
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸
Isyana terkekeh kecil, membuat Najwa tak berkedip karena tertawanya saja sudah begitu anggun dan berkelas. Benar-benar wanita dewasa yang cantik.
"Asal kamu tau ya, di Jepang banyak yang antri tuh berharap di lamar sama uncle mu itu. Sekarang, mereka pasti sedang patah hati berjama'ah. Karena , proposal cinta mereka di tolak mentah-mentah," tutur Isyana masih dengan sedikit tawa elegannya.
Wajah Najwa bersemu, membuat kedua pipinya semakin merona. Make up tipis di wajahnya semakin membuat aura kecantikannya memancar.
"Tuh, udah mulai." Mereka berdua pun menatap layar lebar dan pipih berukuran 32 inchi yang menempel di dinding kamar.
Layar LCD yang menampilkan keadaan di ballroom, tempat dimana akad nikah di laksanakan.
"Tuh, Andra udah jabat tangan sama daddy kamu,"
( please, jangan berisik kak. Aku lagi dengerin ini,)
(Jantung ku, Ya Allah...,)
Najwa menghirup udara panjang, mengurai debaran dan dentuman kencang pada jantungnya. Tatkala sepasang mata indah nya menatap tak berkedip pada layar 32 inchi di hadapannya.
Acara sakral penuh khidmat itu di hadiri cukup banyak tamu undangan. Kedua telapak tangannya dingin, jari kakinya gemetar di bawah sana.
Bagaimana dengan uncle nya di sana, di hadapan begitu banyak pasang mata. Bahkan berhadapan langsung dengan daddy, penghulu dan para saksi pernikahan dari kedua belah pihak.
"Najwa," panggil Isyana dengan menyentuh tangannya.
"I-iya Kak," jawab Najwa terkesiap.
"Jangan tegang, Insya Allah semua akan lancar. Tangan mu sampai dingin begini," ucap Isyana menenangkan.
Najwa hanya mengangguk pelan, mata nya masih tetap menatap pada layar. Di mana, menampilkan saat-saat terpenting dan inti dari acara pada hari ini.
Andra mengucapkan ikrar itu dengan lancar dan fasih. Ketika tangan sang daddy menghentak tangannya. Ijab dan qobul terucap dengan baik dan sukses.
"Alhamdulillah!" Seru kedua wanita cantik itu serentak.
Tak terasa buliran kristal bening itu meluncur turun dari ujung matanya. Kini statusnya telah berubah karena pria yang di bawah sana telah sah menjadi imamnya di dunia.
"Uncle...," lirih Najwa menahan haru nya. Ia berusaha keras tidak mengeluarkan air mata. Agar make up nya tidak rusak. Kasian MUA nya bila nanti harus mengulang pekerjaan mereka.
"Selamat ya, kamu sudah sah menjadi seorang istri sekarang," ucap Isyana yang kemudian menghambur memeluk Najwa.
"Terima kasih Kak." Najwa pun membalas pelukan itu.
"Sebentar lagi, pasti kamu akan di suruh ke bawah," ucap Isyana lagi.
Kemudian..., dreettt.
__ADS_1
Isyana menggeser layar pada benda pipih di tangannya.
"Halo, Mau." sapa nya.
"Sayang, bawa adik ipar ku kemari ya. Kami semua menunggunya." titah Maulana dari seberang sana.
"Baik, suami ku." goda Isyana sambil terkekeh kecil.
Kemudian, ia menekan tombol merah.
"Ayo Kakak ipar, mereka sudah menunggu mu. Apalagi uncle ganteng, pasti sudah tidak sabar untuk melihat istri cantiknya ini," goda Isyana pada Najwa. Membuat wajah putihnya semakin merona.
"Kak Isyana, jangan panggil aku kakak ih," tolak Najwa dengan manja.
"Memang sudah begitu peraturannya sayang ku," gemas Isyana, ingin sekali ia mencubit pipi kemerahan itu.
"Tapi....,"
"Sudahlah, ayo kita ke Ballroom." Isyana pun menggandeng Najwa si pengantin wanita.
****
Di ruangan luas dengan dekorasi serba putih itu, seorang pria yang baru saja mengakhiri masa lajangnya. Tengah menyeka peluh yang sejak tadi membanjiri pelipisnya.
Nafasnya sudah bisa lega kini, karena tugas pertamanya dapat ia laksanakan dengan lancar. Bahkan, cukup hanya dengan satu tarikan nafas.
Kartika, berkali-kali mengusap pipi nya.
"Um, sudah dong ih. Malu itu sama besan. Kok malah makin kenceng sih," bujuk Maulana agar Kartika berhenti sesenggukan.
"Seandainya ... abuya ... masih ada...," ucapnya terbata-bata, menangis.
"Umma, gak boleh berandai-andai. Insya Allah, abuya sudah tenang di alamnya,"
"Terima kasih, sudah merawat kami sampai kini." Maulana, mengecup pelipis Kartika dari samping, merangkul erat.
"Terima kasih juga, sayang. Kalian adalah kebanggaan Umma, di dunia dan akhirat. Tetaplah di jalan yang lurus, berpeganglah pada iman mu dengan segenap jiwa raga. Apapun yang terjadi, jangan pernah menjual aqidah kalian demi dunia," pesan Kartika dalam, penuh makna.
Maulana semakin mengeratkan pelukannya, hingga kedatangan dua orang wanita mengalihkan dunia mereka.
"Masya Allah...," lirih Andra ketika Najwa telah berada di sampingnya. Mereka saling beradu pandang, hangat dan dalam.
Kemudian, Andra mengulurkan tangannya spontan. Membawa sosok wanita jelita di hadapannya agar mendekat.
Najwa meraih uluran tangan itu, hangat dan hati nya pun berdesir. Mencipta irama berdentum kuat di dadanya.
Apalagi, ketika tangan itu menempel di hidungnya. Hatinya menghangat seketika. Sedangkan Andra sendiri, tengah bersusah payah menahan gemetar pada kakinya.
__ADS_1
(Astaghfirullah, kaki ku lemas. Aih, tangan ku tolong jangan gemetar begini. Tolong, Ya Allah! Jantung ku seperti genderang perang.) Andra menjerit-jerit di dalam hatinya. Namum, wajahnya sebisa mungkin tetap tenang dan stay cool.
Mereka berdua, pasangan pengantin baru. Malu-malu dan saling melempar senyum di kulum.
Berpose dengan cincin di jari manis dan buku nikah.
Mendapat ucapan selamat dari para tamu yang hadir, tentu sesuai dengan kaidah.
Andra menjabat tangan seorang kawannya ketika kuliah dulu, bahkan Mr. Katsu hito dan Mr.Senkai menyempatkan hadir meski secara sembunyi-sembunyi dari para pemburu berita.
Sedangkan Najwa hanya menangkupkan kedua tangan di depan dada.
"Arigatō. Tōchaku-ji ni sā." (Terima Kasih.
Atas kedatangan tuan.) Najwa menundukkan kepalanya sedikit.
"Shiawase ni naru!" ( Berbahagialah) Mr Senkai, tersenyum. Menatap pasangan di hadapannya, kemudian menepuk bahu Andra, bangga.
"Anata wa totemo kōundesu!" (Anda, sangat beruntung!) bisik pria tua kharismatik itu, sang pemilik perusahaan raksasa robotik, di negeri Honda.
Andra, hanya tersenyum dan sedikit mengangguk.
"Dōzo, watashitachi no tabemono o tanoshinde kudasai." (Silahkan, Tuan menikmati sajian dari kami.) ucap Andra sopan, menjamu tamunya.
"Wakatta." ( Baiklah.)
" Watashi wa anata no tabemono o tameshite mimasu."(Akan kucoba makanan kalian.) jawab Mr. Senkai dengan senyum sumringah.
Kemudian, Hideo menghampiri mereka.
"Gomen...," ( Maaf...)
"Watashitachi no kangei ga anata o fukai ni sa serunara,"(Bila sambutan kami membuat Anda kurang nyaman,) ucap Hideo, tamu jauhnya itu.
"Watashi wa totemo shiawasedesu," ( Aku sangat senang,)
"Tabemashou!" ( Mari makan!) Mereka pun turun dari panggung, Hideo menggiring sang tamu kehormatan untuk di jamu di meja VVIP.
Andra dan Najwa kembali duduk, ketika selesai menyalami para tamu.
(Para readers mak chibi mana ya?) Najwa seperti memutar matanya kesana-kemari.
"Apa Najwa lelah?" tanya Andra lembut pada sosok cantik di sisinya itu. Ia sempat risih ketika para temannya kuliah dulu menatap lama pada istrinya itu.
Padahal mereka sedang membawa pasangan halal. Bahkan, ada yang juga yang sudah memiliki anak kecil.
Mereka semua memuji dan berdecak kagum padanya. Sebenarnya, Andra kurang nyaman dengan tatapan mereka.
__ADS_1
Inikah yang di namakan resiko memiliki istri yang muda dan cantik?
Bersambung>>>>