
Penasaran dengan pertanyaan yang terus berputar di kepalanya, Caca pun bangkit dan masuk ke dalam kamar.
Gadis itu segera mengganti pakaiannya, lalu mengambil dompet dan bersiap untuk pergi ke apotek. Caca ingin memastikan dugaannya.
Caca kembali ke rumah setelah membeli apa yang dia inginkan. Gadis itu duduk dan memandang benda itu beberapa saat, membaca beberapa petunjuk yang tertulis diluar dan manggut-manggut.
"Ok, aku akan melakukan tes sekarang," ucapnya pelan
'Bagaimana jika hasilnya tidak seperti yang aku inginkan?" tanya Caca pada dirinya sendiri,
"Tenang Ca, jangan panik, kamu bisa mencobanya lagi nanti, tapi aku sangat berharap hasilnya positif," ucapnya lagi dengan wajah di tekuk.
Gadis itu masih bermonolog dengan dirinya sendiri. Berbagai macam perasaan muncul namun rasa takut akan gagal lah yang paling mendominasi, takut jika hasilnya tidak seperti yang dia inginkan.
Caca memejamkan matanya, mengumpulkan kekuatan, setelah dirasa yakin dia pun berjalan menuju kamar mandi Caca mulai melakukan tes dengan mengikuti petunjuk yang ada di luar kemasan.
Perasaan was-was semakin menyelimuti hati Caca, kala melihat hasil dari tespek tersebut.
Caca mengerutkan keningnya, berapa kali Caca melihat tespek kemudian melihat petunjuk di balik kemasan, "Seperti aku tidak salah, Kenapa hasilnya seperti ini?" ucapnya pelan dan masih memandangi tespeck di tangannya.
"Kok garisnya samar?" ucapnya lagi.
"Apa itu artinya aku tidak hamil?" ucapnya lagi kali ini terdengar jelas nada kecewa di dalam kalimatnya.
Caca meletakkan tespeck tersebut dan keluar kamar mandi, lalu dengan cepat dia merebahkan tubuhnya di ranjang, tanpa sadar airmata nya menetes.
"Kenapa aku belum hamil juga?"
"Huaaa.." Caca menangis keras. Lama hingga dia merasa lega.
"Sabar Ca, ini masih permulaan, besok juga masih bisa dicoba, tapi aku kok sedih ya?''
__ADS_1
Caca mengusap airmatanya dan coba bersikap biasa saja, gadis itu berjalan keluar kamar menuju dapur.
"Non Caca kenapa?" tanya bibik melihat wajah majikannya yang sembab,
"Aku lagi sedih Bik,"
"Sedih kenapa non, mas Al emang gitu tapi sebenarnya dia orangnya baik,"
"Bukan itu Bik, mas Al udah baik kok sana Caca, Caca lagi sedih karena hal lain."
"Apa?"
Caca masih diam, bibik menjadi tak enak hati, "Maaf ya non jika bibik udah lancang."
"Eh enggak apa-apa Bik, oh ya Bik masakin mie instan yang pedes ya!"
"Non mau makan mie instan?"
"Iya Bik, kok tiba-tiba kepengen, cabenya yang banyak ya, kasih telur dan juga sayuran."
"Makasih Bik," ucap Caca lalu berjalan menuju ruang tengah dan menonton televisi.
Caca duduk dengan malas dan bersandar di sofa, dia menyalakannya televisi namun pikirannya kemana-mana, Caca sangat kecewa karena dia tidak hamil.
"Tak lama kemudian datanglah bibik bersama semangkuk mie instan panas, Caca tersenyum dan langsung memakan nya, "Enak banget Bik." ucapnya pada bibik.
"Non kok tumben makam mie instan,"
"Enggak tau Bik, kayaknya kok pengen aja,"
"Kaget sih, biasanya non kan nggak suka pedas."
__ADS_1
"Enggak tau nih Bik, kok pengen tapi enak banget Bik, suer." ucap Caca yang makan sambil kepedasan.
"Non, pelan-pelan makannya, awas nanti perutnya sakit."
"Iya Bik, aman." sahut Caca dengan senyum lebar
"Duh kenyang," ucap gadis itu mengusap perutnya.
Trriiiiing ponsel Caca berbunyi, sebuah pesan masuk, Caca mengambilnya dan tersenyum.
Pesan dari suaminya, "Sayang gimana keadaan mu? masih mual? apa kita perlu ke dokter?"
Caca langsung menelpon Al, "Halo mas."
"Assalamualaikum Ca"
"Waalaikum salam mas," jawab Caca tersenyum malu.
"Masih sakit?"
"Enggak, udah baikan kok."
"Kita ke dokter ya, mas khawatir."
"Enggak usah mas, aku udah nggak apa-apa, paling cuma masuk angin aja."
"Alhamdulillah, mas jadi tenang, mas tutup ya, assalamualaikum."
"Mas tunggu,"
"Ya?"
__ADS_1
"Emmmuach love you my husband."
Al Tertawa, "Lo you too mu sweet wife."