Mengasuh Calon Istri

Mengasuh Calon Istri
Bersabar sebentar lagi.


__ADS_3

๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


Kenapa aku jadi merasa bersalah ya," lirih Mau kali ini.


"Kenapa memang?" selidik Isyana, kini ia melupakan mukena dan beralih mendekati suaminya itu.


"I-itu, karena saat itu barang-barang yang kamu pesan kan banyak banget tuh, jadi...Umma perlu dua hari buat ngumpulin pesanan kamu, sayang," ucap Mau agak terbata karena melihat raut wajah Isyana yang merengut.


"Jadi kamu nyesel Mau? Gitu?" pekik Isyana dengan tatapannya yang setajam silet.


"Bukan gitu sayang...," (Duh, salah ngomong kan)


Maulana pun menggaruk kepala tak gatalnya.


Sudah tau perempuan itu makhluk paling sensi sedunia. Ada baiknya kalau ngomong di cari dulu anonim dan sinonim yang seapik mungkin.


Ck..ck..


Kini Mau terlihat mendorong troli lebih cepat karena langkah Isyana lebih lincah ketimbang beberapa saat lalu.


"Seharusnya kamu, jangan menyuruh umma untuk mencari barang itu. Kan bisa pesan saja lewat online atau suruh orang lain," sungut Isyana di sela-sela memilih sepatu.


"Waktu itu, Um-Umma yang mau. Dan, ku pikir juga temannya banyak yang ikut," sahut Mau pelan tanpa melihat wajah Isyana.


"Kau tau Mau, aku jadi ikut merasa berdosa sama Umma kalau tau seperti ini," ucap Isyana yang terdengar menghela nafasnya.


"Ya, aku juga kan tadi bilang gitu,"


"Maksudnya, bukan nyesel atau nyalahin kamu sayang," bujuk Mau yang melihat Isyana sudah nampak faham.


"Aku tau, membeli perlengkapan seserahan itu gak gampang. Makanya aku menawarkan diri biar kita aja yang ambil alih. Aku kan kasian kalau Umma harus keliling Mall kayak gini. Kamu aja yang masih gagah dan muda sudah mengeluh," sindir Isyana makjleb sekali.


"Iya, maaf deh. Sekarang aku gak akan ngeluh lagi meski kaki ku copot pun aku gak akan ngeluh, sumpah!" ujar Mau yang malah membuat mata bulat Isyana semakin membulat.


"Ih...,"


"Aww!"


"Makanya, kalo ngomong jangan suka sembarangan!" omel Isyana gemas


"Sakiitt..., kekerasan dalam rumah tangga ini namanya," keluh Mau sambil mengusap pinggangnya yang terasa panas.


"Udah, ayuk jalan lagi tinggal beli perawatan tubuh dan wajah." Isyana pun ikut mendorong troli yang hampir penuh itu.


Cup.


"Apa sih?"


"Cuma nyium pipi,"


"Gak di tempat umum juga!"


"Biar kamu gak marah lagi,"


Cup.


"Maulana!"

__ADS_1


"Iya, sayang. Aku di sini,"


"Jangan bikin malu, ih!"


"Makanya jangan manyun dong,"


"Iya," sambil senyum.


"Nah, kan cantik,"


Cup.


"Mau...!"


"Hehehe...piss!"


Maulana pun lari membawa lari troli itu sambil terkekeh. Puas hatinya bila sudah membuat wajah Isyana bersemu merah.


******


Andra yang sedang bersandar di sofa, terus memandang pada benda pipih di tangannya. Ingin rasanya ia menghubungi seseorang.


Akan tetapi, nomernya saja ia tak tau. Sejak pertemuan pertama dengannya malam itu. Setelah perpisahan mereka selama tujuh tahun.


Pertemuan pertama, makan malam pertama antara dua keluarga. Di sambung dengan lamaran singkat, hingga penentuan tanggal pernikahan.


Sejak malam itu, Andra belum bertemu lagi dengan Najwa nya. Bahkan, untuk sekedar meneleponnya saja tidak boleh.


Bayangkan saja, betapa menumpuknya kerinduan itu. Bahkan, acara sakral yang merupakan ujung penentuan akan statusnya hanya tinggal besok saja.


Tapi, waktu itu seakan lama sekali bila di nanti dengan kerinduan yang menggulung dirinya seperti ini.


"Um, please...!" rayu nya dengan puppy eyes.


"No! Sekali tidak tetap tidak!"


"Jangan rayu Umma dengan cara apapun!" tegas Kartika. Menolak permintaan putra pertamanya itu.


"Lebih baik, kamu bantu Isyana dan Mau bikin parsel,"


"Atau kamu tidur kek sana, apa luluran sana mandi kembang kalau perlu," saran Kartika membuat Andra mendengus.


"Emang ngapain aku pake mandi kembang segala?" kilah Andra.


"Ya biar wangi, biar Najwa lengket terus sama kamu nanti," kekeh Kartika menggoda sang putra.


"Ah, Umma. Kan aku jadi traveling lagi. Segala ngomongin nempel," gerutu Andra.


"Ck, itu mah kamu nya aja yang mecum," decak Kartika dengan memutar matanya malas.


"Lha kan, Umma yang mulai," elak Andra tak terima dirinya di kata seperti itu oleh sang umma.


"Ya udah, sabar, tahan, diem. Mending kamu wudhu sana biar hati kamu tenang dan gak gelisah. Biar tuh syaitonnirrojim pada pergi dari kepala kamu" saran Kartika tegas kali ini.


Andra hanya bisa menelan ludahnya kalau sudah melihat sang umma keluar mode ustdjahnya.


"Sabar itu akan indah pada akhirnya. Setelah kalian sah nanti, kamu akan bebas menumpahkan segala kerinduan dan hasrat diri yang terpendam. Akan menjadi berkah dan berpahala."

__ADS_1


"Biarlah semua rindu itu tumpah ruah bahkan meledak sekalipun. Asal pada saat yang tepat. Ngapain sih di cicil, kalo bisa langsung di bayar tunai! Udah tinggal besok juga, sabar!" Kartika kali ini berucap dengan tegas dan penuh penekanan.


Membuat orang di mabuk kepayang asmara itu memang menguras tenaga dan pikiran.


Padahal, Andra pun sudah mengerti dan faham. Hanya saja, rayuan dan bisikan setan itu akan terus menggoda mu. Membuat kadar iman manusia yang pasang surut, naik turun menjadi gamang dan di lema.


"Iya, Umma..., Abang wudhu aja deh." Andra pun bangkit dan berlalu. Mencoba mengusir gelora dan keinginannya.


Mencoba menahan segala hasrat yang bergejolak di dalam jiwanya. Dengan mendinginkan kulit, kepala juga hatinya.


Wudhu bukan sekedar menyiram atau membasuh kulitmu dengan air. Tapi, wudhu memiliki kekuatan dan faedah dalam menahan bahkan menghempas segala emosi di dalam dirimu.


Wudhu dapat mendinginkan otak dan juga dada mu yang berdentum tak karuan. Apalagi jika di teruskan dengan solat dua rokaat serta membuka mushaf yang agung.


Semua saran dari umma manjur, kini tubuh tinggi putih dengan wajah rupawan itu telah damai dalam lelapnya. Di atas sajadah beludru tebal, sambil mendekap kitab suci Al qur'an.


Lengkap dengan koko gamis turkish dan juga celana sarungnya. Andra terlelap dengan senyum menawan yang terukir dari bibir sensualnya.


Sosok yang begitu mempesona, hingga mampu mematahkan hati wanita secara berjama'ah.


Ya, para pengagumnya. Ternyata, beberapa dari mereka syok berat sekaligus kecewa. Ketika mendapat kabar tentang pernikahannya.


"Masya Allah! Beruntungnya gadis itu,"


"Jadi dia sukanya sama anak kecil?!"


"Kurang apa sih aku, coba...!"


"Semoga kau bahagia,"


"Yaah, belom jodoh mau bilang apa,"


Itulah beberapa tanggapan dan penerimaan dari beberapa wanita yang telah menaruh hati dan masa depan pada Andra.


Tanggapan hampir serupa juga, mencuat dari kubu penggemar Najwa.


"Astagfirullah, ana kalah cepet!"


"Ya Allah, tau gitu langsung lamar aja duluan!"


"Abi! Cariin lagi yang kayak gitu!"


"Kayaknya calonnya dewasa ya? Tapi ganteng,


tolong sembunyiin aku pliss!"


"Apa ana kurang ganteng ya Allah?!"


"Pantas aja kamu cuek banget sama aku Najwa. Ternyata, kamu sudah punya calon suami." keluh Imran, sambil memegangi dadanya yang perih.


Itulah beberapa teriakan kecewa dari hati yang terbelah.


...Udah pada sampe kan undangannya??...


...Jangan lupa dateng ya besok๐Ÿค—....


...Bawa kado, jangan lupa dandan yang ca'em..wkwkwk...

__ADS_1


Bersambung>>>>


__ADS_2