
๐ผ๐ผ๐ผ๐ผ๐ผ๐ผ๐ผ
...Maaf gaes, mak baru up lagi....
...Keadaan di RL amatlah menguras pikiran....
...Tetap stay dengan cerita ini ya....๐ค...
...Semoga lancar semua urusan kita.....
...Take care buat kalian semua.....
...Mak tayang kleaann...cium onlen...muahhh๐...
*********
๐ผ๐ผ๐ผ๐ผ๐ผ๐ผ๐ผ
Sejak melihat kembali identitas keterangan lahir Najwa. Dan mencocokkannya dengan data-data dari Hideo dan Ameera. Andra, menjadi pribadi yang semakin pelit dan irit bicara. Bukan hanya di lingkungan kerjanya, tapi juga di rumah.
Tanpa di sadari ia telah menjaga jarak dengan gadis kecilnya itu. Bukan karena apa, pemuda itu hanya risau batinnya kalut.
Di satu sisi ia lega dan bahagia, Najwa nya akan menemukan kembali rumah dan keluarga yang sesungguhnya. Namun, di satu sisi ia merasa ini terlalu menyesakkan dadanya. Ia manjadi sulit bernafas bila berada satu frekuensi dengan gadis berparas jelita itu.
Tanpa di sadari nya, ada hati yang tengah perih melihat perubahan sikapnya. Ada hati yang tengah galau menahan rindunya. Sebab, sudah dua pekan ia merasa tidak dihiraukan.
Di lingkungan kerja, Andra semakin serius dan banyak bekerja. Tak ada satu pun hal yang menarik bagi nya termasuk perhatian dari asisten cantiknya.
Wanita langsing bertubuh tinggi, dengan pakaian kerja yang modis. Menampilkan sisi kepintaran serta tidak menutupi sisi kecantikannya.
Bahasanya yang lugas menampakkan bahwa ia adalah wanita cerdas.
Memang selama ini, dialah yang menyiapkan segala keperluan Andra. Namun, hanya berkutat pada urusan pekerjaan saja.
Sikapnya yang sudah melampaui batas profesionalisme kerja. Membuatnya sedikit gerah dan tak nyaman lagi.
Bagi Andra, tidak boleh ada urusan hati di lab nya. Atau semua akan berantakan.
Itulah mottonya.
"Megumi, berhentilah membawakan ku makan siang,"
"Karena, aku tidak akan memakannya selagi niat mu melenceng dari tugas mu." Andra meletakkan kotak makan berwarna merah muda itu, di atas meja dan mendorongnya ke arah wanita cantik berkaca mata.
Kemudian, ia berlalu keluar ruangannya. Karena, Andra tidak pernah mengusir orang, lebih baik ia yang keluar.
Brak!
Kotak makan siang itu melayang bebas dan masuk ke tempat sampah.
Setelah, wanita cantik berambut pendek bernama Megumi itu melemparnya.
"El Barack san...," (Tuan El Barack)
__ADS_1
"Anata wa watashi ni awanakereba narimasen!" ( Kau, harus melihat ku!)
Wanita itu menaikkan sudut bibirnya, seiring dengan beberapa rencana licik di kepalanya.
****
Gadis jelita dengan kerudung berwarna kalem berbahan sifon, membalut kepala hingga dadanya. Gamisnya yang menjuntai hampir menyapu tanah, berkibar di ujung nya ketika angin berembus lembut ke arahnya.
Cahaya mentari yang hangat di ujung musim dingin ini, tak cukup melelehkan beku di sudut hatinya.
Namun, justru malah meluruhkan air yang menggumpal di ujung mata indah nya.
Jemari lentiknya bergerak menyapu air yang mengalir di salah satu pipi kemerahannya.
Langkah lunglainya telah berhenti, tepat di lokasi pemberhentian bus. Ia, menanti bus sekolah bersama dengan beberapa anak muslim di sana. Melempar senyum ramahnya, bila ada yang menyapanya. Hingga, tidak ada satu orang pun mampu mengira, bila ia baru saja menangisi sesuatu yang semakin hari semakin ia tak pahami.
Isi hatinya, perasaannya, keinginannya, semua yang membuatnya gelisah. Kenapa ia harus merasakan sesuatu yang begitu rumit, yang ia sendiri tak faham dan belum pernah mengalaminya.
Perasaan seperti akan kehilangan seseorang, membuat dadanya sesak lagi. Ingin rasanya ia lari dari halte ini lalu menghampiri uncle nya yang sudah empat belas hari mengacuhkannya.
Apa ia harus menjadi egois seperti itu?
Tidak, Najwa bukanlah tipikal anak yang suka menyepelekan kewajiban dan tugas nya. Ia, adalah salah satu murid yang disiplin dan teladan.
Gadis tinggi semampai itu, yang terlihat lebih tua dari usianya. Karena postur tubuhnya yang sudah seperti remaja. Padahal usianya masih terbilang anak-anak.
Belum lagi pola pikir dan gaya bahasanya, menambah kesan dewasa dan bijak untuk anak seusia Najwa.
Ia menghela nafas panjang sebelum melangkah memasuki benda persegi panjang yang memiliki kursi berbaris itu.
"Subhaanalladzii sakhhorolana hadzaa wamaa kunnaa lahu muqriniina wa innaa ilaa rabbina lamunqolibuuna."
( Sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kesukaran perjalanan, tempat kembali yang menyedihkan, dan pemandangan yang buruk pada harta dan keluarga.)
Ia memulai hari tanpa semangat lagi, namun ia harus membiasakan dirinya. Karena ia harus mulai berusaha ceria tanpa kehadiran uncle di sisinya.
Ia tidak bisa memiliki nya seorang diri bukan?
Uncle nya memiliki tanggung jawab besar di luar sana. Dan, usia uncle yang semakin dewasa tidak memungkin nya lagi untuk menghabiskan waktu bermain-main dengannya.
Najwa berkutat dengan segala rasa yang tidak ia mengerti sama sekali.
Satu tangannya menyusup ke dalam kerudungnya, menyentuh bandul hijau dari kalung mas putih.
Hal yang semakin membuatnya, bingung. Karena, semenjak memberikan ini uncle Andra bersikap dingin padanya.
(Benarkah kalung ini, akan mempertemukan ku dengan kedua orang tua ku? Apa maksudnya? Kenapa uncle tidak menjelaskannya? Kenapa uncle tidak mau bicara banyak lagi sama Najwa?)
*****
Ameera, sukses tidak pernah nyenyak lagi tidurnya.
Ia selalu memikirkan Najwa yang kemungkinan besar adalah putrinya dan Hideo. Keinginannya bertemu dengan gadis jelita bermata hijau itu, terhalang kesibukkan Najwa yang akan ujian. Serta, keadaan kakek Matsumata yang kian menurun.
__ADS_1
Hideo, pun sama. Setelah mengantongi beberapa bukti kecil. Namun, itu semakin memperkuat keyakinannya. Akan keabsahan Najwa sebagai darah dagingnya. Antara lega dan bersyukur, namun juga bingung. Bagaimana cara, mengatakan kebenaran ini pada Najwa.
Cara apa yang sepantasnya ia lakukan, demi memperoleh informasi dari Kartika. Tak, mungkin ia tiba-tiba datang dan mengakui bahwa dia dan Ameera adalah orang tau kandung gadis itu. Banyak kemungkinan yang terjadi, seperti penolakan dari Kartika dan juga Najwa sendiri. Dan, itu menjadi salah satu pertimbangannya agar ia tak gegabah dalam bertindak.
"Hubby!" Tiba-tiba Ameera menghampirinya yang sedang melamun di balkon.
Hideo berbalik, menampilkan senyumnya dan meraih tubuh tinggi yang sedikit berisi di bagian pinggangnya.
"Ada apa sayang?" tanya nya, setelah menempelkan bibir sensualnya ke bibir bulat berisi istrinya itu.
"Ish, nyosor gak tau sikon banget," omel Ameera yang menciptakan kekehan dari pria metroseksual di hadapannya ini.
"Aku tuh punya ide. Untuk mendekatkan Najwa dengan kita," ucap nya.
Garis-garis bingung tercetak di kening mulus pria itu. Meski sudah berumur, tak ada segaris pun keriput di wajahnya.
Justru wajahnya semakin tampan berkharisma.
Dan, gairah nya selalu membuat Ameera melupakan kesedihannya.
"Ide apa itu, sayang?"
"Kita ajak Najwa nginep ya di sini, sekalian memperkenalkannya dengan kakek mu,"
"Bagaimana?" tanya Ameera berbinar, berharap ide nya di terima.
"Pasti paman Kaito dan yang lainnya setuju, lalu apakah Kartika akan mengizinkannya?"
"Terutama, pemuda jenius itu yang di sebut uncle olehnya," ucap Hideo dengan lesu.
Harapan Ameera luruh seketika, khayalannya ambyar. Lalu apa lagi alasannya agar ia dapat kembali menemui Najwa.
"Ha! Aku tahu, by!"
"Kau, mengagetkan sayang,"
"Masa gitu aja kaget sih?"
"Kau memekik sayang,"
"Ternyata kau sudah tua, by,"
"Apa kau bilang?"
"Eh, tidak. Aku menyesal mengatakannya, sungguh, by,"
"Kyaaaa....!"
Kini Ameera tak dapat bersuara lagi karena Hideo telah membungkamnya dengan sesuatu.
Yang kalau di ceritakan pasti akan membuat para readers iri.
(Ngapain si mereka rame aja berdua๐)
__ADS_1
Bersambung>>>>>