
Nggak bisa, aku tidak mau." sahut Caca , dia berusaha bangkit dan hendak berlari, namun Al begitu mudah menangkapnya. Dan terjadi pergulatan hingga akhirnya mereka berdua terjatuh dan Al berada di atas tubuh Caca. Sontak keduanya terdiam dan saling pandang, Al seperti terhipnotis dengan mata sayu di depannya dan dia memajukan wajahnya, Caca pun refleks menutup matanya, hingga semua terjadi begitu saja. Al berhasil membenamkan bibirnya di bibir mungil yang selalu saja memberontak. Dan keduanya menikmati moment indah itu.
Beberapa menit kemudian tautan mereka terlepas, dan keduanya saling berebut oksigen untuk memenuhi rongga dadanya yang hampir kehabisan napas.
Namun Al kembali melanjutkan aksinya, justru kaki ini dia melakukannya dengan penuh gairah, rasanya begitu manis dan memabukkan. Seperti terhipnotis, Caca juga ikut larut dan terbuai, Al mampu membuatnya terlena dan dia juga coba mengimbangi sang suami, walau gerakannya masih terasa kaku dan malu-malu."
"Balas aku Ca" ucapnya disela tautan mereka.
Tak memberi kesempurnaan sang istri menjawab Al kembali melanjutkan nya, tangannya dengan lihai turun ke bawah, menyingkap rok pendek yang dia gunakan Caca, hingga dia dengan leluasa mengusap dan mengelus paha istrinya lalu naik ke atas menuju perutnya yang juga terbuka.
Kesadaran Caca muncul, dia panik, alarm berbunyi dia belum siap melakukannya, dia pun berontak, namun Al tampaknya sudah so kuasai gairah, hingga tak menganggap nya dan terus...
Caca tak kehilangan akal, dia menggigit bibir Al, langsung saja ciuman mereka terlepas dan Al berteriak kesakitan.
"Kau ingin membunuhku?" tanya Al kesal
"Lepaskan aku!"
"Hah!" ucap Al kaget
"Bukankah kau juga menikmati nya?"
"Iya kau benar, tapi aku..."
"Sampai kapan?" tanya Al langsung memotong ucapan Caca
"Sampai aku yakin dengan perasaan ku dan juga perasaan om terhadapku."
__ADS_1
"Apa maksudmu?" tanya Al geram bukankah dia sudah mengatakan semuanya dan dia berjanji akan memulainya dari awal, lalu apa ini?
"Aku tidak percaya Om, mana ada orang yang bisa langsung berubah, kamu putus dan langsung bilang cinta ke aku, aku nggak percaya Om,
"Apa karena kau menyukai pria brengsek itu!"
"Salah satunya, tapi aku mau lihat keseriusan om pada hubungan kita."
"Apa aku tidak terlihat serius?"
"Om, awas kita bisa membicarakan nya sambil duduk," Al bangkit dan Caca duduk, selanjutnya dia merapikan pakaiannya yang sudah hampir tak berbentuk.
"Apa lagi mau mu?" tanya Al
"Aku mau Om buktikan semua ucapan om itu, dan aku maunya kita nggak buru-buru om, gimana kalau kita pacaran dulu."
"Enggak mau!" jawab Al tegas
"Kenapa?"
"Kita sudah menikah Ca, untuk apa lagi pacaran?" sahut Al geram
"Tapi om, akan belum pernah pacaran?"
"Bagus"
"Loh kok bagus?"
__ADS_1
"Ya iya bagus, " sahut Al yang bingung mau menjelaskan apa pada istri kecilnya nggak mungkin dia katakan jika dia beruntung karena Caca masih murni, dan dia lah yang akan jadi yang pertama dan satu-satunya.
"Aku kan ingin kayak teman aku om, pacaran, jalan-jalan ke mall, shopping, nonton, ya pokoknya pacaran gitu."
"Cuma itu?"
"Iya, "
"Kalau hanya itu aku bisa mengabulkannya,"
"Bener Om, ya udah aku mau, kita pacaran ya!"
"Enggak!" tegas Al lagi
"Kok enggak!" ucap Caca cemberut
"Kalau pacaran nggak boleh gini?" Al menarik pinggang Caca, "Nggak boleh Ini!" dia mendaratkan bibirnya dan kembali mereka berciuman.
"Apa kau paham?" ucap Al melepaskan bibirnya, nafasnya memburu, wajahnya memerah sayu, jelas sekali jika dia sedang menahan sesuatu.
"Muka om kenapa? Om sakit?" tanya nya lagi
"Iya," jawab Al
"Sakit apa? dimana yang sakit?" tanya Caca panik.
"Disini?" ucap Al menarik tangan Caca dan membawa ke bagian bawah tubuhnya, daerah sensitif yang sangat berbahaya
__ADS_1