
πΈπΈπΈπΈπΈπΈ
Andra dan Najwa yang sekian lama tak bertemu tampak menahan diri dari saling menatap. Mereka berdua, masing-masing telah faham hukum zina pandangan.
Hanya mampu merasakan desiran hangat di dalam hati masing-masing. Memerangkap rindu hingga, kata halal nanti terucap untuk mereka berdua. Sabar, tidak akan lama lagi.
"Bagaimana, sayang? Apa kau yakin menerima pinangan dari uncle mu ini?" tanya Hideo sedikit menggoda sang putri.
"Mak-maksud Daddy, apa?" ucap Najwa terbata karena kaget dan tak faham maksud dari Hideo.
Bahkan, Andra pun ikut memasang telinga dan tatapannya.
"Yah, mungkin saja kau lupa usia Uncle mu itu...," ujar Hideo, mengulik lebih dalam perasaan sang putri.
"Najwa tidak mungkin lupa, usia kami memang terpaut jauh Daddy. Bahkan, ketika aku di timang olehnya, Uncle Andra sudah baligh. Tapi, itu tak masalah untukku. Seperti Uncle, yang tak mempermasalahkan usia ku yang masih bau kencur ini," tutur Najwa membuat semua orang di sana menahan senyumnya.
"Sedangkan di luar sana, pasti yang mengajukan untuk menjadi calon istri nya lebih dari pada Najwa. Dari segi usia, dan pola pikir," tutur Najwa lagi.
Hideo tersenyum puas, ternyata mereka kompak menyimpan rasa sama besar nya.
"Baguslah, sebaiknya kita makan sekarang setelahnya baru kita bahas tanggal pernikahan kalian berdua," titah Hideo, kemudian beranjak berdiri. Serta mempersilakan para tamu nya untuk ke ruang makan.
******
Setelah melewati rasa canggung yang luar biasa di meja makan. Kedua orang yang saling merindu dalam diam itu, sesekali mencuri pandang sambil menyuap makan.
Senyum, pun merekah malu-malu. Hati laksana di gelitik oleh ribuan sayap kupu-kupu.
Waktu dan tempat telah di tentukan, dengan kuasa dan relasi yang luas. Maka dua pekan lagi pernikahan antara dua insan beda usia itu akan di laksanakan.
"Uncle pulang dulu ya, selamat istirahat. Jaga kesehatan kamu," ucap Andra pada Najwa, dengan di temani oleh Kartika.
"Jangan lagi mikirin Uncle, oke." katanya sambil tersenyum kemudian menyugar rambutnya.
"Gak salah ya, paling Uncle yang mikirin aku," ledek Najwa kemudian menutup mulutnya menahan tawa.
__ADS_1
Padahal, hatinya deg-deg ser berbicara dengan pria yang lama tak di lihat batang hidungnya itu. Pria yang selama empat belas hari ke depan akan menjadi imam dan pasangan halalnya.
Andra pun menggaruk tengkuknya kikuk, ia mati kutu. Karena kata-kata Najwa benar adanya.
"Sudah ya sayang, kita pulang dulu. Persiapkan dirimu dengan baik," pamit Kartika kemudian mengecup kening Najwa.
*****
Penentuan waktu, telah berdasarkan pemikiran yang matang serta menyesuaikan dengan kaidah agama islam. Di mana lebih cepat menghalalkan pasangan yang sudah siap lahir batin, karena itu lah yang terbaik bagi kedua insan yang tengah jatuh cinta itu.
Pernikahan yang sederhana, walimatul ursy' yang hanya akan di hadiri oleh kerabat dan rekanan bisnis saja. Bahkan, Kartika hanya mengundang beberapa karyawannya di kota B.
Andra, yang sempat menghilang karena melindungi bayi Najwa kala itu, telah kehilangan semua nomer kontak kawan masa sekolahnya. Hanya, ada beberapa kawannya di kota B, dimana dulu ia menjadi salah satu mahasiswa di ITB.
Entah dari mana kabar pernikahan nya terkuak, hingga keluarga dari mendiang sang abuya mendatangi Kartika.
"Kartika, tolong maafkan kami. Ayah dan Ibu sudah tiada. Saya sebagai Kakak tertua mendiang Syafiq ingin kembali menjalin silaturahim dengan kalian," tutur dari kakak perempuan tertua mendiang Syafiq El Barack.
Kala itu mereka menemui Kartika di sebuah kafe, di temani oleh Isyana, Andra dan juga Maulana.
"Perihal masa lalu, lupakan saja. Semoga silaturahim ini membawa keberkahan untuk kita semua," ujar Kartika, dengan nada tenang.
"Terimakasih, Kartika. Kau sungguh mempunyai hati yang lapang. Kau pun sangat hebat, bisa menghidupi kedua putra mu sendirian, hingga mereka berhasil dan sukses seperti sekarang," puji sang kakak ipar, sambil menatap dan tersenyum pada kedua ponakannya bergantian.
"Bukan aku yang hebat Kak Marwah. Semua ini karena kuasa dan kehendak Allah, serta curahan rahmat dan kasih sayangnya.
Karena Allah membimbingku, menemaniku, sehingga aku bisa kuat menapaki takdir hidup,"
"Karena di saat semua orang meninggalkan kami bertiga kala itu, Allah lah yang selalu bersama kami," terang Kartika.
Perempuan tua yang bernama Marwah itu menunduk penuh penyesalan, ia malu pada dirinya sendiri.
"Sebenarnya, aku bisa menemukan kalian karena kedua cucuku adalah anak yayasan dari rumah yatim dan dhuafa milik Najwa. Bahkan, kami tau kabar pernikahan kalian dari ketua yayasan,"
Ternyata, calon nya adalah keponakanku Andra, anak mendiang Syafiq adikku," lirih Marwah, terlihat ia mengusap sudut matanya.
__ADS_1
"Masya Allah, Bik. Ketentuan dan kehendak Allah lah, hingga semua ini terjadi," sahut Andra, kebetulan yang tidak di sangka.
Setahunya, bik Marwah sangat kaya. Bagaimana bisa kedua cucunya masuk yayasan Najwa.
"Kalian pasangan yang serasi, kau hebat dan Najwa pun luar biasa di usia muda nya. Beliau seorang hafidzah dan juga pendonor yang dermawan. Seandainya, Allah tidak mempertemukan Bibik dengannya, mungkin kedua cucuku tidak bisa bersekolah," jelas Marwah, kali ini ia tak dapat menahan derai air matanya.
Mungkin penyesalan atas masa lalu dan rasa syukurnya akan masa depan, telah berbaur menjadi satu.
"Bik, antar kan kami ke makam kakek dan nenek,"
"Mau, ingin mendoakan mereka," pinta Maulana.
"Baiklah, mari." Marwah yang di tuntun oleh anak bungsunya, karena menderita osteoporosis pada kakinya. Seorang anak lelaki berusia sekitar 25 tahun itu, tak sedikit pun menoleh pada kedua sepupunya itu. Karena sejak kecil ia tidak mengenal keduanya. Namun, ia tau bagaimana Ibunya mengajarkan kesombongan pada nya saat itu. Karena nya, ia pun malu dan tau diri.
"Bibik, kesini naik apa?" tanya Andra, yang membantu menuntun Marwah.
"Bibik naik motornya, Ishaq." tunjuk nya, pada anak bungsunya yang hanya bisa menunduk malu.
"Kalau begitu, biar Bibik ikut Andra dan Umma saja," pinta Andra, karena ia faham keadaan sang bibik. Pasti akan sangat sakit dan sengsara bila naik motor sementara untuk jalan saja susah.
"O ya Bik, nanti Andra bawa berobat ya ke dokter ortopedi kenalan ku,"
"Kalau bisa di obati alhamdulillah, kalaupun tidak nanti Andra kirim alat bantu. Agar Bibik bisa berjalan lebih baik," tawar Andra, membuat sepasang mata sendu di wajah tua itu berbinar. Kemudian Marwah merangkul Andra dengan erat.
"Maafkan, Bibik. Maafkan...," isak Marwah di dalam pelukan Andra.
Kini mereka telah berada di sebuah pemakaman elit. Di mana kedua orang tua mendiang Syafiq El Barack di kebumikan.
Kartika, sempat menghela nafasnya. Tatkala ia mengingat mendiang suaminya, yang hanya mampu ia makamkan di pemakaman umum.
(Sadarlah, Kartika. Bukan perihal dimana kau di kebumikan, namun bagaimana amal mu selagi di dunia.) Monolog Kartika di dalam hatinya.
Karena, sebagus apapun makam mu tak berarti bagus untuk alam kubur mu, begitupun sebaliknya.
Seburuk-buruknya tempatmu berkalang tanah, apabila amal mu banyak maka akan di jadikan laksana taman surga oleh Allah. Itulah yang di namakan roudoh min riyadil jannah.
__ADS_1
Bersambung>>>>>