Mengasuh Calon Istri

Mengasuh Calon Istri
Pindah ke Jepang.


__ADS_3

🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼


"Aku mau jadi jodohnya, Uncle," ucap Najwa jujur tanpa basa-basi.


Dooeenggg!


(Ni anak, kalo ngomong asal jeplak aja.


Bikin jantung gua serasa mau copot barusan)


Andra mengomel di dalam hatinya, karena hampir saja ia kena serangan jantung.


"Dah, ah, kamu makin lama ngawur deh,"


"Naik ke atas sana, ganti bajunya," titah, Andra mengalihkan pembicaraan yang hanya membuat kepalanya tiba-tiba migren.


"Iya, tapi aku mau kasih tau ini dulu, ke Uncle sama Umma," jelas Najwa.


Kemudian, ia menyerahkan kertas yang ada di tangannya sejak tadi.


"Apa ini?" tanya Andra, setelah ia mengajak Najwa duduk di sofa ruang tamu.


"Undangan?"


"Hari Anak Nasional."


"Ini?" Andra menatap kertas dan wajah Najwa bergantian.


Pasalnya di undangan itu tertulis;


Demi terwujudnya kebahagiaan buah hati, demi masa depannya yang cerah dan bahagia.


Maka kami mengadakan lomba kekompakan, antara kedua orang tua dan anak."


Dan lomba tersebut meliputi;


Blaa...bla..bla..>>


Hatinya seperti terjepit, inilah yang selalu di khawatirkan nya.


Najwa, tak pernah menanyakan siapa kedua orang tuanya.


Dia, yang selalu mengerti keadaan dirinya.


Dia yang akan menangis di saat di tinggal Andra ke luar negeri, untuk mengikuti ajang lomba tingkat internasional.


Tapi, tak pernah menangis meski di bully karena tak memiliki orang tua.


Di saat aku termenung, ucapannya membuatku tersentak.


"Najwa, gak butuh orang tua. Najwa hanya butuh Uncle Andra, Uncle Mau dan Umma." Kemudian, Najwa menyambar tasnya dan mengambil kembali kertas yang berada di tangan Andra.


"Aku mau kasih tau, Umma. Kan, acaranya tiga hari lagi." Setelah mengatakan itu, Najwa segera berlalu meninggalkan Andra tercenung seorang diri.


Najwa, anak yang bijaksana dan dewasa. Ia selalu berpikir positif akan hidupnya. Selalu mensyukuri apa yang telah ia punya.


Anak itu, memang penurut dan gampang di beri pengertian. Tidak pernah mengeluh, dan menuntut sesuatu.

__ADS_1


"Bang!"


" Woy...! Ye, die orang bengong!"


Andra pun tersentak, setelah remaja berbadan bongsor itu menepuk pundak nya.


"Sshh, sakit, Mau!" desis Andra meringis.


"Ye, lagian bengong gitu sampe aku masuk aja gak tau," keluh Maulana sambil merebahkan badannya di sofa.


Pemuda bertubuh tinggi besar, dengan kulit putih dan sedikit jambang halus. Rambut ikal pendek, dengan hidung bangir dan rahang tegas.


Wajahnya terlihat lebih dewasa dari usianya. Sejak baligh pertumbuhan Maulana kian pesat dan banyak berubah. Postur serta countour wajahnya lebih banyak kemiripan dengan abuya Syafiq.


Bahkan, bakat mereka berdua pun di bidang yang sama, yaitu hukum.


Lain lagi dengan Andra, genetik dari papi sang umma atau kakek lah yang menurun kepadanya.


"Gimana, udah selesai ngurus pasport nya? Kamu, yakin mau magang di sana?" cecar Andra.


"Alhamdulillah, tinggal nunggu beres aja. Tekad ku sudah bulat, Bang."


"Aku akan magang sambil kuliah di sana,"


"Aku akan berjuang sekuat tenaga demi mewujudkan cita-cita ku," ujar Maulana mantap. Ia, yang berniat meneruskan S2 jurusan hukum di negara Malaysia. Dengan beasiswa yang di dapat dari kampus nya.


"Bagus, ini baru anaknya abuya,"


"Pertahankan tekad dan semangatmu ini," ucap Andra sambil menepuk pelan bahu sang adik. Yang tinggi nya melebihi dirinya.


"Abang, jadi ambil tawaran kerja di negara nya yakuza?" tanya Maulana menatap serius.


Andra hanya menghela nafas berat.


*****


Buukk...


Seorang gadis kecil dengan seragam madrasah nya. Menjatuhkan diri dengan kasar di atas kasur dengan seprai berwarna pink itu. Sprei bermotif kucing mengejar kupu-kupu, karena kedua hewan itu adalah kesukaannya.


"Maaoooww...," Seekor kucing kampung berwarna putih dengan garis abu-abu menghampirinya. Kemudian, hewan itu menggosokkan hidung merah jambunya ke rambut hitam lebat yang tergerai bebas itu.


Najwa, menoleh dan merubah posisinya yang telungkup menjadi rebahan. Ia bersandar dengan bantal yang di tumpuk. Kemudian, mengangkat hewan berbulu itu meletakkannya di pangkuan.


"Pilo..., aku dengar tadi, uncle ganteng bakal pergi lagi,"


"Uncle raksasa juga," (Maksudnya Maulana)


"Aku harus gimana? Aku sedih dan gak mau di tinggal lagi," tanya nya kepada hewan yang sedang merem-melek merasakan sentuhan yang di berikan Najwa.


"Inginnya aku ikut, kemana pun uncle ganteng pergi,"


"Tapi, itu gak mungkin. Ya kan, pilo?" lirihnya sambil terus menggaruk bawah telinga kucing manja itu.


Karena, secara tak sengaja ia mendengar percakapan antara kakak-beradik itu, ketika Najwa hendak turun mengambil sesuatu.


"Aku, gak mau menghambat cita-cita uncle,"

__ADS_1


"Aku juga, mau mengejar cita-citaku,"


"Membuat mereka semua, umma, uncle Andra, dan uncle Mau. Bangga padaku, dan tak menyesal telah merawat ku."


"Aku, akan terus bermimpi buruk ketika uncle tak ada,"


"Bagaimana ini, pilo?"


"Apa yang harus aku lakukan?" Kali ini, Najwa memeluk hewan berbulu itu erat.


Lirih, terdengar isak tangis dari gadis bermata hijau itu.


*****


Andra yang baru beberapa bulan lalu, menyelesaikan S2 Master of Enggineering(Extention Robotic)


Di University of Tehcnology Sidney, Australia.


Kini, telah mendapat tawaran kerja di perusahaan komputer dan tekhnologi buatan terbesar dan terkemuka di negara Jepang.


Karena Jepang salah satu negara Hi-tech terbesar dan tercanggih di dunia.


Hati nya terasa berat dan bersalah. Karena, lagi-lagi, ia harus meninggalkan umma dan Najwa.


Sebenar nya Tuan Katsuhiko, telah menawarkannya tempat tinggal layak di sana. Bahkan, mengizinkannya memboyong seluruh keluarganya. Hanya saja, ia belum memberi tahu Najwa akan hal ini.


Umma Kartika, masih berat meninggalkan usaha nya. Karena, ada beberapa keluarga yang menggantungkan nasib mereka pada usaha konveksi nya.


Andra, menggaruk kepalanya kasar, kepalanya benar-benar pusing memikirkan masalah ini.


Satu sisi, selangkah lagi cita-cita nya membawa keluarga nya pada harkat martabat tinggi. Dengan segala kebutuhan hidup yang terjamin.Ia juga akan mulai mengumpulkan modal demi meraih impiannya.


Umma, tidak perlu lelah dan berpenat lagi. Sudah cukup ia berjuang sendiri, kini saatnya bagi nya untuk membahagiakan dan memanjakan wanita terpenting di dalam hidupnya itu .


"Abang, harus gimana?" tanya nya kepada sang adik yang juga ikutan bingung sepertinya.


"Bang,"


Andra dan Maulana serentak menoleh ke arah suara yang sangat mereka kenal itu.


"Umma?"


Kartika dengan gamis lebar menjuntai hingga mata kaki, tampak anggun dan berwibawa di usianya yang tak lagi muda itu.


Wanita setengah baya, dengan paras yang masih awet dengan kecantikannya. Kini, tengah tersenyum ke arah dua jagoan nya.


"Umma, bisa sebulan sekali pulang kesini. Dan, Umma akan memilih Aisyah untuk mengurus konveksi." jelas Kartika yang kini telah duduk di antara kedua putranya itu.


"Soal, desain kan bisa di kirim lewat online," imbuhnya lagi.


"Maksud, Umma?" tanya kedua pemuda rupawan itu bebarengan.


" Kita ke Jepang!" seru Kartika sumringah.


........


Nyokkk...kite ke Jepang gaes....!

__ADS_1


__ADS_2