Mengasuh Calon Istri

Mengasuh Calon Istri
Daddy yang pelukable


__ADS_3

🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸


Undangan mulai di sebar, melalui online dan juga via paket jalur cepat.


Kurang dari sepekan, perhelatan akbar itu akan di laksanakan.


Hideo, tak ingin di tolak, ia akan merayakan acara meriah untuk pernikahan sang putri. Kenangan sekali seumur hidupnya, apalagi ia akan berpisah kembali dengan Najwa.


Karena, jika sang putri sudah menikah maka tanggung jawab terhadapnya lepas. ( Kenapa jadi banyakan jatahnya Andra yang mengurus Najwa? Rasanya, kami belum lama bersama, namun dirinya sudah di ambil lagi. Kenapa, aku merasa seperti meminjam ya?) Hideo, terkekeh pelan mendengar suara hatinya.


Kini ia sedang memerintahkan beberapa orang untuk menyebar undangan itu. Sungguh ia tak menyangka, bahwa jodoh putri nya akan secepat ini.


Dan, mendapat menantu hebat luar biasa, bahkan hampir mendekati sempurna sebagai sosok manusia.


Di balik kesedihan dan kehancuran setelah kejadian penculikan itu, hingga berakhir perpisahan pada sang putri sejak masih merah. Kecacatan Ameera selama beberapa tahun. Runtuh nya beberapa anak perusahaan.


Ternyata di balik itu semua, Allah telah menyiapkan rencana indah untuk mereka. Karena Allah yang telah mengatur segalanya, dengan menitipkan Najwa pada sebuah keluarga yang luar biasa.


Hideo, berpikir seandainya Najwa bersamanya sejak bayi dan tak ada insiden itu. Belum tentu cara mendidiknya akan sama seperti Kartika dan Andra.


Belum tentu, Najwa akan menjadi sosok wanita muslimah yang sedalam itu ilmu agamanya. Serta memiliki kepribadian yang sangat peduli pada sesamanya.


"Kamu masih sangat sibuk sekali, sayang?" heran Hideo yang melihat Najwa hendak berangkat pagi ke kampus nya.


"Aku janji, ini yang terakhir, Daddy." Najwa menggamit tangan Hideo dan menciumnya.


"Tunggu dulu...," tahan nya pada Najwa yang hendak berlalu.


Kemudian, Hideo menangkup wajah jelita itu. Menatapnya dalam dan hangat.


" Najwa, sebentar lagi akan pergi dari Daddy dan Mommy. Rasanya, kebersamaan kita baru sebentar sekali. Seandainya, pria yang melamar mu bukan malaikat pengasuh mu, sudah pasti akan Daddy tolak mentah-mentah," tutur Hideo mengungkapkan isi hatinya.


Najwa mengangkat kedua tangannya dan ikut menggenggam kedua tangan kekar sang daddy. Tersenyum, meski haru nya hendak menyeruak keluar.


"Terimakasih, Dad. Atas restu dan keridhoan mu, hingga Najwa berada di titik ini. Najwa janji akan sering mengunjungi Daddy, Mommy dan Syam," ucap Najwa serak, karena ia tengah menahan tangisnya.

__ADS_1


Baginya pun berat, jika harus berpisah lagi dengan keluarga nya yang hangat dan harmonis. Daddy nya yang penyayang dan Mommy yang lembut. Sang adik yang lucu dan menggemaskan.


Seandainya bisa ia mengatur semua sesuai keinginannya. Ingin rasanya, seluruh orang yang ia sayangi berkumpul dalam satu tempat.


Hingga, mereka tak perlu saling berjauhan dan memendam rindu untuk kesekian kalinya. Akan tetapi, hidup tidaklah semudah itu. Semua telah ada jalan nya masing-masing.


"Daddy bangga padamu, dan bersyukur Allah telah menganugerahkan mu pada kami. Hingga, menjadi seorang anak yang memberi kehormatan tertinggi pada Daddy. Daddy lah yang seharusnya berterima kasih pada Najwa," tutur Hideo lagi, kini ia menarik sang putri kedalam dekapannya.


"Izinkan sebentar saja. Sebelum Daddy melepas mu seutuhnya. Karena sebentar lagi, akan ada pria lain yang lebih berhak untuk mendekap mu seperti ini." Hideo berkata lirih sambil terus mengecupi ujung kepala Najwa yang terbalut khimar.


"Aku menyayangi mu Dad," lirih Najwa dengan mengeratkan pelukannya.


"Mommy ikut dong." Ameera turut merangkul kedua nya. Entah datang dari mana, tau-tau ia telah menghambur di acara mellow antara ayah dan anak itu.


Najwa hanya tersenyum di balik dada bidang sang Daddy yang pelukable. Tanpa berniat untuk membuka matanya, karena ia tengah meresapi setiap sentuhan hangat yang akan menjadi kenangannya nanti.


"Lain kali, ajak-ajak Mommy ya. Untung aja tadi Mommy lewat," sungut Ameera merasa tersisihkan, jika ayah dan anak ini sudah bersama.


Ia akui, Belakangan ini semenjak mereka memiliki Syam. Najwa lebih dekat dengan Hideo. Suaminya adalah sosok ayah yang hebat, karena begitu perhatian dan dekat dengan anak-anaknya.


Andra terlihat gelisah, padahal semua persiapan hampir rampung semua. Ia hanya tinggal menyiapkan mentalnya saja.


"Istirahat yang cukup Bang. Jangan tidur larut malam terus," pesan Kartika. Ketika di lihatnya Andra masih di hadapan laptopnya.


"Kamu harus menyiapkan stamina juga bukan hanya mental." Kartika berucap sambil berkacak pinggang di hadapan Andra.


"Iya, Umma yang cantik. Nih, Abang tutup ya laptopnya," bujuk Andra ketika sang umma terlihat hendak mengeluarkan taringnya.


"Udah hafal belum kalimat ijab qobul nya? Jangan sampai pas hari H, kamu kaku kayak robot-robot mu itu," tanya Kartika membuat Andra menelan ludahnya kasar.


"U-udah dong Um, cuma kalimat kayak gitu sih kecil," jawab Andra sedikit gugup hanya saja ia mampu mengalihkannya dengan cengiran jenakanya.


"Beneran ya! Awas aja kalau sampai mengulang!" ancam Kartika dengan wajah yang sengaja di buat ketus.


Ia ingin agar Andra bersikap berani dan tegas. Jangan hanya di pekerjaan saja ia bisa hebat bicara dan bersikap.

__ADS_1


Jika sudah menyangkut dengan percintaannya kenapa mendadak jadi oncom begitu. Lembek dan..., huufff...


Kartika hanya bisa menghela nafasnya, melihat Andra yang bercucuran keringat. Gimana nanti kalau sudah di hadapan penghulu.


(Ya Allah, jadikanlah dia pemberani dan dewasa bersikap nanti ketika saat menggenggam tangan wali nikah dari pihak perempuan) doa Kartika tersebut dari dalam hatinya.


Sebenarnya Kartika selalu menahan tawanya, ketika melihat ekspresi gugup dan kikuk putra pertamanya itu.


(Kenapa sudah setua ini, masih saja menggemaskan)


(Kalian memang pasangan yang cocok, pembawaan mu yang ceria dan jahil jika bersama Najwa yang juga ceria dan aktif)


(Semoga kalian bahagia, dan menjadi pasangan yang akan saling melengkapi satu sama lain) Tidak ingin terbawa suasana hatinya yang mellow, maka Kartika melangkahkan kakinya menuju dapur untuk membuat kopi.


Mereka memutuskan menyewa sebuah villa, ketimbang menginap di hotel.


(Umma, pake ngingetin segala. Aku jadi grogi lagi kan, huh)


( Kenapa, ini hati selalu dag dig dug, padahal hanya membicarakannya saja. Mana ini otak travelingnya ke sana melulu.) rutuk Andra dalam hatinya.


Mau dan Isyana, sedang berburu barang di sebuah pusat perbelanjaan. Mereka yang menunjuk diri untuk menyiapkan segala pernak pernik seserahan nanti.


Mau sedang mendorong sebuah troli yang berisikan belasan paper bag. Tapi, kaki panjang istrinya belum juga berhenti untuk memasuki butik-butik itu.


"Masih ada lagi kah sayang?" tanya Mau yang hampir menyerah. Kakinya serasa kebas sejak pagi berkeliling dari toko satu ke toko yang lain. Apakah kaki wanita tidak pernah lelah ketika shopping?


"Masih beberapa barang lagi sayang, aku belum menemukan yang pas dengan karakter Najwa," sahut Isyana yang tengah melihat mukenah turkish.


"Apakah kau perlu mencocokkan warnanya juga, dengan karakternya?" tanya Mau mulai jengah. Ia baru tau kalau Isyana sedetail itu.


"Tentu saja, bagaimana kalau nanti Najwa tidak suka, kan jadi mubadzir," sahut Isyana lagi sambil terus memilih warna dan motif mukena.


"Dulu siapa yang membantu mu belanja seserahan untukku memang?" tanya Isyana menoleh sebentar menatap Mau yang lesu.


"Umma dan beberapa murid-muridnya," jawab Mau.

__ADS_1


Bersambung>>>>>


__ADS_2