Mengasuh Calon Istri

Mengasuh Calon Istri
Secercah harapan


__ADS_3

🔥🔥🔥🔥🔥🔥


"Apa maksud kalian? Data-data?" Hideo sempat mencerna sejenak.


"Maksud kami, apakah nona muda telah terdaftar di catatan sipil, Tuan?"


"Karena jika telah terdaftar, kami akan mudah melacaknya. Jika suatu saat keluarga itu memasukkan data nona muda." jelas kepala penyidik.


"Hmm..., Aku belum sempat mengurusnya,"


"Putri ku hanya memiliki surat keterangan lahir dari bidan kampung."


"Saat itu...," Bayangan kejadian setahun yang lalu kembali berputar di kepala lelaki berdarah campuran Jawa - Jepang.


"Perutmu sudah sebesar ini? Haruskah kita mengunjungi tempat itu?" tanya Hideo gusar melihat perut Ameera yang sudah besar, karena hari perkiraan lahir hanya tinggal menghitung hari saja.


"Harus dong, By. Lagi pula, dokter juga bilang aku tidak akan melahirkan di pekan ini," dalih wanita anggun dengan baju kebesaran rumahannya. Ameera sedang bersandar di kepala ranjang sambil mengelus perutnya yang membulat bagai semangka raksasa itu. Senyumnya terus berkembang membuat wajah cantiknya semakin menawan. Apalagi rambut gelombangnya tergerai indah hingga menutupi bahunya yang terbuka.


Hideo, menghampiri istri tercintanya itu, duduk di tepi ranjang kemudian memijat lembut betis yang terpampang mulus di atas kasur.


"Kaki mu saja sudah agak membengkak, tapi kau masih saja tidak mau diam." sungut Hideo, dengan kepala menunduk menatap jemari tangannya.


Sejak Ameera mengandung, jemari itu menjadi lihai dalam pijat memijat.


Ameera tersenyum simpul melihat suaminya itu merajuk. Hideo, tidak akan bisa menolak permintaannya.


"Sudah, By. Aku mau ganti baju, nanti keburu siang panas." Ameera hendak beranjak turun dari kasur, namun Hideo menahannya.


"Bisakah, kau bergerak pelan-pelan, sayang?" titah Hideo yang overprotektif semenjak istrinya hamil buah cinta mereka.


"Iya, By... iya." Ameera pun terkekeh kemudian berlalu dari hadapan suami siaganya itu.


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih hampir dua jam. Sampailah mereka di sebuah bangunan dua lantai dengan halaman yang luas.


Bangunan berbentuk rumah sederhana itu telah di hias dengan indah. Karena, salah satu penghuninya, seorang adik yang di perjuangkan oleh Ameera. Baru saja menerima gaji pertamanya sebagai seorang Dokter.


Ia, hanya ingin berbagi kebahagiaannya dengan mengadakan tasyakuran ini.


"Kakak!" pekik seorang gadis berjilbab biru muda, menghampiri Ameera dengan antusias.Dialah sang Dokter muda itu, yang berhasil di terima bekerja di salah satu rumah sakit terbesar di Ibu kota.

__ADS_1


Teriakannya membuat beberapa gadis seumurannya mendekati Ameera. Yang kemudian, diikuti beberapa remaja dan anak-anak kecil.


Mereka pun mengerubungi ibu hamil itu, membuat Hideo menarik nafasnya beberapa kali. Apalagi ketika anak-anak kecil itu berebut untuk salim dan memeluk Ameera.


Hideo, ingin sekali mengusir mereka agar menjauh dari istrinya itu. Hingga, pandangan Hideo, tak pernah luput sedikit pun dari sang istri.


Benar saja, baru pertengahan acara. Ameera, terlihat merintih sambil memegangi bawah perutnya. Disertai air yang keluar membasahi gamis bagian bawahnya.


Setelah tau bahwa sang istri hendak melahirkan, Hideo segera menelepon rumah sakit yang sudah di persiapkan untuk Ameera.


Namun, adik satu panti sang istri mengatakan. Bahwa, tidak akan cukup waktu bagi Ameera bila ia harus ke rumah sakit besar di kota.


Dengan terpaksa, Hideo membawa Ameera ke klinik bersalin terdekat. Klinik ini memiliki fasilitas lengkap untuk Ibu bersalin, memiliki beberapa bidan berpengalaman dan dua orang Dokter SpOG. Klinik dua lantai ini, juga siap menangani kelahiran dengan proses operasi sesar.


"Baiklah."


"Bisakah, Tuan mengecek surat lahir itu?"


"Maksud kami, apakah anda menyimpannya?" tanya kepala penyidik dengan penuh penekanan. Karena, Hideo masih berada di masa lampau.


"Hmm. Aku akan mengabari kalian segera."


"Aku akan terbang ke negara I, malam ini juga." Hideo berkata sambil beranjak berdiri. Ia merapikan jas nya sebentar.


Hideo telah sampai di depan kamar perawatan Ameera. Empat orang pengawal yang menjaga menyambutnya dengan menunduk hormat. Kemudian, seorang pengawal membukakan pintu dengan kode tersebut.


Ketatnya penjagaan terhadap Ameera, bukanlah tanpa sebab. Karena, Hideo faham siapa sahabat nya itu. Ia tidak akan kecolongan lagi kali ini.


Ketika masuk, wajah teduh Ameera lah yang menjadi pusat pandangannya pertama kali.


Ia mendekati kepala ranjang, mengelus pipi putih dan lembut itu. Wajah Ameera sudah tidak begitu pucat, dan bibirnya sudah tak lagi pecah-pecah.


Hanya saja, benda yang melingkar di kepala istrinya itu, sangatlah mengganggu. Ingin sekali Hideo melemparnya dari atas balkon. Ia dapat merasakan, kalau wanitanya itu sangatlah tidak nyaman. Tapi, harus bagaimana lagi.


"Sabar ya sayang, sebentar lagi kau akan sembuh. Lalu, putri kita akan bersama kita lagi." Hideo,mengatakannya dengan senyum yang melengkung indah, di wajah yang biasa kaku dan dingin itu.


Merasa ada seseorang yang membelainya, mata indah itu terbuka dan mengerjap dengan lambat beberapa kali.


"Sayang...,"

__ADS_1


"Maaf, bila aku membangunkan mu,"


"Aku, hanya ingin meminta izin lagi untuk meninggalkan mu." Sungguh pilu, Hideo mengatakan nya dengan lirih dan bergetar.


"Aku janji tidak akan lama..." Hideo menengadahkan kepala nya ke atas, berusaha menahan bulir yang sudah membuat matanya panas.


"Teruslah berdoa dari hati mu, para penyidik telah menemukan bekas jejak putri kita."


"Tapi, keluarga yang menyelamatkannya telah lama pindah dan menghilang entah kemana,"


"Setidaknya, putri kita selamat sayang. Putri kita selamat." Hideo tak dapat lagi menahan isak harunya. Rasa itu telah di tahannya sejak di roof top tadi.


"Ah, iya. Aku lupa bilang, Alhamdulillah!" ucap Hideo kemudian melabuhkan kecupan dalam di kedua pipi Ameera. Wanita itu, hanya bisa merespon setiap kata yang terucap dari bibir tipis Hideo,dengan mengedip.


Seperti biasa, setiap sang suami bercerita maka air mata akan mengalir dari mata indah wanita yang sudah terbaring selama setahun itu.Dan, Hideo akan menghapusnya dengan lembut.


"Putri kita, pasti sudah besar dan pintar. Dia juga pasti cantik, secantik dirimu."


******


"Memang Najwa cantik, lucu dan menggemaskan," ucap seorang pemuda tampan sambil menggosokkan hidungnya, ke pipi gembul balita perempuan yang sangat cantik.


Mata bulat besar dengan warna hijau tosca yang langka. Kulit putih bening, rambut ikal dan lebat sebahu. Bibir buah plum yang berwarna sesegar buah ceri yang ranum.


(Macam boneka, tapi bukan dari india)


Di perlakukan seperti itu, membuat balita itu tergelak kegirangan. Kemudian, Najwa membalas perlakuan Andra dengan menciumi pipi berulang kali. Dan, mereka berdua tertawa bersama.


"Gih, sana. Wawa main lagi." Andra menurunkan balita itu dari pangkuannya.


"Wawa nana, taa-taa akel!" (Wawa kesana, da-daa uncle) ucap balita imut itu kemudian berjalan menghampiri mainannya yang berserakan.


Balita itu, sesekali akan menengok kemudian tersenyum kepada pemuda yang tengah memperhatikannya itu.


Di goyang jempolnya ya tayang mak...😘


Yang baca banyak, tapi yang like seuprit😚


Jempol di goyang oi...jempol di goyang!

__ADS_1


Biar mak makin semangat nih, goyang jempol buat ngetik lanjutannya.


Wookeeehhhh🤗


__ADS_2