Mengasuh Calon Istri

Mengasuh Calon Istri
Jodoh(Uncle dan Najwa)


__ADS_3

🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼


Lima tahun kemudian.


"Assalamu'alaikum!"


" Uncleeeee....!"


"Ummaaa....!"


Seorang gadis kecil, dengan paras yang cantik, meski peluh terlihat membasahi seragam sekolah muslimnya.


Ia masuk ke dalam rumah sambil berlari dan berteriak. Suara nyaringnya, menggema di ruangan tak seberapa luas itu.


Buru-buru ia meletakkan sepatu di tempatnya. Melempar tas ke atas sofa, kemudian berbelok ke sebuah ruangan yang di gunakan sebagai konveksi kecil.


Terlihat di sana, beberapa mesin jahit listrik. Serta beberapa pekerja yang terlihat sibuk dengan tugasnya masing-masing.


Ada beberapa penjahit berbaris di pojok ruangan, beberapa helper yang membersihkan sisa benang. Dua buah meja panjang untuk memotong bahan dan pola.


Serta sebuah meja panjang untuk menyetrika pakaian yang akan di kemas.


Tak ketinggalan, beberapa manekin di depan kaca yang akan terlihat dari luar. Manekin itu, memajang beberapa design pakaian muslim wanita dan pria, bahkan ada yang couple juga.


Mata bulat berwarna hijau tosca itu, mengedarkan pandangannya berkeliling.


" Neng, geulis nyari siapa?" tanya seorang Ibu-ibu berkerudung, ia adalah salah satu penjahitnya umma, di antara tiga penjahit lainnya.


"Eh, Ambu. Liat Umma ku tidak?" tanya Najwa sopan setelah ia mencium telapak tangan wanita paruh baya itu.


"Umma, apa uncle ganteng?" goda si Ibu jahil.


"Emang, Ambu tau? Uncle ganteng ada di mana?" tanya Najwa lagi dengan mata berbinar.


"Tau," jawab ibu itu sambil merapikan kerudung Najwa yang miring.


"Di mana, Ambu?" rengek Najwa mulai tak sabar.


" Tapi, ada syaratnya," pinta ibu itu yang selalu di panggil ambu oleh semua pekerja di sana. Usianya, hanya terpaut dua tahun di atas Kartika.


" Ish, Ambu nih. Pake syarat segala," decak Najwa sambil memutar malas bola matanya yang indah itu. Bola mata dengan warna yang sangat langka.


Wanita yang di panggil ambu itu hanya cekikikan, melihat ekspresi lucu dari wajah oval dengan pipi kemerahan itu.


Ia sepertinya sengaja mengerjai gadis kecil dengan postur tubuh tinggi. Bahkan, melebihi anak seumurannya.


"Ambu, cuma mau denger suara asli kamu kalo lagi tilawah. Ayo dong, satu suroh aja," pinta ambu sedikit memelas.


"Gak, ah. Najwa maluuu...," tolak Najwa kemudian menutup wajahnya dengan kertas yang sedari tadi di pegang nya.


" Lho, kok malu? Kita semua mau denger suara merdu kamu. Kemarin Umma ngasi denger kita dari rekaman di ponselnya," bujuk umma kepada gadis kecil yang memang pemalu ini.


Kecuali, bila dengan keluarga dekatnya.Terutama, Andra. Maka, Najwa akan menjadi pribadi yang periang dan ceria.


Najwa, menurunkan kertas itu perlahan. Hingga wajah putih dengan kedua pipi yang kemerahan itu, dapat terlihat lagi kini. Kedua mata bulatnya membola, tatkala beberapa pasang mata dari para pekerja, sedang menatap ke arahnya.


" Tu kan, Ambu sih?"


"Mereka semua, jadi ngeliatin aku tuh," bisik Najwa sambil menarik-narik ujung baju ambu.

__ADS_1


"Gapapa, atuh geulis. Sok, tilawah ya," pinta ambu dengan wajah memohon.


"Iya, Ambu gak usah melas gitu deh," ledek Najwa iseng, kemudian gadis kecil itu memejamkan matanya.


Najwa, terlihat menarik napas dalam.


Kemudian, mengalun lah suara merdu dengan tartil yang indah.


" Audzu billahi minassyaitonirrojim...,"


"Bismillahirrohmanirrohim...,"


Baru mendengar awalan saja, mereka sudah di buat merinding dan bergetar hati nya.


"Arrohman...,"


"Allamal qur'an...,"


" Kholaqol insan...,"


"Allamahul bayan...,"


"Wassyamsu wal qomaru bi husban...,"


.......hingga,


"Fa bi ayyi alaa irobbikuma tukadziban...,"


"Shodaqollahul adzim...,"


Mereka yang berada di ruangan itu, serempak mengucapkan.


Baru kali ini, mereka mendengar langsung gadis kecil yang cantik jelita itu membacakan ayat suci Al qur'an dengan begitu indahnya.


Penuh penghayatan, dan tartil yang benar. Hingga melenakan dan meresap ke dalam kalbu.


Kartika begitu beruntung, memiliki anak asuh seperti Najwa. Selain paras yang cantik macam boneka hidup. Akhlak dan budi pekertinya juga, menjadi idaman setiap orang tua.


Memiliki otak yang pintar dalam akademik juga cepat dalam menghafal. Termasuk bahasa asing, seperti arab, inggris dan jepang.


Serta, begitu cepat dalam menghafal Al qur'an. Hingga kini, hafalan Najwa sudah sampai juz 25. Yang artinya, Najwa sudah menghafal 5 juz.


Seorang lelaki muda berparas tampan dan berbadan tinggi tegap, sedang menatap dalam pada sosok gadis kecil nya di undakan tangga. Ia, yang hendak turun tadi, berhenti sejenak tatkala mendengar lantunan indah dari bibir mungil itu.


Dadanya menghangat, kenapa bayi nya begitu cepat besar?


Karena, bila Najwa sudah beranjak remaja dan baligh. Pada saat itu, mereka harus menjaga jarak.


Ia, takkan dengan leluasa menggandeng gadis jelita itu ketika berjalan di taman atau pinggir pantai. Di mana kedua tempat itu adalah kesukaan Najwa.


Ia, takkan lagi leluasa, menghapus air mata. Ketika, gadis kecilnya itu mengadu dan merengek karena hafalannya.


Takkan lagi bebas, mengelus rambut hitam lebat itu. Bahkan, sebentar lagi ia takkan boleh melihat surai itu tergerai bebas.


Andra, menarik napasnya dalam. Kemudian menghembuskan nya perlahan. Ia, sedang meredam perasaan aneh yang bergejolak di hatinya. Hingga, membuat dadanya berdentum.


(Ck, akhir-akhir ini jantung gua suka berdetak gak jelas, apa gua punya masalah ya. Aih, gua kan udah jaga pola makan.)


Andra, bermonolog dalam hatinya.

__ADS_1


Lelaki itu meneruskan langkahnya, hingga sampai di belakang Najwa.


Ia, pun merunduk kan kepalanya, menyamai tinggi gadis kecil yang berkerudung senada dengan iris matanya itu.


" Solihah nya...," bisik nya di sisi kepala Najwa.


Sontak, gadis itu pun menoleh. Andra yang kaget langsung menegakkan posisinya.


Ambu, menertawakan kedekatan mereka dalan diamnya. Hingga, ia kembali ke depan mesin jahitnya. Ekor matanya masih mencuri pandang, pada kedua orang beda generasi tersebut.


"Uncleee...!" Najwa yang sejak tadi mencarinya, memekik kegirangan. Lalu, ia segera menghambur ke dalam pelukan pengasuh rupawan nya itu.


(Aish, ni bocah maen nemplok aja. Gak tau apa yak, dia nya udah gede.)


Andra, terus mengoceh dalam hatinya. Ia merutuki, perasaan anehnya itu. Kenapa, semakin lama ia merasakan hal yang lain bila mereka berdua sedekat ini.


Andra, berusaha melerai pelukan gadis kecilnya.


"Bau hasyem ih! Ganti baju dulu sanah!"


"Maen peluk aja. Uncle udah wangi nih," protes Andra, berusaha mengalihkan suasana.


"Hehehe..," Najwa mengeluarkan cengir khasnya, yang menampilkan deretan gigi rapi nya.


"Biar, aja. Biar gak ada cewek yang deketin Uncle," celoteh nya asal.


"Dih, masa gitu,"


"Nanti, Uncle gak nikah-nikah dong," jawab Andra asal.


"Apa hubungannya, Uncle?" Najwa bertanya dengan wajah polosnya, hingga bulu mata lentik itu bergerak-gerak lucu.


(Menggemaskan sekali.)


Andra buru-buru mengusir isi dari pikirannya.


"Ya kan, kalo Uncle nya bau, mana ada cewek yang mau di deketin."


"Nanti, Uncle nya susah dapet jodoh kalo gitu, Neng geulis," jelas Andra dengan gemas.


Karena, Najwa sedari tadi menatap wajahnya tanpa kedip.


"Jodoh tu apa?" tanya Najwa lagi, kali ini serius. Karena ia pernah mendengar seseorang mengatakan hal itu.


(Duh, salah ngucap kan gua. Jadi panjang dah urusannya.)


Andra, mengomeli dirinya sendiri, sambil menggaruk kepala tak gatalnya, ia mencari jawaban yang akan memuaskan gadis kecil nya ceriwis itu. Yang akan terus bertanya sampai ia mengerti baru berhenti.


"Jodoh itu, adalah pasangan yang akan menemani kita sampai tua,"


"Bahkan, kalo bisa sampai ke surganya Allah, nanti." Andra menjelaskannya dengan sabar dan perlahan, sambil mengelus pipi merah muda itu.


Mumpung masih bisa elus-elus pipi Najwa, begitu pikirnya.


"Aku mau jadi jodohnya, Uncle,"


Jeng....jeng...jeng...


Bersmbung>>>>>

__ADS_1


__ADS_2