Mengasuh Calon Istri

Mengasuh Calon Istri
Siapa sih tamu nya?


__ADS_3

🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸


Gadis jelita dengan sepasang mata hijaunya yang indah, tengah menatap pada layar laptopnya. Di samping PC nya itu terdapat beberapa buku tebal yang ia pinjam dari perpustakaan kampus.


Di atas meja berbentuk lingkaran sedang itu, juga terdapat satu cup boba ice capuccino yang tinggal setengah. Najwa sesekali menyeruput minuman kesukaannya di musim panas, sambil mengetik pada lappy nya.


Suasana tidak terlalu ramai karena jam masih pagi, hanya ada beberapa orang yang sedang sarapan atau sekedar ngopi di kantin ini.


Ketenangan itu tidak berlangsung lama, karena setelahnya ada dua orang pemuda yang mendekati mejanya. Dan, tanpa permisi mereka duduk di hadapan Najwa yang tengah serius.


" Assalamu'alaikum ukhty," salam dari seorang pemuda yang semenjak Najwa masuk kampus selalu mengganggunya. Sebenarnya pemuda itu hanya suka mengikutinya, menyapanya, menawarkan jemputan, intinya SKSD lah.


"Waalaikum salam.Tolong, ya jangan ganggu saya. Soalnya, lagi sibuk bikin deadline." jelas Najwa sopan dengan melihat sebentar ke arah pemuda itu.


"Kamu, kapan sih gak sibuknya?"


"Padahal cuma pengen diskusi lho," ujar pemuda itu berusaha menarik perhatian Najwa.


"Aku buka forum diskusi antar mahasiswa seangkatan kok. Kan ada di mading jadwal nya," sahut Najwa, tanpa mengalihkan tatapannya.


Pemuda itu tau Najwa tidak menginginkan kehadirannya, karena nya ia menyerah dan segera pergi dari sana.


"Okelah, kalo begitu. Maaf, udah ganggu kamu ya," ucapnya dengan rasa kecewa yang sangat kentara.


"Ok, its fine!" Najwa tidak menoleh sedikit pun, ia hanya mengangkat jarinya membentuk huruf' O'.


Bukan maksudnya mengabaikan orang lain, Najwa hanya menjaga marwahnya sebagai wanita. Menjaga kehormatan, harga diri dan juga nama baik.


Menjaga hatinya dari rasa yang mungkin tumbuh karena terbiasa. Ia juga tak ingin memberi harapan pada lelaki manapun juga.


Karena, di hatinya hanya ada satu nama. Yang selalu ia sebut di dalam doanya. Mimpinya masih sama, harapan masih dia.


"Najwaaaa...!" pekik seorang gadis berwajah timur tengah, dengan hidung lancip dan bibir sedikit tebal.


(Adduuhh, banyak amat dah gangguannya,)


(Padahal udah sengaja dateng pagi,) batin Najwa ngedumel sendiri.


"Bisa gak si beri salam dulu, terus panggil nya pelan aja. Kan aku nya di depan kamu," protes Najwa, sambil menatap dalam sahabatnya itu. Yang di liatin cuma cengar -cengir.


"Eh, iya. astaghfirullah!" pekik gadis muda itu.


"Aku nyariin kamu, kirain ada di perpus. Setelah aku ke kelas dan sepi.


Najwa, hanya tersenyum tipis dan jari-jemari nya yang lentik itu, asik berselancar di keyboard.


" Masih ngerevisi makalah yang kamu ceritain semalem ya?" tanya gadis itu lagi.


"Iya, dan hari ini aku harus nyerahin. Nah. Selesai!"

__ADS_1


"Alhamdulillah," ucap Najwa penuh syukur. Karena tugasnya selesai.


"Tadi kulihat Imran kesini , terus gak lama keluar dengan muka di tekuk,"


"Pasti kamu cuekin lagi ya kan?" selidiknya ingin tau.


Najwa hanya tersenyum tipis, kemudian meraih cup boba nya dan menyedotnya.


" Aku ingin menuntut ilmu di kampus ini. Tidak ada hal selain itu, dalam daftar perencanaan menggapai cita-cita ku." Najwa berucap tegas sambil menatap dalam pada gadis di hadapannya.


Kemudian ia merapikan laptop dan barang lainnya.


"Aku mengerti batasan mu, sini aku bantu bawa buku-bukunya." Kemudian gadis yang bernama Anya itu mengambil tumpukkan buku-buku tebal itu.


*****


Siang ini, Najwa akan mengajar les mengaji di rumah Qur'an yatim dan dhuafa milik nya. Inilah salah satu hasil dari penjualan kalung berlian miliknya.


Selain ia dapat menyantuni beberapa rumah yatim. Najwa juga mendirikan sebuah yayasan yang menampung anak yatim dan dhuafa yang putus sekolah dan mendidik mereka menjadi penghafal Al Qur'an.


Ia ingat bagaimana pesan Kartika, wanita yang sudah merawatnya. Bahwa, ilmu yang berguna adalah ilmu yang di amalkan dan di sebarkan pada orang lain.


Meski, Najwa telah merampungkan hafalan 30 juz nya tahun lalu. Setelahnya ia tetap terus muroja'ah demi mempertahankan hafalannya.


Saat sedang mengajar, ponsel nya terus bergetar di dalam tas nya. Ia yang penasaran akan siapa yang mengganggu nya, segera mengusap layar pipih itu.


"Waalaikum salam, sayang kamu sedang apa?" tanya Ameera di seberang sana.


"Sedang mengajar mom. Ada apa?" tanya Najwa heran, karena tak biasa mommy nya menanyakan kegiatannya. Karena Ameera tau persis apa saja kegiatannya.


"Jangan pulang terlalu sore ya, bantu mommy di rumah. Soalnya akan ada tamu nanti malam," jelas Ameera.


"Akan Najwa usahakan ya,"


"Maaf, mommy lupa sayang harusnya bilang sama kamu sejak pagi," sesal Ameera.


"Insyaallah, mommy sayang."


"Tenanglah, memang orang penting ya? Ataukah, kerabat daddy?" selidik Najwa. Karena terdapat kepanikan dari nada bicara sang mommy.


"Mereka tamu sepesial untukmu sayang," ucap Ameera dengan nada bahagia.


"Sepesial untuk Najwa? Benarkah?"


"Mommy tidak berniat menjodohkan ku kan?" tebaknya


"Tentu tidak sayang, kau ini. Sudahlah, mommy mau meneruskan menyiapkan masakan untuk nanti malam. Assalamu'alaikum.


" Baiklah mom. Waalaikum salam.

__ADS_1


(Siapa sih tamu nya, mommy bikin penasaran aja...)


(Tidak mungkin dia kan?)


Najwa bermonolog di dalam hatinya, kemudian menggeleng cepat berusaha mengusir pikiran aneh itu.


"Kakak Najwa kenapa? tanya seorang anak yang sedang memperhatikannya.


(Ah, kok aku bisa lupa kalo lagi mengajar mereka) batin Najwa, kemudian ia tersenyum.


" Tidak ada apa-apa. Yuk kita lanjut lagi ya."


*****


Andra yang sedang beristirahat di hotel, telah berpakaian rapi. Ia sibuk berselancar di aplikasi pemesanan online. Pria itu berencana membeli sesuatu melalui aplikasi goo send.


Karena gusar sendiri menanti jarum jam yang bergerak lambat menurutnya. Ia sempat mengintip ponsel Kartika demi rasa penasarannya.


Sayangnya, hal itu malah semakin membuat hatinya bergejolak tak tentu. Melihat tawa gadis itu melalui picture saja sudah membuatnya panas dingin tak karuan. Entah, bagaimana jika ia melihat langsung Najwa yang cantiknya bak puteri dongeng itu.


*****


Najwa telah sampai di rumah, membantu sebentar menata meja makan.


"Sayang, selepas isya tamu nya akan datang. Bersiaplah, sebentar lagi adzan. Biarlah mommy dan bibik yang menyelesaikannya," titah Hideo.


" Dad, boleh kakak tau, siapa tamunya?"


"Sejak tadi mommy hanya tersenyum setiap kali aku bertanya," sungut Najwa memajukan bibirnya lucu.


Hideo malah terkekeh, melihat ekspresi putri pertamanya itu.


"Kamu lihat sendiri saja nanti, biar surprise," ujar Hideo masih dengan sisa tawanya.


****


Di lobi hotel, Kartika dan ketiga anaknya telah siap. Maulana tak henti meledek abangnya itu. Ingin sekali Andra mendaratkan jitakan pada kepalanya. Seandainya tidak ada Isyana di sana.


(Lihat saja nanti, ketika Najwa menerima lamaran ku) batin Andra. Memikirkan nya saja sudah membuatnya menciptakan sebuah lengkungan sabit pada kedua bibir nya.



Najwa, tunggu uncle ya!


Jangan di tolak lho....,


Kasian, udah ganteng gitu...😍


Bersambung>>>>

__ADS_1


__ADS_2