
Al berdiri kaku di depan tempat tidur, dia diam dan bingung. Didepannya nenek sedang tertidur dengan selang infus ditangan kanannya. Wajahnya pucat, tubuhnya kurus, menyisakan keriput membuat hati Al teriris. Wanita yang selalu ada disampingnya dan menjaganya saat dia kecil, nenek yang selalu memanjakan nya, menyayangi dan melimpahinya dengan begitu banyak kasih sayang, kini terbaring tak berdaya.
Zahra bisa merasakan kesedihan di dalam hati putranya, pelan dia mengusap punggung Al, pria itu menoleh sekilas. "Bicaralah dengan nenek,"
Zahra melangkah keluar kamar, dia ingin memberikan kesempatan untuk Al dan ibu mertuanya berbicara.
Al duduk di tepi tempat tidur, tangannya terulur pelan mengusap lembut wajah tua sang nenek, kemudian dia menggenggam tangan yang sudah keriput dan tampak sangat kurus itu.
Pelan nenek membuka matanya, dia merasa terganggu dengan sentuhan tangan Al. Mata nenek berbinar, terkejut dan berkaca kaca, wajah yang begitu dia rindukan kini ada di hadapannya, benarkah ini nyata?
"Apakah aku bermimpi?" gumannya pelan.
Al merasa sedih sekaligus bersalah, dia terlalu egois hingga menyebabkan nenek sakit, dan terbaring seperti ini. Al baru menyadari akibat keegoisan nya banyak pihak yang dikecewakan, dan banyak pihak menderita.
"Nenek, ini aku, Al" tutur Al pelan.
Tangan tua itu terangkat berusaha meraih wajah pria yang ada di hadapannya ini, benarkah itu cucunya? atau mereka hanya membohonginya.
"Al? benarkah kau cucuku, Al?" tanya nya kembali.
Hati Al semakin teriris, maafkan Al nek, Al membuat nenek menderita seperti ini, ucapnya dalam hati.
Al meraih tangan lemah itu dan membawanya ke wajahnya, nenek mengusap wajah itu, "Ini Al nek, cucu nenek." jawab Al
Kemudian dia memeluk nenek yang terbaring, cairan bening dan isakan keluar begitu saja tanpa bisa dia tahan. "Maafin Al nek, maafin Al.."
Nenek mengusap lembut rambut dan kepala cucu kesayangannya itu, "Benarkah itu? Alhamdulillah ya Allah.." ucapnya tulus.
Wajahnya bersinar bahagia dan air mata turun deras, buka. air mata kesedihan tapi air mata kebahagiaan. Allah masih mempertemukan dia dengan Al sebelum ajal datang menjemput nya.
"Nek, bagiamana keadaan nenek? kita ke rumah sakit ya?"
Nenek tersenyum, "Tidak perlu, obat nenek sudah kembali. Kau adalah obat yang paling mujarab untuk mengobati nenek."
"Tidak nek, nenek harus sembuh dan harus mau dibawa ke rumah sakit, apa nenek tidak sayang lagi pada ku?"
"Nenek sangat menyayangimu, nak. Bahkan nenek lebih menyayangi mu daripada papamu."
"Jika nenek menyayangiku, nenek harus sembuh. Apa nenek tidak ingin melihat aku menikah?" bujuk Al.
__ADS_1
"Menikah? benarkah kau akan menikah?" tanya nenek penuh kebahagian, terlihat jelas dari senyum dan binar bahagia di matanya.
"Iya, nek. Al akan segera membawanya menemui nenek, tapi nenek janji harus sembuh dan nenek harus hadir di pernikahan Al."
"Kau tidak sedang membohongi nenek, kan?"
"Tidak, nek." Al mengusap lembut tangan nenek dan menciumnya berulang kali.
"Nenek pasti akan sembuh, tidak harus ke rumah sakit, mika sudah memanggil dokter dan perawat untuk merawat nenek."
"Apakah ayahmu sudah tahu kau kembali? apa kau sudah bertemu dengannya?"
Al terdiam, dia belum bertemu papanya, dan dia juga belum siap dengan apa yang akan terjadi saat dia bertemu pria yang sudah membesarkannya dengan penuh cinta. Walau keras tapi Al tahu, papanya begitu menyayanginya. Lagi penyesalan itu datang menghantam dinding hatinya yang rapuh.
"Temui dia nak, minta maaf padanya. Sebenarnya dialah orang yang paling terluka. Aku tahu betul siapa putraku, walau dia keras tapi aku tahu hatinya lembut."
"Aku pasti akan menemui papa. Nenek sudah makan? mau Al suapin?"
Nenek tersenyum tipis, "Kau tahu, kau dan papamu hanya beda tipis, dulu nenek menjodohkan papamu dengan gadis pilihan nenek gadis modern, cantik dan seorang model terkenal, tapi Papamu menolak dan bersikeras memilih mamamu, awalnya nenek juga menentang nya, Nenek murka bahkan nenek berbuat jahat pada mamamu, tapi sekarang nenek tahu, pilihan papa mu sangat tepat. Dan nenek merasa sangat beruntung dengan pilihannya itu.
Nak, Seorang pria butuh seorang wanita yang siap dan selalu ada disampingnya, mendukungnya dan mendampinginya dalam kondisi apapun. Papamu memang memilih gadis sederhana, tapi dia wanita luar biasa yang pernah nenek temui, mamamu tidak pernah mengeluh, dia selalu ada di sisi papamu bagaimanapun keadaanya, bahkan mereka pernah hidup miskin dan tinggal di daerah terpencil. Hidup sederhana, jauh dari semua kemewahan dan kekayaan. Tapi dia wanita setia,
"Nek,"
"Dengar nak, nenek hanya ingin kamu memilih wanita yang tepat, jangan salah memilih. Jika gadis itu mencintaimu dengan tulus dia akan selalu ada dan bersedia di sampingmu apapun keadaanmu."
"Al tahu nek, Cintya gadis yang baik dan dia juga mencintai Al." bantah Al
"Syukur lah kalau begitu, nenek tidak sabar untuk bertemu dengannya, kapan kau akan membawanya menemui nenek?"
"Secepatnya nek, tapi nenek harus janji. Nenek harus segera sembuh."
Nenek mengangguk, Saat yang sama Mikayla masuk. "Nek, waktunya minum obat." Mikayla mendekat dan memberikan obat yang harus di minum oleh nenek.
"Bukankah ada Lisa, kenapa harus kau yang repot. Nenek tidak mau kamu lelah,"
"Tidak Nek, kayla ingin memastikan nenek meminum obatnya secara langsung. Lagipula ini bukan tugas berat." jawab mika tersenyum lebar.
"Mika senang melakukannya, mereka juga senang melihat Omanya segera sembuh."
__ADS_1
Al tersadar sesuatu, dia menoleh dan saat itu Al baru menyadari jika adik perempuannya ini sedang mengandung.
"Aku akan segera menjadi paman?" ucapnya bahagia.
Mikayla tersemyum, "Bukan hanya satu tapi dua, kau segeralah menikah dan berikan nenek cucu sama seperti Kayla." tutur nenek.
"Nenek istirahat ya," mika membetulkan selimut nenek.
"Al keluar dulu ya Nek, nenek istirahat." Nenek mengangguk.
Al keluar bersama Mikayla. Lida langsung masuk untuk menjaga nenek.
"Kayla, berapa usia kandungan mu, maafkan kakak, gara-gara kakak, kamu.."
"Aku tidak apa kak," potong mika.
"Aku dan suamiku sangat bahagia menyambut kehadiran mereka berdua. Haikal sangat baik, dia selalu menjadi suami siaga, dan calon papa yang terbaik bagi mereka." mika mengusap perutnya.
"Ya, tapi aku yakin kau pasti mengalami masa sulit di awal pernikahanmu, karena kau tidak mengenal suamimu sama sekali, begitu juga sebaliknya, andai saja aku jujur lebih awal pada Papa, ini semua tidak akan terjadi."
"Sudahlah kak, lupakan yang sudah terjadi. Sekarang kita makan dulu,"
"Nanti saja, malam ini aku ada meeting tak jauh dari sini. Nanti aku kembali,"
"Kakak tidak menginap?"
"Kakak tinggal di apartemen sementara waktu, lebih dekat dengan tempat kerja kakak, dan mungkin Minggu depan kakak kembali, tempat kakak bekerja tidak memberikan cuti dalam waktu yang lama."
"Apa kau akan kembali meninggalkan mama?" Zahra tiba tiba menyela, sejak tadi dia mendengar percakapan diantara kedua anaknya.
"Maafkan aku Ma, tapi aku sudah bekerja pada perusahaan asing dan aku harus bertanggung jawab lada pekerjaan ku"
"Kau masih marah pada papamu?"
"Tidak,"
Al menarik napas dalam, "Al balik dulu ya Ma, Al menyayangi Mama, tapi Al juga punya tanggung jawab. Al pergi dulu. Assalamualaikum." Al meraih tangan mamanya menciumnya dan memeluk Zahra. Dia juga mencium pipi Zahra sebelum pergi. Zahra hanya diam mematung, airmatanya kembali jatuh. Al sama kerasnya dengan Zein suaminya, sulit untuk mempersatukan mereka kembali.
"Ma, Kayla yakin kakak pasti akan kembali pada kita, mama jangan sedih."
__ADS_1
Zahra mengusap air matanya, "Mama sangat menantikan saat itu, saat dimana keluarga kita kembali berkumpul seperti dulu."