
๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ
Najwa mematut sosoknya di sekotak kaca yang membingkai lemarinya. Melihat keseluruhan dirinya yang mengenakan gamis longgar berwarna biru laut, dengan pasmina lebar berwarna putih yang menjulur hingga dada.
Bros kupu-kupu di sematkan pada bahunya. Selain sebagai pemanis, juga berguna untuk menahan agar pasmina nya tidak berubah bentuk.
Wajahnya yang sudah putih merona alami, tidak perlu tambahan bedak lagi, hanya cukup mengolesinya dengan krim pelembab.
Begitupun dengan bibir mungilnya, yang sudah merona merah alami. Sehingga ia hanya perlu memolesnya tipis dengan lip tin saja.
Kedua bola mata yang besar, dengan warna langkanya yang cantik dan berkilau. Di bingkai bulu mata lentik asli serta alis hitam yang menambah ke anggunan pada wajah belia itu.
Tidak perlu make up, Najwa sudah bisa membuat setiap mata terpukau, karena kecantikan alami yang telah Allah anugerah kan padanya.
Bahkan, Hideo bilang bahwa bidadari telah menitipkan sedikit cahaya padanya.
"Sebenarnya, siapa tamu yang di maksud daddy? Benarkah aku mengenal mereka? Apakah harapan ku akan sesuai dengan kenyataan? Aku kan sudah khatam. Boleh kan, bila aku memikirkan dia sekarang?" Monolog Najwa. Dengan berbagai pertanyaan yang sejak siang tadi mencuat dari pikirannya.
"Bagaimana, kalau yang datang nanti adalah sebuah keluarga yang akan melamar ku? Ah, tidak." Najwa tiba-tiba gusar dan enggan keluar kamar. Ia kembali merebahkan dirinya yang sudah rapi itu.
Sepasang mata hijau berkilau nya itu, menatap pada langit-langit kamarnya.
"Bukannya, aku menolak jodoh yang menghampiriku. Aku hanya perlu tau dulu bagaimana kabarnya."
"Ya Allah, please. Aku masih mengharapkannya."
"Tunjukkan padaku, bila hati ini telah salah.
Dan, beri aku jalan. Bila memang hati ini benar." Doa Najwa di tengah kebimbangannya antara turun atau tidak.
Hingga, pintu kamarnya di ketuk beberapa kali. Ia baru tersadar dari lamunannya.
"Itu antara daddy atau mommy, yang menjemput ku? Akh, siapa sih tamu nya, sampai aku disusul begini?" Najwa masih dengan ocehannya sendiri.
Tok! Tok!
"Iyaa...!"
Klek!
"Umma!!"
*****
"Jadi kau sudah berhasil sekarang? Ya. Sejak awal melihat mu, aku sudah tau itu." ucap Hideo dengan senyum penuh kekaguman.
"Jangan terlalu berlebihan, Ojisan. Aku masih banyak kekurangan dan masih harus belajar," ujar Andra merendah.
__ADS_1
"Paman Katsu telah menceritakan semua tentang mu, beliau selalu kagum akan kemampuan anak muda sepertimu,"
"Setidaknya, kakek Matsu sempat merasakan keajaiban dari ciptaan mu," tambah Hideo tak berhenti memuji pria di hadapannya ini.
"Selamat, Nak. Kau telah menjadi salah satu ilmuwan Mr. Senkai. Di perusahaan terbesar robotik Jepang,"
"Berkah yang kau terima, benar-benar Masyaallah," ucap Ameera turut kagum pada pria yang pernah di serahkan bayi olehnya.
Memang semua adalah rencana Allah, takdir yang menuntun seorang pemuda kurus untuk melewati jalan pinggir hutan yang sepi.
Siapa sangka, kini pemuda kurus itu telah menjadi seorang ilmuwan yang sukses. Dengan berbagai ciptaannya, membantu banyak orang di seluruh dunia.
"Alhamdulillah, semua berkat bimbingan dari Allah. Dan, doa dari umma," jawab Andra singkat, dengan senyum simpulnya. Ia sama sekali tidak terbuai dengan pujian yang di tujukan padanya. Karena, bukan sekali dua kali ia mendapat hal yang serupa.
Bahkan, beberapa penghargaan telah di raihnya di usia yang masih terbilang muda.
Andra sadar, bahwa ini adalah kepercayaan yang harus di jalankan dengan baik dengan tetap tawadhu(rendah hati).
Karena ia faham benar, bahwa semua ini tak lain dan tak bukan. Hanyalah karena kehendak dan kuasa Allah.
(Umma kenapa lama banget di atas. Curang! Pasti, lagi kangen-kangenan deh sama Najwa. Terus lupa sama anaknya.) batin Andra yang tanpa sadar matanya terus melirik ke lantai dua rumah itu.
Maulana yang menyadarinya, otomatis menepuk paha abangnya itu.
"Sabar, napa Bang," bisik Mau, yang berada di samping Andra.
" Itu, mata nya. Jangan jelalatan aja!" bisik Mau lagi.
"Bisa diem gak!" gemas Andra masih dengan kode gerakan bibir.
" Ye, dibilangin. Tuh dia!" tunjuk Mau masih dengan berbisik.
"Hah, mana!" Andra kelepasan kaget hingga ia bersuara cukup kencang.
"Tapi, bo'ong...," Maulana mendekap mulutnya menahan tawa. Diikuti oleh Isyana yang juga geli terhadap tingkah Andra. Apa begitu ya kalau orang yang sudah rindu setengah mateng.
(Ni bocah ngajak gelud!) batin Andra menatap sinis pada sepasang manusia yang tengah menertawakannya dalam diam itu.
Interaksi mereka bertiga ternyata tak luput dari pengawasan Hideo dan Ameera. Bahkan, Ameera juga sedang berusaha menahan geli nya.
Hideo yang faham akan gelagat dari Andra, ia hanya tersenyum penuh arti.
Sementara itu di kamar atas.
Seorang gadis tengah terisak manja di dalam pelukan wanita paruh baya. Lebih tepatnya, mereka berdua tengah menangis bersama.
"Najwa kangen banget. Najwa rindu pelukan Umma...," lirih gadis itu, di sela isak tangisnya.
__ADS_1
"Sama sayang, Umma pun sangat merindukan Najwa yang manja dan cerewet," sahut Kartika dengan sedikit canda.
Kartika melerai pelukan mereka, menatap wajah jelita dihadapannya lamat-lamat.
"Kamu semakin cantik dan dewasa, pasti banyak pemuda yang menyukai mu," puji Kartika.
" Banyak banget Umma, sampai aku risih dan bingung menghadapi mereka," terang Najwa seakan mengadu.
"Lalu, apa Najwa juga ada menyukai salah satu nya?" tanya Kartika mulai menyelikidi,eh. Menyelidiki.(map otor kelepeleset๐)
Najwa menunduk, Kartika sudah ketar-katir. Kemudian, terlihat gadis itu menggeleng pelan. Kartika pun menghela nafas lega.
" Kenapa? Pasti mereka tampan, muda dan pintar?"
"Najwa kan sudah khatam, mulailah memilih jodoh pun tak apa, agar ada yang melindungi." saran Kartika, sedikit demi sedikit ia mulai menguak isi hati puteri yang pernah di asuhnya itu.
" Hati Najwa, sudah diisi orang lain Umma...," bisik Najwa, padahal hanya ada mereka berdua di sana.
"Benarkah? Dia pasti pria yang sangat beruntung," sahut Kartika.
" Aku yang beruntung Um, seandainya aku pun juga ada di hati nya," lirih Najwa dengan wajah menunduk dalam.
"Kau selalu ada di hati nya. Meski pun dia tak pernah sekalipun melihat rupa mu, sejak kau meninggalkannya,"
Najwa sontak mendongak, ia faham siapa yang di maksud oleh Kartika. Tapi, ia heran bagaimana sang umma begitu tau isi hatinya.
"Umma...?" sepasang mata indah itu kembali berkaca-kaca. Dan, Kartika tersenyum penuh makna. Semoga, harapannya benar-benar terwujud.
"Kita ke bawah yuk, kasian tuh ada yang kangen berat." Kedua wanita beda generasi itu pun tertawa renyah.
****
"Jadi Maulana sudah menikah? Kenapa tidak mengabari kami?" protes Hideo dengan keterkejutannya.
"Kita jadi tidak menyiapkan hadiah apa-apa," sesal Ameera.
"Ya, umma kalian tak ada cerita apapun pada kami. Hanya mengatakan kedatangan kalian saja," jelas Hideo.
"Tidak apa, Ojisan. Kami sengaja, ingin memberi tahu sekalian mengunjungi kesini. Bahkan, kami pun akan bulan madu di sekitar sini saja," terang Maulana.
"Lalu, mana istri mu, Nak?" tanya Ameera pada Andra. Hingga membuat sepasang mata teduh nya membola.
Andra mendadak kikuk, terlihat dari caranya mengusap tengkuk dan nyengir aneh.
"Justru, dia kesini mau jemput calon istrinya. Ojisan." ucap Mau, membuat kedua mata Andra melotot ke arahnya. Mau, pun menepuk bahu abangnya itu sambil tersenyum.
"Aku membantu mu kan? Kenapa malah mata mu mau loncat begitu," Mau terkekeh lagi. Menurutnya, abangnya itu sangatlah lucu dan menggemaskan.
__ADS_1
Bersambung>>>>