Mengasuh Calon Istri

Mengasuh Calon Istri
Menu go internasional


__ADS_3

🌼🌼🌼🌼🌼🌼


Najwa terlihat mengepak baju-bajunya, beberapa buku pelajaran serta barang-barang lainnya.


"Umma, udah ya. Najwa bisa sendiri kok,"


"Lagian, cuma tinggal beberapa sepatu aja kok yang mau di pack," ucap Najwa melarang Kartika yang sejak semalem telah repot membantunya packing.


"Gapapa, kok sayang,"


"Ini terakhir kalinya, Umma melayani dan mengurus mu. Masa gak boleh sih?" kilah Kartika tetap dengan kesibukannya merapikan beberapa kerudung ke dalam koper.


"Bukannya gitu, Umma sayang,"


"Najwa...,"


Gadis itu tidak tau harus berkata apa, ia menghambur memeluk Kartika dari belakang. Berat rasanya, meninggalkan wanita paruh baya itu. Yang begitu sayang dan begitu banyak berkorban untuknya.


Kartika berusaha menahan air matanya, cukup sudah semalaman ia menangis. Ia harus ikhlas dan kuat melepas anak asuhnya itu.


"Ih, kamu nangis yaa?"


"Basah nih, kerudung Umma," ledek Kartika mengurai suasana.


Najwa menggeleng lemah, tapi jelas sekali ia tengaj terisak.


"Sini deh kalo mau meluk tuh,"


"Dari depan sini, biar Umma bisa liat muka jelek kamu," seloroh Kartika masih mencoba membuat suasana tidak terlalu mellow.


Najwa tetap tak bergeming, hingga akhirnya Kartika menarik tangannya hingga ia berpindah kedalam pelukannya.


"Udah ah, nanti Umma ikutan nangis ini. Udah capek semaleman nangisin kamu tuh," ucap Kartika yang malah membuat Najwa semakin mengeratkan pelukannya.


"Najwa janji, akan sering menghubungi Umma. Dan, Umma kudu janji harus langsung respon,"


"Umma gak boleh bosen kalo aku chatting setiap saat," ujar gadis bermata hijau tosca itu sambil tersendat-sendat karena isak nya.


"Iya iya, tapi waktu di sana sama di sini kan beda. Masa, pas Umma lagi enak mimpiin abuya harus bangun ngangkat telepon kamu?" ucap Kartika masih dengan nada bercanda.


"Ih, Umma...,"


"Tapi, iya ya? Beda jam nya?" tanya Najwa pada diri sendiri sambil nyengir dan menggaruk kepalanya.


Kartika yang gemas, akhirnya menguyel-uyel kedua pipi Najwa dengan kedua tangannya.


Dan, mereka berdua pun tertawa bersama.


Kini mereka berdua sudah pindah lokasi.


Sore ini, kedua wanita beda generasi tersebut akan membuat makan malam special.


Makan malam perpisahan, karena ini adalah malam terakhir bagi Najwa berada di Jepang dan di tengah keluarga El Barack.

__ADS_1


"Uncle Mau, sudah menghubungi mu?" tanya Kartika yang tengah mengiris bawang bombay.


"Sudah, Um. uncle Mau minta maaf, karena tidak bisa kesini ada kasus yang membutuhkannya," jawab Najwa yang juga tengah sibuk merebus pasta kering sambil membuka kaleng yang berisi daging giling.


Sepertinya mereka akan membuat bakwan ya?


"Begitu ya, tadi juga uncle Mau sempat vidio call sebentar,"


"Dia kangen sebenarnya, hanya saja ada yang lebih membutuhkan jasa dan bantuannya di sana," ucap Kartika, sambil menumis bawang putih yang di rajang halus.


Srengg...


"Umma yang sabar ya, nanti kalau sudah waktunya uncle Mau pasti pulang,"


"Saat ini, uncle sedang di butuhkan oleh orang banyak. Bukankah, menjadi manusia yang berguna bagi orang lain itu adalah suatu keberuntungan ya, Umma? Iya kan?" tanya Najwa sambil sesekali mengaduk pastanya pelan agar tidak saling menempel.


"Benar sekali sayang. Manusia yang mulia, adalah manusia yang berguna dan memberi kebaikan untuk sesama. Sebaliknya, manusia yang tercela adalah yang senantiasa merugikan dan membawa keburukan bagi orang lain," tutur Kartika di sela menumis bawang bombay, harum dari kedua jenis bumbu itu sudah mulai menguar.


Meski mereka sedang memasak selalu saja akan ada obrolan yang menyelipkan ilmu dan faedah.


"Karena itulah misi kenapa manusia di ciptakan, selain mereka mahkluk sosial, mereka juga harus saling bermanfaat bukan saling memanfaatkan," tambah Kartika lagi membuat Najwa manggut-manggut, meresapi setiap kalimat yang teruntai dari bibir Kartika.


Kartika kembali menghampiri Najwa dan mencubit hidung mancungnya pelan.


"Ih, Umma...,"


"Sempet-sempet nya. Awas tu ntar gosong beef bolognese nya," cebik Najwa dengan memajukan bibirnya.


Kartika hanya terkekeh geli menyaksikan raut wajah gadis tersayangnya itu.


"Alhamdulillah, mi goreng kita udah ready...!" seru Kartika yang telah selesai, menghidangkan menu yang mereka masak di atas meja makan.


"Umma, ih ngelindur. Masa, menu eropa gini di bilang mi goreng," protes Najwa.


"Terus apa dong namanya?" tanya Kartika sok tidak tau.


"Namanya, seblak Umma...," ucap Najwa sambil menahan tawanya.


"Makin ngaco aja,"


Dan, lagi-lagi mereka tertawa bersama.


Selesai solat magrib, Kartika dan Najwa sudah ada di meja makan. Tak lama kemudian Andra pun turun dengan pakaian rapi.


Sebenarnya pria itu hanya mengenakan kaos lengan panjang yang di gulung hingga ke siku. Hanya rambutnya saja yang terlihat basah dan tersisir. Hingga tak ada poni yang menjuntai ke depan dahinya.


"Masya allah, tabarokallah. Menunya tumben nih go internasional?" komentar Andra dengan wajah berbinar melihat menu yang terpampang di hadapannya.


Karena duet koki cantik membuat tiga menu tadi, yang pertama pasta, kedua bola-bola daging ayam yang di beri kuah kaldu, juga tahu yang di lumatkan dan di kukus menggunakan alumunium foil.


Harusnya, menggunakan daun pisang. Namun, di negara ini sudah tak ada tanah kosong untuk sekedar berkebun pisang.


Ketika Andra hendak mengambil pasta yang di lumuri saos daging sapi dan topping mozarella yang meleleh itu. Najwa menghentikannya.

__ADS_1


"Uncle jawab dulu, nama menu itu apa?" tanya Najwa serius.


Andra, menaikkan sebelah alisnya.


Ada ya orang masak gak tau nama menu nya?


"Serius, Uncle harus jawab?" tanya Andra dengan memicing curiga.


"Ya serius dong. Soalnya tadi Umma sama aku salah nyebut namanya,"


"Coba sekarang Uncle jelasin ke kita nama sebenarnya apa?" jelas Najwa membuat sudut bibir Kartika mulai berkedut.


"Kalian ini, ini kan makanan dari itali yang namanya mi tek-tek,"


Fix lah...somplak semua!


Dah lah coba para readers aja yang jawab.


Skip.


Najwa sudah siap berangkat, Hideo dan Ameera telah berada di ruang tamu sejak satu jam yang lalu. Entah mengapa gadis ini masih setia duduk di atas ranjang nya,memandangi jendelanya yang sengaja di buka.


"Bang, jemput Najwa ya, ingat jangan lama-lama langsung turun!" titah dan pesan Kartika sekaligus.


"Rebes Umma cantik," jawabnya sambil mengerling nakal menggoda wanita yang telah melahirkannya itu.


"Dasar, anak sholeh." Kartika hanya tersenyum menanggapi kelakuan putra pertamanya itu.


"Andra, benar-benar paket komplit ya. Sudah tampan, jenius, sholeh dan juga sosok yang menyenangkan," puji Ameera sambil menatap punggung Andra yang kini tengah menaiki tangga.


"Kamu hebat Mbak, bisa mendidik mereka seorang diri,"


"Menjadi pribadi yang luar biasa, terimakasih Mbak."


"Aku sangat bersyukur pada Allah, karena telah menitipkan putri kami pada wanita hebat seperti mu," tambah Ameera lagi kini wanita itu tengah saling menatap dalam.


"Aku tidak sendirian, Allah senantiasa membantu ku. Membimbingku, melimpahkan sabar yang luas padaku."


"Sekarang, tugas kalian tinggal meneruskan apa yang sudah di pelajari oleh Najwa."


"Teruskan hafalannya, dan dukung ia meraih impiannya," tutur Kartika.


"Memang, apa impian Najwa?" Kali ini Hideo ikut bertanya.


"Itu tugas kalian nanti, perlahan saja. Ia akan bercerita tanpa kalian minta."


"Jadilah kawan untuknya, putri kalian sedang berada di dalam masa transisi saat ini," pesan Kartika, pada sepasang manusia yang berhak sepenuhnya atas Najwa putri asuhnya.


...Mampir ke novel baru mak ya gaes......


...Mohon dukungannya...😁...


Bersambung>>>>

__ADS_1


__ADS_2