
πΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈ
Andra dan Kartika sedang menikmati kopi di caffe yang terletak di dalam bandara. Sambil menunggu pasangan pasutri yang lama sekali munculnya.
Kartika terlihat santai saja, menikmati minuman dan juga strawberry cake miliknya. Berbeda dengan putra pertamanya itu, yang terlihat beberapa kali menghela nafas kasarnya. Andra jelas terlihat gusar sekali.
" Sabar, sebentar lagi juga sampai. Lagi pula masih ada waktu," ucap Kartika mencoba menenangkan.
" Tadi chat nya Mau bilang udah rapi, tinggal otewe. Udah lebih dari dua jam sejak dia bilang gitu. Sementara letak hotel nya lebih dekat bandara ketimbang rumah kita," terang Andra dengan sedikit rasa kesal.
"Mungkin ada hal lain, Bang. Berprasangka baik saja terhadap adik mu," nasehat Kartika.
"Disini gak mungkin macet. Awas aja kalo alasannya itu," sungut Andra membuat wajahnya seperti anak kecil yang di larang main game.
Kartika hanya bisa menggeleng pelan melihat kelakuan si bocah tua, yang sedang merengut di hadapannya ini.
"Sabar, Umma juga pengen cepet-cepet ketemu Najwa,"
"Apalagi, kemarin baru di kirim vidio sama dia pas lagi tampil," jelas Kartika membuat tubuh Andra seketika mencondong ke arahnya.
"Mana vidio nya? Kenapa, Umma baru bilang...," protes Andra.
" Sengaja, biar kamu makin penasaran sama penampilan dia saat ini," kilah Kartika.
"Ish, tega banget sih?" gemas Andra pada wanita paruh baya yang terkekeh pelan itu.
Bisa-bisanya Umma menyembunyikan penampilan Najwa dari nya. Bahkan, terakhir Andra melihat Fotonya sekitar dua tahun yang lalu. Itu saja sudah membuatnya cenat-cenut memikirkannya terus.
Karena, Kartika sengaja membatasi hubungan mereka meski jarak jauh sekalipun. Karena, ia tidak ingin mengganggu fokus Najwa dalam menghafal Qur'an.
Meski, Najwa tidak belajar di pesantren. Tetapi, ia belajar khusus akan tahfiz melalui bimbingan. Karena, Najwa juga mengejar pendidikan umum. Impiannya ingin menjadi bidan yang akan menangani banyak bayi. Karena, Najwa suka melihat sosok lemah yang menggemaskan itu.
Ia begitu takjub, akan keajaiban seorang ibu. Bagaimana kekuasaan Allah sehingga, perut manusia yang kecil itu bisa menampung sosok manusia hidup di dalamnya.
Tak lama kemudian, tampaklah sosok pria tampan nan gagah dengan wajah sumringah.Tangannya tak lepas menggenggam jemari sang istri yang memasang raut wajah malu dan tak enak, karena telah membuat orang lain menunggu mereka.
Sedangkan mereka asik membuat peluh mencetak adonan di peraduan. Yang hampir saja membuat mereka berdua lupa waktu.
"Darimana aja sih kamu, Dek? Oh, mungkin lebih tepatnya, kamu ngapain aja?" semprot Andra dengan raut muka yang jengkel.
Yang kena omel malah asik saja senyum-senyum sambil sesekali melirik sang istri yang menunduk malu.
__ADS_1
"Maaf ya, Bang. Nanti juga faham deh kalo udah nikah," jawab Maulana kalem.
Dia faham, kesalahannya yang sudah ngaret lama sekali untung saja jalanan lancar dan ia sempat ngebut tadi pas bawa mobil.
"Ck, jangan di jadikan alasan. Kalian kan masih punya banyak waktu. Sementara pesawat tidak akan menunggu kita," ucap Andra tegas, tersirat jelas bahwa dia benar-benar kesal di buat nya.
Apalagi sang adik terus memamerkan kemesraan dan wajah tanpa dosanya.
Tak lama panggilan bahwa pesawat mereka akan segera take off pun terdengar. Kini, mereka telah berada di dalam pesawat dan perjalanan yang lumayan lama akan segera di mulai.
Sepertinya akan membosankan bagi Andra, karena itu terus saja melihat aksi tebar kemesraan Mau pada Isyana. Wajah muram dan suntuk Andra seperti nya imun buat Maulana.
Dan, Kartika hanya bisa tersenyum melihat ulah kedua putranya itu.
Sepanjang perjalanan udara mereka berempat, kuping Andra serasa panas dan gatal. Karena, posisi Mau dan Isyana yang berada di belakang kursinya.
Mau dan Isyana yang saling melempar perhatian, dengan panggilan yang manja. Bahkan, terkadang mereka bercanda dan tertawa geli.
Ingin rasanya, Andra menjadi tuli untuk saat ini saja, akan tetapi telinganya malah sensitif sekali. Akhirnya, ia menutup kedua lubang telinganya dengan head set.
Lebih baik mendengar alunan sholawat daripada nguping orang pacaran halal. Cuma bikin ngiri aja, kan jadi kesel sendiri.
*****
"Sarapannya biar kenyang dong, sayang. Kan mata jadwal kamu padat hari ini," ucap wanita paruh baya yang masih terlihat kecantikannya.
"Kalo kekenyangan nanti malah gak kuat jalan, Mom," kekeh Najwa berkelakar.
"Tapi kan, kamu butuh energi yang banyak sayang," tambah Ameera lagi pada putri pertamanya yang sudah terlihat semakin dewasa itu.
"Asupan energi ku sudah cukup, mommy sayang," kilah Najwa. Kemudian mengecup pipi Ameera dan mencium tangannya.
"Adek ganteng..., kakak berangkat dulu ya," pamit Najwa pada anak lelaki yang berusia sekitar enam tahunan itu," maaf ya, kakak duluan. Dadaa...!" Setelah mengecup ujung kepala bocah lelaki itu, Najwa segera berlalu setelah ia mengucap salam tentunya.
"Eh, kakakaaaakk..., tungguuu!" Bocah laki-laki itu segera turun dari kursi dan berlari menyusul sang kakak. Najwa yang hendak membuka pintu mobilnya, seketika menghentikan gerakannya. Karena , mendengar sang adik yang memanggil sembari berlari ke arahnya.
"Lho, kok malah nyusulin? Kakak gak bisa anter kamu, soalnya ada kelas pagi," jelas Najwa pada sang adik yang masih mengenakan piyama bermotif elmo itu.
"Syam cuma mau salim," ucap polos sang adik membuat Najwa terkekeh.
"Oh iya, lupa ya." Najwa pun mengacak poni bocah lelaki yang berpipi chuby itu.
__ADS_1
"Udah kan, sekarang kakak berangkat ya."
"Assalamualaikum...!" Najwa pun masuk kedalam kendaraan roda empatnya itu.
"Waalaikum salam..., kakak hati-hati ya! Jangan ngebut!" teriak bocah lelaki yang berkulit putih dan bermata sipit itu, karena mobil sang kakak telah melaju meninggalkan pekarangan rumah mereka.
Kemudian bocah tampan itu kembali berlari masuk kedalam rumahnya.
"Gimana, sudah salim sama kakak?" tanya Ameera lembut.
"Sudah, Mommy," jawab Syam kemudian ia meneruskan sarapannya.
Hideo yang baru saja turun segera menghampiri mereka.
"Lho, mana kakakmu Syam?" tanya Hideo setelah ia melabuhkan kecupan ringan di kening istrinya.
"Udah berangkat, Dad," jawabnya di sela-sela mengunyah sereal coklatnya itu.
"Lho, pagi banget kok?" tanya Hideo, kini ia beralih pada Ameera.
"Ada, kelas pagi katanya. Padat sih schedule nya hari ini," jelas Ameera yang sudah menyelesaikan sarapannya. Kini, ia tengah sibuk mengolesi selai di atas roti gandum untuk sarapan sang suami.
Karena, Hideo tidak makan pagi dengan nasi. Dan, itu menurun pada Syam dan Najwa, kedua buah hati mereka. Sedangkan Ameera harus masuk nasi sama persis seperti author.(π)
"Bagaimana dengan jamuan nanti malam? Apa kau sudah mengatakan pada nya kalau kita akan kedatangan tamu?" selidik Hideo, sepertinya Ameera terlupa akan sesuatu. Karena, ia terlihat santai sekali.
Dan, benar saja.
"Astaghfirullah! Ya Allah, Mommy lupa!" pekik Ameera yang telah menyadari sesuatu.
"Aduh, gimana dong Dad?"
"Pasti Najwa sampai ke rumah sore sekali nanti...," oceh Ameera panik sendiri.
"Hmm, Mommy ini...,"
"Padahal tamu nya kan orang penting, tapi bisa lupa juga," keluh Hideo sambil menggeleng.
"Maaf, Dad. Mana Mommy belum belanja," lesu Ameera.
"Setelah mengantar Syam sekolah,.kita langsung ke swalayan,"
__ADS_1
"Nanti, kamu telepon Najwa. Katakan padanya , kalau bisa jangan pulang terlalu sore, kita akan makan malam spesial," tutur Hideo tegas. Setelahnya, pria keturunan Jepang itu mengunyah roti lapis nya.
Bersambung>>>>