
πΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈ
......Maaf ya mak baru bisa up.........
...Lagi sibuk ngurusin novel satu nya, buat eventππ....
...Insyaallah, bisa bagi waktunya yaa...π€....
...Happy reading ya tayang mak semuaaa...π....
******
"Kenapa gak turun?"
"Udah di tungguin juga," ucap Andra sambil duduk di ranjang yang juga sedang di tempati oleh Najwa. Kini, pria berwajah asia itu sedang berada di kamar gadis kecil nya.
"Cieee..., yang udah punya mom end dad...," goda Andra, mengurai suasana biar gak sedih.
Karena, di lihatnya sepasang mata indah milik Najwa sudah mendung.
"Ish, Uncle gak sedih ya di tinggal sama Najwa?" tanya gadis jelita itu dengan gaya merajuk. Najwa kini mengubah duduknya agar menghadap uncle gantengnya itu.
Andra menoleh, menatap wajah sendu itu yang muram. Hati nya seperti tercubit melihat raut kelabu itu.
"Uncle justru bahagia, bayi besar sudah berkumpul dengan keluarga yang sebenarnya," ucap Andra lembut, dengan senyum yang tersungging dari wajah rupawan nya.
Iris legam nya terus menatap dalam menembus iris hijau tosca gadis jelita dengan pasmina mocca.
"Aku juga sangat bahagia Uncle. Tapi..., Najwa juga sangat sedih. Kita pasti lama gak bakal ketemu, Najwa...," Gadis jelita bermata indah itu, tidak dapat meneruskan ucapannya.
Karena, sisa kata-katanya seakan tercekat di tenggorokan. Sesak itu mengumpul di dadanya, mencipta isak yang sedari tadi di tahan.
"Hei, kenapa...?"
"Najwa," Andra mengulurkan tangannya hendak menghapus air mata di wajah yang akan sangat dirindukannya itu.
(Ah, izinkan sekali ini saja ya, ya Allah...,)
Andra, melakukan apa yang diperintahkan oleh hatinya, meski ia tau itu salah. Ia, hanya ingin egois sekali ini saja.
Bayi besarnya akan pergi jauh dari nya, bolehkan, ia mendekapnya untuk yang terakhir kali?
"Uncle...," lirih Najwa tanpa menolak apa yang dilakukan pria dewasa ini padanya. Justru, ia mengulurkan kedua tangannya untuk merengkuh pria yang selama ini mengasuh dan menemaninya.
(Maafkan, Najwa ya Allah. Hanya untuk kali ini saja, kehangatan ini, biarlah aku rasakan sebentar saja,)
Sekian detik mereka berdua bersatu dalam rengkuhan penuh kasih dan sayang. Penyatuan batin yang terbentuk sejak lama, membuat terciptanya sebuah ikatan tak kasat mata.
Jalinan yang mereka berdua pun tak tau seperti apa menafsirkannya. Hanya saja, mereka merasa perih dan sesak ketika akan terpisah satu sama lain.
Terpautnya perasaan yang dalam, membuat kedua nya terjebak pada asa terpendam.
Pria dewasa berwajah baby face itu, mengecup dalam ujung kepala gadis jelitanya.
Sebelum mereka melerai pelukan penuh kasih sayang. Tanpa gelora, dan tanpa rasa dalam arti konotasi lain. Andra hanya ingin menyalurkan kasih sayang nya yang teramat dalam.
Memberi ketenangan dan kelegaan pada bayi kecil cerewet yang selalu mengganggu tidurnya dengan lengkingan tangis nya.
__ADS_1
Kini, ia sudah beranjak remaja dan sudah saat nya bebas dari penjagaannya.
Tak akan ada lagi para pemburu itu, yang sejak dulu mengejarnya. Mereka sebagian sudah berkalang tanah. Termasuk Indar Winata, yang akan menginap lama di penjara.
Semua perbuatan pasti akan ada balasannya, di dunia dan juga di akhirat. Allah maha adil bukan?
Tak ada yang setia bila berkomplot dengan penjahat. Semua adalah gunting dan belati yang tersembunyi di balik lipatan.
Yang mana suatu saat, mata pisaunya akan berbalik menyerang diri mu.
"Udah ya, hapus air matanya. Temui orang tua mu di bawah," ucap Andra, setelah mereka kembali pada posisi semula.
Entah kenapa, kedua pipi Najwa lebih merona dari biasanya. Andra pun, mati-matian menahan degup jantungnya.
(Apa perasaan ini nyata?) batin Andra, entah ia bertanya pada siapa.
Ia menoleh sedikit, dan ternyata mata itu tengah menatapnya.
"Jaga pandangan mu cantik. Uncle memang tampan," ucap Andra.sambil menaikkan alisnya dan berpose.
"Ck, merusak suasana, menyebalkan!" seru Najwa kemudian ia berdiri dan menyambar tas gemblok nya.
"Menyebalkan tapi bakal ngangenin kan?" goda Andra dan mengikuti langkah kaki Najwa hingga mereka menuruni tangga.
"Entahlah, mungkin jika Najwa menemukan uncle lain yang lebih tampan dan manis...," ucap Najwa menggantung.
"Hei, apa maksudmu tentang uncle lain? Mana ada yang lebih tampan dari Uncle ganteng mu ini," panggil Andra, karena Najwa berlari menjauhinya sambil meledek dengan menjulurkan lidahnya.
(Apa-apaan dia, barusan habis nangis di pelukan ku. Sekarang bilang mau cari uncle baru, awas saja kau!) gemas Andra menggerutu di dalam hati kecilnya.
Sementara Najwa tengah tertawa geli sambil bergelayut pada Kartika. Wanita paruh baya itu sedang mendelik gemas pada putra sulung nya yang tengah menggaruk tengkuknya kikuk.
(Kenapa lama sekali? Apa yang kalian lakukan tadi?Dasar anak soleh!) Begitulah kira-kira arti dari tatapan tajam Kartika.
Mereka semua pun berangkat ke bandara.
Sebelum nya take off, Najwa.sempat vidio call dengan Maulana.
"Baik-baik ya di sana. Makin rajin muroja'ahnya."
"Tambah banyak hafalannya, dan semangat!"
"Jangan cari uncle baru ya..., nanti ada yang nangis. Hahaha...,"
Najwa ikut terkekeh ketika melihat Maulana tergelak di seberang sana. Bagaimana uncle bisa tau? pikirnya.
*****
Tujuh tahun berlalu.
Seorang gadis berbusana syari berwarna peach dengan khimar senada. Tengah memasuki sebuah pelataran di kampus Universitas Islam.
Langkahnya yang tegas, dan ayunan kakinya yang cepat membuat beberapa gadis di belakangnya kepayahan untuk mengejar.
"Uh, cepet banget si Najwa jalannya. Kayak mau ngambil gaji aja," protes salah satu gadis yang ketinggalan mengejar.
"Belok kemana ya doi?"
__ADS_1
"Ke kantin apa perpus?" tanya salah satu dari ketiga gadis yang berkerudung itu.
"Udah pasti ke perpus dia,"
"Tapi tu anak belom sarapan katanya,"
"Ya udah kuy, samperin!"
"Kalo perlu, kita seret ke kantin,"
Dan ketiga gadis manis yang berkerudung itu memutuskan untuk menyambung langkah mereka yang sempat terhenti.
****
Seorang pria dewasa tengah merapikan jasnya. Berkali-kali menghembuskan nafas nya mengurai gugup dan resah.
Seorang wanita paruh baya, berjalan lemah ke arahnya. Sakit yang di derita pada kepalanya belakangan ini membuatnya berjalan lambat dan perlahan.
Wajahnya kian tirus, pertanda tidur malamnya tak lagi nyenyak. Sepertinya ia memendam rindu yang teramat, hingga merusak selera makan dan juga gairah nya.
"Umma di depan aja, diem-diem."
"Setelah acara selesai, kita ke rumah sakit ya...," pinta pria yang begitu tampan dan berkharisma di usianya yang tak lagi muda itu.
"Umma gak mau ke rumah sakit. Umma cuma mau ketemu Najwa," lirih Kartika pada sang putra.
"Iya, Umma sayang. Kita sama-sama akan menemui nya,"
"Sekalian, bawa mantu Umma jalan-jalan ke negara kita," jelas pria berahang tegas yang gagah dengan baju pengantinnya itu.
"Baiklah, sekarang cepat selesaikan pernikahanmu,"
"Turun sana, jangan ngaca mulu!" protes wanita yang masih terlihat cantik dan anggun di usia senjanya.
"Iya, Umma cantik,"
" Gandeng dong...," ucap pria yang sebentar lagi mengubah statusnya dari lajang manjadi imam itu, sok manja.
"Ayuk deh," kekeh Kartika kemudian keluar kamar bersama sang putra, menuju sebuah ruangan yang telah di hias begitu indah demi acara sakral, yang hanya akan di lakukan seumur hidup itu.
Seorang pengantin wanita yang telah terbalut pakaian pengantin ala muslimah. Gamis lebar berwarna putih gading, menjuntai hingga menyapu tanah.
Wajahnya tersapu make up sederhana, namun begitu memukau menyiratkan keindahan yang menjadikannya begitu indah bila di pandang.
Saudara lelaki dari sang pengantin tengah tersenyum simpul, hatinya bersyukur.
Saudara sekandungnya telah menemukan tulang rusuknya.
Ijab qobul pun berjalan lancar atas izin yang kuasa.
*****
"Akhh...!"
"Astagfirullah!" pekik seorang gadis cantik jelita dengan pakaian tertutupnya. Mulut mungilnya terus meniup tangannya yang teriris pisau dapur. Kemudian, ia mengambil lap dan membersihkan lukanya.
"Uncle...," lirihnya.
__ADS_1
Bersambung>>>>