Mengasuh Calon Istri

Mengasuh Calon Istri
Ojisan( Paman)


__ADS_3

🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼


Beberapa hari telah berlalu, hubungan Najwa dengan kedua orang tua nya semakin dekat. Najwa, bahkan sering mengunjungi mereka begitu pun sebaliknya. Kartika dan Ameera semakin akrab, mereka seringkali berdiskusi tentang agama islam.


Andra dan Hideo sempat beberapa kali bertemu, akan tetapi baru sore kemarin mereka berbicara banyak. Obrolan yang menyisakan sebuah rasa sesak di sudut hati pemuda gagah dan rupawan ini.


Bukankah seharusnya ia lega dan bahagia?


Tentu, hanya saja perpisahan itu yang memberatkan sisi egois nya.


Bahkan, ucapan lelaki paruh baya itu terngiang-ngiang di kepalanya.


"El Barack-san," panggil Hideo sambil mendekati Andra. Sore itu mereka berada di taman belakang rumah Kartika. Mereka baru saja selesai bakar-bakar atau yang biasa di sebut barbeque.


"Panggil saja saya Andra, Mr." sahut Andra sopan.


"Baiklah, kalau begitu. Kamu juga bisa panggil saya Ojisan(paman) atau Daddy seperti Najwa," titah Hideo, dengan senyum.


"Mm, baiklah. Ojisan." ucap Andra sedikit sungkan. Pasalnya, lelaki ini adalah cucu dari kliennya.


Hideo, mendekati Andra dan memegang bahu pria berwajah bayi itu penuh perasaan. Sepasang mata sipitnya menatap dalam kedua mata hitam legam Andra.


"Aku tidak tau harus mengucapkan apa padamu, karena ucapan terima kasih saja tidak akan cukup bagi seluruh perjuangan mu dan juga pengorbanan. Kau, bukan sekedar pahlawan, namun lebih dari malaikat penolong bagi keluarga kami."


"Budi baik dari keluarga kalian, terkhusus dirimu..., tidak akan bisa ku bayar dengan apapun. Meski, dengan nyawa tidak berhargaku ini."


"Namun, aku berjanji. Akan melakukan apapun untuk kalian. Akan aku kabulkan apapun permintaan mu, asal jangan meminta Najwa jauh lagi dari kami, ku mohon," tutur Hideo, hingga ia menundukkan kepalanya saat mengucapkan kata-kata terakhirnya.


"Izinkan kami, yang menggantikan tugas mu saat ini.


Izinkan kami, melaksanakan tugas selayaknya orang tua bagi anaknya.


" Izinkan aku, untuk melindungi Najwa mulai saat ini," tambahnya lagi.


"Aku berjanji, tidak akan pernah menyisihkan tempat mu di sudut hatinya," lanjut Hideo, yang pada akhirnya mengusap sudut matanya yang berair. Akhirnya, ia menyerah untuk menahan derai harunya.


Ia menangis di hadapan laki-laki muda yang tengah menatapnya dengan penuh haru juga.


Bagaimanapun, Hideo lebih berhak di banding dirinya. Yang sama sekali tidak memiliki hubungan apapun terhadap Najwa. Kecuali, ikatan tak tertulis dan tak terlihat, yang terbentuk hanya karena terbiasa bersama dan ketergantungan antara satu sama lain.

__ADS_1


Dimana hubungan yang tercipta karena kebersamaan itu, telah berubah seiring waktu. Dan, menciptakan sebuah rasa yang ternyata telah mengikat hati mereka lebih dalam lagi.


"Dia milikmu, Ojisan. Milik kalian," sahut Andra pada akhirnya. Seberat apapun hati nya, ia harus menerima kenyataan dan merelakan.


(Akan tetapi, aku akan memintanya padamu untuk menjadi milikku suatu saat nanti.)


Namun, kalimat itu hanya mampu di telan nya kembali.


Ingatan itu terus berputar, meskipun sepasang matanya kini terlihat sedang memperhatikan sebuah design robot baru di laptopnya. Padahal, pikirannya sedang tak berada di tempat itu, melainkan melayang terbang jauh pada kejadian yang akan datang beberapa hari ke depan.


Andra memutuskan untuk mematikan laptopnya, dan keluar sebentar. Ia butuh udara segar, untuk menerima kenyataan.


Ia menaiki lift kemudian beralih ke tangga darurat menuju roof top dari gedung berlantai 40 tersebut.


Langit sudah berselimut gelap, hanya beberapa bintang terlihat berkerlip. Menyaingi gemerlap pijar lampu di kota yang tak pernah tidur.


Embusan angin menerpa poni dari pemuda berwajah imut itu. Wajah baby face dan gayanya yang cool, selalu membuat nya di kejar wanita dari mulai sekolah menengah hingga universitas.


Padahal, ia selalu bersikap dingin dan menutup diri. Teruntuk manusia berjenis kelamin perempuan, maka Andra akan selalu menjaga jaraknya. Meskipun ia terkenal mudah bergaul dengan siapa saja.


Andra, di usinya yang hampir kepala tiga, ketika beberapa kawannya telah beberapa kali menyebar undangan padanya. Bahkan, beberapa kali rekan kerja bahkan atasannya berniat mengenalkannya, menjodohkannya.


Otomatis, pemuda ini.... Ah,ia bahkan sudah pantas di sebut pria bukan?


Ya, pria ini akan menolak secara halus, serta tegas bila sekiranya ada yang sedikit memaksa.


Apakah ia pemilih?


Tentu saja. Mencari teman hidup dan pendamping tidak boleh asal bukan?


Asal cantik, asal pintar, asal kaya dan asal cinta. No!


Tidak begitu rumusnya, meski agamanya membolehkan menilai calon istri dalam hal tersebut.


Namun, kriteria yang benar adalah seiman dan mengerti batasannya. Bagaimana ilmu islamnya, bagaimana pemikirannya dalam pemahaman yang harus sesuai dan sejalan dengan islam.


Andra belum menemukannya, meskipun ia juga tergabung dalam komunitas muslim di negara ini. Belum ada, satu perempuan pun yang mampu menggetarkan hatinya.


Apa karena seluruh waktunya telah di habiskan untuk mengejar cita-citanya? Tentu tidak!

__ADS_1


Sudah pasti ada waktu, di mana ia bergaul, mendalami agamanya, serta menjalin ukhuwah dengan sesama muslim.


Hanya saja, di mata, hati dan isi kepalanya hanya ada satu paras, satu nama dan satu tawa. Yang sejak malam itu telah mengambil tempat di salah satu bagian hati nya.


Membuat beberapa hari ini, ia kehilangan konsentrasi nya. Memikirkan berjauhan dengannya saja sudah membuat dadanya sesak. Mood nya berantakan, dan emosinya turun naik.


Andra menghembuskan nafas kasar. Ternyata, angin malam yang dingin belum mampu membuat sejuk otak panasnya.


Kita abaikan Andra yang sedang resah dalam gelisah. Karena di sebuah kamar, tepat di depan jendela yang terbuka. Seorang gadis sedang termenung di dalam renungan nya.


(Aih, gak takut kesambet kamu neng?)


(Gak dong, kan Najwa sambil dzikir tuh.)


Akhirnya, masa yang sangat ia nantikan itu datang juga. Ketika Allah mempertemukan dirinya dengan kedua orang tua kandungnya. Hingga, jelasnya asal muasalnya.


Namun,sekaligus menjadi hal yang paling di takutkan nya. Karena dengan ini semua, maka ia harus rela meninggalkan keluarga yang telah membesarkannya.


Meninggalkan seseorang yang telah menyelamatkan nya. Seseorang yang telah menemaninya sejak ia belum bisa melakukan apapun.


Memberi pengasuhan terbaik, selalu ada untuknya. Hingga, dia tak memiliki waktu luang untuk bersenang-senang.


Karena sosoknya lah, Najwa tak pernah kehilangan peranan seorang ayah. Meski terkadang, dia juga bisa menjadi kawan yang luar biasa untuknya. Mencurahkan segala yang ia rasa. Tempat nya mengadu, di kala keluh dan kesah mengganggu hati nya.


Bahkan, hanya pelukannya yang mampu menurunkan demamnya ketika ia kecil. Hanya genggaman dari tangannya, yang mampu menenangkan tidurnya. Dari mimpi buruk yang mulai menghantuinya sejak empat tahun yang lalu.


Dipandanginya langit malam yang gelap itu, arakan awan hitam menutupi beberapa bintang yang sejak tadi, seakan mengerling genit menggodanya.


Embusan angin dingin menerpa wajah dengan pipi kemerahan itu. Membuat anak rambutnya berantakan menutupi paras jelitanya.


Hingga,seorang wanita paruh baya masuk ke dalam kamarnya lalu menyentuh lembut bahunya.


Najwa sontak menoleh, bibir merah jambu nya seketika mencipta lengkungan sabit yang menggemaskan.


"Kebiasaan, udah malem juga. Nanti, kamu bisa masuk angin lho!" ujar Kartika sambil mencubit gemas salah satu pipi Najwa.


...Ayo, ayo......


...Like nya jangan lupa ya...πŸ˜‰...

__ADS_1


Bersambung>>>>>


__ADS_2