Mengasuh Calon Istri

Mengasuh Calon Istri
Pelukan teletubbies.


__ADS_3

🌼🌼🌼🌼🌼🌼


...Assalamu'alaikum...reader mak tercintah..!...


...Hai..Hai..!πŸ’ž....


...Selamat berbunga-bunga ya hari iniπŸ’....


...Semangat dan be a positif thinking selalu!...


...Semoga Allah selalu mengiringi langkah kita menuju kebaikan...Aamiin....


...Dont forget dukungannya ya...πŸ₯³....


...Happy, reading...tengkiyuuuuu!!...


******


Andra meringis melirik tatapan tajam sang Umma yang mengarah padanya.


Kemudian bibirnya bergerak pelan tanpa suara, mengucap kalimat, "Sorry...,"


(Anak ini, bagaimana kalau mereka hanya berdua?)


Batin, Kartika merutuki sikap Andra yang tak bisa menahan dirinya.


Mereka pun berjalan beriringan lagi, dengan Andra yang berada di posisi paling depan.


(Aih,nasib jadi pengawal. Untung buat cewe-cewe cakep...,)


Batin Andra mengeluh, tapi sambil senyum-senyum.


Sayangnya, aksinya ini di salah tafsirkan oleh beberapa wanita yang berpapasan dengannya. Bahkan, beberapa dari mereka bukan hanya membalas senyumnya melainkan di tambah pula dengan kerlingan genit dan sun jauh.


Apakah, Andra merasa senang?


Tidak! Ia merasa sangat risih.


Karena itu, ia menaikkan Hoodie nya dan menutupi kepalanya. Sedangkan, hampir separuh wajahnya di tutupi dengan sweater turtle neck yang di pakainya sebagai dalaman.


Kartika dan Najwa menertawai di belakang, karena sekarang Andra macam orang meriang.


Andra akhirnya mendengar suara cekikikan di belakangnya, ia pun sontak menoleh.


Dan,kedua perempuan itu tiba-tiba menutup mulut mereka dan mengalihkan pandangan ke atas langit.


Andra mendengus, ia merasa yakin kedua perempuan di belakangnya ini habis menertawainya.


Najwa dan Kartika susah payah menahan geli yang mengocok perut mereka.


Dan, malam ini mereka habiskan dengan penuh suka cita serta kehangatan satu sama lain.


Kartika berharap, semoga hubungan dan jalinan ini tidak akan berubah. Meski pun, nanti Najwa tidak lagi bersama mereka.


Kartika memeluk gadis jelita itu dengan erat, ketika mereka berada di sebuah jembatan untuk menyaksikan cahaya lampu kota dari sana.


Ia melabuhkan kecupan dalam di ujung kepala gadis itu.


"Umma, sayang sekali sama Najwa. Sampai kapan pun, meski pun kamu bukan darah daging ku. Kasih sayang Umma, tulus dan ikhlas. Umma, harap hubungan kita seperti ini selamanya. Erat dan kuat, serta saling menghangatkan," lirih Kartika, entah kenapa malam ini ia mellow sekali.

__ADS_1


"Umma...,"


" Kenapa, berbicara seakan Najwa akan pergi jauh dari Umma?" tanya Najwa dengan keheranannya.


"Sayang, dengarkan Ummq baik-baik ya. Kamu, tidak akan selamanya berada bersama kami. Suatu saat, orang tua mu pasti akan menemukan mu. Allah akan mempertemukan kalian. Dan, kau harus kembali bersama mereka," jelas Kartika, berusaha menahan sesak yang tiba-tiba menekan dadanya.


Andra sontak memalingkan wajahnya, ia tak suka bila umma sudah membahas perpisahan dengan Najwa.


Akan tetapi, ia tidak boleh egois bukan?


Sejatinya, bila ini memang akhir dari tugasnya. Maka ia harus merelakan Najwa kembali pada keluarganya.


Ia memang sayang, bahkan sangat sayang, sampai-sampai ia ingin merengkuh Najwa hanya dalam pelukannya seorang.


Namun, kembali lagi. Ia memikirkan bagaimana perasaan kedua orang tuanya. Bagaimana perasaan mereka ketika harus kehilangan Najwa sejak bayi.Ketika takdir mengharuskan mereka berpisah dengan anak kandung sendiri. Bahkan, tidak mengetahui di mana dan bagaimana keadaan putri kecil mereka itu.


Andra, tidak pantas egois bukan?


Mungkin, tugasnya cukup sampai di sini.


Ia mencoba ikhlas, meski sudut hatinya perih, dan ujung matanya memanas. Ia mendongak ke langit, berharap linangan yang menggenang itu takkan luruh.


Najwa hanya bisa menunduk, di satu sisi ia selalu ingin bersama umma dan uncle nya. Akan tetapi, disisi lain, ia juga berharap menemukan kedua orang tau kandungnya. Mencari tau, apa yang sebenarnya terjadi sebelas tahun lalu. Masihkah ibu nya hidup,bagaimana rupanya mereka?


Apakah, kejadian itu yang membuat malam-malam nya sering bermimpi buruk.


Suara tembakan, serta lolongan anjing. Derap langkah kaki dan aroma anyir darah.


Hanyalah dekapan Andra yang pada saat itu dapat menenangkannya. Karena, Andra selalu mengiringi tidurnya dengan pembacaan sholawat.


"Najwa, enggak mau mikirin itu sekarang. Najwa takut, Umma...," lirih nya, kemudian ia menghambur ke dalam dekapan wanita paruh baya yang telah berkorban banyak untuknya. Hingga rela kehilangan seluruh hartanya demi melindunginya.


Andra yang mencuri pandang kedua perempuan itu, hanya bisa mendekap erat tubuhnya sendiri.


Ia juga ingin ikutan memeluk, tapi apalah daya...,


Hanya, bisa menghembuskan nafasnya berat karena ikut sesak.


(Umma, kenapa malam ceria ini kau buat mengsedih?)


(Sungguh, luar biasanya dirimu)


Gerutu Andra di dalam batinnya. Sambil sesekali melihat kedua orang yang sedang saling terisak itu. Hingga, akhirnya pertahannya runtuh juga. Ia pun ikut berpelukan ala teletubbies, merangkul dari belakang sang umma dan menyandarkan kepala di bahu nya. Tangannya sedikit dapat merengkuh tubuh Najwa yang terhalang Kartika.


Setidaknya, ia bisa juga merasakan kehangatan itu.


Sebelum, tiba akhirnya Kartika tersadar dan mendaratkan capitan maut nya.


"Iyaww!"


"Allahu Akbar!" Andra, sontak menarik tangannya dan mengelus pinggangnya. Padahal, bajunya sudah setebal ini, kenapa masih bisa tembus sakit dan panasnya cubitan umma.


"Ngapain, sih kamu ikut-ikutan?"


"Merusak suasana aja tau gak," omel Kartika dengan raut wajahnya yang judes minta ampun, tapi cantik sih.


"Umma..., kasian Uncle nya,"


"Jangan di cubit dong," bela Najwa yang ikut meringis melihat ekspresi kesakitan dari Andra.

__ADS_1


"Ck, Uncle mu itu cuma akting,jangan di percaya!"


"Mana ada sakit? Paling cuma geli aja," kilah Kartika masih dengan ego nya yang tak mau di salahkan.


"Tapi kok, Uncle nya sampe nangis tuh, keluar air mata," ucap Najwa yang melihat mata Andra memerah. Ia kira uncle nya nangis karena cubitan umma.


(Perhatian banget si kamu, sayang nya uncle...,)


(Sampe khawatir kayak gitu, Di jailin kayaknya enak nih, ok lah.) Batin, Andra membiaskan senyum jahil di wajahnya.


"Emang, Umma tuh sering kayak gini sama Uncle,"


"Emang, pilih kasih. Sama kamu aja meluk-meluk, giliran sama Uncle, cubit, jitak, getok, nyambit, apa lagi dah...," ucap Andra dengan pura-pura meringis sambil terus mengusap pinggangnya.


"Ni pinggang Uncle kalo di visum, penuh warna biru-biru ini," tambah nya lagi, yang tanpa ia sadari mata Kartika sudah seperti bola pingpong.


Karena,Andra berbicara sambil melihat ke bawah dan sesekali mencuri lihat ekspresi Najwa.


Najwa sudah terlihat masuk dalam perangkapnya, wajahnya terlihat begitu kasihan padanya.


(Dasar, emang masih anak kecil. Kena juga...,) Andra, tertawa puas dalam hatinya.


"Umma, gak boleh gitu. Kan perempuan itu harus lemah lembut gak boleh kasar dan menyakiti. Meski pun niat nya untuk mendidik, itu kan yang Umma selalu ajarin ke Najwa," protesnya, pada Kartika yang tengah melongo karena sang putra berhasil menghasut gadisnya.


"Sayang, kamu percaya aja sama Uncle,"


"Masa iya lelaki gagah perkasa macam dia, berasa sakit hanya dengan cubitan dari jemari kecil lemah wanita tua ini?"


"Bukankah, justru kita patut meragukan kejantanannya?"


"Cemen banget gitu sih," sindir Kartika yang berhasil membalik keadaan.


Lagian si, cewek di lawan.


"Bener juga," lirih Najwa pelan tapi masih sampai terdengar ke telinga Andra.


" Uncle, jadi laki-laki itu harus kuat! Kan, Uncle itu pelindung kita, para perempuan. Kalo Uncle nya lemah nanti siapa yang jagain Umma sama Najwa?" tanya nya polos, emang dasar anak kecil.


Andra hanya bisa mendengus pasrah, melihat senjata nya makan tuan.


Kartika pun tersenyum miring penuh kemenangan.


"Ya udah, nanti kita panggil Uncle Mau aja. Uncle raksasa lebih perkasa!"


"Gak suka caper gak suka baper," seloroh Kartika membuat sudut bibir Andra berkedut.


(Ni, emak satu ngajak ribut apa gimana?)


(Teganya, aku di bilang cemen dan gak perkasa.) Kesal nya, meski hanya berani di dalam hati, padahal tetep dosa lho uncle.


"Enggak ah, Najwa gak mau di ganti Uncle nya!"


" Biar Uncle ganteng aja, nanti suruh nge gym aja Umma, biar badannya kekar," ucap Najwa polos membuat Kartika tergelak dan Andra menepuk jidat nya.


(Kamu gak tau aja body uncle, sayang...,)


Lagi-lagi suara hati Andra mengudara, bibirnya pun mengulas senyum samar.


(Uncle ganteng mu ini, mana tergantikan...,)

__ADS_1


Bersambung>>>


__ADS_2