
Malam harinya Caca hanya berbaring di atas tempat tidur, perutnya sakit. Mulas dan melilit, namun dia tidak berani mengatakannya kepada Al, karena Caca tau pasti Al akan memarahinya.
"Sayang, kamu enggak makan?" ucap Al membangun Caca yang pura-pura tertidur.
"Nanti aja mas, aku ngantuk lagian aku juga masih kenyang."
"Kenyang?"
"Mana mungkin kenyang, sedangkan dia belum makan sejak tadi, atau apa jangan-jangan dia sakit perut.
"Sayang kamu sakit?" tanya Al khawatir
"Aku, enggak."
"Kok tiduran aja?"
"Aku ngantuk mas pengen rebahan,"
"Ya sudah, nanti kalau kamu butuh sesuatu panggil aja mas, mas ada diluar."
"Iya mas, makasih," sahut Caca tersenyum girang.
Al berjalan keluar kamar, menutup pintu dan berjalan menuju ruang tamu, ada sedikit pekerjaan yang belum dia selesaikan. Al juga masih harus memeriksa email yang masuk termasuk data perusahaan.
Didalam kamar, Caca merasa sedikit lega karena Al sudah pergi Gadis itu membuka selimutnya dan duduk bersandar,
***
Seminggu telah berlalu sejak kejadian itu, Caca tak lagi menuntut macam-macam.
Mual dan muntah yang dia alami setiap pagi tak menyulutkan niatnya untuk tetap berangkat ke kampus.
"Hai Ca..." panggil Ririn.
"Hai, kamu darimana? kok nggak masuk?"
"Aku habis jalan sama Bebep aku,"
"Lah terus kemari ngapain?"
"Aku kangen kamu tau, kita ngopi bentar yuk?" ajak Ririn
"Enggak ah, males aku mau pulang aja, mau rebahan."
__ADS_1
"Lo semenjak hamil nggak asik ca, nggak bisa diajak ini itu."
"Ririn sayang, badan gue ini lagi nggak fit, jadi belum bisa memenin Lo untuk hang out, kamu bisa ajak yang lain, ok!"
"Nggak seru ah, gue ikut ke rumah Lo aja ya!"
"Boleh,"
Mereka berdua berjalan menuju mobil Caca yang sudah terparkir menunggunya.
sejak dinyatakan hamil, Al semakin protektif dan tidak membiarkan istrinya pergi sendirian kemana pun.
Baru saja Caca membuka pintu mobilnya, seorang pria datang, "Hai ca, pa kabar."
"Hai Den, aku baik. Kamu apa kabar?"
"Baik, Lo. kuliah disini?"
"Iya, kamu bukannya kuliah di luar?"
"Gue pindah Ca, nggak enak disana nggak ada Lo."
"Ngaco, aku udah nikah kali, waktu itu aku mau undang kamu tapi kamu nya lagi di luar negeri."
"Yah aku telat donk!" ucap pria itu pura-pura memelas.
"Loh kok? kita ngafe bentar ya, merayakan pertemuan kita ini!"
"Nggak bisa, lain kali aja ya, bye."
Caca masuk ke dalam mobil bersama dengan Ririn.
"Siapa Ca!"
"Oh itu, dulu teman SMP aku, dan kebetulan kami satu tim karate sampe SMA."
"Kok aku nggak kenal ya!"
"Masak sih, itu kan Deni,.yang dulu badannya bongsor dan sering di bully, makanya dia ikut karate."
"Oh, entahlah aku lupa tapi kalau cowok ganteng aku enggak pernah lupa,"
"Huh dasar!"
__ADS_1
Deni menatap mobil Caca yang telah jauh, dia tersenyum tipis kemudian melanjutkan langkahnya.
"Kamu tambah cantik ca," gumannya pelan.
Pria itu masuk keruang kelasnya.
Sedangkan Caca dan Ririn masih dalam perjalanan pulang ke rumah.
Didepan pintu pagar rumahnya, Ririn melihat sebuah kotak, terbungkus rapi seperti sebuah kado.
"Ca, paket Lo tuh,"
"Paket? perasaan gue enggak ada order?' ucap gadis itu bingung
"Lihat aja dulu, kali ada nama pengirimnya."
"Mang nanti paketnya dibawa masuk ya," ucap Caca membuka pintu rumah.
Mamang datang membawa bingkisan tersebut, "Dari siapa mang?"
",Enggak tau non, enggak ada nama pengirimnya,"
"Aneh,"
"Buka aja mang," ucap Ririn, Caca menikah dan gadis itu mengangguk pelan,
Dengan perasaan berdebar, Ririn dan Caca menunggu,
"Isinya bunga dan hadiah non?' ucap di mamang memberikan setangkai mawar merah dan sebuah boneka Doraemon kecil,
"mawar yang cantik untuk wanita tercantik,"
itulah isi pesan yang tertulis disana, Caca menoleh pada Ririn dan gadis mengangkat bahunya.
"Dari suamimu kali, kejutan?"
"Benarkah? tapi untuk apa di paketkan, mas Al kan bisa memberikannya langsung?'
"Letakkan saja disitu dan nanti saat suamimu pulang, kamu bisa menanyakan nya?"
"Ok," sahut caca
Ditempat lain, "Paketnya sudah sampai bos,"
__ADS_1
"Bagus, kau boleh melanjutkan pekerjaan mu."
"Caca... aku mencintaimu!' bisik seseorang di belakang mereka.