
๐ผ๐ผ๐ผ๐ผ๐ผ๐ผ
"Tuan, kepala penyidik ingin bertemu siang ini," jelas asisten Hideo yang berkepala licin.
Saat ini, sang majikan sedang berada di kamar khusus perawatan Ameera. Kamar rumah sakit yang di desain khusus seperti kamar hotel yang nyaman.
Dengan kasur empuk yang besar, televisi, kulkas, kamar mandi dengan bath up, serta balkon.
Ya, Hideo telah menyulap ruang perawatan intensif ini menjadi kamar yang nyaman baginya dan sang istri.
Perubahan Ameera amatlah signifikan, ia sekarang sudah mulai teratur dalam membuka dan menutup matanya. Mulai mengenali Hideo, meski hanya bisa mengedipkan mata, sebagai cara nya berkomunikasi.
Yang membuat Hideo sedih adalah, alat yang terpasang di kepala istrinya itu, membuat rambut indah Ameera rontok sedikit demi sedikit.
Hingga, ia terpaksa menyuruh perawat untuk memotongnya pendek. Karena alat itu, berguna untuk memantau perkembangan syaraf di otak.
Hideo, selalu bercerita mengenai kesenangan mereka dahulu, momen ketika mereka jalan-jalan ke eropa. Ketika mereka berlayar menggunakan kapal pesiar. Hideo menceritakan semua hal yang indah. Terkadang, Ameera mengedipkan matanya beberapa kali, tanda ia merespon apa yang di dengar oleh telinganya.
Hideo, juga suka memperdengarkan murottal Al qur'an, dengan speaker box yang sengaja ia beli. Meletakkan nya di nakas samping kepala ranjang.
Biasanya, Ameera akan terlelap bila sudah mendengar lantunan 2 atau 3 suroh pendek.
Sebenarnya, Hideo juga sedang mempelajari cara membaca ayat suci agamanya tersebut. Bahkan, ia menghadirkan seorang hafidz sebagai mentor nya.
Ia, ingin sekali melantunkan ayat yang indah itu, dengan mulutnya sendiri. Karena, ia pernah mendengar suatu ceramah di yu tube. Bahwa, ayat suci Al qur'an adalah Assyifa(penyembuh).
Seorang hafidz yang mengajari Hideo langsung di datangkan dari pesantren. Hafidz itu, juga mengajarkan beberapa sholawat pada Hideo.
Salah satu nya adalah sholawat penyembuh.
Tibbil qulub.
ุงููููฐููู ูู ุตูููู ุนูููฐู ุณููููุฏูููุง
Allahumma Sholli โala sayyidinaa
ู ูุญูู ููุฏู ุทูุจูู ุงููููููููุจู ููุฏูููุงุฆูููุง
Muhammadin thibbil qulubi wa dawa ihaa
ููุนูุงููููุฉู ุงููุงูุจูุฏูุงูู ููุดูููุงุฆูููุง
Wa โafiyatil abdaani wa syifaa ihaa
ููููููุฑู ุงููุงูุจูุตูุงุฑู ููุถูููุงุฆูููุง
Wa nuuril abshoori wa dhiyaa ihaa
ููุนูููฐู ุงูฐูููู ููุตูุญูุจููู ููุณููููู
Wa โalaa aalihi wa shohbihi wa sallim
Artinya:
"Ya Allah limpahkan rahmat kepada junjungan kami Nabi Muhammad SAW. Sebagai obat hati dan penyembuhnya, penyehatan badan dan kesembuhannya.
Sebagai penyinaran penglihatan mata beserta cahayanya.
__ADS_1
Dan, semoga rahmat tercurah dilimpahkan kepada para sahabat beserta keluarganya."
Hideo, bahkan mendownload lagunya di medsos ber-ikon persegi panjang merah itu. Beberapa kali mendengarkan dengan seksama, kini ia pun mulai hafal dan dapat melafalkan nya.
"Tuan?" panggil sang asisten botak, membuyarkan lamunan Hideo.
"Hmm, temui aku di roof top. Bawakan saja kopi dan vape untukku.
Vape, atau rokok elektrik adalah salah satu jenis penghantar nikotin elektronik. Rokok jenis ini dikenal karena dapat membantu pecandu rokok tembakau mulai berhenti merokok.
Vape, adalah suatu alat yang berfungsi sepertiย rokok.ย Namun, tidak menggunakan ataupun membakar daun tembakau.
Melainkan mengubah cairan menjadi uap, yang dihisap olehย perokokย ke dalam paru - parunya.
Ya, sebelumnya. Hideo adalah perokok berat. Namun, sejak Ameera melahirkan bayi, ia bertekad menghentikan kebiasaannya itu. Kini ia beralih menjadi perokok elektrik, hanya di waktu tertentu saja.
Siang itu, di atas roof top sebuah rumah sakit mewah. Yang, sengaja di desain sedemikian rupa. Hingga lebih mirip sebagai taman bunga ketimbang sebuah atap.
Terlihat dua orang pria berpakaian sangat rapi dan parlente. Dengan jas hitam serta celana dan sepatu yang berwarna senada. Mereka duduk dengan tegak di hadapan Hideo. Di atas kursi kayu, berlatar belakang tanaman cemara dan beratap langit teduh. Di negara yang berlambang singa tersebut.
"Ku harap, kalian membawa kabar baik."
"Karena, atap ini cukup tinggi." sarkas nya, tanpa memandang yang sedang ia ajak bicara.
Kedua pria dewasa di hadapan Hideo, menelan ludahnya kasar. Berharap, kliennya ini puas dengan hasil penyidikan mereka selama kurang lebih setahun ini.
"Tim kami, telah menemukan titik terang , akan keberadaan nona muda. Tuan Hideo," ucap salah satu pria berwajah eropa dengan rahang tegas dan rambut berwarna karamel.
******
" Apa!"
Seorang pria perkasa berdarah Latin-Indonesia bagian timur itu, sontak me remas minuman kaleng hingga penyok.
Minuman kaleng bermerek Serem-Bir itu, memang biasa ditenggaknya, di waktu tertentu.
"Menurut informan kita, mereka bahkan sedang mengadakan pertemuan di roof top rumah sakit." jelas seorang lelaki berseragam dengan pangkat perwira.
"Sial!"
"Bodoh!"
"Kenapa kalian bisa kecolongan, hah!" marah Indar kemudian melempar kaleng bekas minuman itu, hingga mendarat ke salah satu jidat anak buahnya.
(Apes...
Udah di pojok kena juga๐คฃ)
"Kita yang harus lebih dahulu menemukan anak itu!" Indar lantas berdiri dari duduknya, kemudian beranjak menuju sebuah lukisan besar.
Ia mengusap pinggiran kolase nya, dan...
Takk...
__ADS_1
Lukisan itu berputar kedalam, kemudian tampilan berganti menjadi sebuah rak susun yang berisikan berbagai macam jenis senjata api.
Indar memilih satu yang paling imut.
Bahkan, lebih kecil dari genggaman tangannya yang sebesar king kong.
Jangan tertipu dengan bentuknya yang kecil nan imut. Senjata api jenis redam suara ini, memiliki lesatan peluru yang super cepat. Indar, khusus memesannya dari para gangster di daratan Amerika.
Tiba-tiba....
Crep...!
Brukk...!
Seseorang di sebelah perwira tumbang dengan kening berlubang. Entah, sejak kapan? Indar Winata menekan pelatuk pada pistol yang mirip mainan itu.
Tau-tau, peluru bak jarum itu melesat di samping telinga sang perwira, dan merobohkan salah satu anak buahnya.
" Lakukan, tugas kalian dengan benar. Sahabat mini ku ini, baru saja pemanasan." Indar berucap dengan sarkas dan senyum bengisnya.
****
"Katakan dengan jelas, temuan kalian." ucap Hideo serius dengan tatapan tajamnya.
" Ini adalah data-data yang kami terima, Tuan." Kepala tim penyidik, menyerahkan amplop coklat berisikan seluruh data dan foto- foto.
Hideo membuka nya dengan tangan gemetar, setelah sekian lama ia menunggu. Akhirnya, titik terang itu mulai nampak.
Mata nya bergerak ke kanan dan ke kiri. Jakunnya turun naik, dengan nafas yang memburu. Kemudian, terlihat rahang halusnya yang tanpa bulu mengeras. Mata tajam nya menatap nyalang kedua manusia di hadapannya.
"Apa-apaan ini?" Hideo melempar kertas-kertas itu, hingga berhamburan di udara dan terhempas perlahan ke lantai yang terlapisi kayu bersusun itu.
"Hanya data itu yang kami peroleh, Tuan."
"Itu pun, karena nona kecil sempat berobat ke klinik beberapa bulan yang lalu." Kepala penyidik dengan kumis tebal menjelaskan dengan nada tegas.
Karena, inilah hasil kerja keras mereka di lapangan. Mencari seorang bayi yang hilang, tanpa sedikitpun jejak. Bagaikan mencari jarum, di dalam tumpukan jerami.
"Tuan Hideo. Kami membutuhkan bantuan anda."
"Apakah, nona muda hilang bersama data-datanya?" tanya sang kepala penyidik menelisik.
"Maksudmu?"
๐ผ๐ผ๐ผ๐ผ๐ผ๐ผ
Iya...maksudnya apa sih?
Kok di gantung sih?
Emang nya kita jemuran!
Tauk nih๐
__ADS_1
Dah lah, mak mau ngangkat jemuran dulu dah mendung.