya, terdengar suara ketukan di pintu.
Klek.
"Mommy...," panggil Najwa namun matanya melihat petugas di belakang Ameera yang tengah membawa troli makanan.
"Kalian kan belum makan dari siang. Jadi, sekarang kalian harus makan biar ada tenaga," jelas Ameera ambigu.
Najwa dan Andra yang mengerti maksud dari Ameera hanya bisa melengos demi menyembunyikan rona malu mereka.
"Di makan ya...." Ameera pun keluar sambil melepas senyum.
Andra dan Najwa masih berdiri kaku menatap pada baki.
(Aih, Najwa seharusnya kan kau melayani suamimu. Kenapa malah bengong!) Najwa buru-buru menghampiri meja ketika suara hati menyadarkannya.
__ADS_1
Menata makanan itu di sudut kamar, di mana terdapat dua buah kursi dan meja berukuran sedang.
"Sini biar Uncle bantu bawa ke sana." Andra mengambil baki dan meletakkan piring berisi daging teriyaki ke atas meja.
Mereka pun makan bersama dalam diam, hanya sesekali saling mencuri pandang dan tersenyum.
Setelah makan, mereka memutuskan untuk menanti adzan magrib dengan mengaji. Kini mereka berdua duduk berhadapan di atas sajadah.
"Shodaqollahul adziiimm...," ucap mereka berdua bersamaan.
"Masya Allah, lama gak denger kamu ngaji Uncle sampe merinding. Pantes aja kamu menang terus tiap lomba. Suara kamu, Tartil nya itu indah banget," puji Andra tak lepas menangkap wajah jelita yang meneduhkan itu lekat.
"Alhamdulillah, Allah melancarkan semua cita-cita Najwa. Mewujudkan semua impian yang Najwa minta. Gak tau lagi, gimana cara Najwa berterima kasih sama Allah." Gadis itu menyeka ujung matanya yang berair.
Andra memberanikan diri, tangannya terulur pada wajah yang menunduk itu.
Najwa tersentak, dan seketika mendongak. Ketika ia merasakan hangat di pipinya.
"Banyak cara untuk berterima kasih dan mensyukuri nikmat-NYA. Salah satunya dengan senantiasa taat pada perintah-NYA, memperdalam taqwa dan tak lupa akan hak serta kewajiban kita sebagai hamba dan sebagai manusia," jelas Andra sambil terus mengusap pipi kemerahan yang sejak dulu selalu membuatnya gemas.
"Iya Uncle, Najwa akan selalu menjaga hafalan ini sampai kapanpun. Berusaha membagi ilmu yang setitik ini, serta mengamalkan setiap yang tersirat pada setiap surat," tutur Najwa dengan senyum. Perasaannya tidak setegang tadi, kini jantungnya sudah bisa bekerja sama dengan baik.
(Kenapa dia senyumnya semanis itu? Membuat ku gemas saja, tapi sebentar lagi kan adzan.)
Andra mengabaikan peringatan dari hatinya, berawal dari mengelus pipi membuat ia menginginkan lebih.
Apalagi wajah jelita di hadapannya ini sudah sah menjadi miliknya. Bahkan, kini debaran jantungnya sudah tidak bertalu-talu seperti tadi.
Dua pasang mata itu saling mengunci, Andra seperti tenggelam dalam pesona keindahan sinar iris yang berwarna hijau tosca itu.
Seakan menariknya untuk mendekat dan masuk ke dalamnya. Sedangkan Najwa telah terhipnotis sentuhan lembut jemari Andra pada wajahnya.
Sentuhan yang sedikit demi sedikit beralih pada bibir plum nya. Kemudian, jarak pun semakin terkikis antara keduanya.
Cup.
Mata Najwa pun membola.
"Kyaaa...! Uncle...!"
"Wudhu lagi deh...,"
__ADS_1
(Dari tadi juga udah batal kali neng...,") Andra.