Mengasuh Calon Istri

Mengasuh Calon Istri
Kenangan yang kembali (Najwa)


__ADS_3

🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Hideo,meremas lembut telapak tangan yang terkulai lemas . Istri yang ceria dan cerewet itu , kini tengah terlelap dalam kesakitan nya.


Hati nya bagai di hujam belati, sakit dan perih. Tatkala, ia melihat alat-alat bantu, yang terpasang hampir di seluruh tubuh Ameera.


Ruangan yang sunyi dan dingin, hanya terdengar suara dari alat pendeteksi organ vital istri nya tersebut.


Rasanya, ia ingin melempar alat sialan yang membungkus kepala Ameera. Rambut indah yang selalu di tutupi dengan khimar panjang , kini tergerai kusut tak beraturan.


Dua hari tak tidur dengan baik, membuat kedua mata Hideo terasa berat.


Kenangan-kenangan indah itu, terus berkelebat di dalam otaknya. Ketika Ameera ngidam parah pada trisemester pertama pada kehamilannya, hingga tak ada satupun makanan dan minuman yang masuk.


Keadaan yang sangat lemah, mengharuskan istrinya itu di rawat intensif selama satu minggu.


Bagaimana, ia terus mengikuti perkembangan kehamilan Ameera, yang tidaklah mudah dengan sabar dan penuh perhatian.


Belum lagi ketika melahirkan, empat puluh delapan jam sudah sang istri merasakan sakit yang luar biasa hebat karena kontraksi, pembukaan yang berjalan lambat namun sakit nya sudah hampir membuatnya macam mayat.


Wajahnya pucat, dengan pipi yang selalu basah oleh linangan air mata. Meski rintihan dan tangis tak terucap dari kedua bibir Ameera. Karena, hanya ayat suci dan dzikir yang Hideo dengar.


Namun, ia tahu, istri nya sedang menderita dalam perjuangannya melahirkan buah cinta mereka.


Sebuah istighfar terdengar nyaring dari mulut mungil Ameera, tatkala kontraksi hebat itu muncul lagi. Bulir-bulir keringat sebesar jagung mencuat di kening dan pelipisnya. Melihat keadaannya yang menghawatirkan, para perawat terus mengecek keadaan janin dalam kandungan Ameera.


Di mana sang bayi, terdeteksi telah terlilit tali pusarnya sendiri. Untung saja tidak sampai mencekik lehernya, hingga Ameera tetap bersikukuh untuk dapat melahirkan secara normal.


Namun, takdir berkata lain. Air ketuban yang merembes keluar menyebabkan sang janin, calon bayi mereka kekurangan oksigen.


Sehingga detak jantungnya terpantau lemah. Belum lagi, Ameera sudah tak berdaya karena sudah tujuh jam berjuang dengan bantuan induksi lokal.


Dimana induksi ini, mempercepat kontraksi pada rahim. Menyebabkan rasa mulas dan kram berkali-kali lipat, hingga serasa seluruh tulang mu, seakan hendak di cabut bersamaan.


Hideo tidak kuat, melihat istrinya macam orang yang sedang meregang nyawa. Ia juga khawatir, anak yang ada di dalam kandungan Ameera semakin melemah. Hingga, Hideo memaksa Dokter untuk melakukan tindakan operasi sesar.


"Maafkan, aku sayang...,"


"Aku tidak sanggup lagi melihatmu menahan sakit," lirih Hideo terucap ketika mengiringi brankar Ameera sampai masuk ruang operasi.


Hingga , akhirnya kelegaan itu datang. Ketika indera pendengarannya, menangkap suara tangis dari bayi perempuan.


Bahagia itu menyeruak, ketika sang perawat menyerahkan bayi yang di bungkus kain bedong kedalam gendongannya.


Air matanya luruh, tatkala lidahnya me lafadz kan adzan untuk pertama kali. Dan, Hideo harus melakukannya di telinga kanan sang bayi,buah cinta nya dengan sang istri terkasih. Dilanjutkan, dengan iqomah di telinga sebelah kiri.


Ada faedah nya ia mempelajari ini jauh sebelum sang bayi terlahir ke dunia.

__ADS_1


Ya, diam-diam Hideo mempelajari agama islam, terutama tata cara sholat dan puasa. Sehingga, ketika sang ustaz mengetahui bahwa sebentar lagi ia akan memiliki buah hati. Di situlah, sang ustaz menyarankan kepada Hideo untuk belajar adzan. Hatinya bergetar, menatap wajah mungil dengan mata terpejam itu.


Ameera yang melihat kejadian mengharukan itu dari kejauhan, berkali-kali mengucap syukur di dalam hatinya. Rasa bangga itu menghambur keluar dari rongga dadanya.


Melihat seorang Hideo, dimana latar belakang agama dan kehidupan nya jauh sebelum mereka bersama. Seperti percaya tidak percaya, bagaimana suaminya bisa mengadzani bayi mereka dengan begitu bagus dan merdunya.


Mata kedua nya bertabrakan, hingga akhirnya senyum kebahagiaan terukir dari bibir mereka berdua. Hideo, melabuhkan kecupan dalam di kening pucat Ameera.


"Terima kasih telah berjuang, sayang,"


"Kini, aku telah memiliki ratu yang anggun, juga seorang putri yang cantik jelita." Hideo, dengan begitu sumringah menatap bergantian ke arah istri dan juga bayi di dalam dekapannya, kemudian mengecup mereka bergantian.


"Ish, sudahlah. Kau membuat wajahku basah," protes Ameera dengan gaya merajuknya. Lantaran Hideo tak berhenti menciumi seluruh area wajahnya.


"Kenapa kau protes sih, sayang?"


"Lihatlah, bahkan putri kecilku ini saja diam," keluh Hideo tak terima penolakan.


"Itu karena, dia lelah jadi dia pasrah saja." cebik Ameera tak mau kalah.


"Memang kau tidak lelah? baru saja melahirkan tapi sudah mulai cerewet lagi," canda Hideo.


"Tentu saja aku lelah, kau yang terus menganggu ku," debat Ameera menyalahkan.


"Haish, aku pulak yang kena."


"Baiklah, kau istirahatlah, pulih kan tenaga mu."


Sekelebat kenangan indah itu menari-nari di pelupuk mata Hideo yang terpejam. Ia terkesiap dengan nafas terengah-engah dan peluh di sepanjang dahinya.


"Najwa, putri ku..., di mana kau nak?" gumam Hideo kemudian mengusap wajahnya. Ternyata ia tertidur sebentar tadi.


"Daddy, pasti menemukanmu...."


"Sebelum, manusia laknat itu!" janjinya pada diri sendiri.


Hideo meraih ponsel pintarnya, yang di letakkan dalam saku jas nya. Lalu terlihat ia menghubungi seseorang.


Tuuutt..


"Bagaimana perkembangannya?"


"(.........)"


"Ganti, dengan detektif yang lebih handal lagi!"


"(.........)"

__ADS_1


"Sepekan, dan beri laporan yang baik!"


"Atau, lencana kalian taruhannya!"


Tutt.


Panggilan telah di hentikan secara sepihak.


*****


Di lain negara....


"Mau, cepat hubungi Abang mu!"


"Najwa, masih tidak mau menyusu!" teriak Kartika pada putra keduanya yang sedang menonton pertandingan basket di televisi kabel nya.


Rupanya, wanita yang sudah berkepala empat itu mulai kewalahan dan kehabisan akal. Pasalnya, bayi Najwa sejak pagi tidak mau menyusu sama sekali. Hanya menangis, setelah lelah tertidur lalu terbangun dan menangis lagi, hingga kini suhu tubuhnya agak demam.


Ia bingung, biasanya ada suaminya yang akan membantunya mengurus bayi.


Lagi pula kedua anaknya menyusu langsung dari sumbernya. Karenanya, Kartika seakan mati gaya, menghadapi bayi yang tiba-tiba hadir di dalam kehidupannya. Apalagi, bayi ini mempunyai ikatan batin yang kuat dengan orang tuanya.


Kartika merasa ada yang terjadi dengan ibu dari bayi mungil ini, dan semoga itu tidaklah seburuk bayangannya.


" Mau, cepat lah! Suruh saja dia pulang segera!" pekik Kartika tak sabaran, sambil terus menimang Najwa yang menangis kencang.


" Iya, Um...,"


"Cuma belom diangkat ini sama Abang,"


Tut..tut..tut...


"Tuh, berdering kan," tunjuk Maulana sambil memperlihatkan layar ponselnya. Ia faham saat ini sang umma sedang sangat gelisah dan bingung. Manakala, saudara satu-satunya itu, tak juga mengangkat telepon dari nya.


"Sini, gantian aku yang gendong ,Um," pinta Maulana, sambil menjulurkan kedua tangannya.


"Baiklah...." Kartika pun menyerahkan bayi mungil yang terus meronta itu.


"Hati-hati, awas kepalanya, Mau!"pesan nya.


" Iya, Um. Aku ngerti." Maulana telah mendekap bayi perempuan itu di dalam pelukannya. Ia berharap Najwa sedikit lebih tenang.


Dalam lirihnya, Maulana merapal kan dzikir dan asma ul husna.


Terimakasih...


Atas dukungan kalian...🥰

__ADS_1


Mak sayaaaaaanggg sangaaatttt....😘😘😘💖


Pesen, like, vote, gift sama komen yak..🤗


__ADS_2