
πΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈ
Kedua pengantin mencium takdzim tangan wanita paruh baya yang masih terlihat anggun dengan pakaian syar'i nya. Senyum di wajah yang mulai tercetak beberapa keriput itu, menguar tulus dan bahagia campur lega.
Kartika memeluk pasangan suami istri baru itu secara bergantian, menyisipkan doa kepada sang khalik. Agar rumah tangga keduanya sakinah, mawaddah, warohmah.
Wanita tangguh itu bersyukur, karena proses ijab qobul putra keduanya, berjalan lancar penuh khidmat. Terlihat, ia menyeka genangan air di ujung matanya. Seandainya, mendiang suaminya dapat melihat mereka.
Betapa bangga nya dia, kedua putranya telah menjadi orang yang berhasil menggapai cita-citanya. Menjadi manusia yang berguna, dan diandalkan oleh orang banyak.
Semakin kesini, Kartika menyadari bahwa wajah dan postur Maulana mirip dengan mendiang Syafiq El Barack, suaminya. Bahkan, mereka menggeluti bidang yang sama. Hukum perdata dan pidana. Pembela kaum yang lemah dan tertindas.
Kartika mendekati sang putra, yang sejak kecil badannya kurus dan pendek. Ia heran, kenapa semenjak baligh pertumbuhannya kiat pesat.
Kartika menyentuh bahu kekar itu, membuat sang empunya tubuh tinggi besar itu menoleh. Senyum di wajah berkharismanya tercetak sumringah. Ketika ia sadar siapa yang ada di sampingnya.
"Kenapa, Umma sayang?" tanya pria dengan rahang tegas yang di tumbuhi oleh bulu-bulu halus. Tangan kekarnya langsung merangkul tubuh yang semakin kurus itu.
"Umma, jadi teringat Abuya," jawab Kartika, "ketika melihat mu mengenakan jas seperti ini," lirih Kartika sembari mengelus kerah jas dan dasi yang membuat sang putra semakin tampan.
Maulana seketika berubah air muka nya, mata nya menatap dalam wanita yang telah banyak berjuang untuknya hingga sampai di titik ini.
"Mau, juga kangen banget Umma," sahut Maulana lirih, "kesuksesan ini, Mau persembahkan buat Abuya,"
"Abuya, pasti sangat bangga dan bersyukur. Persis, seperti yang Umma rasakan saat ini," ucap Kartika sambil menahan haru nya.
Kemudian, seorang gadis berwajah melayu campur india bergabung dengan mereka berdua.
"Umma, nanti kami mau ke hotel tidak apa-apa ya?" tanya wanita cantik yang sudah sah menjadi anak menantu nya itu.
"Pergilah, nikmati malam pengantin kalian. Lagi pula, Umma di temani Andra dan bik Mar," titah Kartika.
"Tapi, setelah itu. Kalian harus berbulan madu ke tanah kelahiran Umma," tegas nya lagi, menagih janji yang pernah di ucapkan Mau.
__ADS_1
"Iya, Umma sayang. Mau juga penasaran mau lihat langsung anak bayik cerewet tukang nangis dan tukang...," ucap Mau terjeda, karena ia tidak tahan menahan kekehannya. Manakala, mengingat gadis jelita itu, ketika masih menjadi bayi yang sangat menyusahkan. Hingga selalu membuat hingar bingar di tengah malam.
"Sekarang, dia pasti sudah secantik puteri di negeri dongeng," lanjutnya setelah selesai dengan tawanya.
Sang istri di sampingnya, tidak kaget tatkala mendengar mulut sensual suaminya itu memuji wanita lain. Karena, Maulana telah menceritakan padanya.
Bahkan, Isyana, nama dari wanita yang dipersunting oleh Mau beberapa saat lalu itu. Sangat penasaran, ingin melihat Najwa secara langsung. Dan mendengarnya melantunkan ayat suci Al Qur'an.
" Ck, kau membuat Umma semakin merindukannya," decak Kartika.
"Kita langsung berangkat saja besok," saran Isyana.
Mata bulatnya melihat antara umma mertua dan suaminya bergantian.
"Kamu, yakin?" tanya Maulana, "gak capek ?"
"Capek kenapa?" Isyana balik bertanya dengan raut polosnya, "kan udah tidur semaleman,"
Isyana menyentuh pipinya, begitu kah rasanya kehangatan seorang ibu? Hati nya berdesir hangat.
Wanita cantik nan kalem itu, telah tumbuh besar tanpa kehadiran seorang ibu. Sejak kecil ia di besarkan oleh paman dan bibi nya. Sedangkan sang ayah, telah menikah lagi dan tinggal di negara istri barunya. Bahkan, yang menjadi walinya adalah sang paman meski sang ayah masih hidup. Kenapa?
Karena sang ayah, telah berpindah agama ikut agama istri nya itu.
"Kamu yakin, Na? tanya Mau lagi, " berangkat ke Ind besok?"
"Yakin dong!" jawab Isyana lugas.
"Aku bakal bikin kamu besok susah jalan, lho. Masih yakin?" tantang Mau sambil mengerling genit pada wanita cantik, yang telah sah menjadi istrinya itu.
"Awas aja! Aku anak yatim lho Mau, kamu gak boleh dzolim," ucap Isyana penuh penekanan, lalu ia menutup mulutnya menahan tawa ketika melihat ekspresi Maulana yang melongo.
****
__ADS_1
Embusan angin di musim gugur membawa beberapa helai daun berputar di atas tanah, setelah nya akan jatuh menyentuh tanah dengan perlahan dan lembut. Cuaca yang sejuk di siang hari dan hangat di pagi hari.
Bunga sakura yang selalu mekar, membuat pria berwajah asia itu tersenyum samar. Ia ingat akan sosok yang sangat menyukai jenis bunga ini, yang warna nya selalu merona bagaikan kedua pipinya.
Sosok yang teramat di rindukannya, sepanjang waktu. Perpisahan dan jarak yang jauh, ternyata tidak membuyarkan rasa itu. Rasa yang ia anggap hanya ada karena terbiasa. Ternyata, rasa itu semakin kuat. Semakin jelas menampakkan wujudnya. Hingga, di usianya yang ke 38 tahun. Pria ini masih betah melajang, dan membiarkan sang adik melangkahinya.
Bukan ia tidak menyukai lawan jenis, bukan karena tidak laku juga. Karena mustahil dengan wajah tampannya yang semakin tegas, karirnya yang sedang di atas. Hingga, kemapanan di atas rata-rata adalah hal yang menjadi pemikat luar biasa. Gadis dan wanita mana yang akan menolah Tuan tajir yang soleh dan tampan ini?
Sedangkan, dirinya bagaikan magnet yang menarik wanita manapun hingga Kartika bingung dan jengah. Melihat, para wanita itu berlomba menyerahkan biodata mereka padanya.
Ada yang menyerahkan secara langsung, bahkan ada yang melalui perantara atau mak comblang. Hingga, proposal itu menumpuk di atas nakas kamar sang putra. Berharap, ia akan membuka dan melihatnya suatu saat.
Namun, harapan Kartika nihil. Hingga beberapa calon menantunya itu dengan nekat meneleponnya. Mempertanyakan, perihal CV mereka apakah di terima atau di tolak.
"Bang," panggil Kartika ketika mendapati sosok putra pertamanya itu di depan jendela kamar Najwa. Andra pun menoleh dan tersenyum lembut, sangat manis dan tampan.
"Maaf, Um. Abang tidak bisa lagi menahan kerinduan pada nya," ucapnya merasa tak enak hati, karena telah memasuki kamar orang lain. Meski sang empunya tidak lagi ada di sana.
"Begitu pun, Umma," jawab Kartika sambil meletakkan kepalanya di bahu tegap putra El Barack itu.
Andra dengan sigap merangkul bahu Kartika, wanita yang sudah menyerah perihal menanyakan kapan ia akan menikah. Mungkin sudah ratusan kali dan selalu mendapat jawaban serupa dari bibir sensual nya itu.
"Rindu mu pada Najwa, berbeda dengan rindu yang Umma rasakan," tebak Kartika langsung menembak pada sasaran. Hingga, Andra mematung seketika.
Kartika menegakkan tubuh nya, menyentuh wajah dewasa di hadapannya. Meski pun tetap imut. Karena Andra memang baby face.
"Halalkan dia, daripada Abang terus membuat dosa dengan zina pikiran," sarannya, membuat Andra seketika membelalak.
"Susul dia yuk!" ajak Kartika sumringah.
Dan, sukses membuat wajah muram Andra berbinar bagaikan ada kembang api di matanya.
Bersambung>>>>
__ADS_1