
πΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌ
Sepasang bola mata bulat dan besar, dengan iris berwarna hijau tosca, berpendar terang dalam binar kebahagiaan.
Cahaya riang nya memancar hingga mampu menghangatkan udara yang mulai menusuk pori.
Lengkungan bak bulan sabit tercetak jelas di wajah oval itu. Dengan kedua sudut pipi yang selalu merona, seperti kelopak sakura di musim semi.
Gadis jelita, berdarah Indo -Turki dan Jepang itu, membuka jendelanya sedikit.
Dan...,
Wusshh...,
Hembusan angin dingin sontak menabrak wajah yang selalu ceria itu. Gadis itu memejamkan matanya, meresap aroma musim dingin kedua bagi nya di negara sushi tersebut.
Lalu, ia mengeluarkan sebelah tangannya. Membuka telapak itu, menangkap salju yang turun sedikit lebih banyak ketimbang kemarin.
Hari ini, beberapa pucuk pohon dan atap rumah, mulai terlihat di tutupi oleh tumpukkan putih macam es serut.
Mungkin, salju turun agak lebat semalam.
Beberapa ranting pohon yang tak berdaun itu, seakan bergemeretak kedinginan.
Ketika angin kuat berhembus, menabrak batang kokoh yang tertancap di sepanjang pinggiran jalan kota.
Jalanan cukup licin saat ini, mungkin karena itulah, para manusia aktif itu lebih nyaman menghabiskan masa mereka di dalam rumah.
Duduk di depan perapian sambil menyeruput coklat panas dan sepotong dorayaki. Atau, bersila di ruang keluarga menikmati acara tivi kabel.
Kemudian, menyalakan penghangat ruangan elektrik yang memancarkan hangat. Berkumpul, sembari makan mi instan atau ramen kuah pedas ciri khas dari negara tersebut.
Apapun kegiatannya, ketika dilakukan dengan keluarga tercinta, maka akan menjadi sesuatu yang menyenangkan dan berkesan.
Rambut coklat terang yang tergerai bebas, hingga surai nya melambai lepas tersingkap angin.
Karena, ia kini berada di dalam kamarnya, dan jendela yang terbuka hanya menghadap halaman belakang rumahnya.
Maka, ia memutuskan untuk melepas penutup mahkotanya, dan meletakkan nya sembarang di atas kasur.
Hingga, suara seorang wanita paruh baya yang teramat di kenalnya. Tempatnya merasakan kenyamanan, sosok yang melimpahkan kasih sayang begitu besar. Hingga, ia terlupa akan nasibnya yang malang.
Tidak tepat, bila kalimat anak yang malang tersemat padanya. Karena, ia teramat beruntung, memiliki keluarga yang begitu hangat dan penuh cinta.
Hingga ia selalu merasa damai dan tentram tanpa kurang suatu apa. Hingga, ucapan syukur tak cukup untuk mengungkapkan betapa bahagia dirinya. Hanya, bakti dan menjadi gadis kebanggaan.
__ADS_1
Gadis yang membanggakan, gadis terhormat yang akan menjaga iffah dan martabat. Hanya itu, yang mampu ia lakukan dan persembahkan untuk keluarganya.
Sekali lagi, suara lembut itu memanggilnya, menyentak gadis jelita yang terbang bersama lamunannya.
"Iyaa, Umma...," jawabnya, kemudian menutup jendela kembali dan menyambar kerudung yang tergeletak di atas kasur busa nya.
Ceklek.
Suara daun pintu di buka.
Nampak lah sosok anggun itu bersama senyum, yang selalu menenangkan.
Meski pun,beberapa garis penuaan telah nampak di wajah cantiknya.
"Memandang salju lagi, hem?" tanya Kartika yang begitu nampak teduh dengan gamis dan kerudung panjangnya.
Lengannya terulur mengusap pipi yang sedikit kedinginan itu.
Gadis kecil yang tingginya hampir menyamai nya , hanya memasang cengiran polosnya seperti biasa.
"Kebiasaan deh, pipi kamu sampai dingin kayak gini," protes Kartika kepada anak asuhnya, yang tidak nampak layaknya anak kecil lagi.
"Maaf, Um. Keasikan tadi jadi lupa deh," dalih Najwa, dengan senyum polos kekanakannya.
Perawakannya memang seperti bocah mangkat remaja.
Karena itulah, Kartika membuatkan gamis khusus untuknya, hasil design sendiri yang di jahit oleh para pekerja nya di tanah pertiwi.
Karena, mencari pakaian muslimah di negara ini susah.
Sekalipun ada, harga nya mahal dan kurang pas dengan kebutuhan. Meski, perkembangan pisik Najwa terlihat pesat. Tetap saja, jiwa nya masih lah anak-anak.
Dengan segala kepolosan dan ke manjaannya. Apalagi, terhadap sosok pria yang di panggil " uncle ganteng" olehnya.
"Makan siang dulu yuk, Umma udah masakkin sop ceker kesukaan kamu," ajak Kartika.
Seketika mata indah itu berbinar, hingga senyum sumringah pun tercipta.
Makanan kesukaannya yang sangat jarang sekali ia temui, karena bahan-bahannya yang langka dan jarang tersedia.
Meskipun, mereka mencarinya di supermarket terbesar sekalipun.
Najwa terus bergelayut pada Kartika, ketika mereka menuruni tangga yang berkelok, hingga ke ruang makan.
Najwa, melepas kunciannya pada lengan Kartika dan segera berlari menghampiri meja. Seketika mulut mungilnya membentuk huruf "O" besar, dengan kedua tangan yang menangkup pipinya sendiri.
__ADS_1
"Eitss, kok gitu ekspresinya?" sindir Kartika, agar gadis kecil itu ingat sesuatu.
"Astagfirullah, eh, iya." Najwa, sontak berucap.
"Alhamdulillah...wasyukurillah, tabarokallah," Mereka menengadahkan tangan mengucap syukur atas rezeki yang di limpahkan di hadapan mereka saat ini.
Mereka pun, duduk saling berhadapan, membalik piring keramik yang tertelungkup, kemudian menyendok nasi.
Uap panas terlihat masih mengepul dari sebuah wadah beling.
Menampilkan, warna-warni sayuran yang mengambang di atas kuah gurih itu.
"Umma, beli ceker di mana? Gede-gede banget lagi, uhhh...," Najwa, mengambil mangkuk berukuran sedang, lantas ia menyendokkan sayur sop ke dalamnya.
" Uncle mu, yang memesannya. Ada kawannya yang baru kembali dari pulau Jawa," jelas Kartika, sambil tersenyum melihat ekspesi gadis kecil di hadapannya yang begitu antusias.
(Kau, tidak pernah sekali pun tampak bersedih dan murung. Kebahagiaan mu amatlah sederhana, apakah hati mu juga sama sayang?)
" Uncle, emang the best!"
" Padahal, aku jarang ketemu sama uncle, tapi kok bisa tau ya aku ngidam banget sama sop ceker?" oceh nya sambil mengipasi sayur di dalam mangkuk agar tidak terlalu panas.
"Kamu kan tau, uncle adalah orang yang paling sayang dan melindungimu,"
" Tanpa kamu bilang juga, uncle pasti tau apa yang kamu mau,"
"Ya udah, ayuk kita makan."
Dan, mereka pun makan dalam diam dan tertib. Hanya, terdengar pelan suara sendok yang beradu dengan piring.
(Akhirnya, Najwa makan banyak)
Andra mengendap-endap dengan amat hati-hati. Pikiran jahil nya mulai bekerja, setelah sekian lama ia tak bermain dengan bayi besarnya itu.
Seorang gadis kecil, sedang asik bermain dengan kucing peliharaannya. Hewan berbulu itu sedang menikmati garukan demi garukan yang di usapkan Najwa, pada perut buncitnya.
Berada di ruangan yang hangat, karena pemanas elektrik di dalam ruangan itu sengaja di setting. Berbanding terbalik dengan suhu yang berada di luar.
Karena salju yang turun hampir setiap malam, membuat jalan setapak hingga jalan raya di penuhi tumpukkan es serut berwarna putih.
Setelah,menggantung mantel tebal dan meletakkan sepatu boots nya di tempat khusus.
Andra, membuka kedua sarung tangannya. Menggosoknya kedua telapak telanjang itu mengalirkan darah yang seakan membeku.
Posisinya telah berada di belakang gadis kecilnya, kemudian....
__ADS_1
Bersambung>>>>>