Mengasuh Calon Istri

Mengasuh Calon Istri
Siapa bayi itu sebenarnya?


__ADS_3

___🌻🌻🌻___


🍁Jeritan tangis melengking, merobek malam yang pekat.


Seketika nafas tercekat, mendulang kasihan pada nestapanya.


Sosok kecil tanpa daya, rapuh,lemah di sedikit usianya.


Kan ku beri takdir yang indah, agar dewasa, kau tak mengumpat dunia.


🍁


*******


"Bayi itu, harus dibelikan susu!" seru Kartika, kepada putranya yang baru saja meletakkan bokongnya di sofa.


"Karena, tidak mungkin, Umma memberikannya air tajin terus," ucap umma sambil menyeruput minuman sereal rasa vanilla.


"Air tajin? apaan tuh,Um?"tanya Andra dengan memajukan sedikit tubuhnya ke depan, ia yang sejak tadi penasaran dan ingin tahu, memasang telinganya dengan baik.


" Googling sana, Umma ngantuk!"elak Kartika dengan memasang wajah teler.


"Ck, kenapa gak Umma aja sih yang jelasin. Kadang gugel tuh gak konkrit, Um,"protes Andra.


Kartika menutup mulutnya yang menguap. " "Emang, ya, kamu gak punya perasaan!" gerutu umma.


"Nanti, Abang jelasin juga deh, gimana proses pertemuan sama itu bayik, biar Umma gak mikir yang aneh-aneh."nego Andra mencoba menahan umma yang hendak balik ke kamar.


Padahal dia sendiri pun sangat lelah dan ingin sekali menyentuh bantal empuknya.


Akan tetapi, ia harus terbuka dan menjelaskan semua nya kepada wanita cantik yang selalu percaya padanya.


"Ya Salam, ini anak!"gemasnya yang hendak berdiri, namun kini jadi duduk lagi.


" Ini udah jam berapa, Bang!" protesnya meskipun ia memang sangat penasaran.


"Setelah ini kita bobo cantik deh," ucap Andra dengan nyengir kudanya.


Kartika mengambil nafas sebentar, demi mengusir kantuk yang hampir menguasainya itu.


"Air tajin itu, adalah cairan berwarna putih yang muncul ketika beras mendidih. Makanya kamu lihat ada aron kan di panci," jelas umma.


"Tapi, kenapa yang barusan Umma kasih warnanya coklat muda?" tanya Andra dengan kerutan heran yang tercetak di keningnya.


"Itu, karena Umma kasih gula aren, biar ada manis-manisnya," tambah Kartika.


Andra masih menyimak dengan seksama.


"Karena mengandung partikel beras, air tajin pun mengandung karbobidrat. Sehingga bisa di berikan kepada bayi, sebagai pengganti susu.


Tapi, sebenarnya untuk bayi dengan usia di atas enam bulan."


"Woaahh, Umma hebat! punya pengetahuan kayak gitu, setidaknya pertolongan pertama buat bayi yang kelaparan." Andra memuji sang umma sambil bertepuk tangan pelan, terlihat dari raut wajahnya bahwa ia benar-benar kagum.


"Apa rasanya enak?" tanya Maulana yang tiba-tiba saja muncul.

__ADS_1


"Lho, kok kamu tinggalin bayi nya di kamar sendirian?" sergah umma kepada Maulana.


"Dia pules kok, Um. Lagian kan Adek juga penasaran, Abang nemuin bayi itu di mana?" jelas Maulana kemudian ikut duduk di sebelah umma.


"Kalian berdua juga pernah di kasih itu, sama nenek Emah. Namun, ini baru pertama kali Umma buat, makanya lama tadi. Soalnya gagal terus," tutur Kartika kepada kedua putranya.


"Pantesan, kok di wastafel banyak banget panci kotor," sungut Andra kemudian menghabiskan sisa minumannya. Rasa laparnya sudah sedikit terhempas.


Kartika lantas menutupi wajahnya dengan bagian bawah khimar nya, ketika mendapat tatapan tajam dan protes dari putra pertamanya itu. Di balik kain kerudung lebarnya Kartika tersenyum lucu.


"Ck, Umma nih." Maulana hanya bisa geleng-geleng kepala.


"Ya, kan, Umma cuma pernah liat sekali, ketika nenek Emah bikinin minuman itu buat Abang, dan itu udah lama banget, jadi wajar dong kalau lupa. Mana tadi panik pula di buatnya," elak Kartika.


"Sekarang, Abang ceritain dengan sejelas-jelasnya." Kartika menegakkan punggungnya, kemudian memasang telinga.


Begitu pun, Maulana, ia sudah memasang wajah seriusnya.


"Baiklah, jadi begini ceritanya....,"


________


Sementara itu di sebuah rumah sakit.


"Wanita ini sudah kehilangan banyak darahnya, Dok."


"Tekanan darahnya sangat rendah, saturasi oksigennya pun demikian," jelas seorang Ners(panggilan untuk perawat perempuan/laki-laki) yang mengenakan atribut sesuai protokoler ruang operasi.


Kepanikan di sebuah ruang tindakan itu pun tak terelakkan lagi.


Aroma khas desinfektan, yang identik dengan ruangan yang serba steril itu mengusik indera penciuman.



"Bagaimana dengan denyut nadi dan jantungnya?"


"Berapa lama ia tidak sadarkan diri?" tanya seorang pria yang bertugas sebagai dokter bedah. Dengan jubah hijau,penutup kepala dan masker, ia terus memperhatikan wajah pucat pasi yang terbaring di atas brangkar ruang operasi.


"Denyut nadinya lemah, Dok."


"Pasien telah kehilangan banyak darah."


"Menurut data, pasien tidak sadarkan diri sejak satu jam yang lalu."


"Sedangkan hasil rontgen menunjukkan, bahwa peluru itu itu sudah menembus terlalu dalam , hingga menyerempet ke jantung." jelas Ners itu lagi lebih rinci.


"Siapkan transfusi segera, hentikan pendarahannya!"


"Detak nadi pasien semakin melemah, Dok!"


" Jantung pasien mengalami kebocoran!" seru kepanikan seorang Ners yang memeriksa beberapa monitor, untuk mendeteksi fungsi alat-alat vital pada pasien.


"Siapkan anastesi sekarang! Kita tidak memiliki waktu banyak!" seru sang dokter kepala yang memimpin operasi kali ini, kepada dokter anastesi.


Karena ada sejumlah tim medis yang terlibat,yang terdiri dari dokter bedah,dokter anastesi,perawat bedah,perawat anastesi dan masing-masing membawa seorang asisten bahkan lebih. Bisa di bayangkan ketegangan yang sedang terjadi, hingga semua terlihat sibuk dengan bagiannya masing-masing.

__ADS_1



Sementara itu di luar ruangan operasi, terlihat seorang pemuda sederhana.


Sweater rajut nya yang berwarna cream, telah di penuhi bercak darah, dari seorang wanita yang tidaklah di kenalnya. Di mana wanita itu, kini sedang berjuang antara hidup dan mati, di ruang operasi.


Wajahnya terlihat lelah, dan bingung.Pihak rumah sakit telah menghubungi kepolisian, karena wanita itu adalah korban tindakan kriminal.


Kalau tidak begitu, ia juga tidak akan mampu membiayai operasinya yang sangat mahal.


Dengan begini maka yang membiayainya adalah bagian dinas sosial.


Bahkan,wanita itu teh,tidak memiliki identitas sama sekali, besar kemungkinan ia teh di rampok. Kejadiannya,meni mirip kayak yang menimpa teh Sulis lima tahun yang lalu. Bedanya teh Sulis di bacok sampai kehabisan darah, karena terlambat mendapat pertolongan.Malahan, usianya teh kayak seumuran sama teh Sulis jikalau masih hidup.


"Semoga,kau selamat! Semoga polisi teh dapat segera menemukan keluargamu!


Ujang cuma bisa nolong sampai sini aja!"


Pemuda itu terlihat mengusap wajahnya pelan.


Kemudian ia terlihat mengambil ponsel di dalam saku celananya.


"Hallo, Mang! Kumaha?"(kumaha\=gimana)


"(........)


" Syukurlah kalau sudah ketemu."


"(........)


" Nya', Mang."


"Pinjemin, Ujang kaos nya' ka kang Ical."


"(......)


" Nuhun, Mang."


Pemuda itu pun mengakhiri panggilan melalui ponselnya.


_______


"Ternyata, hari Abang berat juga," lirih umma prihatin terhadap nasib yang menimpa putra pertamanya hari ini.


Ekspresi Kartika berubah sendu setelah mendengar cerita dari Andra.


"Kenapa gak lapor polisi aja si, Bang?" tanya Maulana polos.


"Sepertinya, dia bukan bayi sembarangan, karena Adek menemukan ini di dalam bedongnya," ujar Maulana seraya menunjukkan sebuah kalung mas putih dengan bandul berlian sebesar kelereng.


"Allahu Akbar!"


Kartika dan Andra memekik berbarengan.


"Adek, juga nemuin gulungan kertas kayak gini. Nih." Maulana menyerahkan apa yang ia temukan kepada umma Kartika.

__ADS_1


__ADS_2