Mengasuh Calon Istri

Mengasuh Calon Istri
Mommy? Daddy?


__ADS_3

🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼


......Budayakan ngelike setelah membaca ya gaes.......


...Beri dukungan untuk penulis mu....


...Biar makin semangat dalam menyajikan kehaluan yang hakiki....


...Happy reading....🥳🥳🥳....


*******


Beberapa hari berlalu, hubungan Andra dan Najwa sudah baik-baik saja. Pekerjaannya stabil, Andra tak lagi perlu lembur dan pulang larut.


Namun, tidak hari ini. Terjadi keanehan pada para mesin, karena mendadak error dan tidak bekerja. Andra terpaksa, menambah jam kerjanya demi membenahi kekacauan yang di buat oleh beberapa robot.


Selepas magrib, akhirnya semua dapat di selesaikan dengan baik. Masih ada waktu, satu jam lagi sebelum makan malam. Setelah solat fardu, Andra beranjak menuju base man.


Namun, langkah kaki panjangnya di hentikan oleh panggilan seorang wanita yang sangat ia kenal. Andra, menghela nafas jengah, matanya memutar malas. Kalau saja bukan karena dia anak direktur, sudah pasti ia sudah minta ganti asisten yang baru.


Pintar sih iya, tapi Andra risih bila ada niat lain daripada bekerja.


Andra dengan terpaksa menoleh, dan senyum dari wajah cantik dan mulus itu terkembang.


"El Barack -san."


" Ie ni tsureteitte kudasai," (Mohon, antarkan saya pulang,) pinta Megumi setelah ia menunduk hormat pada pemuda tinggi dan tampan di hadapannya.


Andra, melirik ke arah benda beroda empat berwarna biru metalik di sebelah mobilnya.


"Watashi no kuruma no taiya...," ( Ban mobil saya...,)


belum selesai menjelaskan, Andra sudah memotong ucapan wanita cantik berkacamata itu.


"Sā, seibi-shi ni denwa shimasu," ( Biar, saya panggilkan montir.) jelas Andra, ketika Megumi hendak menolak, pemuda itu kembali berkata.


"Matte!" (Tunggu lah!) titah Andra, kemudian terlihat ia menelepon seseorang.


Andra, mengakhiri panggilan, setelah mengatakan di mana lokasi mereka.


Megumi semakin mendekat ke arahnya.


"Ichidodake," ( Sekali saja,)


"Ie made tsurete kaette kudasai," ( Antarkan aku pulang,) pintanya dengan raut wajah memohon.


Seandainya, pria itu bukan Andra, sudah pasti akan luluh dan tidak akan bisa menolak. Sayang nya, wanita cantik nan seksi itu salah sasaran.


"Anata no genkai o mamotte kudasai!" (Jaga batasan anda!)


"Megumi-san," ujar Andra, memperingati wanita itu.


"Watashi wa, tada tasuke o motomete iru dakedesu," ( Saya, hanya meminta tolong,)


"Nande omo-sōna no?" ( Mengapa, itu terlihat berat?) ucap wanita itu setengah memaksa.

__ADS_1


"Soshite koko ni arimasu."


" Watashi no tasukedesu."( Dan, inilah. Bantuan dari ku,) Setelah, kedatangan sang montir, maka Andra pun berlalu memasuki kendaraannya.


Tinggallah, wanita yang bernama Megumi itu. Menatap sinis pada mobil hitam yang berlalu di hadapannya.


"Fuun!" ( Sial!)


"Atode mite miyou!"("Lihat saja nanti!!)


Wanita itu menghampiri mobilnya, melewati sang montir. Kemudian, menghidupkan mesin dan ngedrift.


Setelah nya, kendaraan itu melesat meninggalkan sang montir yang melongo.


"Dakara, watashi wa nani o shimasu ka?" ( Terus, saya ngapain?) tanya nya pada angin yang berembus.


*****


Ameera, merasa sudah tak tahan lagi menahan rindunya. Sebentar lagi mereka pun akan meninggalkan negeri para ninja ini.


Karena, keadaan kakek Matsumata semakin membaik. Lalu,bagaimana dengan Najwa?


Ia harus segera mengungkap kebenaran itu, agar mereka bisa membawa serta Najwa pulang.


Hideo, mendekati istrinya yang tengah risau itu.


Meminta nya menghubungi Kartika, karena mereka akan menceritakan tentang perasaan mereka.


Mereka berharap, Kartika mau mengerti dan tidak mempersulit semuanya.


Di sebuah taman, di mana rerumputan mulai tumbuh, dan pohon-pohon tak lagi kering.


Ameera mulai mengungkap kan perasaannya, di mulai ketika pertama kali melihat Najwa dan ketika gadis itu melewatinya.


Sampai mereka berdua mengikuti sampai ke toko buku di Aeon mall kala itu. Bagaimana debaran jantungnya ketika pertama kali Najwa meraih dan mencium tangan mereka.


Bagaimana rindu akhir-akhir ini menyiksa mereka, ingin selalu mendekap dan menatap wajah jelita Najwa. Ameera menceritakan semua yang di rasa dengan linangan air mata, derai itu tak kuasa di tahannya.


Bahkan sesak di dadanya serasa hendak meledak, bagaimana ia bertahan selama ini dengan rindu menggebu di dalam kalbu nya.


Kehilangan buah hati yang lama di nanti nya, hilang tanpa bekas dan jejak sedikit pun. Kini, mereka seakan menemukan secercah cahaya itu. Namun, ternyata masih samar dan sulit untuk di gapai.


Kartika mengerti bagaimana perasaan Ameera, karena ia juga seorang ibu.


"Maaf, bisa kalian jelaskan bagaimana kronologi perpisahan kalian dengan Najwa," tanya Kartika memastikan apakah cerita dua orang di hadapannya ini akan sama persis dengan cerita dari putranya.


Sebelum menjawabnya, Hideo terlihat menghela nafasnya berat.


Ameera memegangi kepalanya, berharap ingatannya pulih saat ini.


"Apa yang terjadi?"


"Apa, kamu baik-baik saja Ameera?" gusar Kartika melihat Ameera seakan menahan sakit.


"Sayang, cukup!"

__ADS_1


" Hentikan, menyakiti dirimu sendiri," larang Hideo, karena Ameera tengah berusaha memaksa otaknya mengingat.


"Ameera, sudah,"


"Masih ada cara lain," sergah Kartika membuat Ameera menghentikan aksinya.


Mereka berdua menatap Kartika dalam.


"Tuan Hideo, bisa anda ceritakan apa yang terjadi dengan Ameera?"


"Sebelum aku memberi tahukan cara lain itu," tutur Kartika.


Dan, Hideo pun menceritakan semuanya dengan sejelas-jelasnya.


Kartika membekap mulutnya, begitu pun seorang pemuda yang duduk tak jauh dari mereka.


Seumur hidupnya, baru ia mendengar ada manusia sejahat itu. Ternyata, kisah hidup pasangan di hadapannya ini sangatlah sulit. Lebih sulit dari perjuangan hidupnya membesarkan anak tanpa suami, lebih sulit ketimbang ia yang harus pindah kesana-kemari demi kelangsungan keselamatan Najwa.


Tanpa terasa kedua matanya telah basah, begitu juga sudut hatinya. Semoga mereka memang benar terhubung dan berhubungan.


"Apa kau ingat, apa yang di bawa bayi perempuan itu di dalam bedong nya?" Kartika mencoba mengulik kejujuran dari kedua nya.


"Hubby, aku tidak bisa mengingatnya. Maafkan aku...!" Ameera memekik kemudian, terisak hebat. Ia tergugu di dalam dekapan Hideo.


"Istighfar, sayang. Ingatlah, Allah telah membantu kita hingga sampai ke titik ini,"


"Biar aku yang membantu mu mengingatnya," bisik Hideo, hingga Ameera kini tidak sehisteris tadi.


"Najwa kami pergi bersama dengan surat lahirnya, serta sebuah kalung emas putih bertahtakan berlian,"


"Kalung tersebut adalah mahar yang aku berikan kepada Ameera,"


"Kami selalu menanti yang menolong putri kami menjualnya, agar kami dengan mudah dapat melacak keberadaannya,"


"Tapi, semua nihil. Hingga, hati kecil kami sempat berfikir bahwa...," Hideo tak mampu meneruskan ucapannya, dadanya terasa sesak dan kerongkongannya tercekat.


"Ini, bukti foto kalung itu. Jika anda masih belum percaya, izinkan kami melakukan tes DNA,"


*****


Najwa menatap takjub rumah besar nan mewah yang di pijaknya saat ini. Hati nya sangat senang sekaligus ragu.


Apakah kenyataan ini sungguhan?


Apakah ini akhir penantian dari segala pertanyaannya?


Apakah kini saat nya ia menyingkap tabir asal-usul mimpi buruknya selama bertahun-tahun.


Semalam, umma telah menceritakan semuanya. Memberi tahu tentang biodatanya. Di mana tertulis dengan jelas siapa kedua orang tua kandung nya.


Serta sebuah kalung yang beberapa waktu belakangan ini selalu tergantung di leher jenjangnya.


"Sayang, sebentar lagi kita makan siang. Lalu, Mommy dan Daddy akan mengajak mu menonton film di kamar atas," ucap Ameera menyadarkan Najwa dari lamunannya sesaat barusan.


"Mommy? Daddy?" Najwa bingung.

__ADS_1


Bersambung>>>>>


__ADS_2