
πΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌ
Ameera seketika menahan suapan terakhir, dan menjatuhkan sumpit beserta makanannya. Matanya menoleh seketika pada wajah jelita di hadapan suaminya.
Sontak, Najwa dan Kartika menghentikan kegiatan mereka dan saling menatap satu sama lain.
Hideo, ternyata tidak bisa menahan dirinya lebih lama. Belum lagi Najwa begitu menggemaskan, caranya makan sama persis dengan Ameera.
Bahkan, iris mata mereka pun hampir sama.
Ameera berwarna hijau samar, sedangkan Najwa berwarna hijau tosca.
Nama dan usia yang hampir sama.
Warna iris yang langka di dunia, apakah persamaan sebanyak itu mengartikan sesuatu.
Ataukah, ini hanya kebetulan semata?
*****
Perpisahannya dengan Najwa membuat langkah nya serasa berat.
Entah kenapa? Ia sudah sangat jatuh hati pada gadis bermata hijau itu.
Ameera memejamkan matanya sesaat, merasai kembali sentuhan dan pelukan hangat dari gadis itu.
Sungguh jantungnya berdentum sangat kencang. Seluruh kulitnya berkeringat dan gemetar.
Hati nya seraya menemukan sesuatu yang telah lama mengosongkan jiwanya.
Apakah cukup dengan firasat dan kata batin nya saja?
Pantaskah, ia mengklaim putri orang lain sebagai Najwa nya?
Hideo, belom juga menjalankan mesin mobilnya. Matanya menerawang jauh ke depan, nampaknya pasangan ini tengah berkecamuk di dalam pikirannya masing-masing.
Akhirnya, Pria di depan kemudi itu menghembuskan nafas beratnya.
Menoleh pada wanita di sebelahnya yang berwajah sendu sejak keluar dari mall tadi.
"Aku berjanji, kita akan sering menemuinya," ucap Hideo, membuat Ameera seketika menoleh padanya.
"Apakah, Najwa kita juga hidup sebaik dia? Terdidik dan...," Ameera tak dapat meneruskan kata-katanya. Setiap huruf yang hendak terucap seakan tercekat di tenggorokannya. Segala kekhawatiran telah memenuhi tempurung otak dan rongga hati nya.
Hideo menghadap ke arah wanita yang sedikit terisak itu, hatinya ikut perih dan ngilu.
Wajar saja pertahan itu akhirnya runtuh, ketika Allah mempertemukan mereka dengan gadis jelita bermata hijau. Sehingga, mengingatkan mereka kembali pada putri kecil yang sama persis ciri-ciri nya.
Hideo mencoba mengusap air mata yang mengalir di pipi mulus itu, mencoba menguatkan nya meskipun hatinya sendiri terasa di hujam benda besar dan keras, begitu sesak dan berat.
Bagaimanapun, mereka harus kuat dan mau menerima segala kehendak-Nya. Dengan terus berprasangka baik pada-Nya.
Hideo, melabuhkan kecupan hangatnya di kening bidadari tak bersayap nya itu. Membuat Ameera kembali mengulas senyumnya, semangat nya kembali menyala setelah sempat redup tadi.
Pria yang sekarang telah menjadi sosok yang sabar itu, kembali menggenggam tangannya.
Mengirim kekuatan dan keyakinan bahwa segalanya akan berakhir indah bila Allah berkehendak.
__ADS_1
Karena, DIA-lah yang lebih tau akan kebaikan dan kebutuhan setiap hamba-Nya.
******
POV Najwa.
Siapa mereka Yaa Robb-ku?
Kenapa, hati ku menghangat tatkala kulit tanganku bersentuhan dengan kulit halusnya.
Aku sampai tidak mau melepaskan pelukan itu, begitu nyaman dan menenangkan. Bahkan, tiba-tiba aku ingin menangis. Tapi aku tak tau kenapa?
Meski pun aku sering mendapat dan merasakan sentuhan serta pelukan dari umma.
Kenapa rasanya berbeda?
Siapakah, wanita itu?
Aku ingin bertemu lagi dengannya, melihat senyumnya. Dan, pria itu...
Aku ingin memeluknya juga. Tapi, memangnya dia siapa?
Perasaanku ketika melihatnya, seperti aku telah menemukan sesuatu yang selama ini kosong di sudut hati ku. Tapi itu apa? Aku pun tak mengerti.
Begitu banyak kebingungan setelah pertemuan itu, aku bahkan tak lagi bermimpi suara tembakan itu lagi. Meski, uncle tak ada di sisi ku.
Aku yang sedang berdiri di depan jendela kamarku, seperti biasa. Yang menghadap jalanan di seberang pagar rumah belakang.
Menatap setiap benda yang tertutupi bongkahan putih dari macam es serut. Beberapa dari bongkahan itu telah mencair. Pertanda musim dingin sebentar lagi akan berakhir.
Ku harap, pekerjaan uncle cepat selesai. Aku sudah merindukannya saja, padahal baru beberapa hari ini tak jumpa.
Temui lah aku, uncle! Selesaikan cepat pekerjaanmu. Aku merasa, kita akan semakin jauh.
Aku segera menutup jendela karena wajahku sudah membeku diterpa angin.
Merebahkan tubuhku di atas pembaringan, sambil menatap langit-langit.
Hingga tanpa ku sadari, ada air yang merembes di kedua pipi ku. Kenapa aku tiba-tiba menangis?
******
POV Kartika.
Sepulang dari mall, entah kenapa hati ku terasa sesak. Aku seperti akan berpisah jauh dengan seseorang.
Bahkan, untuk melepas Najwa ke kamarnya saja aku begitu tak rela. Seakan ingin mendekapnya saja seharian ini.
Sebenarnya aku kenapa?
Memangnya, Najwa mau kemana?
Aku sejenak mengusir jauh perasaan gak jelas itu, melepas semua pakaian ku, membersihkan diri dan solat. Tak ketinggalan membaca mushaf meski hanya beberapa ayat, bagiku itu wajib tak boleh ku lupa. Sesibuk apapun, itu tak menjadi alasan untuk tidak menyentuh satu-satu sahabat kita nanti di alam kubur. Sahabat yang akan menghalangi jilatan api untuk membakar tubuh ini.
Satu-satunya sahabat yang akan mendampingi mu di waktu paling susah nanti.
Setelah selesai, aku bersandar disisi ranjang dengan kaki yang di selonjor kan.
Mengingat kejadian tadi di mall, menelaah arti pertemuan dengan kedua pasangan muslim itu.
__ADS_1
Sebenarnya, mereka itu siapa?
Warna mata wanita itu, hampir sama dengan Najwa. Dan wajah lelaki itu, sedikit mirip dengan Najwa ketika sedang tersenyum.
Kenapa, pandangan mereka begitu mendamba setiap kali melihat Najwa?
Mereka pun menyinggung perihal putri mereka yang seusia dengan Najwa.
Apakah, mereka telah kehilangan seorang putri?
Entahlah, lebih aku ke dapur dan membuat makan malam. Siapa tau Andra pulang cepat malam ini.
Aku pun segera beranjak ke dapur yang terletak di lantai bawah, sebelumnya aku menengok sebentar ke kamar anak gadis ku. Entah, kenapa aku begitu posesif dengannya tadi.
Aku pun memutuskan untuk menghampirinya.
Tok...tok...tok!
"Sebentar, Umma...," ku dengar suara nya dari dalam kamar.
Kemudian pintu di buka.
"Ada apa, Umma sayang?" tanyanya dengan wajah basah seperti habis wudhu.
Aku mengelus ujung kepalanya yang basah, menatap nya dalam dengan perasaan sedih yang tiba-tiba menyeruak. Bahkan mataku mendadak terasa panas kemudian basah.
Aku berusaha menghalau perasaan aneh ini, mengulas senyum yang ku paksakan.
"Najwa, udah solat asar?" tanya ku lembut seperti biasa.
"Baru mau, Umma. Nih abis ambil wudhu," jawabnya jujur.
"Ya udah, solat dulu sana. Nanti bantu Umma di dapur ya, buat masak makan malam kita" titah ku. Yang kemudian di balas dengan anggukan dan senyum manis nya.
Ah, Najwa ku...,
******
POV Andra.
Aku berkali-kali menatap layar komputer canggih ku. Menelisik ribuan angka dan jutaan huruf yang sangat melelahkan kedua mataku.
Dalam urusan membuat program pada chip yang akan ku pasang pada robot-robot itu.
Tak boleh ada kesalahan sedikit pun, semua harus dengan ketelitian tingkat tinggi.
Karena itulah, aku baru bisa pulang ke rumah hampir tengah malam, dan berangkat lagi pagi-pagi sekali.
Karena kalau tinggal di sini yang ada aku tidak akan bisa tidur sama sekali.
Tinggal selangkah lagi produksi robot hasil karya kami akan memasuki pada tahap peluncuran.
Sekali lagi, Aku melakukan uji coba. Memastikan semua telah sempurna dan tanpa cela.
Bersambung>>>>
__ADS_1