Mengasuh Calon Istri

Mengasuh Calon Istri
Uncle nya Najwa


__ADS_3

🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼


Ruang tamu yang tak seberapa luas itu, kini bagaikan kapal pecah. Semua mainan tumpah-ruah. Bermacam puzzle yang telah tersusun.


Lego, yang berbentuk sebuah robot. Hingga, beraneka macam mainan lainnya yang berbentuk alat masak dalam bentuk mini. Juga alat kedokteran lengkap dengan kotak nya. Seorang balita perempuan, dengan rambut ikal berwarna coklat terang.


Rambut, sebahu yang di kuncir kanan dan kiri itu, terus cekikikan sambil memainkan wajah Andra.


"Ini muka Uncle nya diapain sih? tanya pemuda tampan itu sambil memejamkan matanya.


Ia pasrah saja, mendiamkan kelakuan balita yang baru berusia tiga tahun itu.


Balita berjenis kelamin perempuan, dengan mata besar berwarna hijau terang.Ia terlihat sangat asik menempeli seluruh wajah Andra dengan berbagai stiker dari karakter kartun.


"Hihihi..., Uncle lucu," ucap nya sambil terus terkekeh.


"Terserah Najwa aja deh. Pokoknya, Uncle di apain aja boleh hari ini,"


"Hari ini, puas-puasin deh ngerjainnya," pasrah pemuda yang kini berusia dua puluh satu tahun itu.


"Memangnya, Uncle mau kemana lagi?" tanya balita yang sudah lancar bicara itu sontak menghentikan kegiatannya.


Mata Andra terbuka, ia menoleh menatap wajah balita imut di sebelahnya. Wajah yang tadi nya ceria dan terus terkekeh geli itu, mendadak layu, sendu tanpa semangat.


" Lho, kok berhenti? Uncle udah pasrah ini lho, mau diapain juga rela deh." Andra , merubah posisi rebahan nya menjadi duduk.


"Kenapa tiba-tiba jadi manyun?" heran Andra, melihat perubahan mendadak pada Najwa nya.


Balita berkulit putih bersih, dengan kedua pipi chubby yang kemerahan itu, hanya menggeleng lemah.


Meskipun, Andra berkali-kali menoel hidung dan juga dagu bulatnya. Najwa tetap saja menunduk dalam diamnya.


"Cantik nya Uncle, kenapa? Hmm?" tanya nya sekali lagi, sambil mengangkat tubuh mungil itu.


Najwa, dengan postur lebih tinggi di banding anak seusianya, kini telah berada di atas pangkuan Andra. Pemuda itu faham. Bahwa, balita imut nan lucu ini tengah merajuk.


"Najwa, kenapa jadi diam? tadi seneng banget ngerjain Uncle nya?" tanya Andra sambil sesekali mengelus pipi yang selalu kemerahan itu.


"Najwa, gak suka kalo ditinggalin lagi," lirih balita imut itu, menatap Andra dengan wajah sendunya.


"Kan, Uncle perginya gak lama. Nanti juga pulang," bujuk Andra pada Najwa yang sudah terlihat mendung.


"Pokoknya gak mau!"

__ADS_1


"Uncle nya pergi-pergi terus!" protes Najwa, dengan menampilkan wajah kesal nya. Pipi mengembung, mata membesar, dan kedua tangan bersedekap. Gaya nya itu, malah semakin membuatnya terlihat menggemaskan.


"Idih, sok marah," ledek Andra kemudian ia menarik hidung mancungnya Najwa.


Membuat gadis itu meronta dan semakin kesal.


Andra malah semakin terkekeh, kemudian ia memeluk gadis kecil yang hampir menangis karena ulahnya itu.


"Kan, Uncle nya pergi juga karena ikut lomba, sayang," kilahnya sambil terus menciumi ujung kepala Najwa. Karena, saat ini Najwa tengah memeluk da da bidangnya erat.


"Lomba melulu? Uncle kan udah punya banyak piala?" tanya nya polos sambil terus memeluk erat, seakan-akan uncle nya akan pergi dan tak kembali.


"Kan, Uncle mau jadi orang hebat. Jadi ahli pembuat robot dan ahli komputer,"


"Nanti, kalo menang kan Uncle bakalan dapet hadiah.


Dan, hadiah itu bisa untuk Uncle sekolah tinggi sampai pintar," jelasnya panjang lebar pada balita cantik di atas pangkuannya ini.


Ia tau, Najwa pasti faham.


Karena jalan pikiran nya, tak seperti balita pada umumnya.


"Kalo, Uncle udah pinter terus mau apa?" tanya Najwa polos dengan mata bulatnya. Sungguh lucu dan menggemaskan.


"Kalo, Uncle udah pinter. Uncle bisa melakukan atau menciptakan hal yang berguna untuk orang yang membutuhkan, sayang." Andra memandang lekat iris berwarna hijau terang itu.


Ya, balita ini akan terus bertanya sampai ia kehabisan kosakata nya sendiri.


"Tentu, semua orang. Yang membutuhkan keahlian Uncle," jawab Andra setelah ia sempat berpikir sepersekian detik.


"Tapi, nanti Najwa akan kesepian,"


" Kalo, Uncle gak ada nanti Najwa kangen,"


"Terus, nanti Najwa gak bisa tidur,"


"Uncle kan kalo pergi lama," celoteh balita cantik yang seperti boneka hidup itu.


Sejak usia setahun, Najwa sudah bisa bicara meskipun cadel.


Di usia sembilan bulan ia telah pandai berjalan. Bahkan, kini Najwa sedang belajar membaca. Semua itu atas keinginannya sendiri. Ia memang anak yang pintar, dan penurut.


"Cuma satu minggu, apanya yang lama?"

__ADS_1


"Nanti, kalo Uncle sekolah di luar negeri baru lama pulangnya," jelas Andra, yang membuat Najwa mendongak dan membulatkan mata besarnya itu.


Sesaat, Andra amat terpukau dengan warna dan bulu lentik dari mata Najwa.


Betapa wajah nya begitu sempurna, tidak ada sedikitpun cacat dan cela.


Perasaan apa ini? Ia sangat menyayangi Najwa dan jauh dari nya juga memberi rasa tak nyaman di hatinya. Sejak bayi Najwa selalu berada di sisinya, tidur pun harus sekamar dan satu ranjang dengannya.


Apakah ini perasaan sayang biasa?


Kenapa ada rasa tak rela bila suatu saat nanti, Najwa akan bertemu dan di ambil lagi oleh keluarganya. Akankah, ia sanggup berpisah selamanya.


Hingga tanpa sadar, Andra melabuhkan kecupan lama di ujung kening balita cantik itu.


Najwa tersenyum, ia senang di perlakukan seperti itu oleh Uncle kesayangannya.


Hingga, sesuatu hal yang di lakukan nya barusan membuat mata Andra membulat dan hampir meloncat keluar.


(Bagaimana bisa, siapa yang mengajarinya?)


"Ka, kamu kok nyium Uncle nya di sini?" tanya Andra terbata karena ia kaget, sambil menunjuk ke area bibirnya.


Najwa mengerjapkan mata nya lucu, ia bingung kenapa wajah pemuda di hadapannya ini berubah warna.


"Najwa kan sayang sama Uncle, ya udah sini." Gadis mungil itu, menarik wajah Andra untuk menyamainya, menangkup kedua pipinya. Kemudian, ia melabuhkan kecupan kecil ke seluruh area wajah pemuda tampan itu.


Membuat, sepasang mata indah Andra semakin membola.


"Ya ampun, kamu lagi ngerayu Uncle ya? Siapa yang ngajarin sih nyium kayak gini?" tanya Andra tak habis pikir. Seharusnya biasa saja, toh yang menciumnya hanya balita perempuan. Entah, kenapa hatinya merasakan hal yang tak biasa. Sejak bibir plum itu mendarat di kedua bibir tipis sensualnya.


"Umma, selalu nyium Najwa kayak gini, katanya sayang. Kalo kayak gini gemes." Kemudian, Najwa kembali menciumi Andra, sambil sesekali menduselkan hidungnya di pipi pemuda yang langsung melongo itu.


"Tapi gak boleh nyium di sini?" kata Andra sambil menunjuk bibirnya. Padahal biasa saja harusnya, kan masih kecil juga Najwa nya. Tapi, kenapa jadi masalah?


(Kenapa hati ku berdebar? Apa aku sudah tidak normal?)


"Kenapa gak boleh? Uncle benci sama Najwa ya?" tanya balita itu mulai mendung lagi. Bahkan, kini kedua mata indahnya sudah berkaca-kaca.


________>>>>>


bersambung....


Mohon dukungannya terus ya tayang cemuaaa...

__ADS_1


Jempol nya jangan lupaaaa....πŸ€—


Biar mak makin semangat ini.πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯


__ADS_2