Mengasuh Calon Istri

Mengasuh Calon Istri
Come On, Boy!


__ADS_3

🌼🌼🌼🌼🌼🌼


......Happy reading gaes.......


^^^Jangan lupa like dan komennya ya...Sebagai bentuk dukungan klean untuk novel ini.^^^


...Buat penyemangat juga bagi penulis yang mengeluarkan imajinasinya, meluangkan waktu dan segenap pikirannya demi menghibur klean semua....


...Mak rasa permintaan mak gak berlebihan ya😁....


...Jadi, bisa dong yaa... ramein lagi komennya🥳....


******


Alih-alih mencari ide untuk membujuk Kartika, agar mereka dapat membawa Najwa menginap. Hideo malah keterusan melahap bidadari nya, hingga Ameera kini lemah tak berdaya di balik selimutnya.


Mata indahnya menatap tajam lelaki yang punggung tegapnya terekspos. Dengan ekspresi wajah yang di buat ketus, Ameera ingin sekali mencakar watados dari pria yang bergelar suaminya itu.


Namun, raut wajahnya malah semakin membuat gairah pria matang itu terbakar lagi. Pria dengan rahang yang sedikit di tumbuhi bulu-bulu halus itu, mulai bergerak mendekati wanita yang sedang menatap nya tajam dengan bibir mengerucut.


"Kau marah padaku hem?" tanya Hideo pura-pura bodoh.


Ameera hanya diam dengan ekspresi yang sama.


"Marah kok, tidak ada seram-seram nya?"


"Malah menggemaskan begini," ucap nya lagi sambil mencubit gemas dagu Ameera yang terbelah. Entah kenapa ia semakin tergila-gila dengan tubuh berisi istrinya.


Ameera menepis tangan kekar itu, menaikkan selimutnya yang sempat melorot sedikit.


"Apa!"


"Sana, ah!" usir nya dengan mata yang membulat.


"Di ajak nyari ide, malah garap sawah," ketus Ameera dengan sebal.


"Sawah?"


"Apa itu sawah?" tanya Hideo yang bingung dengan bahasa yang di ucap kan istrinya itu.


Ameera memutar kedua matanya malas, ia lupa menggunakan kata-kata baku kalo sedang kesal begini.


"Tanya ke mbah gugel sana!"


"Aku mau mandi, lagi. Dan, semua gara-gara hubby," decak Ameera membuat Hideo terkekeh hingga tubuhnya berguncang. Ia baru faham sekarang kenapa wajah istrinya mendadak lucu begitu.


"Baiklah, bisa kau berikan nomer ponsel mbah gugel itu?" tanya Hideo polos, membuat Ameera melempar bantal ke wajahnya.


Dan, pria itu pun tergelak sampai guling-guling.


Sungguh mengerjai bidadari nya itu membuat moodnya naik seketika.


Duh, Hot daddy nakal ya sama mommy.


****


Lab sudah kosong, sedang kan ruang penyimpanan hanya di pantau oleh beberapa penjaga khusus. Tapi, pemuda dengan wajah asia ini masih betah dengan jubah putihnya.

__ADS_1


Jemari panjangnya terkadang menari di atas keyboard yang jumlahnya sangat banyak itu. Terkadang ia hanya sibuk menyentuh dan menggeser layar transparan di hadapannya.


(Anggap aja ruangan lab Andra, kayak lab nya Tonny Stark si Iron Man)




Sebenarnya, ujung hatinya merindu akan senyum dan tawa itu. Sosok jahil di dalam dirinya ingin segera menyeruak keluar, menggoda satu-satunya korban yang akan membuatnya terpingkal hingga sakit perut.


Andra menjatuhkan kasar bokongnya, di atas kursi putar nya yang empuk. Melepas kaca yang membingkai matanya, kemudian memijat pangkal hidungnya.


Kenapa dirinya seperti lari dari kenyataan?


Mengapa ia malah menghindari sosok yang sebentar lagi akan pergi dari sisinya?


Memikirkan hal itu membuat tengkuk terasa berat dan pangkal kepala nyeri.


Sebelas tahun, bukan lah masa yang singkat apalagi sebentar. Kebersamaan itu telah menciptakan sebuah ruang khusus di hatinya. Menjadikan sosok manja Najwa, secara tak sengaja adalah satu-satu nya gadis yang spesial dan berarti.


Karena kehadiran Najwa telah mencoret kan kisah dan pengalaman tak terlupakan selama hidupnya.


"Come on, boy! Najwa tetap di planet ini kan, dan kau masih bisa menemuinya," Monolog Andra pada dirinya sendiri. Ia berbicara sambil memutar kursinya menggunakan sebelah kakinya.


"Ok. I'm home."


Andra lantas berdiri, membuka jubahnya dan menggantungnya, kemudian menyambar kunci kendaraan roda empatnya.


Ia berjalan dengan cepat, karena ia telah memutuskan untuk memanfaatkan sisa kebersamaan nya dengan Najwa.


*****


Sepertinya ia tengah gusar, terlihat dari helaan nafasnya dan juga gestur tubuhnya.


Terdengar suara klakson mobil dari luar rumahnya, ia pun bergegas mengikat asal rambut lembab nya, kemudian mengenakan khimar lebarnya.


Wanita itu membuka gerbang, kemudian mobil berwarna hitam itu pun masuk hingga garasi.


Bergegas kembali masuk ke dalam rumah, untuk membuat minuman hangat bagi putra pertamanya itu.


Andra, memasuki rumah semi etnik itu setelah meletakkan sepatu nya di rak khusus. Mengucap salam lalu ke dapur bersih. Karena jawabannya salam dari seorang wanita nomer satu di hidupnya itu berasal dari sana.


Ia menghampiri wanita paruh baya yang masih terlihat cantik alami itu, mencium tangan dan kedua pipi tirusnya.


"Nih, minum dulu. Diluar cuacanya cukup berangin seharian ini," ucapnya lembut, sambil menyerahkan mug yang mengeluarkan uap panas itu.


Andra kemudian duduk dan mulai menyeruput coklat panas itu perlahan, dengan cara menuangkannya ke dalam tatakan piring kecil. Mendiamkannya sebentar hingga uap panasnya tak terlalu mengepul. Itulah cara menghangatkan minuman panas. Dengan menuangnya ke tempat ceper bukan dengan meniupnya. Atau, mungkin kau bisa mengipasi minuman tersebut.


"Ada yang mau, Umma omongin sama kamu," ucap Kartika ia telah duduk di samping kursi putranya itu.


Andra seketika menoleh, menatap lekat pada wajah yang meneduhkan itu. Sosok yang telah begitu banyak berkorban untuk mereka bertiga.


Untuknya, Maulana dan juga Najwa.


Hingga, Umma tidak ada waktu untuk memikirkan dirinya sendiri. Mengesampingkan urusan pribadinya. Menolak belasan pria yang ingin melamarnya.


Berpindah dari satu kota ke kota lainnya.

__ADS_1


"Ada apa, Umma?" tanya Andra, ia dapat menangkap kegusaran itu. Akan tetapi, ia tak dapat menebak apa yang ada di pikiran sang umma.


" Bagaimana kalau kita, mendekatkan Najwa dengan mereka?"


"Agar secara perlahan, chemistry yang kuat terbangun. Sebelum akhirnya fakta menguak siapa Najwa yang sebenarnya,"


"Bagaimana, menurut Abang?" cecar Kartika dalam satu tarikan nafas.


Andra tanpa sadar tengah menganga mendengar cara bicara Kartika yang seperti itu. Kartika mendorong dagunya, mengatupkan kedua bibir sensual itu.


"Tampangnya biasa aja, bisa?" gemas Kartika dengan keimutan wajah di hadapannya itu. Padahal usianya sudah pas bila memiliki calon pendamping.


Apalah daya, Andra lebih suka dengan robot ketimbang wanita cantik.


Kartika bergidik ngeri tiba-tiba, seluruh tubuhnya merinding. Setau nya, Andra hanya bisa terbuka dengannya dan Najwa saja. Dengan wanita lain, ia selalu menjaga batasan dan menutup dirinya.


Setelahnya, Kartika menggeleng sendiri, membuang pikiran jeleknya. Karena ia yakin, ilmu agama yang Andra miliki membuatnya faham bahwa menikah itu adalah salah satu sunnah yang sangat di anjurkan oleh Rosulullah.


Andra semakin bingung dengan tingkah gak jelas wanita yang sudah melahirkannya itu.


"Umma kenapa sih?"


"Bergidik terus geleng-geleng?"


"Apa perlu Abang bacain ayat kursi?" seloroh Andra sehingga membuat centong sayur mendarat di ujung kepalanya.


Pletuk!


"Adoww, Umma!"


"Sakit, deh," protes Andra sambil mengusap area yang sepertinya benjol akibat getokan dari umma galak.


"Sopan sih! Di kata, Umma ketempelan apa?" kesal Kartika masih dengan mengacungkan centong melamin itu di depan hidung Andra.


"Aku berasa kek sangkuriang deh, Um," kelakar Andra membuat Kartika semakin gemas di buatnya.


"Serius kenapa si, Bang," rajuk Kartika, karena sifat jahil Andra suka keluar tak tau sikon.


"Oke, dua rius. Ups!" Andra segera menangkup bibirnya dengan tatakan gelas.


Melihat mata umma nya melotot,nyalinya ciut seketika.


"Gimana kalo kita suruh, Ameera mengajak agar Najwa menginap di rumah mereka?"


"Mereka pasti menyetujuinya, Um,".


" Umma rasa juga begitu, pasti mereka telah memiliki petunjuk,"


"Karena, Umma mengakui bahwa Najwa adalah putri ku, sementara Najwa memanggil uncle kepadamu,"


"Aku tau, Um. Tuan Hideo pasti sudah mengetahui keluarga kita,"


Hanya saja mereka menahan diri, karena menghargai perasaan kita,"


Akhirnya kedua orang yang tengah bertukar pikiran itu terdiam.


Tatkala mereka mendengar suara langkah kaki yang mendekat ke arah mereka.

__ADS_1


Bersambung>>>>>


__ADS_2