
๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ
Setelah puas mengganggu bayi mungil Najwa. Andra pun bergegas naik ke lantai atas menuju kamarnya, ia segera masuk kamar mandi dan menjalankan ritual bersih-bersih nya.
Tiba-tiba ia menggeram dengan gemas di dalam kamar mandi.
"Maulana El Barack....!"
"Sabun muka guaaa!" geramnya sambil menggenggam botol sabun wajah yang telah kosong itu.
Andra pun buru-buru menyelesaikan acara mandinya, meskipun akhirnya ia harus mencuci wajahnya cukup dengan sabun mandi saja.
(gapapa,bang, kamu tetep tamvan kok.)
Sesampainya di bawah, Andra segera mencari si biang masalah, yaitu adik bayinya yang mendadak jadi abang.
Ketika ia mendapati sang adik sedang menonton televisi, maka ia segera menghampirinya, dan melempar botol kosong bekas sabun pencuci wajah. Hingga botol itu mampir dulu ke jidat Maulana, sebelum akhirnya jatuh ke atas pangkuannya.
"Apaan si, Bang! Kalo udah abis buang di tempat sampah, gih," protesnya acuh.
"Kamu sana yang buang! Sekalian beliin lagi yang baru!" ucap Andra datar.
"Abang sampe rumah, barangnya kudu udah ada!" tambahnya.
"Gak usah protes, tanggung jawab aja!" kata-kata Andra lantas memotong ucapan Maulana yang baru saja sampai di tenggorokan. Ia menelan ludah nya, karena mendapat tatapan setajam silet. Pada akhirnya, si adik gak ada akhlak itu pun pasrah saja, mendapat ultimatum dan perintah tegas dari saudara lelakinya itu.
"Iya," jawab Maulana lemah. Kebetulan hari ini adalah sabtu, sehingga anak sekolah semua libur.(Weekend nya, momong bayi aja ya, Mau, * panggilan sayang untuk Maulana*)
Kemudian, Andra pun berlalu. Ia tancap gas, setelah berpamitan dan mencium tangan sang umma. Kemudian melaju bersama vespa merah nya, alias si gemoy.
Singkat cerita, Andra telah sampai di depan rumah ibundanya Miko. Ia mengetuk pintu dan memberi salam.
"Assalamu'alaikum!" ucapnya lumayan kencang.
Tak butuh waktu lama, ada sahutan dari dalam. Sepersekian menit kemudian, seorang wanita tua keluar dari dalam rumah, setelah membuka pintu yang mengeluarkan suara kriet-kriet itu.
"Wah, anak yang tampan, kau mencari siapa?" tanya seorang wanita tua berambut putih di sanggul, dengan mengenakan kebaya lama dan kain batik. Tampak barisan giginya yang rapih berwarna merah,karena itu terlihat ketika ia berbicara sambil mengunyah sesuatu.
"Eh, maaf, Nek. Bunda nya Miko ada?" tanya Andra kikuk menghadapi model nini-nini yang bergigi merah dan asik nyengir saja menatapnya.
"Sejak pagi sudah berangkat ke rumah sakit, Miko sekarat katanya, gara-gara minum cola." Nenek itu menjelaskan sambil terus menggosok giginya dengan entah apa itu, membuat bulu kuduk Andra bergidik, ia jadi teringat film horor, nenek tempayan.
"O..oh, syukurlah kalau sudah tahu, saya tadinya bermaksud mengabari akan hal itu, Nek," jelas Andra sambil meringis, karena si nenek itu menyeringai ke arahnya.
Tiba-tiba ada telepon masuk, ke ponsel yang terselip di saku celana levis remaja itu.
__ADS_1
"Halo, Pus."
"(........)"
"What!"
"(......)
" Oke, gua langsung kesana!"
Sambungan pun di matikan sepihak oleh Andra. Wajahnya nampak pias dan semburat kepanikan tercetak jelas di wajah tampan nya.
"Nek, saya permisi dulu, mau ke rumah sakit. Tolong doakan, Miko." Andra pun pamit setelah sebelumnya mencium tangan nenek tua bertubuh kecil itu. Ia terlupa akan benda yang tersemat di jumputan sang nenek.
Si nenek terpaku dengan pandangannya yang berkabut.
"Ya Allah, selamatkan lah cucu ku...."
*****
Beberapa saat kemudian, di sebuah sebuah rumah sakit.
Beberapa petugas berjubah hijau dan biru muda. Bergegas memasuki sebuah ruangan tindakan. Seorang pasien mengalami kejang-kejang, pasca operasi pengangkatan material peluru di tubuh nya. Beberapa tenaga kesehatan atau bisa di sebut juga tim medis, terlihat panik dengan keadaan pasien yang tiba-tiba memburuk.
Bahkan, tim penyelidik itu sempat menanyakan kepada Ujang, dari mana ia berasal, di mana ia menemukan korban, bagaimana lokasi tempat kejadian perkara dan masih banyak lagi. Pertanyaan yang di lontarkan tim penyidik membuat remaja itu tak tidur sedikit pun. Baru sehabis subuh tadi ia dapat memejamkan mata sebentar. Barusan ia terjaga seketika ketika mendengar para Suster berteriak bahwa si teteh geulis(panggilannya untuk wanita yang bernama Ameera ) tiba-tiba kejang.
Ujang yang sempat panik karena prihatin atas keadaan wanita itu, hanya bisa merapal doa sembari mondar-mandir.
Remaja yang mengenakan sweater itu, baru saja meletakkan bokongnya di kursi besi, sebuah ruang tunggu yang terletak di koridor rumah sakit. Ketika ia mendapat panggilan dari pamannya.
"Nya, Mang?"
"(.......)"
"Ujang masih di depan ruang igd,"
"(.......)"
"Ujang langsung ke bawah, antosan sekedap nya'(tunggu sebentar ya).
Ujang langsung menekan tombol merah di layar ponsel keluaran lama miliknya. Kemudian remaja itu pun segera beranjak, menyusuri koridor rumah sakit, yang sejak pagi tadi ramai di lalui oleh petugas rumah sakit. Entah itu para Ners, Dokter, petugas kebersihan dan juga para security.
Setelah turun dari lift, Ujang berbelok hendak menuju koridor arah pintu keluar. Namun ada seorang pemuda sepantaran dirinya, yang menabraknya hingga ia hampir saja oleng. Bukan tabrakannya nya yang terlalu kuat, hanya saja fisiknya yang kurang tidur dan lambungnya yang belom sempat terisi, membuat ia lepas keseimbangan atas tubuhnya.
"Maaf, Bro! Gua keburu-buru tadi mau ngejar lift!" seru remaja berkulit putih itu, dengan topi yang tersemat menutupi kepalanya.
__ADS_1
"Lu, gapapa kan?" tanyanya memastikan, keadaan remaja seusianya yang di tabrak barusan.
"Saya teh, gak apa-apa, lain kali hati-hati!"
"Karena, terburu-buru hanya akan membuat celaka, bagi dirimu, bahkan orang lain." nasihat Ujang dengan senyum ramahnya.
"Oke, Bro. Gua pasti ingat pesan, Lu."
"Gua, panik karena temen gua lagi kritis," jelas remaja yang mengenakan hoddie berwarna putih itu.
"Semoga teh, temen kamu baik-baik saja ya," ucap Ujang sambil menepuk pelan bahu remaja bermata jernih itu.
"Aamiin, thanks, Bro! Sekali lagi, gua minta maaf ya." Kemudian remaja itu segera masuk ke dalam lift. Dan Ujang pun meneruskan jalannya menuju lobi rumah sakit.
Dari kejauhan ia melihat sang paman, sedang duduk, bertumpu antara lutut dan siku, di sebuah kursi besi, dengan dua bungkusan kresek hitam di tangannya.
"Mang!" panggil Ujang dengan wajah sumringahnya.
"Duh, budak ieu katingalina kacau pisan!" (Yaampun..,ini anak tampangnya kacau bener) seru sang paman sambil menelisik dari atas hingga bawah.
"Makanya teh, Ujang minta di bawain kaos ganti, atuh Mang," sahut remaja yang lahir dan besar di tanah pasundan itu.
"Sumuhun, mangga ngarobah eta gancang!" (Ya udah,cepetan diganti sana!) perintah sang paman sambil menyerahkan kresek hitam berisi kaos ganti.
"Nya, Mang," sahut Ujang segera berlalu, setelah menyambar kresek hitam itu.
Ujang dan pamannya terlihat menyedot es teh, yang di masukkan ke dalam plastik bening. Mereka baru saja selesai makan ketoprak dan kini sedang duduk di pelataran parkir rumah sakit.
" Mang, Ujang teh perasaannya gak enak ya?" ungkap nya penuh kegelisahan.
"Teu enak kunaon?" tanya sang paman menelisik dengan wajah serius.
"Sebelom subuh tadi, Dokter bilang, keadaan si teteh geulis sudah lewat masa kritis nya, tinggal nunggu sadar aja," Ujang berhenti sebentar sebelum meneruskan kalimatnya, ia terlihat berpikir.
Terimakasih, pembaca setia mak..
Yang udah mau tengokin coretannya mak...
Ngikutin mak dari kisah Rojali dan Fatimah...
Mak lop klean pullteng pokonyaahh๐๐๐๐๐
Lemparin mak Jempol, empot, ame kembang ye...
Komen klean juga selalu mak tungguin๐
__ADS_1