
Sayang apa kamu sudah merasa lebih baik?" ucap Al masuk ke dalam kamar mendekati istrinya yang masih meringkuk di balik selimut.
"Entahlah Mas, kepalaku masih pusing dan berat."
"Duduk dan minumlah teh hangat ini, agar mual dan pusing di kepala mu sedikit berkurang,"
Caca pun bangkit bersama dibantu oleh suaminya dan duduk, kemudian Al memberikan teh hangat dan setelah Caca meminumnya gadis itu kembali berbaring.
"Mas...kamu enggak ke kantor?"
"Bagaimana aku bisa meninggalkanmu sendirian, sementara kau masih sakit begini?"
"Tidak apa mas, mungkin hanya masuk angin nanti juga baikan, kamu pergi saja."
"Ca, kita ke dokter ya? mas takut kamu kenapa-napa," bujuk Al
"Enggak mau, aku hanya pusing mas nanti juga baikan,"
"Tapi sayang,"
"Aku akan ke dokter jika nanti sore pusing dan mual nya belum juga hilang, aku janji mas."
"Huh!" Al menghembuskan napas berat, susah sekali membujuk Caca, Padahal suaminya itu sangat mengkhawatirkannya.
Al kembali ke dapur dan masuk dengan semangkuk bubur hangat buatan bibik.
"Kamu sarapan dulu ya," ucap Al membuka selimut yang menutupi tubuh istrinya.
"Aku nggak lapar mas," sahut Caca menarik kembali selimut itu.
"Kamu kenapa sih Ca?" ucap Al sedikit tersulut emosi dengan sikap Caca yang menurutnya kekanakan dan keterlaluan.
Tok...tok... bibik mengetuk pintu kamar,
"Ya Bik"
"Tuan di depan ada nyonya dan mbak mika,"
"Oh iya, bilang tunggu sebentar Bik. Buatin minum ya bik"
"Iya tuan." sahut bibik kembali ke bawah.
Caca membuka selimutnya, "Mama dan Kayla kesini? apa kamu yang menghubungi nya mas? kamu menghubungi Kayla? untuk memeriksa ku?" tanya gadis itu dengan mata melotot
"Tidak!" bohong Al
__ADS_1
"Aku justru kaget kenapa Mama dan kay kesini, sebentar aku akan kedepan dulu, kau mau ikut?"
Caca bangun dan merapikan pakaian serta mencuci wajahnya, kemudian ikut suaminya turun menemui mertua dan adik iparnya.
"Mama, Kayla..." sapa Al, pria itu mencium tangan wanita yang telah melahirkannya itu. Begitu juga dengan istrinya yang ikut mencium tangan Zahra.
"Apa kabar kak?" ucap Mikayla
"Alhamdulilah baik, tumben nih?" Al Pura-pura bertanya,
Mikayla yang tanggap langsung menjawab pertanyaan Al sebelum ibunya bicara jujur, "Ini loh, Mama katanya rindu ma Caca, enggak tau kenapa kok bawaannya pengen ketemu, sekalian aku juga ada urusan dekat sini, makanya mampir."
"Maafin Caca ya Ma, Caca jarang ke rumah Mama,"
"Iya, mama kangen Ca, katanya kamu mau belajar masak."
"Oh ya, bagus donk," sahut Al
"Tapi Kak, kok wajah kak Caca pucat, kakak sakit? udah ke dokter?"
"Aku enggak apa-apa Mika, mungkin kecapekan aja, atau masuk angin." sahut Caca
"Tapi kok pucat gitu, mau aku periksa?" tanya Mikayla
"Ada di mobil, dokter kan harus standby kak, sebentar biar aku ambilin,"
"Enggak usah kay, aku enggak apa-apa,"
"Sayang, jangan membantah, lagipula Mikayla bukan orang lain," ucap Al menatap tajam istrinya, Caca hanya mendesah pasrah.
"Kau, biar aku yang ambil, mana kunci mobilnya?"
"Di depan sama pak Rudy,"
"Ok, tunggu sebentar." ucap Al, dia berjalan menuju halaman rumah.
"Maaf kak, boleh aku tau, apa yang kakak rasakan?"
"Pusing dan mual?"
"Apa kakak punya riwayat sakit maag atau apa gitu?"
Caca tampak berpikir, "Kayaknya enggak, tapi mungkin aku masuk angin, karena kemaren mas Al ngajak jalan menggunakan motor."
"Bisa jadi, tapi untuk memastikan nya aku periksa dulu, ya."
__ADS_1
"Nih," Al menyerahkan tas berisi perlengkapan kedokteran Mika.
"Kita kekamar aja ya, kak?" ajak Mikayla
Mereka berjalan menuju kamar tamu, sedangkan Zahra dan Al duduk di ruang tamu menunggu, tak.lama datanglah bibik membawa nampan berisi minuman.
"Makasih Bik," ucap Zahra dengan senyum hangat.
Zahra bisa melihat ketegangan di wajah anaknya, "Sabar Al, apapun hasilnya kamu harus berlapang dada, jika memang belum di beri kepercayaan, kamu harus tetap berikhtiar dan berdoa."
"Iya Ma," sahut Al, namun di dalam hatinya dia sangat cemas.
Di dalam kamar, Mikayla mulai memeriksa Caca,
"Kak, kondisi tubuh kakak baik-baik saja, tidak ada yang mengkhawatirkan,"
"Alhamdulilah, tapi kenapa aku pusing dan mual?"
"Maaf, kalau boleh tau kapan terakhir kali kakak kedatangan tamu bulanan?"
Caca tampak berpikir, "Memang bulan ini aku belum kedatangan tamu bulanan ku, tapi aku sudah memeriksanya, dan hasilnya nggak jelas."
"Nggak jelas gimana?"
"Samar, garisnya satu terang yang satunya lagi samar gitu." jelas Caca, Mikayla tersenyum mendengar penuturan kakak iparnya itu,
"Kalau menurut ciri-cirinya kakak mungkin hamil, bagaimana kalau kita lakukan tes ulang?"
"Aku males, nanti aku kecewa?"
"Kak, lebih baik kakak kecewa dan kita bisa mencari tau penyebab pusing dan mual kakak, daripada kita menduga-duga, nih kebetulan ada satu lagi tespeck di dalam tasku, kau mau mencobanya?"
"Tapi kan?"
"Aku juga dulu seperti mu Ca, yuk buruan!" ucap Mikayla tersenyum hangat
Caca merasa tidak enak hati, dia melangkah ke kamar mandi dan melakukan tes ulang,
Gadis itu bersorak girang dan menjerit, Al dan Zahra yang ada di ruang tamu pun ikut terkejut dan berlari menuju kamar,
"Ada apa?" ucap Al
Caca berlari dan bersorak, "Aaaa...mas aku hamil mas, aku hamil...." teriak gadis itu tanpa sadar ada adik ipar dan mertuanya.
Mikayla dan Zahra hanya tersenyum lucu melihat tingkahnya, sedangkan Al pria itu juga kegirangan dan memeluk serta mencium wajah istrinya, dia sangat bahagia
__ADS_1