Mengasuh Calon Istri

Mengasuh Calon Istri
Ikatan batin yang kuat(Ibu dan anak)


__ADS_3

🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


"Ndraa...," panggil gadis itu.


Andra seketika merubah posisinya, melepas perlahan genggaman pada lengannya.


"Kita ubah planning kita, kabarin yang lain." Andra beranjak dari sisi gadis itu, mencoba melepas penat nya dengan duduk di kursi besi.


Puspa mengikuti gerakan Andra, ia pun ikut duduk di sebelah nya.


"Hadiahnya? Bagaimana, Ndra?"


"Bahkan, sudah di bungkus...," jelasnya dengan suara sumbang karena sejak tadi menangisi kawannya itu terus.


Andra berpikir sejenak, kemudian ia menoleh, kepada gadis cantik berambut lurus panjang di sebelahnya itu.


"Lelang aja, bilang dananya buat tahlilan,"


"Kita harus bantu keluarga Miko, almarhum Miko...," ucapnya dengan lirih pada kalimat terakhir. Begitu berat lidah nya, menyematkan kata itu pada sahabatnya. Namun, kita manusia, bisa apa? Usia atau umur itu bukan kuasa kita. Kapanpun bisa diambil oleh pemiliknya, dan... mau tidak mau, siap atau pun tidak siap, semua pasti berpulang bila sudah masanya.


Di sela-sela obrolan antara Andra dan Puspa, segerombolan pria ber jas hitam lewat di hadapan mereka. Pergerakan dari orang-orang yang tak lazim terlihat di area rumah sakit.


Mengundang beberapa pertanyaan, bersarang di kepala masing-masing.


Sepasang mata tajam Andra tak lepas mengikuti, hingga pria-pria berjas dan berkaca mata hitam itu, terlihat memasuki sebuah ruangan. Tak lama kemudian, beberapa perawat keluar dengan mendorong sebuah brankar, di ikuti oleh beberapa Dokter, serta pria-pria berjas hitam. Di atas tempat tidur berjalan itu, terdapat seorang wanita yang tergeletak tak berdaya, matanya terpejam lekat. Seluruh tubuhnya di pasangi oleh alat bantu.


Sekelebat, Andra seperti mengenali wajah itu, sepintas ada bayangan yang muncul. Tapi, kapan dan di mana?


Berkali-kali, ia mencoba mengingat raut pucat itu.


Mungkin,isi otak remaja itu terlalu penuh kini, karena banyak kejadian mendadak yang melibatkannya. Hingga banyak puzzle yang berserakan di memori kepalanya.


Sementara itu di tempat lain, pada waktu yang sama. Seorang bayi mungil menangis kencang, hingga wajahnya yang berkulit putih kemerahan, menjadi hampir semerah tomat saat ini.


"Kamu kenapa si Neng?"


"Nyusu udah, ganti popok udah, tapi kok makin rewel?" Kartika rupanya hampir kewalahan meladeni si mungil, pendatang baru di keluarga kecil nya itu.


Karena sudah sejak tiga puluh menit yang lalu, bayi ini menangis, dan meronta-ronta seperti kesakitan. Cek suhu, semua normal. Tak ada ruam tak ada kembung apalagi demam.


Dirinya yang sudah lama tidak mengurus bayi, seperti sedikit melupakan sesuatu. Tapi apa? Semua sudah di lakukan nya. Seperti, memberi susu, mengganti popok, mengganti baju nya yang mungkin lembab atau ia tidak nyaman.


Bahkan, bayi itu tidak pernah di bedong, karena ia akan meronta dan menangis.


Kartika sudah menimangnya kesana-kemari, bahkan bergantian dengan putra kedua nya, Maulana.


Membawanya ke lantai atas, karena di sana ada balkon.


Membawanya ke taman belakang, meskipun taman itu kecil dan hanya ada beraneka tumbuhan pot saja, namun suasananya adem dan sejuk.

__ADS_1


Akan tetapi, Najwa tetap saja melengking tak juga diam.


Sampai pusing Kartika di buatnya, ia tak tahu apalagi tempe. Entah apa lagi yang harus di buat nya.


"Apakah, ada sesuatu yang terjadi dengan ibumu, Neng? Sampai kamu gelisah seperti ini?" Akhirnya, Kartika menyadari bahwa, ikatan batin antara bayi dan ibunya, sangatlah kuat.


"Kira-kira, apakah ibu nya Najwa selamat ya, Um?"


"Atau?" tanya Maulana terpotong lengkingan bayi itu lagi.


"Tuh, Najwa gak suka kamu ngomongin ibunya, Bang." Protes umma dengan alis yang sudah menukik.


"Sayaaaang... Udah dong nangisnya. Kita berdoa, semoga ibu nya Najwa baik-baik aja. Dan semoga, Allah mengirim bantuan untuk menolongnya, ya sayaang," ucap Kartika pelan di dekat telinga sang bayi. Kemudian, Kartika mengalunkan sholawat guna menenangkan putri asuhnya itu.


...مَوْلَايَ صَلِّ وَسَلِّمْ دَائِمًا أَبَدًا...


...عَلىٰ حـَبِيْبِكَ خـَيْرِ الْخَلْقِ كًلِّهِمِ...


Maula ya sholli wassalim, daiman abada.


Alaa habibi kakhoiril kholqi kullihimi.


...Ya Tuhanku, limpahkanlah selalu rahmat ta’dhim dan keselamatan atas kekasih-Mu yang terbaik di antara seluruh makhluk....


...يَا رَبِّ بالْمُصْطَفٰى بَلِّغْ مَقَاصِدَنَا...


...وَاغْفِرْ لَنَا مامضی يَا وَاسِعَ الْكَرَمِ...


Waghfir lanaa maamadho, yaa wasi'al karomi.


...Ya Tuhanku, dengan berkah Nabi pilihan, sampaikanlah semua keinginan kami dan ampunilah dosa-dosa kami, ya Tuhan Yang Maha Luas Kemurahan-Nya....


...هـُوَ الْحَبِيْبُ الَّذِىْ تُرْجَى شَفَاعَتُهُ...


...لِكُلِّ هـَوْلٍ مِنَ اْلأَهـْوَالِ مُقْتَحِمِ...


Huwal habibulladzi, turja syafa 'atuhu.


Likulli hawli minal Ahwalimuqtahimi.


...Dialah kekasih yang diharapkan syafa’atnya untuk menghadapi setiap peristiwa dahsyat yang menimpa umat manusia....


...مُحَمَّدٌ سَيِّدُ الْكَوْنَيْنِ وَالثَّقَلَيْ...


...نِ وَاْلفَرِيْقَيْنِ مِنْ عُرْبٍ وَمِنْ عَجَمِ...


Muhammadun, sayyidull kawnaini wattaqolii.


Ni walfariiqoinimin, 'urbiwwamin 'ajami.

__ADS_1


...Muhammad pemimpin alam dunia dan akhirat, manusia dan jin serta dua golongan, bangsa Arab maupun bangsa ‘Ajam (bukan Arab)...


Lambat laun mata bulat besar sang bayi meredup, namun sisa isak tangisnya itu masih terdengar. Hingga bayi perempuan yang mungil itu sesenggukan di dalam lelapnya.


"Alhamdulillah, Mau..., Adek bayi mu merem juga akhirnya," ucap Kartika penuh kelegaan.


"Iya, Um, Alhamdulillah,"


"Suara, Umma sih merdu banget. Gak kalah deh sama suara Kak Icha Cabian, penyanyi sholawat yang viral itu lho, Um," puji Maulana dengan binar penuh kekaguman pada cinta pertamanya itu.


"Jangan aja, ada udang di balik peyek ya, Mau!" pesan Kartika dengan tatapan menusuknya.


"Ish, Umma nih, su'udzon aja sama anak sendiri."


Mereka berdua kini terkekeh tanpa suara, sambil memandangi wajah polos yang telah lelah menangis itu.


_______


Di tempat lain, di sebuah atap rumah sakit.


Sebuah pesawat jenis hercules telah siap, benda besar dan berisik itu baru saja mendarat, terlihat dari baling-baling nya yang masih berputar perlahan.


Seorang pria berperawakan tinggi sedang berbicara lewat earphone nya.


©"Cepatlah!"


"Tuan sudah menunggu lebih dari 10 menit?"


®" Baik, Bos!"


"Kami sedang menuju roof top!"


Tak lama kemudian, yang di tunggu telah sampai di atas.


Para pria berjas hitam, telah menggantikan tugas para tim medis, untuk mendorong brankar berisikan seorang wanita muda, yang masih dalam keadaan koma.


Di dalam pesawat khusus tersebut juga telah tersedia alat-alat penunjang kesehatan, serta para tim Dokter yang berasal dari pasukan angkatan udara militer.


"Ameera...," lirih seorang pria berwajah oriental.


"Maafkan, aku sayang..., aku akan membuat mu sembuh. Sampai ke ujung dunia sekalipun, aku akan mencari obat untukmu." Lirih pria berkebangsaan Jepang itu berucap, dengan terus menggenggam, sambil sesekali mengelus jemari lentik sang istri, yang kini terkulai lemah.


Pesawat Hercules besar berawak sekitar dua belas orang itu. Siap lepas landas, membumbung di angkasa. Membawa cinta sejati Hideo Kaindra menuju negara kecil yang tergabung di dalam kelompok ASEAN itu. Sebuah negara kecil yang makmur dan modern.


Dimana surganya pecinta belanja alias shoping, juga tempatnya pengobatan dengan rumah sakit, yang di dukung oleh tekhnologi canggih, serta para Dokter dan tenaga medis yang luar biasa hebat.


Tu bi kontinyu....


Mohon dukungannya yaa🥰, dan komen...seru gak sih mak chibi bikin cerita kek gini?

__ADS_1


Kalian dapet gak feelnya?


Mak terima kritik dan saran juga kiriman kuota🤩


__ADS_2