
πΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌ
"Jadi, wanita kesayangan sahabat baik ku, sudah sadar rupa nya?" cetus pria dengan brewok tipis di rahang nya ini.
Ia bahkan tersenyum miring, membuat aura wajahnya semakin bengis.Indar menyugar rambut ikalnya kebelakang. Kemudian, mengambil cerutu di kotak khusus di atas meja nya.
Menyelipkan di antara kedua bibir seksi nya yang berwarna kehitaman.
Ia merogoh pemantik di dalam kantong jas nya.
Cetik.
Asap pun mulai membumbung di ruang kerja miliknya itu.Baling-baling hexos berputar, membuang asap dari benda coklat kehitaman, yang di hisap oleh pria berdarah latin ini keluar ruangan.
Indar terus menghisapnya dalam, berkali-kali. Hingga sekitar dirinya di penuhi oleh asap yang di buatnya sendiri.
Indar menjentikkan jarinya, spontan seorang asistennya yang sedang duduk manis berpangku kaki jenjangnya itu, beranjak bangun dan menghampirinya.
Wanita berpakaian minim, ketat yang menampilkan setiap lekuk dari raganya itu. Meletakkan asbak yang terbuat dari keramik berukir naga merah.
Indar mematikan cerutu itu, kemudian memberi isyarat kepada sang asisten cantik untuk memijat tengkuknya.
" Urat mu sangat kaku, Tuan ku," ucap nya lirih di samping telinga pria maskulin ini. Indar, hanya memejamkan matanya. Merasakan tekanan lembut dari jemari lentik itu di sekitar leher dan bahu nya.
"Santai lah sedikit, cepat atau lambat kita pasti menemukan jejak bayi itu. Ehm, mungkin sudah bukan bayi lagi sekarang," ucapnya dengan sedikit desah menggoda.
Namun, Indar masih bergeming dalam diamnya. Ia pun tak habis pikir, semua orang terbaiknya, gagal. Kemana, atau di mana bayi kecil itu? Kenapa, tak sedikitpun jejaknya terendus?
Indar, semakin yakin. Jika, bayi itu selamat dan berada di tangan orang yang tidak bisa di anggap remeh. Mereka pasti bukan orang sembarangan.
Ia, semakin khawatir, jika saja itu benar. Maka, putri sahabatnya ini bisa menjadi bom waktu untuknya.
Meskipun, masa jabatannya tinggal tiga tahun lagi. Namun, ia tak ingin pundi yang sudah di kumpulkan nya, akan di sita oleh komisi anti korupsi suatu saat nanti. Ia kan sengaja, ingin masa pensiunnya nanti, tinggal oncang-oncang kaki dan tunjuk sana sini macam sultan.
"Kenapa? Keberuntungan masih berpihak pada mereka?"
" Bukankah, racun itu cukup kuat?"
" Atau, jangan-jangan? Kau tidak memberi dosis yang benar!" hardik Indar, sambil menarik tangan yang sedang memijatnya itu. Hingga tubuh langsing pemiliknya menabrak tepi meja.
"Awww..., Tuan." Wanita itu terlihat mengusap pinggang rampingnya yang terbentur meja.
"Ini semua, pasti kecerobohan mu!" tuding Indar, dengan menunjukkan jari nya ke depan wajah wanita cantik bertubuh seksi itu.
__ADS_1
"Tentu tidak, Tuan ku," jelasnya dengan sedikit manja. Berani sekali dia, di saat wajah bengis itu mengeras. Wanita itu malah berusaha mengendurkan nya dengan godaan.
"Kenapa, anda tidak percaya padaku? Sampai, tega menyakitiku?" ucapnya, mulai akting merajuk.
"Masihkah, Tuan meragukan kesetiaan ku? Bahkan, aku rela meninggalkan suami ku." Wanita itu semakin berani. Bahkan, kini ia merangsek duduk di atas pangkuan pria dengan sorot mata tajam itu.
Indar hanya menghembuskan nafasnya kasar. Ia enggan menatap wanita yang sedang bermain dengan jambang nya.
"Seorang penghianat, akan tetap menjadi penghianat!"
"Kau, bisa mengkhianati sahabatku. Bukan berarti, itu tak bisa kau lakukan terhadapku!" Indar memekik, tangannya mencengkeram rahang lancip milik wanita yang hampir meloloskan busananya.
Wanita itu, tak bergeming. Seakan tak ada rasa takut terhadap serigala di hadapannya ini.
"Anda salah, Tuan!" tegas Wanita itu berani, bahkan ia menyingkirkan tangan besar yang menyakiti wajah cantiknya.
"Seandainya, anda memerintahkan aku membunuh wanita itu. Pasti akan ku lakukan."
"Salah mu, kau masih menyukainya."
" Kau, yang lemah, Tuan ku," lirihnya di telinga Indar kemudian me ***** nya.
Tubuh pria paruh baya ini memanas. Indar mengangkat tubuh wanita itu, meletakkannya di atas meja kerja.
"Berani nya kau!" Indar, kini mengalungkan ibu jari dan telunjuknya di leher wanita itu. Membuat nafas wanita itu tercekat tiba-tiba.
Leherku bisa patah!
Pria tua sialan!
Tatapan tajam menghunus, Indar Winata. Seakan menembus langsung ke dalam jantung. Namun, tak ada sedikit pun rasa takut tersirat dari raut wanita yang hampir tanpa busana itu.
Nafasnya naik turun, ia tak dapat menahan emosinya, ketika rahasia nya di ungkap oleh orang lain.
Ja lang sampah!
Akan ku robek mulut lancang mu!
Sebelum itu, sebaiknya aku nikmati dulu!
Indar, menurunkan tangannya yang mencekal erat leher yang jenjang dan putih mulus itu.
Namun, tangannya berhenti di dua gundukan yang terpampang menantang. Indar, me remas nya. Membuat si wanita yang baru saja menyuplai oksigen ke dalam paru-parunya, terkesiap.
__ADS_1
Tua bangka sialan!
Akan ku keruk habis harta mu!
Lalu, akan ku habisi kau dengan racun ku!
Wanita itu berakting, seakan tak terjadi apapun barusan. Ia memasang wajah menggodanya lagi. Ia pendam dalam hati, kebencian akan pria bengis yang sering menyiksanya namun, juga menikmatinya ini.
Indar menuntun wanita pemuas hasratnya itu, menuju sofa besar di pojok ruangan. Dengan bibir mereka yang bertaut dalam gelora panas.
Pria matang bahkan sangat matang ini, memang selalu bergairah, bersama sang asisten yang merangkap segala hal untuknya. Angelina, mantan model majalah dewasa berskala internasional. Wanita berusia 30 tahun, berambut panjang sebahu dengan warna coklat terangnya dan gelombang yang indah.
Kini, Indar telah melepas seluruh penutup pada raganya, hingga mereka berdua kini telah siap melakukan penyatuan dosa mereka. Penyatuan tanpa cinta dan tanpa status, karena mereka hanyalah penganut istilah simbiosis mutualisme.
Dreett...dreett!
Getaran dari benda pipih di atas meja, tak dapat menghentikan kegiatan nista di atas sofa berharga ratusan juta itu. Selesa bukan?
Bermain di atas sofa mahal?
Jangankan hanya ponsel yang bergetar, sekalipun tanah yang di pijak pun, takkan menghentikan mereka yang sedang terbuai rayuan setan. Hingga, getaran yang mereka ciptakan lebih dahsyat dari gempa labuhan banten minggu lalu.
"Cukup, Tuan!"
"Akh, hentikan! Aku..." ucapan Angelina terpotong, tak mampu menghentikan kegilaan pria, yang sedang menguasai tubuh nya ini. Meski, ia telah berkali-kali mendorong, tubuh perkasa pria matang di atasnya ini tak bergeming.
Indar terus berpacu dan menghentak nya tanpa jeda. Meskipun, ia telah berulang kali berteriak. Indar terus menghajar intinya tanpa ampun, bermacam posisi sudah di buat pria oleh pria bertenaga kuda itu.
Kenikmatan, kini telah berubah laksana siksaan bagi Angelina. Entah, sampai kapan?
Hidupnya harus terjerat di bawah kungkungan pria bengis, yang tak cukup puas dengan satu wanita.
Sampai kapan ia harus bertahan demi rencana pembalasan dendamnya?
"Akh...!"
"Kau menyakitiku!" teriaknya, kemudian menggigit bahu terbuka itu dengan kencang.
Plakk!
"Diamlah! Ini salah satu tugas mu!" Setelah melabuhkan tamparan keras pada wanita di bawahnya, Indar kembali memacu nya dengan penuh hasrat.
Angelina, hanya bisa memejamkan matanya. Merasakan sakit dan perih yang menjalar dari inti, hingga ke seluruh tubuhnya. Bahkan, kini pipinya ikut panas akibat polesan dari tangan perkasa itu.
__ADS_1
_______π¨π¨π¨π¨π¨______
K.A.B.O.O.O.R.R.........