
___🌻🌻🌻___
Kartika sudah menghabiskan hampir setengah jam di pasar, ia telah membeli sekotak susu formula, botol bayi, perlengkapan mandi, popok sekali pakai dan beberapa pakaian bayi serta selimut dan kain bedong.
Untung saja, Kartika biasa pergi kemanapun seorang diri, karena semenjak sang suami tiada, ia nekat belajar mengendarai motor matic. Semua keterpaksaan itu, menjadikannya sosok wanita yang kuat dan cekatan. Karena ia harus berperan ganda, menjadi ayah dan juga ibu bagi kedua putranya. Ah...bahkan, sekarang takdir telah membuatnya memiliki seorang putri.
Kartika pun,sudah siap dengan pertanyaan dari beberapa warga nantinya. Ia pasti akan menjadi perbincangan hebat di kalangan ibu-ibu juliders yang budiman. Ya, bagaimana tidak, seorang janda cantik yang aktif di luar rumah, secara tiba-tiba memiliki seorang bayi yang masih merah.
Tanggapan miring itu selalu ada, meski ia memakai pakaian serba tertutup dan longgar.
Bahkan, ketika ia terlihat bertegur sapa dengan tukang jualan terkhusus laki-laki,maka pandangan terhadapnya, serta- merta menjurus ke hal yang buruk untuknya.
Dia diam saja, di bilang sombong dan belagu.
Dia berusaha ramah, di bilang sok baik, cari muka dan yang terparah,dia di sangka tebar pesona. Ahh...seorang janda itu selalu serba salah. Karena stigma yang jelek itu telah terlanjur melekat pada mereka.
Apakah salah nya jika ia tetap cantik dan muda, meski kedua putranya telah besar dan remaja?
Apakah salahnya, bila banyak lelaki yang melamarnya?
Dari perjaka hingga duda, bahkan ada yang berstatus telah memiliki istri, mungkin lelaki itu bermaksud memiliki istri yang lebih dari satu.
Apakah ia harus menutup juga wajahnya?
Lalu, setelah itu cap apa lagi yang akan di sematkan oleh mereka untuknya?
Tentu masih ada, dan akan terus ada.
Karena kita tidak akan pernah terlihat benar dan sempurna dari pandangan manusia.
Karena manusia selalu melihat apa yang ada di seberang matanya.
Seperti kata pepatah "Gajah di pelupuk mata tak terlihat,sementara semut di seberang lautan terlihat."
Kartika tidak ingin memusingkan apa kata orang, selagi perbuatannya benar serta tidak keluar dari koridor islam. Kita tidak bisa memaksa semua orang, untuk menyukai kita bukan?
Kartika terus melajukan matic berwarna biru muda itu.Secepat kilat ia berbelanja tanpa memilih dan menawar, hanya ambil barang kemudian bayar. Ia sangat menghawatirkan keadaan bayi yang kelaparan itu.
Wanita yang sudah berusia 42 tahun itu,melajukan motornya perlahan, karena melewati kerumunan ibu-ibu yang sedang berbelanja sayuran di seorang pedagang, yang menjajakan jualannya menggunakan tossa.
__ADS_1
"Yok, di pilih, di pilih buibu...! Sayurannya seger-seger!" teriak si bapak penjual sayur itu, bermaksud mengundang langganan utama nya agar keluar dari rumah. Bahkan, Kartika pun tak luput dari teriakannya.
"Buk, Kar!"
"Mampir'e buk, belanja sek to!" teriak si penjual sayur, yang melihat hendak melewatinya. Kartika pun memutuskan untuk berhenti sebentar, kemudian ia mematikan starter motor matic nya. "Stok masih ada, Pakde! Tambahin ayam sama kentang aja ya, masing-masing sekilo. Nanti kirim ke rumah aja, soalnya saya buru-buru," tutur Kartika.
"Yowes, Buk. Nanti tak antar nggih," sahut si bapak tukang sayur dengan wajah senang.
"Maaf, ya bu-ibu saya duluan." Kartika menyalakan kembali motornya, kemudian berlalu setelah pamit kepada ibu-ibu yang sedang memilih belanjaan.
"Belagu amat si! Sok sibuk!" cetus seorang ibu bertubuh subur, yang sedang membolak-balik tempe yang di bungkus daun pisang.
"Iya, mentang-mentang wanita karir, tuh!" tambah wanita yang berdandan cetar, dengan alis hitam tebal menukik, bibir merah menyala dan bulu mata palsu yang melambai.
"Gak lepel kalik ama kita-kita yang maen nya di dapur muluk!" jelas seorang perempuan berdaster dengan gelang yang seperti emas berderet di pergelangan tangannya.
"Iya, apah yang gelowing!" imbuh si ibu-ibu berambut pendek dengan wajah yang penuh bekas jerawat.
Itulah, ocehan bertabur cibiran dari para emak-emak derijen tingkat erte.
Mereka dengan gamblangnya mengungkapkan, spekulasi mereka. Meski bermodalkan dengan apa yang mereka lihat sekilas, tanpa mencari tahu bahkan tempe.
"Ealahh, buk! Ghibah ae toh, mending belanja cepetan terus masak!" pungkas si bapak tukang sayuran.
"Dih! Belain!"
"Tauk, nih Pakde!"
"Mentang-mentang dia janda cantik!"
seloroh ibu-ibu derijen itu mengeroyok si tukang sayur.
"Yee! Saya bukan mbelain, tapi iku lho sayuran ku, dadi pada ancur kalian remet-remet doang!" gemas si bapak sambil merapikan sayuran yang sebagian berantakan dan rontok. Karena para derijen tadi terus bicara sambil mengacak dan membanting sayur-mayur.
Akhirnya, komplotan ibu-ibu maha benar pun berpencar, setelah mereka membeli semua sayuran yang telah mereka jadikan sasaran gemas tadi.
"Kartika telah sampai, ia pun langsung mencuci tangan, merebus botol agar steril dan menyiapkan susu untuk bayi perempuannya itu.
Ya, tekadnya sudah bulat. Untuk mengangkat Najwa menjadi anaknya. Bukankah ini adalah suratan dari Allah, dan tanggung jawab baginya juga putranya, Andra.
__ADS_1
Untuk urusan menjaga, Kartika akan membagi waktu dengan kedua anaknya itu.
Mungkin memang inilah, saat baginya untuk mengundurkan diri dari pekerjaannya di butik. Dan, ia akan merintis usahanya di rumah saja.
Kartika terus memandangi wajah mungil di dalam gendongannya. Mulut kecil bayi itu, terlihat menyedot dengan kuat. Syukurlah, Najwa suka susu formula yang ia pilih, meski ia memilih produk susu yang biasa saja, tidak terlalu mahal juga tidak bisa di bilang murah. Sedang-sedang saja. Ia harus menyesuaikan dengan kemampuannya bukan?
Meskipun, didalam surat itu tertulis, agar ia menjual kalung berlian itu, untuk memenuhi biaya hidup sang bayi. Akan tetapi, Kartika pikir itu adalah satu-satu nya pengenal dan kenangan bagi Najwa nanti. Atau, mungkin ia akan menggunakannya bila saat benar-benar kepepet saja.
Setelah menyusu,sebotol penuh. Rupanya bayi perempuan itu kekenyangan hingga ia mengantuk. "Um, dia pules!" seru Andra, yang kemudian mendapat jitakan pelan di ujung kepalanya.
"Udah tau dia pules, ngomongnya pake teriak," lirih Kartika dengan mengeratkan giginya.
"Ye, maap, Um," ucap Andra sambil mengelus kepala nya yang tadi kena jitakan dari umma.
"Sana, gih beli sarapan.Di warung nasduk nya pok Jamilah ya,"
"Nih, duit nya," perintah Kartika dengan bicara perlahan.
"Umma, pake apa aja?" tanya Andra setelah ia menerima uang dari Kartika.
"Komplit dong, kayak biasa, pake kentang mustofa sama semur jengkol ya." jawab Kartika kemudian berlalu dengan membawa bayi Najwa.
"Jangan lupa gorengannya, yang masih anget!" tambahnya.
"Rebes, Umma ku yang syantik!" kelakar Andra, kemudian meraih kunci vespanya di atas bupet.
Kini, seorang remaja tampan dengan wajah kelimis meskipun belum mandi(tapi kan gak ada yang tau). Terlihat sedang berdiri di tengah antrian, yang di dominasi para ibu-ibu itu.
Ada juga si mas-mas, tapi mereka lebih memilih minggir ke tepi. Tapi, Andra tidak mau, karena kalo tidak antri, entah kapan ia akan mendapat giliran. Bisa ngomel sampai magrib nanti umma.
Andra kini telah berada di barisan kedua, berbagai menu sarapan khas orang betawi itu telah membuat lambungnya histeris seketika. Bagaimana tidak, sejak kemarin malam perutnya kosong melompong tanpa diisi.
Tanpa ia sadari, ternyata pok Jamilah telah memanggilnya sedari tadi.
"Eh, iya Pok, maaf!" ucap nya.
"Pagi-pagi udah bengong aje! Entar jodoh nye jauh loh!" kelakar si empok tukang nasi uduk yang bertubuh wow itu.
"Hehehe...Saya lagi liatin itu, jengkol semurnya pada melotot," kilah Andra, yang tanpa sengaja, telah menyeka liurnya dengan lengan bajunya.
(Ish, joyok!)
__ADS_1
Sapa yang mao mesen noh, nasi uduk komplit!
Bilang aje ame bang Andra 😁