
Al duduk dengan wajah kesal dan penuh amarah, terutama kepada pihak hotel yang sejak tadi terus menatapnya sinis.
Al sudah menceritakan dan menjelaskan semuanya, awal pertemuannya yang tanpa sengaja melihat Randi membawa masuk Chelsea ke dalam kamar dengan paksa.Namun mereka tidak mempercayai nya begitu saja, apalagi Chelsea yang mereka lihat keluar kamar mandi tanpa pakaian dan Al yang bertelanjang dada. Dua orang berlainan jenis berada dalam satu ruangan dalam keadaan setengah polis, siapa yang akan percaya?
Jonathan juga disana, Al yang menelponnya, dia datang membawakan pakaian baru untuk Al.
Tak butuh waktu lama, Zein dan Zahra tiba disana bersama dengan orangtua Chelsea yang sudah datang lebih awal. Kini mereka semua duduk berkumpul untuk membahas masalah ini.
Ratna memeluk anaknya dan menangis, ibu mana yang tidak sedih dan hancur mendengar kabar anak gadisnya berada dalam satu kamar dengan pria yang tak dikenal dan hampir dinodai.
Chelsea dengan berderai air mata menceritakan semuanya, tapi sahabatnya Ririn, petugas hotel dan orangtuanya tidak percaya.
"Pa, kami nggak ngelakuin apapun? Om itu murni mau nolongin aku." bela Caca
"Kamu mabuk ca, kamu mana sadar apa yang telah dia lakuin ke kamu?" bantah Ririn.
"Benar, Jangan membantah ca, semua telah terbukti." Tegas Baskoro.
"Terbukti apa, Om! aku cuma mau nolongin anak om, tahu akan seperti ini ku biarkan saja tadi pria itu.!" geram Al.
Plak.... sebuah tamparan sukses mendarat di pipinya.
"Jangan membuatku semakin malu, belum cukup kau mencoreng nama baik keluarga kita! apa ini yang kau dapatkan di luaran sana?" bentak Zein.
"Tapi aku tidak melakukan apapun!" jawab Al tak kalah keras.
Suasana semakin runcing, pembelaan Chelsea dan Al tidak diterima, kedua orangtua mereka larut dalam pemikiran masing masing.
Al memegang pipinya yang memerah, "Ma, mama percaya Al kan Ma!" tanyanya pada Zahra. Wanita itu mengangguk dan memeluk putra kesayangannya.
"Om itu benar Pa, Ma. Om itu cuma mau nolongin aku dari Randi. Percaya sama ku Pa, aku tidak ngapa ngapain."
"Papa tidak tahu harus bicara apa? Papa ingin mempercayainya tapi... yang papa lihat.., apalagi kau sedikit mabuk. Sudahlah sayang, jangan membelanya." bantah Baskoro
"Tapi Pa!" gadis itu terus berupaya meyakinkan papanya jika tidak terjadi apa-apa diantara mereka berdua.
"Aku akan menikahkan mereka!" ucap Zein tiba tiba.
__ADS_1
"Pa!!"
"Om!"
"Anda benar, kalian harus menikahi gadis, terlepas dari semuanya kalian berdua telah terbukti berduaan di dalam kamar." ucap Baskoro 'tegas.
"Aku tidak mau!!!" bantah Al
"Mau tidak mau kau tetap harus menikahinya, keputusan sudah bulat. Jadilah pria yang bertanggung jawab Al." tegas Zein.
"Aku tidak akan menikahi gadis ini, aku tidak sudi!"
Plaaak!
sekali lagi Zein menampar putra kesayangannya. "Apa ini yang ku ajarkan padamu? apa kau ingin seperti teman-teman mu diluaran sana, pantas saja kau tidak mau menikah, ternyata ini kelakuanmu!"
"Pa!!!" Al mengepalkan tangannya keras menahan emosi.
Jonathan memegang tangan sahabatnya, "Sudah Al jangan emosi, pikirkan dengan pikiran dingin semua bisa dibicarakan baik-baik."
"Aku benar benar tidak melakukan apapun, kalian bisa membuktikannya, aku hanya ingin menolongnya,"
"Ma, mama percaya Al, kan ma? ma, Al nggak mungkin ngelakuin itu, ma! lni hanya salah paham!" ucapnya memelas kepada sang mama.
"Mama tahu, nak. Tapi, bayangkan jika adikmu ada dalam posisi ini, seandainya Mikhayla yang berada di posisi itu, apa yang akan kamu lakukan, nak?"
Pertanyaan sederhana yang tak bisa di jawab oleh Al. Dia terdiam, dan terpojok. Kata kata ibunya sangat mengena dihatinya,
"Siapa yang akan percaya pada nya, dan apakah masih ada lagi pria yang mempercayai gadis ini? tidak Nak," lanjut Zahra.
Dia mengusap lembut wajah Al yang sudah berubah sendu, hilang sudah amarah yang berkobar tadi, "Lakukanlah demi nama, nak." lanjutnya.
Al terdiam, dia seketika bimbang, benar semua yang dikatakan mamanya, tapi dia tidak mencintai gadis itu, bahkan namanya saja dia belum tahu. Bagaimana aku menikahinya?
Al tertunduk lesu, kelembutan hati ibunya membuatnya tersentuh, dia kembali memberanikan diri menatap wajah sendu sang mama, dan bersiap membantah, namun tatapan penuh harap dan penuh cinta itu, mengubah hatinya, lidahnya Kelu walau sekedar ingin mengucapkan tidak. "Mama percaya padamu, nak."
"Pernikahan akan di lakukan besok pagi,"Ucap Zein.
__ADS_1
""Aku minta maaf untuk semua yqng terjadi, pak!" ucap Zein kepada Baskoro.
"Tidak ada yang perlu dimaafkan, kedua anak ini sama bersalah, saya akan menunggu kedatangan anda ke rumah kami, besok." balas Baskoro.
Setelah itu semuanya pulang, Zein dan Zahra pulang ke rumahnya. Sepanjang jalan Zein diam, dia sungguh terpukul dengan kejadian ini.
Sungguh Zein tidak menyangka jika putranya bisa melakukan hal sebejat itu, di dalam lubuk hatinya yang paling dalam dia juga tidak mempercayainya, namun kenyataannya... Zein benar benar kecewa.
AL duduk berdua dengan Jonathan. Malam ini dia tidak bisa tidur, sahabatnya dengan setia menemani Al, "Kenapa jadi begini?" tanyanya pelan.
"Apa kau percaya padaku?" tanya Al pada Jo. Dia menatap sahabatnya sekilas dan kembali fokus menatap langit malam di balkon apartemennya.
"Aku percaya padamu," jawab Jo
"Tapi percuma saja, papa tidak mempercayaiku, Papa...." Al tertunduk sedih, di dalam hatinya dia sangat sedih karena papanya tidak mempercayai dirinya, putranya sendiri.
"Aku yakin Om Zein juga percaya padamu, tapi kau ingat ucapan mamamu, Sudahlah Al sebaiknya kau terima saja. Mungkin ini jodoh buatmu!"
"Hahahah... kau mengejek ku! Aku mencintai Cintya, Dan aku hanya ingin menikah dengannya."
"Sebaiknya kau tidur, besok pagi kau akan menikah, aku juga mau tidur."
"Aku belum mengantuk." balas Al.
...****************...
Caca sudah dirias cantik, kebaya sederhana ya g dibeli mamanya di butik langganan nya pagi tadi sudah menempel indah di tubuh mungilnya. Wajahnya juga sudah dirias cantik.
"Sudah donk, jangan nangis nanti riasannya rusak, jelek loh." Ririn mengingatkan.
"Aku nggak mau nikah Rin, aku masih mau kuliah, aku mau berkarir."
"Kamu bisa melakukan semuanya setelah menikah, tenanglah." Ririn coba menenangkan sahabatnya.
Al dan keluarganya sudah datang. Sebenarnya dia bisa saja kabur seperti dulu, namun Al tidak melakukannya, semua demi mamanya, Al tidak ingin mengewakan wanita itu sekali lagi. Dan disinilah dia, duduk dihadapan penghulu dan Baskoro.
Acara ijab kabul dimulai, dengan sekali ucap Gibran Al Habsi sudah menghalalkan Chelsea menjadi istrinya.
__ADS_1
Pernikahan sederhana dan hanya di hadiri oleh orang terdekat mereka. Bahkan pasangan pengantin baru yang masih berbulan madu tidak di beri tahu, hanya Al dan keluarganya, termasuk Mikayla dan haikal. Dari pihak Baskoro juga sama, pernikahan yang begitu mendadak, dan tidak memiliki persiapan sama sekali.
Tidak akan ada acara resepsi besar besaran, Al menentang keras hal itu, hanya akan ada acara syukuran sederhana di kediaman Zein, setelah resepsi pernikahan kakak iparnya Rasya. Sementara menunggu waktu, Al akan membawa sang istri tinggal di apartemen nya.