
__πΊπΊπΊπΊπΊπΊ__
Suasana histeris terdengar dari ruang instalasi gawat darurat. Nampak seorang perempuan tua tengah meratapi sosok remaja lelaki yang telah terbujur kaku. Tangisnya tak kunjung berhenti meski beberapa kawan dari sang anak, serta tim Dokter berusaha menenangkannya. Namun, perempuan tua bertubuh kurus itu, tak juga kunjung tenang.
Udara seakan menipis, menghadirkan sesak yang menghimpit hingga ulu hati.
Melihat pemandangan yang mengharukan, semua seakan tak percaya, di mana beberapa hari yang lalu, sang pemilik jasad itu masih tertawa bersama.
Jasad yang sudah kaku tak bernyawa itu terus di teriaki nya, perempuan tua dengan kerudung itu, terus menggoyang bahu dan tubuh remaja yang genap 19 tahun pada hari ini. "Miko... Bangun!" "Bangun, Nak!"
"Jangan tinggalin bunda! Miko...!"
Kemudian, perempuan tua itu beralih, ke sisi ranjang yang satu nya, di mana seorang Dokter yang juga sudah berumur menatap mereka nanar.
"Pak, Dokter. Anak saya kenapa gak mau bangun?"
"Anak saya cuma pingsan kan, Dok? Iya kan?" tanya nya sambil terus menggoyang lengan sang Dokter.
"Tolong, bangunin anak saya, Dok! Tolong!" ucapnya dengan nada memohon
"Cuma dia satu-satunya anak lelaki saya, kedua kakak dan juga kedua adiknya, perempuan semua...,"
"Dia harapan saya, satu-satunya...,"
Itu lah kalimat lirih terakhir yang keluar dari mulut ibunda nya Miko, sebelum tubuh kurus nya itu limbung. Pada akhirnya, perempuan itu pingsan.
Kenyataan ini mungkin belum dapat di terima oleh nalarnya, harapannya terlalu besar kepada anak lelaki satu-satunya yang ia miliki. Namun, kini Tuhan berkehendak lain. Ia kapan saja, bisa mengambil lagi apa yang memang sejak awal adalah milik-NYA.
Sesuatu yang berada di dalam genggaman kita, sejatinya, bukanlah milik kita. Manusia tidak ada hak kepemilikan terhadap apapun. Semua hanya milik Allah, dan kepada-NYA lah semua akan kembali. Karena itu, terimalah takdir dan jalan hidupmu dengan lapang dada, ikhlas menerima segala ketentuan dari-NYA. Karena, yang terlihat buruk di mata mu, bisa saja itu adalah kebaikan untukmu. Sebaliknya, yang terlihat bagus menurutmu, bisa saja itu berakibat buruk dan justru menjerumuskan mu.
__ADS_1
Beberapa Ners (perawat), di bantu oleh beberapa remaja laki-laki termasuk Andra, mengangkat ibunda Miko ke atas brankar yang kosong di ujung kamar IGD tersebut.
Karena, anak-anak perempuan hanya bisa merapat di pojokan sambil menangis.
Sebelum pamit, sang Dokter memerintahkan untuk memanggil keluarga, karena kepulangan jenazah harus segera di urus. Bersamaan dengan itu, seorang wanita dewasa berpakaian modis, masuk ke dalam ruangan yang penuh tangis itu.
Ia menatap nanar pada sosok remaja, yang tak lain adalah adik nya, yang pada kenyataannya, kini sudah tak bernyawa.
"Ya Allah, Adek..., kenapa bisa begini?" pekiknya dan langsung menubruk tubuh yang terbujur bersedekap dada.
"Katanya, kamu mau kuliah...? Kenapa kamu malah pergi?"
"Dek, Kakak udah nolak lamaran dari seorang lelaki demi kamu, karena Kakak masih mau kerja, supaya bisa menyekolahkan kamu!" Kemudian ,wanita itu tergugu di atas dada sang adik yang kaku. Ia menumpahkan tangisnya di sana, memeluk erat raga, yang jarang ia temui itu untuk terakhir kalinya.
Semua itu terpaksa ia lakukan, demi keluarganya. Sebagai anak pertama dan tertua, ia berusaha menggantikan peran sang ayah yang telah tiada. Sehingga, keadaan mengharuskan ia bekerja jauh di luar kota, demi penghasilan besar, agar kebutuhan hidup sekeluarga terpenuhi.
Setelah wanita itu mampu menguasai keadaan hatinya, mata berair nya beralih menatap seorang Ners yang berpakaian serba putih.
"Beliau pingsan, kami meletakkan nya di brankar paling ujung," jawab perawat yang masih muda itu.
Kemudian, wanita dewasa itu segera beranjak ke arah yang di tunjuk oleh perawat itu.
"Bunda!" Pekiknya, setelah ia menemukan sang ibunda yang mulai siuman.
Ketika melihat penampakan anak perempuan tertuanya, yang kini berada di hadapannya. Perempuan tua itu tergugu lagi, menumpahkan ketidakrelaan terhadap kenyataan yang menimpa keluarganya.
"Bun, apa yang sebenarnya terjadi? Adek sakit apa? Kenapa perutnya membesar seperti itu?" cecar wanita itu kepada perempuan tua yang masih terisak dalam pelukannya.
"Adek mu itu, pada acara kelulusannya kemarin, meracik minuman oplosan, bersama beberapa orang kawannya. Namun, Miko lah yang minum paling banyak, sehingga ekstraksi di dalam kandungan minuman itu, menghancurkan lambung serta mengakibatkan pembengkakan pada liver nya." Ibunda Miko menjelaskan kronologi secara detail, penjelasan yang juga ia dapat dari Dokter yang menangani anak lelakinya itu sejak kemarin. Wanita dewasa dengan dandanan full make up itu, sontak membekap mulutnya dengan mata membola, kemudian kepalanya menggeleng pelan. Pertanda ia tak percaya dengan kenyataan yang ia dengar barusan.
__ADS_1
"Bunda juga tidak percaya, tapi itu yang terjadi...semua kawannya pun kaget." perempuan tua itu kembali tenggelam dalam isak tangisnya.
Wanita dewasa itu, berusaha menenangkan sang orang tua nya, satu-satunya tempat ia berbakti. Dengan mengusap bahu sang bunda memberi kekuatan di sana.
"Bagaimana, keadaan teman satu nya lagi, Bun? tanyanya kemudian.
" Alhamdulillah, dia sudah sadar," lirih ibunda Miko sambil mengusap lelehan air mata, yang mengalir di pipi nya.
"Kenapa? Kenapa Miko melakukan itu semua?" tanyanya dengan tatapan nanar kepada sang putri tertuanya itu. Hanya pelukan lah, yang dapat sang anak berikan, merengkuh tubuh dan jiwa-jiwa yang rapuh. Saling menguatkan agar hati dan akal sehat mampu menerima kenyataan.
Berpikirlah berkali-kali ketika kau ingin berbuat sesuatu yang konyol. Karena semua bukanlah perihal tentang dirimu saja. Banyak orang-orang yang akan terlibat di sekitarmu. Setidaknya, pikirkanlah mereka.
Beberapa tim medis pun masuk dan hendak mengurus jenazah almarhum Miko. Sehingga, Andra dan kawan-kawan lainnya keluar ruangan.
Andra terlihat menyenderkan tubuh lesunya, ke dinding yang dingin itu.
Mata nya terpejam, dengan kepala yang mendongak ke atas, mencoba mengenang kebersamaan mereka sejak di kelas X.
Ketika awal mula, mereka manjadi satu kelompok di kelas. Selama berkawan, tak pernah ia nampak hal aneh terdapat pada diri mendiang sahabatnya itu. Bahkan, ketika Andra menciptakan aturan untuk party kelulusan, Miko ikut menyetujui *the point of rules* di mana di larang untuk mabuk-mabukan.
Remaja yang mengenakan hoddie berwarna putih itu, sungguh tak habis pikir, apa yang ada di kepala sahabatnya itu. Kenapa kawannya ini melanggar peraturan yang di setujui olehnya sendiri. Bukan sekedar kehilangan yang membuat nya sedih. Namun, cara kepergian sang sahabat lah yang mengakibatkan kecewa dan duka mendalam.
*Semoga kau sempat bertobat kawan, dan semoga Allah mengampuni segala dosa-dosamu.*
Lirihnya di dalam hati.
Puspa mendekatinya, kemudian mengusap lengan Andra perlahan.
Andra yang sedang berkelana di dalam kenangannya, terkesiap sesaat.
__ADS_1
Bersumbang....