Mengasuh Calon Istri

Mengasuh Calon Istri
Akhirnya, Uncle El pulang( Andra El Barack)


__ADS_3

๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ


Kartika masih berkali-kali mencoba menghubungi, Andra.


Nomer yang anda tuju, sedang berada di luar jangkauan...


"Ini anak kemana sih? Kenapa gak bisa di hubungin?" gumam Kartika semakin gusar.


Ia bergegas mengambil ponselnya sendiri di dalam kamar.


Karena di sana tersimpan beberapa nomer kawan-kawan putranya itu.


"Nah, aku hubungi dia saja...," Monolognya.


Tuutt...tut...


"Assalamu'alaikum, Nak Puspa,"


"(......)"


"Maaf, Nak. Apa kamu bersama Andra?"


"(........)"


"Innalillahi...ya Allah!"


"Umma, belum tau karena, Andra belum mengabari Umma, Nak,"


"(......)"


"Ah, iya. Baiklah."


"Maaf, Umma tidak bisa menyusul ke sana. Mungkin, nanti ke rumah nya saja,"


"(......)"


"Waalaikum,salam."


Kartika, terlihat menyusut air matanya.


" Kenapa, Um?"


"Kenapa, nangis?"


"Aduh, gimana ini? Yang bayi baru aja diem, eh sekarang Umma...," tanya Maulana bingung, karena setelah menelepon malah menangis.


"Miko, Mau...,"


"Abang, ternyata lagi ikut..., mengubur Miko," jelas Kartika, sambil menahan isaknya.

__ADS_1


"Innalillahi wainna ilaihi roji'un." lirih Maulana.


"Abang kehilangan anggota tim nya, Um?" tanya Maulana dengan wajah sendu. Yang hanya di jawab anggukan lemah oleh sang Umma.


"Kenapa, cara perginya seperti itu, Um?"


" Kenapa, Uda Miko melakukan hal konyol itu?" Maulana bertanya pelan, sambil sesekali menimang Najwa.


"Entahlah. Karena kita tidak bisa menimbang hati dan jalan pikiran seseorang."


"Sebaiknya, hindari mengira-ngira, serta berspekulasi berlebihan."


"Karena, itu hanya akan menambah beban, dari keluarga yang di tinggalkan." jelas Kartika, membungkam seketika komentar yang hendak keluar dari mulut remaja unyu itu.


Dua jam berlalu, bayi mungil berjenis kelamin perempuan itu kembali rewel. Susu formula hanya masuk sedikit, itu pun menggunakan sendok.


Karena Najwa benar-benar menolak dot.


Sedangkan, Andra sudah menghubungi sang umma, dan berjanji akan segera pulang setelah acara pemakaman selesai.


Karena harus bolak-balik antara rumah sakit ke rumah duka yang jaraknya lumayan. Kemudian dari rumah duka ke pemakaman.


Kini, Andra mengebut setelah dari area pemakaman menuju rumahnya. Karena jarak yang jauh, membuat waktu yang di tempuh lumayan lama. Meskipun kendaraan roda dua nya hanya vespa, tapi kendaraan antik itu masih jago untuk beradu aspal di jalanan.


Hati dan pikirannya kini, tertuju pada satu titik. Yaitu, bayi mungil menggemaskan dengan pipi yang merona merah muda.


Setelah, Maulana mengirimi vidio saat Najwa menangis dan tak mau mengisap susu di dalam botol nya. Serta foto yang menunjukkan skala suhu Najwa di termometer. Bayi itu demam.


Andra menghampiri tiga orang ibu-ibu dengan usia yang berbeda-beda.


Yang ia tahu, mereka tetangga sebelah dan depan rumahnya.


"Ada apa ya, Bu Asti? tanya Andra kepada ibu-ibu berdaster pendek dengan rambut di cepol asal, namun nampak perhiasannya yang menghias leher, telinga, jari serta lengannya.


" Ini lho, Nak Andra. Kami sedari pagi mendengar suara bayi yang menangis. Apa di rumah mu ada bayi?" tanya ibu itu sambil berpegangan gerbang rumah yang hanya setinggi dada orang dewasa.


"Maaf, ya bu-ibu, kalau sudah terganggu. Memang di rumah kami ada seorang bayi perempuan," jelas Andra dengan senyum tipis.


"Kenapa dia menangis terus? Dan, itu bayi siapa?" tanya ibu yang lebih muda dari bu Asti, namun ia mengenakan kerudung instan dan piyama berbahan katun.


"Untuk itu, saya belum bisa menjawabnya, biar nanti umma saya saja yang menjelaskan, mohon pengertiannya," jawab Andra sopan.


"Ya, soalnya kan setau kita, umma kamu itu janda. Jadi ya, maap-maap aja kalo kita mau tau,"


"Kita heran aja, kok di rumah janda ada suara anak bayi? Lagian, jaman sekarang kan banyak perempuan punya bayi tanpa suami." cecar ibu yang ketiga, seorang wanita paruh baya berwajah judes. Salah satu ikon tukang gosip di area komplek sini.


"Tentu, umma saya bukanlah wanita yang seperti ibu maksudkan. Umma saya, adalah wanita yang mengerti agama dan pandai menjaga kehormatannya sebagai wanita muslimah."


"Maaf, saya harus segera masuk karena umma sudah menunggu. Permisi." Andra berlalu setelah menundukkan sedikit kepala nya sebagai tanda hormat.

__ADS_1


Ia segera masuk rumah dan bergegas ke lantai atas. Karena suara tangis Najwa berasal dari lantai dua.


"Assalamu'alaikum!" seru nya ketika melihat mereka bertiga di balkon kamarnya.


"Waalaikum salam..." sahut ibu dan anak yang sejak tadi terlihat kerepotan mengurus satu orang bayi yang belum ada sebulan itu.


" Sebentar ya, Abang harus ganti baju dulu. Em, mungkin mandi instan, soalnya abis dari pemakaman kan kotor, takut ada yang kebawa juga nih." tambahnya lagi.


"Cepet ya, Bang. Umma tunggu di kamar bawah aja." Kemudian Kartika dan Maulana pun turun ke bawah. Sedangkan Najwa masih merengek dengan tangisannya yang memekakkan telinga.


"Ya Allah, neng botoh. Apa kamu gak capek nangis terus?"


"Umma jadi bingung ini," desah Kartika.


"Iya, Dek kamu gak capek apa? Suara aja sampe serak gitu," beo Maulana, sambil mengelus kepala bayi yang berambut agak pirang itu.


Namun, tangis Najwa semakin menjadi. Kartika hanya bisa berdzikir sambil menciumi bayi perempuan itu, tak terasa air matanya menetes. Ia tau, ada sesuatu yang terjadi pada ibu dari bayi dalam dekapannya. Tapi ia tak tau itu apa.


Tak lama kemudian, Andra turun dari lantai atas.


" Lho, katanya di kamar Umma?" tanya nya sambil mendekati ketiga orang yang sedang berada di ruang tamu itu.


"Dia malah makin kejer tadi, pas Umma bawa masuk kamar," jawab Kartika kemudian menyerahkan Najwa untuk berpindah dari gendongannya. Andra mengambil alih bayi itu, dengan penuh kehati-hati an. Pasalnya, ia kan belum pernah punya bayi, lagi pula Najwa terus meronta.


"Sayang, ini uncle Andra nya udah pulang,"


"Jangan nangis lagi ya...," ucap Andra sambil menimang bayi dengan wajah memerah karena demam dan terus menangis itu.


"Badannya anget banget Um?"


"Apa kita bawa berobat aja?" tanya Andra khawatir.


"Itu karena Najwa kurang susu, Bang,"


"Makanya, dia demam," jelas Kartika sambil memperhatikan interaksi kedua nya. Karena ia perhatikan semenjak di gendong oleh Andra, tangis Najwa berangsur pelan, dan kini hanya tinggal isak nya saja.


"Mau, ambil kan susu Najwa, cepat! Sini...!"


Maulana segera meraih cangkir berisi susu di atas bupet tivi, kemudian menyerahkannya pada sang umma.


"Bang, coba gendongnya sambil duduk, biar Umma suapi dia susu," titah Kartika.


Kemudian, Andra perlahan duduk di sofa. Dan Kartika mulai menyuapi Najwa, dengan susu formula menggunakan sendok kecil.


Next ya...


Penasaran kaann...


Unch, chemystri Andra dan Najwa mulai tercipta๐Ÿ˜

__ADS_1


Mohon dukungannya yaa...


mak minta rate 5 juga boleh yaa..๐Ÿ˜˜


__ADS_2