
Tidak butuh waktu yang lama akhirnya Al tiba di rumahnya. Jalan tidak macet, karena dia kembali lebih cepat dari biasanya. Jika pada jam-jam pulang kerja biasa aja jalan akan menjadi
macet.
"Bi, di mana istriku?" tanya Al kepada bibik yang sedang menyiram tanaman.
"Oh Den Al sudah pulang?" ucap bibik terkejut.
"Nyonya ada di dalam den, mungkin sedang.istirahat." sahut pipi
"Makasih.ya Bik." ucapan yang kemudian berjalan masuk ke dalam dan menuju kamarnya.
Al membuka pintu dan mendapati istrinya sedang duduk menatap jendela, dengan menopangkan dagunya di atas lutut, posisinya persis seperti anak kecil yang sedang merajuk.
Al lalu berjalan mendekati nya, "sayang.." panggilnya pelan.
Kemudian Al melepas jasnya dan melemparkannya sembarangan. Dia terus berjalan menuju sang istri dan duduk di sampingnya.
"sayang kamu kenapa?" tanya Al dengan lembut.
Caca membuang muka, "Aku tuh kepengen makan mangga yang kamu ambil sendiri mas, bukan yang diambilkan oleh bawahan kamu."
"Tapi sayang kan tetap Angga namanya,"
"Ya bedalah mas," sungut Caca, setelah itu dia menarik napas dalam dan berat, "terserah kamu deh mas,"
"Lo kok jadi ngambek,"
__ADS_1
mas kan tau aku maunya diambilin, tapi kenapa kamu mengirimkan mangga sebanyak itu, tapi bukan kamu yang ambil."
"Ya sudah sekarang gini aja dimana pohohnnya."
beneran?"
"Iya,"
Caca tersenyum girang dan menarik Al berjalan keluar rumah, disamping rumah mereka ada sebuah rumah, yang entah milik siapa, Al tidak tau, karena rumah itu kosong. "Itu" tunjuk caca
Al membuka jasnya dan melemparkannya asal, kemudian dia menggulung lengan bajunya lalu naik keatas pohon mangga yang lumayan tinggi itu. Al memetik dua tangkai mangga yang mulai menguning.
"Cukup?"
"Cukup mas," sahut Caca kegirangan
Gadis itu mengangguk dan berjalan ke dapur, mengambil pisau, piring dan air. Dia kembali ke depan, dan mulai mengupas mangganya yang terlihat ke Kuningan.
Caca asyik menikah buah mangga yang di ambilkan oleh suaminya itu, rasanya begitu enak dan nikmat.
"Sayang...sa.." ucapan Al terhenti melihat sang istri yang asyik menikmati mangganya.
Dan ini adalah mangga ke tiga, bisa di lihat dari dua buah biji mangga yang tergeletak.
"Sayang, mau?" Caca menawarkan mangganya pada Al.
"Al menggeleng lemah, "Udah buat kamu aja."
__ADS_1
"Beneran, ini enak Lo, nanti kamu nyesel?" tanya Caca lagi sambil menyodorkan sepotong mangga yang baru dia iris
"Enggak," tolak Al
"Dikit aja, enak Lo." dengan sedikit memaksa suaminya Caca terus menyodorkan mangganya.
Al terpaksa menerima nya dan menggigit nya sedikit, kemudian dia memuntahkannya kembali dan meludah, "Asam" ucapnya menyipitkan mata.
Caca protes "Kok asam sih, enak gini juga."
"Enak apanya, asam"
"Ya udah deh, terserah mas." sahutnya kembali menikmati mangganya hingga habis.
Caca ingin mengambil mangga yang keempat, langsung di tahan oleh Al, "Udah sayang, makannya besok lagi, nanti perut kamu sakit."
"Tapi mas?"
"Kamu ini ngidam apa doyan, Ca?"
"Nggak tau mas, yang pasti mangganya enak. Besok aku akan memakannya lagi."
"Boleh, tapi untuk hari ini stop!" Al mengambil sisa mangga dan membacanya ke dalam rumah menyimpannya di lemari bagian atas.
"Huh mas Al, padahal.aku masih mau.." ucap Caca pelan
"Ca..."
__ADS_1
"Iya mas, aku masuk." sahut Caca dari luar rumah, gadis itu berjalan masuk ke dalam menyusul Al.