
๐ผ๐ผ๐ผ๐ผ๐ผ๐ผ
Andra yang melihat perubahan dari mimik wajah Najwa, seketika sadar. Bahwa, ia tanpa sengaja telah berlaku sedikit kasar. Bukan apa, ia juga kaget akan keberanian dan sikap frontal gadis kecilnya itu.
Najwa, yang hendak berlari kedalam seketika mendapat cekal anggota pada lengannya.
"Maaf, Uncle kelepasan. Uncle, hanya kaget,"
"Tolong, jangan marah," lirih Andra menggenggam tangan kecil itu dan menarik nya agar tubuh tinggi itu menghadap ke arahnya lagi.
Najwa hanya bisa menunduk, menutupi air mata yang telah turun membasahi pipi merah mudanya.
"Maafin, Uncle ya. Tapi tolong, jangan lakukan itu lagi," ucap Andra dengan wajah memelas. Ia memegang kedua bahu yang terisak pelan itu.
"Kenapa? tanya Najwa dengan mata memerah. Kini, ia mengangkat wajahnya menghadap pada Andra. Berharap mendapat penjelasan atas penolakan barusan.
" Alangkah baiknya, kamu tanyakan sama Umma. Nanti, pasti akan di jelaskan dengan sedetail mungkin," jelas Andra dengan lembut.
" Masalah ini, sebaiknya di bicarakan oleh sesama wanita,"
"Semoga kamu mengerti dan mau memaafkan, Uncle setelahnya," tambahnya lagi.
"Sekarang, Uncle pamit ya, gadis sholihah,"
"Assalamu'alaikum." Sebelum beranjak, Andra mengelus pucuk kepala itu sebentar kemudian menghampiri kendaraan roda empat yang sudah bertengger menantinya.
Mobil sedan hitam, keluaran dari perusahaan asli negara penghasil otomotif itu. Inventaris dari kantor tempatnya bekerja.
Andra membelah jalanan sore itu dengan penuh kehati-hatian. Meski pun roda mobilnya di buat khusus untuk medan licin di musim salju seperti ini. Tetap, saja ia harus mengendarainya secara perlahan.
Pria itu mengusap wajahnya beberapa kali, mengusir bayang-bayang wajah ketakutan Najwa. Baru kali ini, ia berkata dengan nada tinggi pada gadis kecilnya itu.
Haruskah ia membahas ini dengan umma, atau membiarkan Najwa sendiri yang mengadu.
Otaknya mendadak blank saat ini.
Kepala nya pusing memikirkan perasaannya. Gadis kecilnya selalu membuat jantungnya terkejut bukan main, bisa-bisa ia mati muda kalau begini terus.
Apakah, ini saat nya ia mencari keberadaan keluarga Najwa?
Ia memukulkan kepala nya pada stir bundar di hadapannya, setelah memberhentikan mobilnya ke tepi jalan.
Bukan frustasi karena kemacetan seperti Ibu kota di negara asalnya.
Hanya penyesalan yang teramat dalam. Dan ini pertama kalinya, ia membuat Najwa meneteskan air mata.
__ADS_1
(Bagaimana, bila Najwa membenci ku?)
(Bagaimana, bila Najwa kecewa pada ku?)
"Arrghh!"
" Kenapa aku harus berteriak padanya tadi," lirih Andra menyesali reflek nya beberapa saat lalu.
Setelah menenangkan perasaan sejenak, Andra kembali melajukan kendaraan itu dengan hati-hati.
Berkendara yang biasanya hanya memakan waktu sekitar lima puluh menit, kini bisa menghabiskan waktu tempuh lebih dari satu jam.
Andra menepikan kuda besinya itu, di depan lobi dan menyerahkan kuncinya pada petugas berseragam khusus.
Memasuki ruangan yang pintunya akan terbuka secara otomatis. Temperatur hangat di dalam gedung, membuat nya segera membuka mantel dan topi bulunya.
Menaiki lift untuk sampai pada lantai tertinggi, setelah sampai ia meletakkan telapak tangannya pada sensor untuk membuka pintu.
Karena memang ruangan ini di peruntukkan khusus bagi para peneliti dan ilmuwan.
Andra memasuki sebuah ruangan khusus dan mengganti pakaiannya serta sepatunya.
Lemari yang memang telah tersedia dan menyediakan segala kebutuhannya, mulai dari kemeja, jas, sepatu dan jubah khusus.
Sebelum menemui tuan Katsuhito di ruang meeting, Andra menelisik kembali penampilannya di cermin. Kemeja grey yang di padu dengan celana warna senada, serta jubah putih khusus. Di sempurnakan dengan sepatu sneaker hitam favoritnya.
Untuk memasuki ruangan khusus untuk pertemuan atau biasa di sebut rapat, ruangan serba canggih dan penuh alat-alat serba otomatis.
Namun sebelumnya, Ia harus melewati pemeriksaan sensor retina pada pintu besi.
Karena tidak boleh sembarang orang atau pegawai sekalipun yang masuk ke area ini.
Ruangan yang di dominasi alat-alat super canggih. Dengan tekhnologi terkemuka di negara ini.
Bahkan, Mr. Senkai telah memperkerjakan beberapa robot multifungsi, sebagai documen staf dan secretary.
Pintu terbuka, sebuah tabung yang mirip lift ini, melesat membawanya ke atas. Setelah sampai, sebuah robot berwarna putih telah menyambutnya, robot itu di beri nama Kira.
"Irasshaimase!" (Selamat datang!)
" Onegaishimasu!" (Silahkan!)
"Arigato! Kira." (Terima kasih! Kira.)
__ADS_1
Robot yang menggunakan bahasa jepang itu, menggiringnya pada sebuah ruangan. Ternyata robot itu telah di setting untuk menjemputnya.
"Irasshaimase! Erubaraku san!" ( Selamat datang, Tuan El Barack) sambut tuan Katsuhito, yang memanggil Andra dengan nama belakangnya. Karena lidah orang jepang kurang fasih mengucap huruf "L", maka begitulah nama si uncle ganteng jadi nya.
"Arigato!" (Terima kasih) Andra sedikit membungkuk membalas penghormatan yang dilakukan oleh mereka semua yang berada di ruangan tersebut.
Pembahasan tentang projects berjalan dengan lancar, Andra berhasil mengontrol hati dan pikiran nya, yang beberapa saat lalu sempat di penuhi oleh gadis kecilnya.
Andra memang tipikal yang bertanggung jawab dan konsisten terhadap pekerjaannya, ia juga teliti dan memiliki management waktu yang baik. Itulah salah satu hal yang di nilai dari Mr, Katsuhito pada dirinya.
"Wakatta, Erubaraku-san. Kon'ya osoku ni sore o teiji suru koto ga dekimasu. Anata no mae de, kaindora kyล to Kaito kyล,"
(Baiklah, El Barack san. Anda dapat mempresentasikan nya nanti malam di hadapan, tuan Kaindra dan tuan Kaito,)
" Koun o!"
(Semoga berhasil!) ucap Mr. Katsuhito yang kemudian di sambut standing applause oleh Mr. Senkai.
Hingga, senyum menawan itu merekah di wajah rupawan Andra. Hingga, seorang wanita berambut pendek begitu terkesima hingga tak berkedip.
Malam, penentuan itu pun datang. Kini tim perakit dan para ilmuwan di perusahaan robotika raksasa itu berangkat bersama. Menjenguk tuan Matsumata sekaligus presentasi langsung Robot buatan mereka.
Andra dan tim, termasuk Miliuner ternama, Mr. Senkai, telah tiba di kediaman super mewah tersebut.
Mereka di sambut barisan pelayan pria dan wanita yang berpakaian rapi dan senada. Mereka semua di tuntun menuju ruangan besar yang elegan dan hangat.
Tuan Kaito, yang tak lain adalah kakak lelaki dari mendiang ayah Hideo. Telah hadir, menyapa para tamu dengan penghormatan ala jepang. Membungkukkan badan hingga tos dengan sake.
Andra, membalas penghormatan itu dengan sekedarnya. Tanpa menyentuh minuman beralkohol itu.
Tuan Kaito membuka makan malam dengan sambutan kecil. Hideo dan Ameera pun telah hadir bersama mereka. Duduk mengitari meja oval yang besar, dengan beberapa jenis makanan yang tersedia di atas meja yang dapat berputar itu.
Mr. Katsu hito yang masih ada hubungan kerabat dengan tuan Matsumata, yang tak lain adalah kakek dari Hideo.
Memperkenalkan, Andra pada Hideo setelah makan malam usai.
Andra yang akan mempresentasikan robot pembantu manula atau lansia.
Serta robot pengganti tangan dan kaki mekanik-electrik.
Andra yang mengetahui akan kemusliman Hideo, tersenyum seraya mencium tangan nya. Yang kemudian di balas sebuah rangkulan oleh pria maskulin itu.
" Selamat datang saudara ku," ucap Hideo
Sedangkan Ameera hanya tersenyum simpul, seraya menangkup kan kedua tangan.
Bersambung>>>
Akhirnya.....๐คฉ๐
Readers seneng gak?
__ADS_1
Tuh Andra ketemu duluan sama mommy and Daddy mertua๐.