
Jam sebelas Caca dan Al tiba di rumah orangtuanya, kediaman Zahra dan Zein.
Mobil mereka memasuki pekarangan rumah yang luas di penuhi dengan tanaman dan bunga yang sangat indah.
Seorang wanita berhijab tengah asyik berkutat dengan tanaman mawar di depannya.
"Assalamualaikum Ma," sapa Al mendekat
"Waalaikum salam," sahut Zahra yang menoleh, saking asyiknya dia tidak mendengar kedatangan anaknya itu.
"Al," ucap Zahra terkejut, wanita paruh baya tak bisa menutupi keterkejutannya, anak yang dia rindukan kini berada di hadapan nya.
Refleks Zahra membuang sendok dan membuka sarung tangan yang tadi dia gunakan untuk berkebun, kemudian dia memeluk Al, dan beralih pada wanita cantik yang berdiri disamping anaknya.
"Caca, apa kabar sayang?" tanya Zahra memeluk menantunya.
"Alhamdulillah baik Ma,"
"Ayo masuk, " Zahra mengajak keduanya masuk ke dalam rumah, sebelumnya dia mencuci tangannya dulu.
"Kay... Kayla.." panggil Zahra memasuki rumah.
"Mika disini Ma?" tanya Al terkejut
"Iya, kebetulan suaminya lagi keluar negeri beberapa hari, daripada dia kerepotan sendiri di rumah, mama mengajaknya menginap disini."
"Narnia?" tanya Caca heboh
"Dia juga ada, pasti lagi bobok sama mamanya."
__ADS_1
"Ma, Caca lihat Narnia dulu ya, kamarnya di-"
Ceklek...suara pintu dibuka, keluar seorang wanita muda berhijab pink.
"Mikayla...!" panggil Caca pada wanita itu dan bergerak kearahnya.
Yang di panggil pun tersenyum, menoleh sekilas lalu fokus menidurkan anaknya yang mulai terusik karena suara nakal budenya.
"Lagi bobok?" Mika mengangguk.
"Kay, gimana rasanya hamil?" tanya Caca tiba-tiba
Mikayla menoleh dengan tatapan kaget, beberapa menit kemudian dia tersenyum lebar, "Bude lagi hamil?" tanya nya
Caca cengengesan, dan menggeleng pelan, "Belum, aku masih sibuk kuliah."
Terlihat wajah terkejut dan kecewa di mata dokter cantik itu. "Dia sudah sempat menduga Caca hamil dan akan segera punya anak dengan kakaknya, untuk melengkapi rumah tangga mereka.
"Setuju apa?"
"Maaf, maksud aku, pencegah kehamilan?" Caca menggeleng, "Tidak," sahutnya cepat
Caca masih betah menatap wajah cantik, keponakan nya itu.
"Dia mirip denganmu ya?"
"Benarkah? namanya aku ibunya,''
"Benar," dan keduanya tergelak.
__ADS_1
"Aku ke depan dulu ya, bye... "
Mika berbalik melihat Yuna dan tersenyum lebar.
Kemudian Caca keluar, di depan pintu suaminya sudah berdiri dengan tangan sebelah keatas, siap mengetuk pintu.
"Baru mau mas panggil kamu,"
"Ada apa?" tanya Caca heran
"Mau mau berangkat dulu, baik-baik dirumah,"
Cup... Al mendaratkan bibirnya di kening sang istri sebelum benar-benar pergi.
***
"Gimana ca, enak?" tanya mika, pasalnya gadis itu yang telah memasaknya tadi.
"Enak, masakan kakak enak," ucap Caca menaikkan jari jempolnya.
"Kok kakak?"
'Aku juga bingung, tapi hal kecil itu tak perlulah dipermasalahkan, terserah mau gimana, yang pasti kita hidup rukun damai dan saling melengkapi, selebihnya kita serahkan kepada Allah."
"Kamu cukup dewasa, rumah tangga kalian pasti sangat harmonis,'
"Caca sayang, setiap rumah tangga itu punya ujiannya masing-masing, tak terkecuali mama dan Kayla,
karena Allah ingin menguji keimanan kita, sanggupkah kita setia dan bertahan hidup dengan pasangan kita?" sahut Zahra
__ADS_1
"Tak semua yang terlihat diluar itu terjadi didalam, karena bisa jadi itu hanyalah pencitraan, topeng untuk menutupi sebuah kejahatan."
"Makasih Bu, Caca bahagia banget punya ipar dan ibu yang Luarbiasa, Caca sangat bangga bisa jadi bagian rumah ini."