Mengasuh Calon Istri

Mengasuh Calon Istri
Pindah(Kesadaran Ameera)


__ADS_3

🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼


Setahun telah berlalu keadaan Ameera semakin menunjukkan tanda-tanda perubahan yang signifikan. Ameera telah sadar, namun ia hanya bisa menggerakkan mata dan membuka mulutnya saja. Itu pun tanpa ada suara yang keluar dari tenggorokannya.


Hideo menetap sementara di negara tersebut. Dengan menyewa sebuah apartment di sebelah rumah sakit, tempat sang istri selama ini menjalani pengobatan intensif.


Meski begitu, selama tiga bulan belakangan ini, ia terpaksa meninggalkan Ameera demi mengontrol secara langsung perusahaannya yang sedang goyang.


Meski sepekan sekali ia akan pulang lalu menemani istri nya itu selama dua hari. Pikirannya sungguh terbagi, antara istri tercinta yang sedang tergolek lemah. Antara bayi perempuannya yang belum juga ia tahu di mana rimba nya.


Bahkan, secuil jejak pun tak terendus oleh tim penyidik yang di kerahkan nya. Dan, itu ternyata memakan fisiknya secara perlahan.


"Tuan beristirahatlah sebentar, setelah itu baru kita ke rumah sakit," saran sang asisten yang merangkap juga sebagai sopir pribadi dan juga pengawalnya itu.


" Aku belum melihat istriku sejak sepekan, Bisa-bisa nya kau menyuruhku istirahat!" hardik pria berkebangsaan Jepang itu.


"Maaf, Tuan. Jika anda nanti kelelahan dan sakit, lalu bagaimana dengan Nyonya Ameera juga putri kecil?" jelas sang asisten lagi.


"Pikirkanlah untuk diri anda kali ini saja. Bahkan, sejak kemarin anda belum tidur," tambah nya lagi sama sekali tak memperdulikan bentakan yang tadi di lontarkan ke arahnya.


Ia faham sifat majikannya ini, lebih dari sepuluh tahun kebersamaan mereka. Bentakan seperti itu, tentu takkan membuatnya gentar. Ia, tau bahwa sang majikan sedang banyak pikiran dengan berbagai persoalan yang menimpa perusahaan dan keluarga nya secara bersamaan.


Tidak gila saja itu sudah lebih dari luar biasa. Bagaimana tidak, serangan bertubi-tubi menimpa Hideo. Perusahaan yang di ambang ke hancuran, istri nya cacat setelah koma selama kurang lebih sepuluh bulan.


Dan bayi nya hilang entah masih hidup atau tidak. Manusia mana yang tak goyah, masih bertahan pada titik kewarasan saja itu sudah bagus.


Sang asisten masih bernafas lega, setidaknya, bos nya ini tidak kembali pada tabiat awalnya. Ternyata, nyonya muda nya itu luar biasa, mampu merubah singa menjadi kucing anggora.


Ia tersenyum tipis di balik kemudinya.


"Kau benar-benar ya!"


"Kenapa, kau malah berbelok ke apartemen?" protes Hideo tak terima, walaupun ia menyadari bahwa tubuhnya butuh mandi dan juga kasur.


"Saya, janji Tuan. Nanti malam kita pasti ke rumah sakit menemui nyonya muda," jelas sang asisten berkepala pelontos itu.


"Tenanglah, Tuan. Kita pasti akan menemukan putri kecil lebih dulu."


Di lain negara.


Andra yang sudah mendaftar kuliah di sebuah universitas tekhnologi terbesar yang ada di kota B. Membuat seluruh keluarga nya, mau tak mau mengikutinya.

__ADS_1


Lantaran, bayi mungil yang sudah bisa berjalan itu, tak bisa jauh darinya.


Remaja yang sedang dalam fase pendewasaan itu, tak merasa keberatan dengan waktunya yang padat terbagi. Bahkan, ia tak memiliki waktu hanya sekedar untuk nongkrong atau hangout bersama teman-temannya.


Andra, tulus menyayangi bayi perempuan itu. Yang semakin hari semakin menggemaskan, dan perasaannya semakin tak bisa di pisahkan dari Najwa. Ia tak merasa terbebani, meski kerepotan terkadang menghiasai hari-harinya kini.


Kepindahan mereka, ke kota dengan ikon gedung satenya itu.


Tak lain juga, karena menghindari kejulidan tetangga kepo. Yang takutnya berimbas pada keselamatan Najwa.


Mereka ingin menghilangkan jejak Najwa, meskipun otak cerdas Mau mengatakan...


Kala itu, ketika kami menikmati sore di halaman belakang.


"Orang-orang itu takkan bisa melacak jejaknya. Selama Najwa tidak memasukkan datanya."


"Tapi, sampai kapan?"


"Suatu saat ia, harus bersekolah bukan?"


"Bahkan, demi melindunginya. Kita sampai mengasingkannya, menempatkannya sebagai penumpang gelap dalam keluarga kita." tutur remaja yang mulai duduk di bangku SMU itu.


Ya, demi pendatang kecil yang sudah merubah hidup keluarga ini.


Hingga, Kartika merelakan karir yang telah di rintis nya lama. Dan, menjual rumah peninggalan suaminya.


Kartika, tidak akan menjual kalung berlian yang kisaran harganya bisa mencapai milyaran tersebut. Karena ia tak ingin ada sedikitpun jejak yang bisa di cium oleh para pemburu itu.


Entahlah, apakah keputusannya ini tepat?


Secara, ia hanya mampu memberi kehidupan yang teramat sederhana.


Sampai kapan ia akan bertahan?


Demi menghindari segala kemungkinan yang terjadi, Kartika menyewa rumah yang di sewa pertahun. Ini semua, demi memudahkan mereka jika suatu saat harus menghilang lagi.


Kartika hanya membuka usaha jahit dan permak di rumahnya.


Dengan, bantuan seorang asisten rumah tangga untuk membantunya mengurus rumah dan menjaga Najwa.


Kartika, memilih tempat tinggal di perkampungan. Dimana tidak ada yang mengenali mereka di sana. Membuka terima jahit dan permak di rumah, juga membuka counter handphone yang biasa di jaga oleh Mau, sepulang sekolah. Jahitan Kartika berkembang pesat di kampung itu. Banyak warga yang puas dengan hasil jahitan dan juga desainnya.

__ADS_1


Tentu saja, Kartika adalah asisten designer ternama di kota. Hanya saja, ketika ia hendak launching brand sendiri. Najwa, bidadari kecil itu, hadir dalam hidupnya.


Akan tetapi, tak ada penyesalan dalam dirinya. Karena, Najwa membawa kebahagiaan tersendiri di dalam keluarganya.


Di lain tempat


Di sebuah kota bernama K, yang biasa di sebut sebagai kota yang memiliki hutan terbesar se-asia tenggara.


Indar Winata, membakar ujung besi ke perapian, kemudian menindas nya ke salah satu kening sang anak buah.


"Aakk...!"


"Ampun, Tuan!" jerit pria berseragam coklat kehijauan itu. Yang sudah di pegangin oleh dua orang pria berbadan besar di kanan dan kiri nya. Keningnya hampir saja berlubang karena terbakar bara di ujung besi tersebut.


"Lemah!"


"Harus nya aku menindas nya ke sebelah matamu!" sergah Indar Winata dengan penuh emosi.


Pria berseragam angkatan itu, terjerembab lemah sambil menahan sakit nya luka bakar.


Inilah salah satu contoh kecil, kekejaman seorang sahabat dari Hideo Kaindra.


"Setahun sudah, aku membuang uang percuma!"


"Sedikit jejak pun tidak kalian dapatkan!" protesnya kepada beberapa anak buahnya yang berbaris.


"Aku ingin bayi itu segera, hidup atau pun mati."


"Karena, nasibku ada di tangannya." Indar menatap nyalang dan bengis kepada seluruh antek-anteknya itu.


Hingga, mereka semua serentak meninggalkan ruangan besar dari rumah kayu.


"Sial!"


"Merusak perusahaan besar Hideo dengan meretas jaringannya amatlah sulit. Sahabatku itu cukup kuat, hingga bisa bertahan hingga saat ini."


Indar Winata, begitu kecewa dan marah dengan semua kinerja anak buahnya. Anak buah yang sebagian besar berasal dari angkatan dan juga kepolisian itu. Membuat setiap jejak kriminalnya berjalan mulus tak terendus hukum pidana dan perdata.


Indar Winata seorang bupati daerah, yang memiliki usaha perkebunan ganja seluas ratusan hektar, di area hutan di pedalaman kota K.


Beberapa, bab ke depan bakal mak kasih tegang sikit ya.

__ADS_1


Kuat kan...agak gore dan...sstt


Tapi tenang, cuplikan antara si baby unyu pun ade lah.😊


__ADS_2