Mengasuh Calon Istri

Mengasuh Calon Istri
Khumaira(Najwa ku yang pipi nya kemerahan)


__ADS_3

...Assalamu'alaikum....!...


...Selamat malam semua😇...


...Maaf ya mak chibi baru bisa up malam ini....


...Di karenakan anak sekolah daring lagi, juga ada beberapa yang sakit....


...Ketauan deh ya, kalo anak mak banyak😁....


...Di musim penghujan yang suka di barengi dengan angin kencang di beberapa daerah....


...Pandai-pandai lah menjaga kesehatan ya....


...Batasi kegiatan di luar rumah....


...Semoga kita semua selalu dalam perlindungan Allah ta'ala, aamiin🤲....


...Malam jum'at waktunya perbanyak sholawat....


...Happy reading ya gaes🥳🥳....


🌼🌼🌼🌼🌼


"Assalamu'alaikum," salam dari seorang wanita yang datang dengan tergopoh-gopoh.


Ia membelah kerumunan dan merangsek ke depan.


"Waalaikum salam," sahut Kartika seraya menoleh, karena wanita ini datang dari arah sampingnya.


"Mbak Kartika,"


" Udah di tunggu di lantai empat," ucap wanita muda yang mengenakan pasmina itu.


Mereka berasal dari negara yang sama, dilihat dari segi usia, seperti nya wanita itu adalah mahasiswa.


"Ya Allah, saya lupa!"


"Maaf ya. Kamu jadi nyamperin segala," sesalnya lalu segera menggandeng tangan Najwa dan undur diri dari kerumunan itu.


"Soalnya ponsel Mbak gak aktif, makanya saya susul aja," terang wanita muda itu sambil mengimbangi Kartika dan Najwa yang berjalan cukup cepat.


Mereka pun langsung masuk ke dalam lift, menuju ke lantai empat di bawah. Di mana letak ruangan serbaguna, tempat Kartika rutin menjadi pengajar Al Qur'an. Terutama bagi para mualaf atau orang yang baru memeluk agama islam, termasuk para mahasiswa.


"Assalamu'alaikum!"


"Maaf, saya terlambat," sapa Kartika, ketika dirinya telah berada di depan para murid nya.


"Waalaikum salam!" jawab mereka serempak.


Kemudian, majlis taklim yang di adakan seminggu sekali itu pun di mulai.


Lalu bagaimana dengan Ameera dan Hideo


Ternyata mereka tengah gusar, karena kehilangan jejak gadis kecil bermata hijau.


"Bagaimana ini, by? Selangkah lagi aku dapat mendekatinya,"


"Kenapa, tiba-tiba hilang?" gusar Ameera sambil meremas ujung Khimar nya. Mata nya masih melihat ke sana-kemari, namun yang di carinya tak kunjung nampak.


"Sabar, sayang. Kita tanyakan kepada ketua pelaksana lomba ini," ajak Hideo, menarik sang istri di antara kerumunan yang sudah menguar.


Dan disinilah mereka, di ruangan ketua pelaksana lomba MTQ/Qori tingkat pra-remaja.


"Maaf, Tuan dan Nyonya,"


"Alamat dan nomer telepon para peserta adalah privasi,"


"Kami tidak dapat memberikannya, tanpa persetujuan dari yang bersangkutan," terang pak ketua.


"Lalu, kemana mereka? Kenapa mendadak pergi?"


" Tadi nya, saya dan istri ingin menemui mereka secara langsung," jelas Hideo.

__ADS_1


"Kami, tidak mengetahui urusan lain dari para peserta,"


"Sekali lagi, kami mohon maaf," tutur pak ketua.


Ameera berjalan lunglai keluar ruangan.


Hideo yang terus menyatukan tangan mereka turut merasakan kekecewaan wanita di sampingnya itu.


Jika ia masih Hideo yang dulu, tentu mencari orang bukanlah hal yang sulit. Ia bisa memaksakan kehendaknya, meskipun dengan cara menekan dan menyakiti orang lain.


Tapi sekarang dia sudah berubah bukan?


Dan, memaksa itu bukanlah sifat seorang muslim.


"La tahzan innallaha ma'ana, sayang,"


"Kalau berjodoh pasti suatu saat kita bertemu lagi dengan mereka," ucap Hideo berusaha menghibur Ameera.


Sedangkan, Ameera hanya tersenyum tipis.


Hatinya sudah bergemuruh tadi, tinggal selangkah lagi ia akan dapat melihat bahkan menyentuh gadis kecil itu.


Firasatnya mengatakan sesuatu?


Ataukah, itu hanya harapannya?


Berbagai kemungkinan muncul dan pergi silih berganti. Memenuhi isi kepala nya dengan potongan-potongan puzzle yang tercecer.


"Tenanglah, sayang,"


" Sesuatu yang di paksakan itu, kelak akan menyakiti dirimu sendiri," seru pria yang memiliki mata sipit itu.


"Kau benar, by. Aku terlalu antusias dan memaksakan kehendak ku,"


"Bagaimana mungkin, Najwa ku bisa ada di sini?" lirih Ameera, mencoba menerima kekecewaan itu dengan lapang.


"Kalau Allah, mengizinkan. Kita pasti akan bertemu dengannya lagi," ucap Hideo, dengan keyakinan nya.


"Bukankah, kau yang selama ini menasihati ku. Menguatkan setiap kali aku rapuh bila mengingat putri kecil kita,"


Kedua tangannya telah menangkup bahu, wanita berbusana syar'i yang anggun.


Ameera, menatap pria pemilik mata sipit yang selalu setia di sisinya itu.


Meski, saat itu dirinya terbaring lemah selama kurang lebih lima tahun.


Pria yang begitu mencintainya, hingga rela kehilangan segalanya demi dirinya.


Pria yang telah memberikan begitu banyak pengalaman hidup untuknya.


Bersama mereka menapaki jalan menuju kebenaran.


Bersama mereka berusaha memperbaiki diri dan iman.


Tertatih, terseok bahkan terjatuh bersama.


Bersabar menanti takdir dan kehendak dari Tuhan penguasa alam.


"Astagfirullah,"


"Iya, by. Kita, harus selalu berhusnudzon sama Allah,"


"Makasi ya, by." ucap Ameera dengan senyum nya yang mengembang.


"Yuk, kita ke mall!" ajak Hideo, kemudian menggandeng istri tercintanya.


Bidadari tanpa sayap yang telah mengangkatnya dari lubang kegelapan yang penuh nista.


Bersama mereka mensucikan diri dari noda akan dosa.


Meninggalkan masa lalu tanpa sekalipun mengungkitnya.


Bersabar atas segala derita dan ujian yang mereka terima. Karena mereka meyakini firman Allah, bahwa semua dapat meluruhkan dosa-dosa.

__ADS_1


****



Aeon mall, terletak di Narita, Chiba.


Mall yang tersebar hampir di seluruh asia ini begitu besar dan wah.


Setelah sebelumnya pasangan dewasa itu, Hideo dan Ameera berjalan-jalan menikmati salju. Akhirnya mereka singgah untuk makan dan cuci mata tentunya.



Mereka terus berpegangan satu sama lain.


Begitu lengket menempel tak terpisahkan.


Ya, Hideo takut bila terlepas sedikit saja istrinya akan hilang di bawa monster salju.


Mungkin.



"Kau sudah lebih tenang kan sekarang?" tanya Hideo lembut di telinga Ameera yang tertutup khimar itu.


"Ya, setelah menikmati keajaiban yang turun dari langit ini," jawab Ameera seraya menunjukkan beberapa butiran salju di atas telapak tangannya.


Langit yang berwarna kontras dengan bumi yang di pijak nya saat ini.


Dominasi warna putih yang membuat hatinya merasa riang.


Mungkin kalau tak ingat usia, ia sudah bermain lempar bola salju atau, melakukan permainan membuat peri salju.


Ameera merasa jantungnya berdegup kembali ketika mereka telah memasuki kawasan mall terbesar di Chiba itu.


Mereka memutuskan untuk mengisi perut dengan makanan hangat dan halal tentunya.


Ameera dan Hideo, berbelok ke dalam salah satu cafe yang menyediakan berbagai macam menu halal.


Duduk dan kemudian memesan, bersamaan dengan itu seorang wanita paruh baya tengah menaiki eskalator mall tersebut bersama anak asuhnya.


Seorang gadis kecil jelita yang baru saja membuat nya bangga. Karena telah berhasil mendidiknya menjadi anak sholihah dan berakhlakul karimah.


Mereka melewati cafe yang di singgahi Ameera, menuju sebuah toko buku di seberangnya.


"Beneran, Um? Najwa boleh beli buku kumpulan hadist dan biografi?"


"Boleh dong sayang. Ini hadiah dari Umma, biar kamu makin pinter dan cerdas macam Sayyidatina Aisyah Radiallahu anhu.


Istri nya Rosulullah, yang kedua pipi nya kayak kamu ini selalu kemerahan. Karena itulah, Baginda memanggilnya khumairoh.


" Apa karena itu, makanya nama tengah ku "Khumaira"? Iya kah, Um?" cecar Najwa dengan mata bulat berbinar.


Kartika tersenyum simpul, sebelum menjawab pertanyaan gadis cantik nan jelita di hadapannya itu.


"Asal kamu tau, uncle Andra lah yang menyematkannya untukmu.


Mendengar penjelasan dari Kartika membuat hati nya berbunga dan seakan terdapat ribuan kupu-kupu yang menari di sana.


Ia memeluk Kartika untuk melupakan kebahagiannya.


Senyum nya begitu sumringah membingkai wajah kanak-kanaknya.


Ternyata, sepasang mata yang juga besar dan indah sedang membola di seberang sana.


Hingga, sepasang sumpit dalam capitan jarinya, jatuh ke atas meja.


"Ada apa sayang? Kau melihat apa?" heran Hideo, hingga kepala nya menoleh kebelakang searah pandangan Ameera.


"Najwa...,"


Seketika, lengkungan sabit pun terbit di wajah kedua nya.


Bersambung>>>>>

__ADS_1


...Terimakasih banyaakkk....☺🙏...


__ADS_2