Mengasuh Calon Istri

Mengasuh Calon Istri
Pulang kampung( Hideo-Ameera)


__ADS_3

🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼


Andra, Najwa dan Kartika, memutuskan berjalan-jalan di taman hari ini. Karena jarang sekali uncle nya ini tidak sibuk di akhir pekan. Sehingga, mereka memiliki waktu untuk keluar.


Mereka bertiga tinggal di kota yang ramah terhadap muslim. Daerah tersebut adalah Prefektur Chiba yang terletak di sebelah timur Tokyo. 


Untuk mencapai Prefektur Chiba, ada beberapa sarana transportasi yang bisa di gunakan. Ada penerbangan yang menuju bandara internasional Narita lalu melanjutkan naik kereta ** Sobu, jurusan Narita langsung menuju Stasiun Chiba.


Selain itu tersedia juga Airport Limousine Bus dari Bandara Internasional Haneda ke Chiba dengan biaya kurang lebih 1.370 yen atau sekitar Rp 177,000 dengan waktu tempuh sekitar 50 menit.



Es serut putih terlihat di mana-mana, sebuah pemandangan yang indah karena warna putih telah mendominasi seluruh area.


Udara yang dingin dan jalan yang agak licin, tidak menyurutkan langkah mereka bertiga untuk menikmati suasana di Chiba. Kota indah yang sudah dua tahun mereka tinggali.



Najwa, mengambil beberapa genggam salju putih itu, dan dengan tawa jahilnya ia lemparkan ke tubuh sang uncle.


Karena saat ini, Andra berjalan di depan mereka.


Lalu di mana Mau?


Kenapa ia tak pernah ada?


Karena, Maulana sedang melanjutkan kuliah hukum, sekaligus magangnya di salah satu kantor advokat ternama di negara Malaysia. Liburan, tahun ini Mau berencana mengunjungi mereka.


Terbayang sudah, bagaimana rindu telah menyelimuti hati Kartika. Ketika salah satu putranya, harus tinggal berjauhan dengannya demi meraih impian dan cita-cita.


Andra, menengok dan melihat Najwa yang terkekeh geli. Sedangkan umma Kartika hanya menggeleng, melihat mereka yang selalu menjahili satu sama lain.



Bunga plum yang cantik, meskipun tertutup oleh bongkahan es yang membeku. Warna pink merona nya, mewakili kedua pipi Najwa yang selalu bersemu merah.


Mereka memutuskan singgah dan duduk di bangku taman yang sedikit basah.


Menghirup udara dingin, meski mentari bersinar sangat cerah. Bahkan, nafas mereka terlihat mengeluarkan uap panas.


Najwa ingin sekali bermain dangan benda putih yang menumpuk itu. Andra yang tau apa yang Najwa inginkan, menarik tangan gadis kecilnya, mendekati sebuah bongkahan putih di pinggir jalan.


"Aku mau bikin olaf dong, Uncle," pintanya pada pemuda berjaket tebal berwarna grey itu.


Tapi, puk!


Bongkahan salju kecil mendarat di ujung hidungnya.

__ADS_1


"Uncle!" pekik Najwa, membuat Andra semakin tergelak karena ulahnya.


"Biar pesek tuh idung, lagian si lancip bener." Setelah mengatakannya, Andra segera berlari mengitari pohon dengan ranting gundul. Karena, Najwa telah menyiapkan amunisi perlawanannya. Beberapa bongkahan salju telah siap di tangannya.


Puk...puk.


"Gak kena, week!"


Puk!


"Ouch!"


"Hahahah...!"


Najwa, tergelak sambil memegangi perutnya. Ketika lemparannya tepat mengenai hidung uncle nya.


Kartika yang melihat dari tempat duduknya, menghela napas berat.


(Kalian begitu dekat, bagaimana kalau suatu saat nanti, kalian akan di pisah?)


(Umma pun, akan berat melepas mu, Najwa.)


(Kalung itu, satu pembuktian bahwa kau bukan berasal dari keluarga biasa.)


(Apakah, kau sudah aman sekarang? Masihkah, para penjahat itu mencari mu?


Sampai kapan, Najwa akan hidup dalam kepalsuan?)


"Aduh, aduh..., kalian ini!" pekik Kartika yang melihat wajah serta jaket keduanya di penuhi oleh salju. Kini, ia telah berada di hadapan kedua manusia beda generasi.


Yang sejak tadi asik perang bola salju, sampai tak mendengar panggilannya dari kursi sana.


Najwa dan Andra hanya nyengir kambing. Najwa sih masih bocah, lha kalau Andra...?


Ya, Andra akan kembali macam bocah kalau sedang bermain dengan gadis kecilnya itu. Akan sangat berbeda, jika melihatnya sedang bekerja.


Andra akan menjadi pribadi yang irit bicara namun banyak bekerja. Mode serius dan tidak suka bercanda. Karena, pekerjaannya memang menuntut skill yang teliti dan konsisten.


Andra yang bekerja di sebuah perusahaan Jepang, yang bergerak di teknologi robotika. Seorang pengusaha bernama Mr. Sankai memiliki tujuan mulia di balik perusahaan besutannya.


Seorang miliuner yang ingin memberikan pelayanan bermanfaat bagi para lansia melalui teknologi robot.


Robot ini, akan dipasangkan di salah satu atau kedua kaki untuk membantu pergerakan.


Bisa dikatakan, robot ciptaan Sankai diperuntukan bagi masyarakat lansia atau penderita penyakit stroke dan sklerosis.


Kemudian, Andra dengan kejeniusannya. Mengembangkan ide Sankai untuk membuat juga robot yang dapat membantu para penyandang di sabilitas.

__ADS_1


Menggunakan perangkat yang sederhana agar harganya juga terjangkau bagi semua kalangan. Ide-ide tak biasa dari pemuda inilah, yang membuat Mr. Katsuhiko, kaki tangan sekaligus asisten kepercayaan Mr. Senkai, merekomendasikan nya kepada pengusaha raksasa. Dengan tekhnologi kecerdasan buatan terbesar dan ternama di negara sakura ini.



Chip kecerdasan buatan yang akan di tanamkan di beberapa robot pembantu lansia.


Serta robot mekanik, untuk para penyandang di sabilitas. Agar mereka dapat hidup mandiri dan percaya diri.



Contoh robot yang di buat oleh perusahaan Mr. Senkai. Dan, Andra adalah salah satu perakit nya. Berasal dari Indonesia dengan usia yang terbilang muda.


Karena, beberapa ilmuwan dan di perusahaan raksasa itu. Rata-rata, berusia di atas empat puluh tahun.


"Umma, lapar lah. Yuk ah cari makan dulu," ajaknya pada Najwa dan Andra.


Mereka pun singgah di salah satu restoran yang terletak tak jauh dari taman itu.


Berjalan kaki sekitar lima belas menit, dan mereka bertiga pun sampai.


Duduk di kursi bundar dengan meja yang berbentuk sama. Menanti pesanan sambil menikmati teh hijau hangat.



Tendon, adalah menu yang mereka pilih.


Masakan khas jepang yang terdiri dari, mangkuk yang berisikan nasi bersama daging, telur dan sayur-sayuran. Serta di jamin ke halal nya.


Karena, di wilayah ini banyak masyarakat muslimnya.


Mencari mushola pun tak sulit karena ada beberapa bangunan sebagai pusat keislaman di Chiba.


Balai yang bisa di jadikan pertemuan para muslim, bisa manjadi pusat studi ataupun pengajian rutin bulanan.


Sementara itu, Jet pribadi yang di tumpangi oleh Hideo dan Ameera telah tiba di bandara Narita.



Tak lama kemudian, alarm di ponsel Ameera menunjukkan bahwa waktu untuk sholat telah tiba.


Ia yang bingung, karena ini kali pertama sang suami mengajaknya pulang ke kota kelahirannya.


Hideo yang menangkap gelagat khawatir dari sang istri tercinta, segera menggenggam jemari lentik itu.


" Kau, tidak perlu bingung sayang,"


"Karena, Bandara Internasional Narita, memiliki dua ruang ibadah di tiga terminal berbeda. Seperti musala yang umum kita temukan di Indonesia," jelas Hideo dengan tak mengalihkan sedikit pun pandangannya, pada wajah cantik di hadapannya ini.

__ADS_1


Kemudian mereka berdua beranjak ke musholla. Diiringi oleh dua orang pengawal dan dua orang pria yang membawa troli berisi koper mereka.


Bersambung>>>>>


__ADS_2