Mengasuh Calon Istri

Mengasuh Calon Istri
Menolak berpisah.


__ADS_3

🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼


...Maaf mak baru upπŸ™πŸ™....


...Banyak banget iklannya.😁....


...Sekolah daring lagi, banyak tugas anak sementara hape cuma satuπŸ™ˆ....


...Mau gak mau ya gantian, hayyo dukung nupel mak biar bisa beli hape baru.πŸ€‘...


*******


Mata mereka berdua sekilas bertemu, hanya saja Najwa segera mengalihkan tatapannya ke lain objek .


Sesaat, Andra bagai terhipnotis oleh sinar mata itu. Mata hijau cerah yang selalu hangat dan berbinar padanya. Kini, sinar itu seakan redup menyisakan sebuah misteri dari rasa dan rindu.


Andra berlalu dari kamar yang menyesakkan itu, kaki nya melangkah pelan seakan enggan meninggalkan ruangan itu. Hati nya tertinggal di sana, apa ia harus balik lagi ke kamar Najwa?


Mau apa dan untuk apa?


Melihat sedikit lama saja, ia sudah di tegur begitu.


Apa yang kau harapkan, uncle?


Andra menggelengkan kepalanya cepat, menyingkirkan segala hal dan keinginan aneh di dalam otaknya.


Itulah waktu, dia terus melangkah maju bukan?


Tidak! Bagi Andra waktu seakan berlari dan mengejeknya.


Bagaimana tidak? Belum lama ia masih bebas melakukan apapun pada Najwa nya. Bercanda, tertawa, menggelitik, merengkuhnya erat, menciumi rambut ikal kecoklatan nya. Mencubit kedua pipi menggemaskan yang selalu merona meski tanpa blush on itu.


Tapi, lihatlah sekarang!


Bahkan, untuk menatap lebih dari sekian detik pun tak boleh.


Kenapa, perubahan bayi nya begitu cepat?


Andra mengacak rambutnya gemas. Ketika ia melihat sosok dirinya, di dalam pantulan cermin.


Ia membuka kancing pada kemejanya perlahan, membuat tubuh nya terekspos sedikit demi sedikit.


Kemudian ia menatapnya lagi ke cermin.


Mendekatkan wajahnya, membaliknya ke kanan dan kiri.


(Aku masih terlihat seperti remaja.


Nampaknya, enam hingga tujuh tahun lagi aku tidaklah seberapa tua.)

__ADS_1


Andra berbicara sendiri dalam hatinya. Kemudian terlihat ia manggut-manggut sambil tersenyum senang.


Entah, apa yang ada di pikirannya saat ini.


"Kamu kenapa, senyum-senyum begitu?" Tiba-tiba Kartika berdiri di depan pintu kamarnya.


"Astagfirullah Al adzim!" pekik Andra terkejut sambil mengelus da da nya nya polos.


"Umma, ketuk dulu kan bisa," protesnya dengan nada yang lembut. Kemudian ia kembali mengancingkan kemejanya.


"Tadinya juga mau gitu. Cuma, Umma langsung aneh aja liat kamu ngaca sambil ketawa sendiri," dalih Kartika yang tak mau di salahkan.


Begitulah perempuan kan, selalu merasa benar. Dan ingin sikap nya selalu dianggap benar. Apalagi kalau sudah dalam tahap manapouse. Maka akan semakin tinggi egonya.


"Dosa tau, ngintip kamar perjaka," sindir Andra, membuat Kartika mendekatinya dengan cepat.


Andra pun mengambil ancang-ancang.


Cetut..


"Unnchh!"


"Ummaaa," rengek nya ketika jemari tua yang lentik itu sampai di pinggangnya.


"Demen banget dah, kdrt sama anak sendiri," sungut Andra macam anak paud yang tidak di beri jajan.


"Makanya, jadi anak tuh yang sopan sama orang tua," omel Kartika tidak terima.


Andra yang tertangkap basah, oleh pertanyaan dari sang umma yang begitu tepat sasaran. Mendadak kikuk dan hanya bisa menggaruk tengkuk.


"Abang cuma ngerasa makin lama kok makin ganteng. Cuma gitu," kilah nya sambil cengengesan.


"Ck, jadi orang jangan suka ujub(kepedean/sok) nanti bakal berakibat pada takabbur,( kesombongan)"


"Bersyukur saja, karena di atas langit masih ada langit," pesan Kartika yang selalu mendidik putra-putranya agar selalu rendah hati. Meski memang ia akui, para putranya itu memiliki paras dan postur yang luar biasa memikat.


Andra yang memiliki kontur paras asia, dengan kulit putih dan bersih. Sedangkan, Maulana memiliki kontur paras eropa dengan postur yang tinggi besar, serta kulit eksotis. Mau yang manly dan maskulin sedangkan Andra cool dan manis.


Padahal mereka satu ayah satu cetakan kenapa bisa berbeda sekali. Sepertinya genetik dari keluarga El Barack yang memang berdarah turki dan latin menurun penuh pada Maulana.


Sedangkan, genetik dari keluarga Kartika yang berdarah uighur dan korea menurun pada Andra.


Betapa bersyukurnya ia, memiliki putra yang memiliki kelebihan di fisik dan otak mereka.


Hingga, kesendiriannya tak pantas ia risau kan. Kesendiriannya, membuatnya memiliki waktu lebih lama dan leluasa untuk menghaturkan sujud syukur pada tuhan nya.


Hanya itu yang kini ia lakukan untuk mengisi masa tua nya. Melakukan ibadah sebanyak-banyaknya.


Waktunya yang bebas serta luas, selalu ia isi dengan hal yang bermanfaat. Bukan karena sombong atau lainnya, jika ia menolak belasan pria yang hendak menghalalkannya.

__ADS_1


Hanya saja, bagi nya pernikahan cukup sekali seumur hidupnya. Hati dan cintanya kini hanya untuk kedua putra dan keturunan mereka nantinya.


Andra, mengerutkan keningnya. Melihat sang umma bengong menatap foto-foto dirinya dan Mau yang di bingkai di atas nakas.


Juga ada foto ketika Mau di gendong abuya Syafiq. Seorang lelaki yang lemah lembut pada istri dan keluarganya, namun tegas dalam urusan pekerjaannya.


Itulah sifat abuya yang selama ini di tiru oleh Andra dan Maulana.


"Um," panggilnya lembut pada wanita yang baginya adalah super hero, bahkan lebih hebat dari avenger sekalipun.


Kartika seketika menoleh dan terlihat matanya yang mendung, namun ia tersenyum.


"Malam ini kita keluar, Abang udah ajak Najwa tadi,"


"Sebagai, permohonan maaf Abang untuk dia," jelas Andra menatap teduh ke arah wanita luar biasa itu.


"Oke, bagus dong, jadi hubungan kalian gak bakal renggang lagi,"


"Kita juga udah lama gak keluar bareng," jawab Kartika sumringah. Semoga hubungan antara anak kandung dan anak asuhnya bisa membaik. Meskipun mereka tak bisa lagi sedekat dulu sebelum Najwa akil baligh.


Kini, telah jelas sekat pembatas tak kasat mata di antara mereka berdua. Menahan keduanya untuk lebih bisa menahan diri dan bertingkah laku sesuai syariat islam.


Dan, Kartika bersyukur darah daging dan anak asuhnya mampu menerapkan syariah itu dengan baik dan benar.


Sementara itu di kamar yang lain.


Najwa, yang telah menghabiskan semua sandwich itu menatap nanar ke pada piring yang kosong.


Namun, sekejap kemudian ia tersenyum.


Beralih ke wastafel dan mencuci tangan, lalu menyalakan keran dalam bath up.


Tak lama kemudian adzan magrib berkumandang dari arah masjid yang jaraknya lumayan jauh. Akan tetapi, karena pengeras suara yang di gunakan adalah alat yang high technologi, maka suara yang di hasilkan bersih, dan sampai ke tempat yang jauh.


Kartika memanggil Najwa untuk solat berjamaah di bawah, mumpung Andra ada di rumah.


Betapa senangnya hati Najwa, hari ini ia merasa semua kembali seperti sebelumnya. Meski pun kini ada sosok lain yang ia rindukan. Ada sentuhan dan perhatian lain yang ia dambakan. Bahkan, ia merasa ingin mereka juga ada bersamanya.


Najwa segera membuang angan itu jauh-jauh. Di pikirnya, memangnya dia itu siapanya mereka?


Ia hanyalah seorang anak perempuan, yang semuanya serba kebetulan mirip seperti anak mereka.


( Memangnya kemana anak mereka?


Hilang ataukah sudah tiada?


Kenapa mereka begitu baik padaku, kalau memang aku hanya mirip saja?


Ahk, jangan-jangan mereka berniat mengadopsi ku?

__ADS_1


"Tidak, aku tidak akan mau!"


Sesuka dan senyaman apapun, aku dengan mereka. Najwa, gak akan mau berpisah dari uncle dan umma.


__ADS_2