Mengasuh Calon Istri

Mengasuh Calon Istri
Aku bukan pedofil kan?(Andra)


__ADS_3

🌼🌼🌼🌼🌼🌼


Grepp...


"Allahu Akbar...!"


"Siapa ini!" gadis itu memekik kaget, ia memegang kedua tangan yang menghalangi penglihatannya. Namun sejurus kemudian ia mulai menyadari, siapa yang sedang bermain-main dengannya saat ini.


(Hem, mau ngerjain aku nih?)


Najwa, terkekeh di dalam hatinya.


Senyum, jahil pun kini tercetak di wajah berparas jelita itu.


Andra, hanya terkekeh tanpa suara di belakang, tanpa ia sadari sesuatu terulur ke depan perutnya.


Cwiiitt...


"Auwww!" pekik Andra mengaduh, sambil mengusap perut ratanya yang berbalut kaus tipis.


"Tega banget sih, sama Uncle...," lirih Andra.


"Lagian, siapa suruh ngagetin," omel gadis bermata bulat itu, ketika posisi mereka telah berhadapan.


"Untung aku tau kalo itu, Uncle,"


"Kalo, enggak. Udah aku kasih jurus sikut naga ku," tambahnya, sambil mendelik lucu.


"Sakit tauk," rajuk Andra.


"Cengeng!" seru Najwa, kemudian mengeluarkan lidahnya.


"Ya ampun, jeleknya. Hahaha...!" goda lelaki yang semakin terlihat dewasa itu.


Yang masih setia dengan status lajangnya, meski banyak wanita cantik dan pintar yang mengejarnya.


Bahkan, seorang komisaris di perusahaan sengaja melamarnya, demi anak gadis satu-satunya.


Entah kenapa, dirinya tak ada hasrat sama sekali. Belum ada sosok wanita, yang mampu menggetarkan hatinya hingga saat ini.


Bukannya, karena susah mencari yang seiman. Di negara ini, penganut agama islam sudah banyak dan terbuka.


"Ish, jail dasar!"


"Biarin!"


" Nyebellin!"


"Tapi ngangenin!"


"Enggak!"


"Enggak salah lagi!"


"Ihh... Sok tau!"


"Tahu dong masa tempe!"


" Ck, bisa diem gak?"


" Eng...gak... tuh,"


Najwa, melengos cepat membuat rambut ikal yang tergerai, ikut melambai seiring gerakannya.


Andra meringis, ia menarik kembali tangannya yang hendak terulur.


Mungkin, sudah saatnya ia menjaga batasan dengan Najwa.


Karena ,gadis kecil nya sebentar lagi akan menjadi gadis belia. Dan, ia harus ekstra menjaga dan melindunginya.


Karena, Najwa memiliki sejuta pesona. Pesona, yang bahkan sudah nampak sejak ia masih bayi.


Dan kini, aura keremajaan yang bagai bunga mekar di musim semi hari pertama. Begitu segar dan merona dengan daya pikat yang luar biasa.


Entah, beberapa tahun lagi. Mungkin, ia akan menjelma menjadi seorang putri bak negeri dongeng.


Sikap posesif Andra, mulai mengeluarkan sistem alarm sensor visual. Akan banyak mata lelaki di luar sana yang akan terkagum dan terbius dengan pesona gadis kecil nya ini.


Andra tersenyum jenaka, ia memang selalu semangat bila sudah membuat gadis kecil ini kesal.


"Cie, ngambek lagi?"

__ADS_1


"Siapa?"


"Tuh, si pilo,"


"Tauk ah, ngeledek mulu!"


" Cie, merajuk!"


" Pergi, sana!"


" Yakin?"


"(Gumam-gumam gak jelas)"


" Ah, masa?"


" Ish,"


" Ya udah, babay!"


" Iiihh...,"


Akhirnya gadis itu berbalik dan tanpa di sangka, ia malah menubruk Andra. Posisi Andra yang setengah berjongkok, membuatnya tak siap dan limbung.


Hingga, ia terjengkang kebelakang dengan posisi Najwa yang berada di atas tubuhnya. Kedua jidat yang beradu membuat mereka mengaduh secara bersamaan.


Dug!


"Addoooww...!"


"Dua kali sakit, huwaaaa...!" Andra pura-pura menangis sambil memegangi keningnya.


"Aku juga sakit tauk," dalih Najwa yang posisinya belum berubah.


"Uncle yang lebih sakit, huuhuuu...," Andra semakin gencar melakukan perannya. Sifat jahilnya sedang"on" saat ini.


"Udah di cubit, di tubruk, di antuk, di tibanin juga, adooohhh!" Andra terus merengek macam bocah. (Dasar kurang kerjaan)


Najwa, yang baru sadar kalau posisinya telah memberatkan uncle nya, buru-buru turun dan memeriksa kening Andra.


" Maaf deh, sini aku liat." Ia mendekati Andra yang masih berbaring dan memegangi keningnya.


Najwa, hendak menyingkirkan tangan Andra yang menutupi jidat mulusnya itu.


(Kumat kan jantung ku, Ya Allah...!)


(Kenapa, hanya dekat dengannya yang membuat jantungku berdentum bak akan meledak?)


(Apa, aku sudah tidak normal?)


(Aku, bukan pedofil kan?)


Batin, Andra terus berkecamuk dan berperang dengan berbagai pertanyaan janggal.


Tubuhnya, beringsut perlahan sambil menggumamkan istighfar berkali-kali.


"Apakah begitu sakit? tanya Najwa tersirat penyesalan.


"Maaf..., aku cuma sebel. Tapi..., aku juga kangen. Aku gak bermaksud nyakitin, Uncle,"


"Beneran, deh," kilah nya polos dengan rasa bersalah, yang tersurat dari tatapan nya yang mendadak sendu.


Andra malah terkekeh melihat ekspresi Najwa, yang menurutnya sungguh lucu.


"Serius banget sih?"


"Uncle, gapapa kok. I'm just kidding, ok!" jelas Andra, membuat mata bulat itu mengerjap-ngerjap lucu.


"Jadi...?"


"Uncle, ngerjain aku?" tanya Najwa sambil menunjuk hidungnya sendiri.


"Peace!" seru Andra, sambil nyengir konyol.


Dan, gayanya sukses membuat Najwa kembali jengkel bercampur gemas. Hingga akhirnya...,


" Uncleeee...!"


Najwa menerjangnya lagi, hingga Andra kembali terjerembab. Kemudian, gadis kecil itu menggelitik nya tanpa ampun.


"Hahaha...!"

__ADS_1


" Ampun... Ampun...!"


" Aduh, stop! Plis!"


"Najwaaa..., geliii...!" pekik Andra sembari menggeliatkan tubuhnya, karena ia memang tak tahan bila di gelitik.


"Rasakaaaan!"


"Ini, ini dan ini...!"


Najwa mengabsen setiap inchi dari tubuh atletis itu, menyerangnya hingga Andra menangkap kedua tangan kecil itu.


Dan,


Memeluknya, menumpahkan kerinduan yang sudah di tahannya selama kurang lebih satu bulan ini. Kedamaian, meresap ke dalam kalbunya. Ketika, tangan kecil itu merangkul lehernya erat.


Andra, yang akhir-akhir ini di sibukkan oleh eksperimen Mr.Katsuhiko.


Membuatnya, tidak memiliki waktu untuk sekedar bercengkrama dengan gadis kecilnya, bayi kesayangannya.


Yang selalu menempel kemanapun ia pergi. Hingga, tidur makan dan mandi nya, harus ia yang urusi.


Kedekatan yang sudah terjalin bertahun-tahun, membuat ikatan batin yang kuat antara mereka berdua. Tapi, entah kenapa?


Perasaan aneh itu kerap muncul, membuat nya bingung.


Perasaan, yang tak pernah ia rasakan bila bersama dengan wanita manapun. Perasaan, yang bukan sekedar ingin menjaga dan melindungi.


Namun, perasaan ingin memiliki semua yang ada pada gadis kecilnya itu.


Bahkan, ia seakan tidak rela. Bila, kecantikan Najwa di lihat oleh lelaki lain selain dirinya.


(Apakah, aku baik-baik saja?)


(Tak apalah, sebelum Najwa baligh.)


(Karena, melihat dari pertumbuhan mu, sepertinya, sebentar lagi kamu tidak akan bisa uncle sentuh dan peluk seperti ini lagi.)


(Nikmati lah, Najwa sayang..., bayi yang cerewet.)


Andra mengusap surai ikal nan lebat itu lembut. Mereka berdua pun, tersenyum dengan mata terpejam. Tenggelam, dalam pikirannya masing-masing.


(Uncle, aku ingin selalu bersamamu.)


(Terimakasih, telah mengajakku ke negeri yang indah ini.)


(Meski pun, suatu saat aku bertemu dengan kedua orang tua ku, aku akan tetap bersama mu.)


(Karena, Uncle hanya milikku. Najwa Khumaira )


*******


Di negara lain, yang juga sedang mengalami musim dingin. Namun, bukan karena turun salju. Akan tetapi, curah hujan dengan intensitas sering dan deras lah yang menjadi penyebabnya.


Berita banjir dan pohon tumbang pun, mulai terdengar di beberapa tempat.


Sementara di negara di mana Andra dan Najwa berada kini, sedang mengalami musim terakhir dalam siklus cuaca.


Musim ini berlangsung antara bulan Desember sampai dengan Februari. Pada musim dingin, akan banyak festival salju yang ditunggu-tunggu oleh masyarakat Jepang.


Terlihat seorang pria paruh baya, namun garis ketampanan dan ke gagahannya masih nampak jelas.


Hideo Kaindra tiba-tiba menerima telepon dari negara kelahirannya.


📞


"Wakai Masutā, anata wa sugu ni ōkina ie ni modoru yō ni motome raremasu,"( Tuan Muda, anda di minta segera pulang ke rumah besar,)


📞📞


"Dō shita no? Naze futsūde wa nai no ka,"


(Apa yang terjadi? Kenapa tidak biasanya,)


📞


"Biggumasutā, jūbyōdesu." ( Tuan besar, sakit keras."


......(panggilan terputus)


(Ameera sayang, aku harus mengajakmu. Kita akan pulang, tanpa Najwa.)

__ADS_1


Bersambung>>>>>


__ADS_2