Mengasuh Calon Istri

Mengasuh Calon Istri
Ikatan batin tidak pernah salah.


__ADS_3

🌼🌼🌼🌼🌼🌼


...Mak up dua bab hari ini ya.......


...Kalo like dan komennya banyak, besok double up lagi deh...😚....


...Pantengin terus yak bakalan makin seru lho!...


...Kira-kira bakalan terkuak gak ya?...


...Cuzz baca aja ya gaes...!😁...


****


POV Andra.


Hasil kerja keras dan ridho orang tua telah menghantarkan ku pada keridhoan Allah. Sehingga, proyek ini berjalan dengan lancar.


Setelah nya, aku bisa mengajukan cuti selama satu sampai dua minggu.


Aku sangat merindukannya.


Siapa lagi kalau bukan pada bayi kecil ku, yang tanpa terasa telah beranjak menjadi remaja.


Tak apa meski kini aku hanya bisa menatapnya, tertawa bersamanya sudah menjadi sesuatu yang mahal di tengah kesibukannya yang semakin padat.


Mungkin, setelah proyek ini selesai aku akan semakin sibuk dan bertemu dengannya akan menjadi hal yang sulit.


Di tengah lamunan ku, seseorang mengagetkan ku. Dengan meletakkan sekotak makan siang yang sudah di bentuk demikian bagus.



Aisai bento.


Merupakan istilah untuk bento yang dibuat khusus oleh istri buat suami tercinta. Istilah ini juga berlaku untuk bento yang dibawakan Ibu untuk anaknya di sekolah. Belakangan ini juga makin banyak gadis-gadis muda yang membuatkan bento spesial ini untuk pacarnya.


Lalu atas dasar apa, wanita berambut pendek dengan kacamata minus yang bertengger di hidung lancipnya. Memberikan ini untuknya?


Bahkan, tulisan di atas nasi mentega telah membuat keringat dingin ku keluar.


Aku menoleh padanya, dan seketika ku lihat senyum indah terukir di wajah oriental nya.


Megumi, asisten ku.


Apa maksudmu?


***


Salju semakin menipis, udara di luar terasa kian hangat, karena sinar sang mentari tak lagi terhalang gumpalan permen kapas.


Terlihat beberapa burung mulai terbang dari satu dahan pohon ke pohon yang lainnya. Karena ranting -ranting kurus yang menjulur, kembali memunculkan tunas dedaunan.


Gadis bermata hijau yang berpakaian syari itu, terlihat berjalan riang menyusuri jalan setapak menuju taman kota. Bersama dengan sang Umma yang terus menggandeng tangannya. Mereka tak lagi memakai mantel tebal, cukup dengan pakaian muslimah yang menutupi rapat setiap senti tubuhnya.


Embusan angin yang bertiup agak kencang, menyibak ujung khimar mereka. Hingga kain berwarna cerah itu seakan menari di bawah langit terang.


Bibir mungil itu terus bersenandung, akan tetapi bukan lagu barat atau k-pop yang akan kalian dengar. Melainkan lantunan sholawat syahdu nan merdu, yang membuat hati siapapun akan tenteram.

__ADS_1


**


🎢 Maulidu ahmad, thohal hadi.


Faudzum minnurirrohman.


Atsnarrohmanu 'alaihi fii, mukhkami 'ayatil qur'an.🎢


🎢 Maulidu ahmad, thohal hadi.


Faudzum minnurirrohman.


Atsnarrohmanu 'alaihi fii, mukhkami 'ayatil qur'an.🎢


**


Sesekali, Kartika akan menyambung lirik dari lantunan sholawat itu. Kemudian mereka akan menyanyikannya secara bersama.


(Segitu bahagianya, kamu.)


(Padahal kalian baru kenal, apakah firasat ku benar?)


(Lebih baik, aku selidiki lebih dalam lagi. Jangan menyimpulkan sesuatu secara terburu-buru, karena nanti nya hanya akan menimbulkan buruk sangka.)


Batin, Kartika perang dengan jalan pikirannya.


Seorang wanita cantik bergamis panjang, segera bangun dari duduk nya dan menghampiri dua orang yang sudah di nantinya sejak tadi.


Senyumnya merekah bak bunga musim semi, begitu segar dan merona.


Assalamu'alaikum, Najwa cantik," sapa nya begitu hangat. Hasrat nya ingin sekali membawa gadis cantik nan jelita itu kedalam dekapannya.


"Waalaikum salam, Tante Ameera dan Om Hideo," sahut Najwa, kemudian mencium tangan mereka berdua. Karena kata umma, tidak apa-apa sebatas ingin menghormati yang lebih tua/berilmu, seperti dengan guru di sekolah.


Hideo menyambut uluran tangan gadis itu dengan suka cita, hatinya berdesir hangat. Ternyata benar apa yang di katakan oleh istrinya. Batin nya tersentak, dada nya bergejolak karena rindu yang selama ini ia tahan. Apakah ini yang namanya ikatan batin, ataukah hanya harapan mereka semata?


(Aku harus menyelidiki mu, Najwa.)


(Aku harus memastikan, sebelum harapan kami semakin jauh.)


(Maafkan, kami Kartika. Karena kami tidak ingin hidup dalam angan-angan dan berandai-andai.)


batin Hideo, mata nya menatap dalam penuh kerinduan pada gadis di depannya.


Ternyata, perilaku mereka tak luput dari pengamatan Kartika. Ia membiarkan sepasang suami istri itu membawa Ameera, menghabiskan pagi hingga siang nanti bersama putri yang sudah di asuhnya sejak masih merah. Membuat nya menghindar sampai berganti kota. Merelakan karir bahkan menjual rumah peninggalan mendiang suaminya.


Memalsukan identitas Najwa, agar ia tak terlacak. Hingga, mengikuti Andra ke negara sakura ini. Sejauh ini, putrinya itu aman.


Ia ikhlas dengan setiap pengorbanan dan segala perjuangannya. Demi Najwa, yang membuatnya langsung jatuh cinta dan sayang sejak pertama kali putra pertamanya membawa ia pulang.


Ponsel di dalam tas selempang nya berdering, membuyarkan lamunannya.


Ia menggeser layar sentuh itu dan menekan simbol berwarna hijau.


πŸ“ž


"Umma udah sampai di taman,"

__ADS_1


πŸ“žπŸ“ž


"Oke, Abang otewe ya,"


πŸ“ž


"Cepetan, Umma lagi sedih ini,"


πŸ“žπŸ“ž


"Umma sayang, jangan sedih dulu. Ya udah, tungguin!"


"Abang, segera meluncur!"


Tuut..., panggilan terputus.


Kartika menghela nafas nya berat.


Siap tidak siap, ia harus siap bukan?


Seandainya, memang semua perkiraannya benar, ia merelakannya demi kebahagiaan yang utuh untuk putrinya, Najwa.


Melihat mereka berjalan bertiga, benar-benar membuat sudut hatinya menghangat.


Mereka seperti satu keluarga yang harmonis, benar-benar cocok dan serasi.


"Umma...," panggil Andra lembut sambil menyentuh salah satu bahu wanita paruh baya itu.


Kartika yang sedang serius memperhatikan kedekatan mereka bertiga, sampai terkaget di buatnya.


"Abang!" pekiknya pelan sambil menepuk tangan Andra yang di letakkan di salah satu bahunya.


" Maaf, Um. Abis serius banget ngeliatin nya,"


"Kenapa, Umma baru cerita tadi pagi? Dan, siapa mereka?" cecar Andra sambil menunjuk ke arah tiga orang yang cukup jauh di depan.


Mereka terlihat sedang mendorong ayunan yang di duduki oleh Najwa. Sambil sesekali tertawa bersama, dan mengelus kerudung lebar gadis itu.


Entah apa yang mereka bicarakan sampai sebahagia itu.


Kartika begitu kepo dan penasaran, begitu pun dengan Andra. Wajahnya, terlihat kecut melihat pria dewasa itu begitu leluasa mengacak-acak pucuk kepala bayi besarnya.


Itukan kebiasaannya, kesukaannya, mana boleh ada orang lain yang melakukan itu pada Najwa nya. Begitulah pikirnya.


Hingga akhirnya ia bergegas menghampiri mereka, menghiraukan halauan sang umma.


"Abang, ish! Kau ini...," gemas Kartika yang tidak di gubris oleh putra nya itu.


(Bagaimana kau bisa cemburu?)


(Bagaimana, kalau mereka lebih berhak atas nya?)


Kartika memijat pelipisnya, mendengar kata hatinya sendiri akan segala kemungkinan yang ada.


Kecurigaan Kartika bukanlah tanpa alasan, ia yang telah memegang biodata Najwa.


Dan, di sana tertulis jelas siapa nama kedua orang tua gadis kecilnya itu.

__ADS_1


Ia hanya perlu, memastikan satu hal. Semua demi kebenaran dan keselamatan Najwa.


Bersambung>>>>


__ADS_2