
🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼
Hideo, terus menggiring sang istri ke lantai atas. Di mana terdapat ruangan khusus.
Sementara dua orang pria mendorong koper mereka keluar dari Bandara. Karena, keluarga ayahnya telah mengirim orang untuk menjemput mereka.
Mushola tersebut dilengkapi keran air wudhu dan sekat pemisah antara laki-laki dan perempuan.
"Aku gak nyangka lho, Hubby,"
"Bandara ini menyediakan sarana ibadah untuk muslim," ucap Ameera dengan mata berbinar.
Melihat ruangan musholla yang begitu bersih dan steril.
Meski pun tanpa sajadah, lantainya sangat bersih sehingga cukup suci untuk sujud di atasnya.
"Tentu saja, sayang, karena Chiba adalah salah satu kota yang ramah muslim dan memiliki destinasi wisata dan kuliner yang cocok untuk muslim,"
"Meskipun negara ini, sebagian besarnya warganya beragama Shinto," jelas Hideo dengan senyum menawannya.
"Lihatlah, bahkan mereka menyediakan tempat wudhu semanis ini, lucu sekali," puji Ameera dengan decak kagum yang terus terucap dari bibir seksinya itu.
Hideo membuka tablet pintarnya, membuka sebuah situs dan menunjukkannya pada istri anggunnya itu.
Sejak tahun 2014, Walikota Chiba Toshihito Kumagai melihat potensi wisata halal yang tengah berkembang di berbagai negara.
Chiba pun mulai menyediakan beberapa fasilitas muslim mulai dari restoran halal, mushala, hingga salon halal. Selain itu, berdirinya lembaga sertifikasi halal pertama bernama Nippon Asia Halal Association di daerah Makuhari, pusat kota Chiba.
Pada tahun itu, telah menjadi bukti bahwa kota Chiba ingin memperkenalkan wisata muslim untuk pengunjung dari berbagai negara.
"Setelah, bertemu dengan kakek, aku akan mengajak mu berkeliling,"
"Sekarang kita sholat dulu yuk,"
"Kamu di sebelah sana ya, tempat wudhu nya," ucap Hideo, kemudian memberi kode kepada sang pengawal agar segera mengikuti istrinya itu.
Setelah sholat mereka, segera menuju ke kediaman kakek Matsumata.
Sebuah lamborgini berwarna hitam metalik telah bertengger dengan gagah di depan pintu masuk Bandara. Dengan seorang driver berseragam serba hitam. Ia membungkukkan badan tanda hormat, dan juga cara bagi warga negara ini untuk saling sapa.
Hideo,memberi nya kode untuk tidak perlu membungkuk terlalu dalam.
Agama Ameera telah mengajarkan padanya, untuk tidak menyembah atau membuat mu seakan menyembah pada manusia.
Melarang mu membungkuk bahkan berlutut, hingga posisi dirimu berada serendah-rendahnya.
Hanya, Allah lah yang patut di sembah dan menerima penghormatan setinggi-tingginya dari seorang makhluk.
__ADS_1
Bahkan, manusia mulia sekelas Nabi pun, tidak selayaknya di sembah. Apalagi itu hanyalah dirinya, manusia hina-dina yang belakangan ini berusaha hijrah dan memperbaiki agamanya.
Kartika dan dua orang berbeda generasi di hadapannya, memang sudah selesai makan. Namun mereka berdua itu, tak pernah berhenti untuk menjahili satu sama lain.
Mereka terus saja bercanda-ria. Begitu akur dan...., terlihat mesra.
Karena, Najwa yang sering bergelayut pada lengan Andra. Serta, meletakkan kepalanya di pundak uncle ganteng nya itu.
Postur Najwa yang tinggi nya sudah hampir menyamai Kartika. Serta bentuk tubuhnya yang berisi, membuat nya layak di sebut remaja.
Wajah Andra yang baby face, tidak terlihat bila sudah hampir menginjak usia tiga puluhan.
Berbeda dengan Mau, anak itu begitu boros dan juga bongsor.
Bila Mau dan Andra jalan berdua, pasti orang luar akan menebak bahwa Mau lah abangnya. Wajah yang terlihat lebih dewasa dari usia sebenarnya. Dengan kharisma yang menguar dari raut maskulinnya.
Postur yang tinggi besar membuat Najwa memanggilnya, uncle raksasa.
Dasar Hulk.
Inilah, gambaran jalan yang di lalui oleh rombongan Hideo dan Ameera.
Jalan raya yang telah berubah putih, dengan tumpukkan salju di kanan dan kiri jalan.
Cemara yang berisi tumpukkan es serut di setiap ujung rantingnya. Fenomena, yang membuat Ameera mengucap puji dan syukur tak henti.
Hingga ia terlihat menyusut air matanya beberapa kali.
Hatinya miris, Ameera begitu bahagia datang ke tanah kelahirannya. Lalu, bagaimana dengan diri nya? Mengapa semua terasa hambar dan biasa saja.
Justru, pikirannya melayang mengingat putrinya.
(Sebesar apa dia sekarang?)
(Kenapa, jejak nya bagai di telan bumi?)
Hideo, menghela napas kemudian menyandarkan kepalanya.
"Hubby? Kenapa?" Ameera, menyentuh dada bidang yang masih berbalut Jas tebal.
Hideo, menghadap pada wajah yang selalu menentramkan hatinya itu. Melabuhkan kecupan dalam di kening Ameera.
"Aku, hanya merindukan putri kita," jelasnya kemudian.
"Pasti, sekarang dia sudah tumbuh menjadi gadis yang cantik dan menggemaskan seperti mu," puji Hideo dengan kembali melabuhkan kecupan kecil di pucuk kepala istrinya itu.
"Aku, bahkan setiap detik, setiap helaan nafas ku. Tak ada setitik pun jeda, untuk tidak mengingat putri ku. Meski, selembar foto pun tidak ada untuk sekedar ku dekap," lirih Ameera.
Kemudian, Hideo mendekapnya dengan puluhan maaf yang terucap serak.
__ADS_1
"Maaf kan aku, maaf, maaf...." Mereka berpelukan, bila mana mengingat putri mereka yang entah di mana. Air mata seakan tak pernah kering untuk mengungkap betapa rindu itu menggunung sudah.
Ameera yang sadar di mana mereka berada sekarang, berusaha melerai pelukan erat dari suaminya itu.
"Ck, malu tau ih," decak Ameera seraya menepuk pelan dada pelukable itu.
Meski tak lagi muda, Hideo tetap menjaga fisik dan pola makannya.
"Malu? Sama siapa?" tanya Hideo sok polos.
"Lha, itu...," tunjuk Ameera dengan matanya ke arah dua orang pria berseragam serba hitam. Di kursi depan mobil.
"Anggap aja patung. Dah sini lanjut." Hideo pun kembali merangkul wanitanya, dan Ameera hanya bisa pasrah. Lagi pula ia, itu membuatnya nyaman dan mengurangi ketegangannya. Di mana ia akan bertemu keluarga suami nya untuk yang kedua kali nya.
Namun, kali ini pasti dalam formasi lengkap.
Karena, sewaktu mereka menikah dulu, hanya paman dan kakak perempuannya lah yang hadir. Karena, kedua orang tau Hideo sudah lama tiada.
*********
Di tempat lain, seorang gadis kecil terus terbatuk-batuk.
Mereka kini tengah duduk di kursi, di pinggir jalanan kota.
" Kamu kenapa? Masa iya keselek salju?" seloroh Andra. Meskipun gayanya meledek, namun tak urung juga ia mengelus punggung gadis kecil itu.
"Telinga aku juga barusan berdengung gitu," keluh Najwa di sela-sela batuknya.
"Inget gak, yang Umma pernah bilang apa?"
"Kalau telinga kita berdengung itu tandanya?"
tanya Kartika, sambil memberi minum dengan air dari termos khusus yang di bawanya.
Untung saja, ia sempat mengisi ulangnya tadi di restoran tersebut.
"Ada yang ngomongin kita ya? Bener gak si, Um?" tanya Najwa polos.
"Mungkin benar, makanya ketika telinga kita berdengung, alangkah baiknya kita segera mengucapkan sholawat Nabi. Siapa tau, yang sedang menyebut nama kita adalah Rosulullah," jelas Kartika dengan nada bicara yang lembut, sehingga kata-katanya selalu bisa sampai ke hati.
"Mungkin gak, Um. Kalau yang lagi menyebut nama Najwa, adalah kedua orang tua ku?" tanya gadis kecil yang hampir remaja itu, dengan hati-hati. Sambil memperhatikan ekspresi dari raut wajah wanita penyayang di hadapannya.
Takut-takut, bila Umma Kartika tersinggung akan pertanyaannya.
" Itu, sudah pasti sayang,"
" Semoga, mereka selalu dalam perlindungan Allah," ucap Kartika dengan menahan sesak di dadanya.
Pasalnya, ini kali pertama Najwa menyinggung kedua orang tua nya.
Seakan luput dengan ekspresi lelaki di sebelahnya, yang sudah membuang muka efek matanya yang memanas.
__ADS_1
"Yuk, Uncle. Kita pulang!"
Bersambung>>>>>