
🌼🌼🌼🌼🌼🌼
Lamborgini hitam metalik yang membawa Hideo dan Ameera, berjalan lambat dan hati-hati. Karena sepanjang jalan raya telah terlapisi oleh salju tipis.
Wanita berkerudung yang tidak lepas dari dekapan suami posesif nya itu, begitu menikmati perjalanan nya.
Mata nya terus berbinar melihat sisi jalan yang di dominasi warna putih.
Beberapa boneka salju juga sempat ia lihat di beberapa halaman rumah warga.
Suasana, yang biasanya hanya bisa di lihatnya di televisi atau gadget.
Sebenarnya, Ameera hanya sedang berusaha mengurai ketegangan dalam dirinya. Dan, Hideo faham betul apa yang sedang di rasakan oleh sang istri.
Meskipun, Ameera berusaha menutupinya dengan senyum manis menggoda.
Kendati keluarga besar Matsumata tidak tahu-menahu, latar belakang dan masa lalu nya. Lantaran, Hideo telah menutup aib itu dengan rapat.
Ameera tetap was-was, pasalnya seluruh keluarga besar Hideo adalah penganut agama asli dari negara tersebut.
Dan, beberapa dari mereka sempat menyesali keputusan Hideo menjadi muallaf. Ameera, hanya takut mereka membenci nya dan tak menyukai kehadirannya.
Bukankah, itu perasaan yang wajar ia gusarkan?
Sejak lelaki itu menikah dengan nya, dan menerima tentangan dari beberapa keluarga ayahnya.
Hideo, tak pernah lagi menginjakkan kaki di kampung halamannya. Hanya, keluarga dari ibunya yang selama ini mendukung setiap keputusan nya.
Roda hitam dari kendaraan mewah itu berdecit perlahan, hingga akhirnya keempat roda itu berhenti berputar. Pertanda, bahwa mereka telah sampai di tempat tujuan.
Hideo, melepas rangkulannya pada Ameera. Memasangkan jaket tebal dengan penutup kepala pada wanita nya.
Kini, jemari yang telah tertutup sarung tangan itu saling menggenggam. Beberapa pria berjaket tebal hitam, telah membukakan pintu mobil, dan beberapa dari mereka telah siap mengangkat barang-barang bawaan, sepasang suami- istri itu.
Udara yang dingin di luar, dengan suhu minus dua puluh derajat. Membuat, uap panas terlihat setiap kali mereka membuang nafas.
Hideo, terdiam sejenak, mengeratkan genggaman pada jemari lentik yang telah terbungkus sarung dari benang wol itu.
Ameera, menatap penuh takjub bangunan megah di hadapannya.
Meskipun, tempat tinggal yang di berikan Hideo juga mewah hanya saja arsitekturnya terlihat berbeda dan berkesan.
Mereka pun masuk dengan berjalan bergandengan.
Di sambut dengan beberapa pelayan yang membungkuk ketika sampai di ruang tamu. Hideo dan Ameera membalas penghormatan mereka dengan sekadarnya saja.
Kemudian, membuka boots, sarung tangan serta mantel mereka. Yang kemudian di ambil alih oleh para pelayan berseragam senada itu. Mengganti alas kaki mereka dengan sandal khusus rumahan.
Seorang pria berseragam hitam terlihat menghampiri seorang pria tua yang tengah duduk di sisi ranjang.
__ADS_1
Membisikkan sesuatu, hingga senyum tipis tercetak samar di wajahnya yang telah terdapat beberapa garis penuaan.
Pria tua itu memberi kode pada penjaga, agar tamu nya langsung masuk saja.
"Chichiyo, anata no mago wa ie ni imasu," (Ayah, cucu mu sudah pulang,)
"Kare no tsuma o tsurete ki nasai. Kōgō no yō ni yūga ni," (Membawa istrinya. Yang anggun bak permaisuri,)
"Okiru," ( Bangunlah,)
"Mitakunai, desu ka?" ( Bukankah, Ayah ingin melihat mereka?)
"Jissai, watashi wa kyōmigārimasu," ( Bahkan, aku pun penasaran,) bisik pria tua itu, di samping kepala seorang kakek yang tengah terbaring lemah. Dengan, beberapa selang yang menempel di tubuhnya.
Di lain tempat.
Andra meraih ponsel pintarnya di dalam mantel, ketika ia merasa benda pipih itu terus bergetar. Ternyata, ia mendapat email dari Mr. Katsuhiko.
Mereka yang baru saja tiba di rumah, segera melepas atribut khas musim dingin, yang melekat erat seharian di tubuh mereka.
"Umma, mau buat coklat panas. Siapa yang mau?" tanya Kartika.
"Sepertinya, Uncle mau keluar lagi," Najwa, malah mengomentari Andra yang belum membuka mantelnya.
Najwa mendengus, melihat lelaki itu tak menggubris kata-katanya. Karena, Andra begitu serius dengan benda pipih di tangannya itu.
"Apa, ada masalah?" tanya Kartika menghampiri sang putra seraya menepuk bahu nya pelan. Baru, Andra akhirnya menoleh.
"Ini hanya, Mr. Katsuhiko yang mengirimkan email. Bahwa malam ini, Mr. Senkai beserta jajarannya akan menjenguk tuan Matsumata, sekaligus menyambut kepulangan sang pewaris,"
" Ini, berhubungan dengan penelitian yang sedang aku lakukan, bersama dengan tim ilmuwan lainnya,"
" Karena, yayasan tuan Matsumata telah mendanai project, pembuatan robot mekanik pengganti kaki dan tangan, yang dapat bergerak sesuai perintah dari sel-sel otak," jelas Andra membuat dua pasang bola mata yang cantik membola.
Andra hanya terkekeh kecil.
"Jika, projects ini berhasil. Maka tuan Matsumata akan mengamputasi kedua tangannya, yang sudah tidak berfungsi lagi karena penyakitnya," tambah nya lagi.
"Jadi, ini yang membuat Abang sibuk dan jarang pulang," ucap Kartika sambil manggut-manggut.
"Maaf, ya, Umma ku sayang," sesalnya, dengan sedikit meringis dan menggaruk tengkuk.
Andra mendekati gadis kecilnya yang tengah memberengut.
"Baiklah, Uncle akan tinggal sebentar lagi,"
" Setelah, asar baru Uncle pergi," janjinya pada gadis kecil yang telah di asuhnya sejak bayi.
Najwa pun kembali mengembangkan senyumnya.
__ADS_1
Kemudian, ia membantu Andra melepas semua atribut musim dinginnya. Dari mulai melepas sarung tangan, mantel, boots serta penutup kepala. Meletakkannya di tempat khusus di pojokan ruang tamu.
Kartika, memicingkan matanya hingga menimbulkan garis di keningnya.
Karena, perlakuan Najwa seperti perhatian layaknya seorang pasangan.
Kartika berusaha menepis pikiran yang iya-iya.
Ia, akhirnya meninggalkan putra kandung dan putri asuhnya itu. Meneruskan niatnya yang ingin membuat minuman untuk menghangatkan tubuhnya.
"Apa, Uncle tidak lelah ?" tanya Najwa pada Andra, kini mereka berjalan beriringan masuk ke dalam rumah.
"Tentu saja, lelah.Tetapi, karena ini sudah menjadi tuntutan dan sebagian dari tanggung jawab, Uncle tidak boleh mengeluh," jelas Andra sambil menghidupkan pemanas ruangan.Mereka kini duduk berhadapan di atas lantai yang beralaskan karpet tebal, terpisah sebuah meja berbentuk persegi panjang.
" Aku kangen jadi makmumnya, Uncle,"
"Rindu, mendengar suara Uncle saat sedang membaca ayat-ayat Allah," ucap Najwa sambil memangku dagu nya dengan kedua tangan, wajahnya menatap lekat pada sosok rupawan yang sebulan terakhir ini sangatlah sibuk.
"Maafin, Uncle ya." Andra berkata sambil menarik hidung mancung nya Najwa.
Kemudian, Kartika datang membawa nampan beserta tiga mug coklat panas di atasnya.
Selesai menghangatkan tubuh, mereka pun bersiap membersihkan diri untuk melaksanakan sholat asar berjama'ah.
Andra sudah siap berangkat, mungkin akan ada pembahasan panjang lebar yang akan membuatnya pulang larut malam.
Berat hati nya, meninggalkan dua wanita yang sangat berarti di dalam hidupnya itu. Meski pun daerah tempat tinggal mereka aman sebenarnya. Karena, akan ada polisi yang berpatroli sepanjang malam.
Najwa, mengantar Andra sampai ke pintu.
"Sesibuk apapun, Uncle jangan sampai lupa makan ya,"
"Kalo soal solat, Uncle pasti ingat. Jadi, aku gak perlu ingetin lagi," pesan Najwa beruntun.
"Iya, Najwa bawel," ledeknya sambil terkekeh kecil.
Najwa memasang kan topi dan penutup telinga pada Andra. Kemudian mengalungkan kedua tangannya ke leher lelaki yang sedang merunduk itu.
Dan, cup!
"Najwa, Uncle kan sudah bilang. Jangan pernah seperti itu lagi!" Andra seketika menegakkan tubuhnya. Wajahnya memanas atas perlakuan gadis kecilnya itu.
Najwa terkesiap, tatkala mendengar nada yang sedikit tinggi dan gerakan reflek dari uncle nya.
Nafasnya naik turun, karena kaget.
Bersambung>>>
Terus dukung mak ya biar novel ini cepet kontrak dapet level, jadi mak semangat buat dobel up.🥳🥳
__ADS_1
Mohon di bantu yakk...biar level nya naek gtu lohh🙈🙈🤩