
πΌπΌπΌπΌπΌπΌ
...Nih, mak kasih up lagi....
...Komennya yang banyak, baru mak double up....
...ππππ...
...Ayo, dong mak boleh kan request?...
...Boleh dong, masa klean aja yang bisa malakπ€£π€£....
*******
Kartika memutuskan untuk menghampiri putranya itu. Memastikan agar ia tak melakukan hal yang melewati batas.
Sementara itu, Andra menghampiri pria yang belum ia tau identitasnya itu dengan geram.
"Iya, Om. Najwa panggil dia uncle raksasa karena badannya yang besar, dan wajahnya yang berbulu.Hihihi...," kelakar nya mengidentifikasi karakter uncle Mau pada kedua orang dewasa yang mengapitnya.
"Kamu bisa aja deh," gemas Ameera dengan sedikit terkekeh.
"Lalu uncle yang satunya lagi?" tanya Hideo.
" Kalau uncle ganteng, eh uncle Andra..., Dia tuh gak pernah tua, dari aku kecil mukanya tetep kayak gitu,"
"Cuma, badannya aja yang lebih gede, gak cungkring kayak dulu. Itu kata umma sama Najwa," jawabnya dengan pujian, meski sambil terkekeh namun jelas sekali binar kebahagiaan itu terpancar dari mata nya yang indah.
"Om, juga kenal satu pemuda yang bernama Andra ini. Orang nya jenius dan pintar membuat robot," terang Hideo yang sedang menduga, benarkah lelaki yang di ceritakan dengan begitu antusias adalah lelaki yang sama dengan yang ia kenal.
"Hah, uncle ganteng memang bikin robot, Om!"
"Di perusahaan terbesar di negara ini, yang letaknya di Ibu kota, Tokyo," jelas Najwa.
"Bagaimana, Om bisa kenal uncle ku?" heran Najwa.
Hideo mendekatinya, dan mengacak kembali ujung kepala Najwa yang terbungkus khimar.
"Kalau memang dia orang yang sama, maka uncle mu benar-benar pria yang hebat," ucap Hideo kemudian menggerakkan telunjuknya untuk menyentuh ujung hidung lancip Najwa.
"Jauhkan tangan mu dari nya! Pria tak punya sopan santun!" hardik Andra dari arah belakang Hideo.
Pria itu memutar tubuhnya, membuat kedua mata Andra seketika membola.
"Tuan!"
"Uncle! Ku mohon jangan marah," pinta Najwa dengan tubuh gemetar karena ia paling tidak kuat melihat amarah di wajah Andra.
"Najwa, bagaimana bisa kau membiarkan orang asing ini menyentuh mu?"
"Bukankah, kau sudah faham batasan mu?" tanya Andra dengan sedikit melembutkan suaranya.
"Maaf, Uncle. Kata umma, Om Hideo sudah menganggap Najwa seperti anak mereka yang hilang," jelas nya dengan suara bergetar.
Andra menyentuh bahu yang gemetar itu, ia faham bahwa bayi besarnya ini tidak bisa melihat orang marah. Terutama dirinya.
"Maaf, Uncle hanya tidak suka pria asing itu memperlakukan mu seperti tadi,"
"Hanya, Uncle yang boleh melakukannya, ok?" ucap Andra dengan polosnya, bahkan wajahnya terlihat cemberut ketika mengatakannya.
__ADS_1
Tanpa di duga, Najwa justru terkekeh.
"Uncle, wajah mu lucu sekali. Imut dan menggemaskan,"
"Sayangnya, aku sudah tidak boleh mencium mu," ucap Najwa. Membuat dua pasang mata, yang sedari tadi memperhatikan interaksi mereka berdua saling tatap dalam kebingungan.
Sedangkan Andra, wajahnya seketika memerah mendengar kata-kata polos yang meluncur dengan lancar, dari kedua bibir mungil itu.
Bahkan, ingatannya kembali ketika gadis kecil itu dengan sengaja menabrakkan benda kenyal itu pada bibirnya.
(Ish, anak ini. Kenapa begitu santai dia mengatakannya?)
Andra seketika berdiri, dan mengubah posisinya agar berhadapan dengan pria yang sudah membuat nya kesal setengah mati.
"Maaf, Tuan. Tidak seharusnya aku meneriaki anda," ucap Andra sambil menjulurkan tangannya.
Hideo pun menerima, sambil tersenyum lega.
Satu persatu misteri terkuak di hadapannya.
Kecurigaannya ternyata mempunyai dasar yang kuat.
"Tidak apa, santai saja anak muda," ujar Hideo dengan seulas senyum menawannya
"Ternyata, kita mengagumi Andra yang sama," ucap Hideo lagi, namun kali ini ia peruntukkan kepada Najwa.
" Uncle siapa dulu...?" celetuknya bangga.
Kartika ikut menghampiri mereka dengan penuh kelegaan.
Pasalnya, Andra masih bisa menjaga batasannya.
Berat tapi ia harus bersabar. Kelak ia akan menemukan jawaban misteri ini segera.
Najwa pun berat hati melepas kedua orang itu. Entah kenapa hatinya menghangat bila berada bersama mereka berdua. Walau ia sudah puas dengan kasih sayang yang di berikan oleh Kartika dan para uncle nya. Namun, rasa ingin memiliki keluarga yang utuh tentu ada, dan pasti ada.
(Seandai nya, aku memiliki orang tua sebaik mereka?)
( Ya Allah, bukannya aku tak bersyukur karena telah memiliki umma dan uncle. Hanya saja, aku juga!ingin memiliki keluarga yang melengkapi kekosongan ini)
(Aku hanya ingin tau, dari mana asal ku)
Batin, Najwa terus bermonolog.
Hingga tanpa sadar, Najwa terus melamun di sepanjang perjalanan pulang mereka.
Sesampainya di rumah, setelah Najwa masuk ke dalam kamarnya, Kartika mengajak Andra ke dalam kamarnya.
Kartika membuka sebuah kotak, mengambil sebuah kalung emas yang bertahtakan berlian. Kemudian menyerahkan kertas berisi biodata atau dengan nama lain data-data dari kelahiran Najwa.
"Apakah, Abang bisa menyelidikinya?"
*****
Sementara itu, sesampainya di rumah. Hideo segera menemui sang paman di ruang kerjanya.
"Ada apa, Keponakan ku?"
"Nampaknya ada hal yang begitu serius?" cecar paman Kaito langsung.
__ADS_1
"Paman, aku butuh data-data lengkap dari Andra El Barack," jelas Hideo ketika ia telah duduk berhadapan.
"Ada apa?"
"Kenapa kau...,"
"Bukankah, paman pernah menawarkan padaku, bahwa akan membantu menemukan jejak putri kecil ku?" tanya Hideo memastikan.
"Lalu apa hubungannya dengan anak muda itu?"
Akhirnya, Hideo menjelaskan semuanya tanpa ia kurangi dan ia lebihkan sedikit pun.
"Tunggulah, tidak sampai lima belas menit, kau akan mendapatkan data-datanya," ucap paman Kaito.
Tak lama terlihat pria berkumis dan berkacamata itu menelepon seseorang di luar sana.
"Kirimkan data nya ke email ku. Lima menit." ucapnya singkat seraya mengakhiri panggilannya.
Dreett, seketika sebuah notifikasi masuk.
Paman Kaito menggeser layar pipih itu, kemudian menyerahkan ponselnya ke hadapan Hideo.
Mata sipit itu mendadak membola, setelah ia melihat data-data konkrit dari Andra.
"Jadi, Najwa bukan anak kandung Kartika. Pantas saja ia memanggil anak muda itu, dengan sebutan uncle," gumam Hideo yang masih dapat di dengar oleh sang paman.
"Ada yang bisa paman lakukan lagi?"
" Katakanlah," tawar pria dengan usia lanjutnya.
Namun, masih terlihat sehat dan bugar serta aktif sebagai pengusaha.
"Kalian bisa langsung test DNA, dan paman bisa membantu mempercepat prosesnya," ujar paman Kaito lagi.
"Nanti Paman, masih ada cara lain," tolak Hideo.
(Semoga, ingatan Ameera lekas kembali,)
Hideo, pun lantas pamit, bergegas ke kamar menemui sang istri.
"Ameera sayang, kau harus melihat ini...,"
Dan, mata indah Ameera membulat seketika.
Hingga, ia membekap sendiri mulutnya.
"Kemungkinan besar, Najwa adalah...,"
*****
Seorang pemuda terduduk lemas di atas ranjang berukuran single itu.
Tubuhnya nya bersandar di kepala ranjang.
"Abang, benar-benar gak inget wajah wanita muda yang menyerahkan Najwa pada malam itu, Um," sesalnya.
"Biarkan mereka yang mengakui sendiri, berikan kalung ini pada Najwa," saran Kartika membuat pemuda itu menegakkan tubuhnya.
Bersambung>>>>>
__ADS_1