Mengasuh Calon Istri

Mengasuh Calon Istri
Begadangin si bayik


__ADS_3

___🍁🍁___


Setelah membersihkan tubuhnya dengan air, dan kini Andra terlihat lebih segar.


Kemudian ia masuk ke dalam kamar sang umma, dimana di sana ternyata sudah terdapat Maulana yang sedang menunggui sang bagi mungil.


Untung saja kamar umma rapat, sehingga suara tangisan bayi ini agak teredam.


Andra mendekati bayi itu, mengelus pipinya yang merah.


Tangis bayi itu semakin keras, "Oekk...oeekk...oekkk...!"


"Umma mana, Dek?" tanya Andra kepada Maulana yang sedang menatap bayi itu bingung.


"Lagi bikin apa gak tau, aku Bang," jawab Maulana meringis melihat bibir mungil itu tak henti menangis sejak tadi.


Andra yang tidak tau harus melakukan apa, untuk menghentikan tangis pada bayi itu, ia pun secara spontan menggendong bayi mungil yang berjenis kelamin perempuan itu.


"Cup, cup ya sayang...! Jangan nangis dong,apa kamu haus ya? Ya Allah ini gimana?" bingung Andra masih terus menimang sang bayi.


Bayi mungil itu terus menangis dan meronta di dalam dekapan remaja berwajah tirus itu.


"Aduh, gak diem-diem juga, malah makin kenceng nangisnya, gimana itu Bang?" panik Maulana seraya mondar-mandir mengikuti Andra yang menimang ke sana dan kesini.


"Mana Abang tau, Dek? emangnya, Abang pernah punya bayi?" kesal Andra karena ia sendiri pun bingung.


" Ya udah sana, kamu liat umma lagi ngapain! Kok lama banget dari tadi!" usir Andra kepada sang adik satu-satunya itu.


"Oke Bang,bbacain sholawat aja coba, siapa tau agak tenang bayinya." Ujar Maulana seketika berlalu dari dalam ruangan persegi itu.


Bener juga kata Maulana, kenapa gua gak kepikiran dari tadi,


Ya Allah, bantu aku menenangkan bayi ini, dengan risalah dan karomah sholawat atas Nabi-Mu.


**


"Solatullah salamullah, alaa thoha rosulillah.


Solatullah salamullah, alaa yasiin habibillah.


Tawassalna bibismillah, wabilhadii rosulillah.


Wakulli mujaa hidilillah, biahlil badri ya Allah."


Dan, benar saja tangis bayi itu agak mereda tak sekencang tadi, bahkan tubuhnya sudah lumayan tenang, hanya saja kepalanya sibuk menoleh ke kanan dan ke kiri seperti mencari sesuatu.

__ADS_1


Buru-buru Andra melantunkan sholawat kembali, sebelum tangis bayi itu kembali pecah.


**


"Ilahi sallimin ummah, minal afaa tiwanniqmah.


Wamin hammiw wamin ghummah, biahlil badri ya Allah."


Kemudian, terlihat satu-satunya wanita di rumah itu, dengan daster panjang yang lengan nya sudah di gulung sebatas siku, serta kerudung lebarnya yang ia tarik sedikit ke belakang lehernya, dengan tergopoh-gopoh ia masuk ke dalam kamar, sambil membawa sesuatu di tangannya.


"Sini, Bang, biar Umma yang gendong, kamu pegang ini aja," titah umma kemudian mengambil alih bayi yang berada dalam gendongan putra pertamanya itu.


"I, ini apaan, Umma? jangan macem-macem deh,!" cecar Andra dengan wajah bingung sambil memperhatikan cairan berwarna coklat muda, yang umma letakkan di dalam cangkir dan kini berada di tangannya. Andra pun terlihat mengendus cairan yang masih mengepul kan uap panas itu.


"Apa si kamu, ya, Umma gak mungkin macam-macamin anak ini, Bang! Kamu lupa, Umma udah pernah punya anak?" hardik wanita yang masih terlihat sangat cantik meski usianya sudah menginjak kepala empat.


"I, iya, Um, maaf. Abang cuma bingung aja ini apa?" sesal Andra karena melihat kedua mata sang umma yang belo dan lentik semakin membesar.


Mendengar perdebatan itu, sang bayi yang sudah agak tenang pun kembali memekik kencang.


"OOEEEKKK....!!"


"Uluuh, cup, cup, sayaangg...sstt...sstt. Sabar ya Neng botoh, Neng geulis, Cah ayuu...." tutur umma berusaha menenangkan, sambil sesekali mengelus ubun-ubun sang bayi.


Namun, seketika ia menunduk ketika mendapat tatapan tajam dari keduanya.


" Dah lah, nasib budak kicik memang macam ni ,"


"Mending kamu kipasin aja, cairan yang ada di dalam cangkir itu, biar cepet adem," perintah umma kepada putra kedua nya si Maulana.


"Emang ini cairan apa si Umma? baunya kayak nasi baru mateng gitu, terus wangi gula," cecar Andra lagi membuat sang umma menghela nafas.


"Sini, udah adem kali! Kasian, Dedek bayinya udah kelaperan banget!" pinta umma kemudian menyuapi si bayi mungil, dengan cairan kental kecoklatan itu menggunakan sendok kecil.


Pelan-pelan,terlihat bibir merah bayi itu mengecap, merasai benda asing yang masuk ke mulut, dengan menjulurkan lidah nya yang masih kasar.


"Um_?" pertanyaan Andra terpotong karena lirikan sang umma yang setajam silet. Seketika mulut nya bungkam. Ia memutuskan menyaksikan saja dan mempercayai wanita yang sudah melahirkan dan membesarkan mereka tanpa sosok seorang ayah, selama sepuluh tahun ini.


Tak mungkin umma memberikan yang tidak boleh di makan sang bayi cerewet itu bukan?


Ya, bayi cerewet, nama itu ia sematkan karena suara tangisan sang bayi begitu memekakkan telinga.


(Namanya juga bayi kelaperan!)


Maulana hanya menahan senyum melihat interaksi antara umma dan abangnya itu.

__ADS_1


Ya,dia dan abangnya sangat takut dan sebisa mungkin,untuk tidak membuat sang umma marah.


Apalagi sampai membuat umma sedih, itulah hal yang selama ini mereka hindari.


Umma,sudah lama menderita dan lelah, bahkan, di hatinya sudah tersemat banyak luka yang menyakitkan,tapi tak berdarah.


Kedua remaja, yang ketampanannya menurun dari genetik sang abuya.Hanya bisa menatap dalam diam,menyaksikan wanita terhebat di dalam hidup mereka itu. Secara perlahan dan sedikit demi sedikit menyuapi, hingga sang bayi terdiam dan kemudian terlelap.


Kemudian umma meletakkan sang bayi di atas ranjangnya.Ia meletakkannya agak ke tengah.


"Syukurlah, Alhamdulillah...!" ucap umma sumringah penuh syukur dan kelegaan.


Karena sang bayi ternyata doyan dengan apa yang ia berikan.


"Insyaallah, pules sampe pagi!" harap wanita berkerudung instan yang menutupi sampai ke perut.


"Ini juga udah pagi,Um...adaww!" pekik Maulana yang mendapat jitakan di kepalanya.


Hingga ia mendapat kekehan dari sang Abang.


"Dah,Umma mau kebelakang dulu narok ini," ucapnya pada kedua putra sambil mengangkat cangkir yang isinya hampir tandas itu.


"Umma,tunggu! Kamu,bayik gede tolong jagain bayik kecil aja okeh!"perintahnya yang sekalian meledek Maulana,hingga ia mendapat pelototan dari adiknya itu. Andra terkekeh tanpa suara,kemudian langsung berlari keluar kamar mengejar umma.


" Um,_ ish, udah biar Abang aja yang cuci peralatannya." Andra pun langsung mengambil alih yang sedang di bersihkan umma.


"Kartika pun mendiamkan apa yang mau di lakukan sang putra,ia sedang mode butuh penjelasan.


" Umma mau bikin energen,Abang mau rasa apa?" tanya umma tanpa menengok.Ia sedang menuang air panas ke dalam mug.


"Jahe aja,Um." Andra pun terus mengerjakan tugasnya membersihkan peralatan yang barusan di gunakan umma untuk membuat minuman si bayi.


"Umma,tunggu di ruang tamu! Gak, pake lama!"


"Yes,mam!"


****


Kira-kira itu bayi dikasi apa ya?


Readers ada yang bisa jawab kah?


😁


Jangan lupa dukungannya ya,biar mak semanget lha tuu...😙

__ADS_1


__ADS_2